Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-102 Awal perjuangan Jack


__ADS_3

Suasana diruang makan pagi ini terasa begitu tegang. Ara sudah memakaikan suaminya baju stelan jas. Tentu saja itu sangat menyita perhatian keluarganya. Tidak ada yang bicara. Ara masih seperti hari-hari biasa, sesekali membantu suaminya makan, kebiasaan itu tidak bisa dihilangkan begitu saja.


“Pagi ini akan ada rapat pemegang saham,” kata Jack disela makannya.


Ny. Inez menatap putranya.


“Apa kau yakin akan hadir? Pemberitahuan rapat itu sangat mendadak, Ibu baru dapat informasinya tadi malam,” tanya Ny. Inez.


“Tentu saja,” jawab Jack.


“Apa kau sudah sembuh?” tanya Ny. Inez lagi.


Jack tidak menjawab, dia focus ke makanannya.


Ara melirik sekilas pada Jack, dia bisa tahu kalau banyak unek-unek yang ingin disampaikan Jack pada ibunya tapi pria itu berusaha untuk menahannya.


Tn. Ferdi melirik istrinya disela makannya.


“Kau tidak perlu bertanya lagi, bukankah anakmu sejak awal datang dari Paris untuk alasanitu? Dia sok sembuh  dan bisa mengurus perusahaan,” kata Tn.Ferdi dengan sinis.


Bastian sesekali melirik pada Jack, dia masih bertanya-tanya apa Jack benar-benar sembuh atau tidak? Memang diakui kakaknya itu terlihat berubah karena sikapnya yang lebih tenang sekarang.


“Kau benar. Aku sudah terlalu lama tidak mengurus perusahaan ayahku, sampai-sampai aku seperti tidak memilikinya,” sindir Jack menoleh pada ayah tirinya, membuat Tn.Ferdi kesal.


Tn.Ferdi tidak menjawab, dalam hatinya dia memendam amarah yang luar biasa. Dia bingung harus pakai cara apa lagi untuk menggagalkan rencana Jack mengambil alih perusahaan, sedangkan Jack sudah tidak minum obat-obatan lagi.


Niat busuk dalam hatinya terus muncul, dia harus mencari jalan yang halus untuk melenyapkan Jack. Dia tidak bisa melakukannya dirumah ini karena pengacara pidana selalu memantau kejadian yang ada dirumah ini. Orang-orang didalam rumah ini akan cepat jadi tersangka. Menantu brengseknya itu membuat susah setiap geraknya.


“Memangnya kau sanggup memimpin perusahaan? Bukankah kau waktu itu sakaw?” tanya Bastian, tersenyum sinis.


“Jack bukan pecandu!” hardik Ara dengan kesal. Dia mendelik pada adik iparnya itu.  Sebal sekali dia pada pria itu, yang selalu mengejek kakaknya.


Jack menoleh pada Bastian.


“Tentu saja kali ini tidak seperti itu, adikku sayang. Kau tenang saja, semua akan berjalan lancar,” kata Jack, sambil tersenyum.


Bastian memberengut sebal, sepertinya kakakknya itu memang sudah sembuh.


“Kau mengundang pengacara juga?” tanya Ny. Inez.


“Iya. Aku harap Ibu juga hadir,” jawab Jack, menatap ibunya.


“Iya,” jawab Ny.Inez dengan wajah yang pucat, dia semakin ketar ketir kalau Jack benar-benar sembuh.


“Tapi kalau kau tidak baik-baik saja sebaiknya kau urungkan niatmu,” kata Ny. Inez, menatap Jack.


“Kenapa?” tanya Jack dengan nada yang agak ketus, menatap ibunya dengan tajam.


“Mm Ibu hanya khawatir dengan keadaanmu saja. Kau tidak akan sanggup memimpin perusahaan yang begitu besar,” kata Ny. Inez, sedikit gugup, keningnya mulai berkeringat dingin, mendapat tatapan tajam dari putranya.


“Ibu tidak perlu khawatir, aku merasa sudah baik bahkan sangat baik,” jawab Jack masih dengan nada ketus.


Suasana semakin tegang saja. Ara sama sekali tidak menikmati makannya.


Tn.Ferdi menoleh pada Jack.


“Coba kita lihat sebaik apa dirimu sekarang,” ucap Tn.Ferdi.


Jack tidak menjawab, dia segera menyelesaikan makannya.


Setelah sarapan yang menegangkan itu, Jack dan Ara berangkat kerja. Begitu juga dengan Tn.Ferdi dan Ny. Inez dengan mobil yang berbeda.


Ny. Inez merasa gelisah dengan semua ini, dia merasa takut kalau Jack mengambiil alih semua hartanya, maka kehidupan keluarganya akan berubah.


Tn. Ferdi mendendam dalam hatinya, dia tidak akan membuat Jack mudah mendapatkan hartanya kembali.

__ADS_1


Ara juga sangat gelisah dalam mobil, dia begitu takut terjadi apa-apa pada Jack. Hanya Jack saja yang terlihat sangat tenang. Duduk menatap keluar jendela mobil.


Melihat istrinya yang tidak bisa diam, terus-terusan mengganti posisi duduk menyita perhatiannya, diapun menoleh.


“Kau kenapa?” tanya Jack.


“Aku merasa gelisah, “ jawab Ara, menoleh pada Jack.


“Gelisah kenapa?” tanya Jack, menatap Ara. Pria itu kalau sekali menatap tidak berkedip kedip seakan-akan mau memakannya saja, membuat Ara meringis.


“Aku khawatir saja,” jawab Ara.


Jack merubah duduknya menghadap Ara.


“Kau mau ikut aku ke Paris kan?” tanya Jack.


“Memangnya kau akan ke Paris?” tanya Ara kebingungan, meskipun merasa tidak nyaman dia tetap membalas tatapan Jack itu.


“Tentu saja, bukannya kau ingin anak-anak bermain ditaman didepan rumah?” tanya Jack, sontak membuat wajah Ara memerah.


“Ah aku kan bicara begitu tentang taman kanak-kanak,” elak Ara, tersenyum kecil lalu memalingkan wajahnya beralih pandang menghindari tatapannya Jack.


Jack mengulurkan tangannya menyilang melewati dadanya Ara membuat wanita itu terkejut.


“Kau mau apa?” tanya Ara, kembali menatap Jack.


Jack mendekatkan wajahnya pada Ara, menatap wajah istrinya lekat-lekat. Ara sampai menahan nafas karena gugup.


“Ternyata kau sangat suka bermain-main,” kata Jack.


“Apa? Main-main? Tidak, aku tidak bermain-main, main apa?” tanya Ara kebingungan.


Jack semakin mendekatkan hidung mancungnya ke wajah Ara.


“Memainkan perasaanmu apa? Aku tidak mempermainkan perasaanmu,” kata Ara menggelengkan kepalanya, dadanya semakin berdebar kencang saja karena tubuh Jack semakin merapat.


Jack akan mencium Ara tapi Ara langsung bicara.


“Jangan menciumku!” seru Ara.


“Kenapa? Kau kan istriku,” tanya Jack.


“Nanti lipstikku belepotan, aku akan malu bertemu orang-orang,” jawab Ara.


“Hah, kau banyak alasan saja, tadi kau melarangku menciummu karena kau belum mandi, sekarang kau beralasan lipstikmu?” tanya Jack.


“Iya, nanti aku malu,” jawab Ara, keringat sudah mengumpul dikeningnya.


“Ya aku tahu, tidak mengapa, aku rasa wanita lain banyak yang tidak keberatan lipstiknya belepotan,” ucap Jack, bergerak menjauh.


Mendengar perkataan Jack membuat Ara shock.


“Apa? Wanita lain? Apa maksudmu?” tanya Ara menatap Jack.


“Kau akan berselingkuh?” tanyanya lagi, kedua tangannya langsung saja menarik jasnya Jack, menatap pria itu dengan tajam.


“Ya mau bagaimana lagi? Istriku sendiri menolak aku cium, ya aku cari wanita lain,” jawab Jack.


“Jangan! Tidak boleh! Tidak boleh ada wanita lain!” teriak Ara.


“Aku akan cari wanita lain!” seru Jack, bersikeras.


“Jangan! Kau boleh menciumku sepuasnya tapi jangan mencari wanita lain,” ucap Ara, merapatkan tubuhnya ke tubuh Jack juga mendekatkan wajahnya pada wajahnya Jack.


“Kau boleh menciumku!” kata Ara, memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


“Aku tidak mau! Aku mau mencari wanita lain saja!” tolak Jack.


“Jangan! Kau boleh menciumku!” kata Ara lagi, kembali memonyongkan bibirnya.


“Tidak mau!” tolak Jack.


“Cium aku!” Teriak Ara, tidak berhenti memonyongkan bibirnya.


Tiba-tiba Ara merasakan ada tepukan di pipinya beberapa kali.


“Hei, kau kenapa?” tanya Jack, sambil menepuk pipi istrinya beberapa kali.


“Ara!” panggil Jack kembali menepuk pipinya Ara, membuat Ara tersadar dan membuka matanya, menyadari dirinya ada didalam mobil bersama Jack dan mereka akan ke kantornya Jack.


Ara terkejut mendapati dirinya menempel ketubuhnya Jack, memegang jas pria itu dan memonyongkan bibirnya. Matanya bertemu pandang dengan matanya Jack. Dia mencoba mengumpulkan memorynya.


Melihat Ara memonyongkan bibir di depannya, Jack langsung mengecup bibir istrinya itu.


“Kau sangat agresif,” ucapnya sambil tersenyum, membuat Ara terkejut dan segera menjauh juga melepaskan jasnya Jack. Sepertinya tadi dia melamun dan tertidur terus bermimpi Jack akan selingkuh. Sungguh mimpi yang buruk!


“Agresif apa? Aku hanya bermimpi,” elak Ara, sambil membetulkan letak duduknya juga bajunya yang sedikit berantakan karena aksinya.


“Kau bermimpi apa? Sampai memintaku menciummu?” tanya Jack, menggoda Ara.


“Lupakan saja,” jawab Ara langsung memberengut.


“Kau membuatku penasaran saja,” ucap Jack, merasa lucu melihat wajah Ara yang masam.


 “Apa tidurmu semalam kurang nyenyak sampai ketiduran didalam mobil?” tanya Jack, menoleh pada istrinya. Dia tidak ingin terus-terusan menggoda istrinya.


“Iya sepertinya aku kurang tidur,” jawab Ara, semalam dia gelisah terus memikiran Jack sampai tidur larut.


Tangan Jack terulur menarik Ara merapat ke tubuhnya dan memeluk pingangnya. Ara melihat tangan yang memeluknya itu, tangan pria itu sangat kuat sepertinya dia tidak akan bisa lepas dari pelukannya.


Waktu berjalan lebih cepat, sampailah mereka digedung yang dulu Ara pernah kunjungi bersama Jack.


Ara semakin gelisah saja  takut terjadi apa-apa pada Jack. Sedangkan pria itu sangat percaya diri, terlihat tenang saja saat memasuki gedung itu.


Mereka langsung menuju lantai ruang meeting yang dulu pernah diadakan disana. Saat menjejakkan kakinya ke lantai ini membuat Ara merasa trauma, apalagi melihat ruangan yang luas dengan orang-orang yang sedang berkumpul bercengkrama. Bayang-bayang buruk itu muncul kembali. Tangannya langsung memeluk tangannya Jack dengan erat.


Jack menoleh pada istrinya tapi tidak bicara apa-apa, hanya tangan kanannya mengusap tangan Ara mencoba menenangkannya. Sekarang Jack tidak minum obat, dulu saja minum obat terjadi  hal yang tidak dinginkan, apalagi sekarang? Ara sangat cemas.


Kehadiran mereka tampak menarik perhatian semua orang, yang tadi berkumpul mulai menyeruak menatap mereka terutama pada Jack. Ara masih ingat orang yang hadir diruangan ini adalah orang yang sama saat meeting dulu. Hati Ara semakin khawatir.


Tidak berapa lama datanglah Tn Ferdi dan Ny. Inez juga beberapa orang yang Ara kenal sebagai pengacara-pengacaranya Jack.


Pak Beni bicara dengan seseorang, yang segera mengumumkan meeting akan dimulai.


Sekarang yang hadir sudah duduk di kursinya masing-masing


Ara duduk disamping Jack, ditempat yang persis sama seperti dulu. Sesekali dia menoleh pada Jack menatap suaminya yang duduk disampingnya. Dia begitu mengkhawatirkannya, dia sangat menyayangi pria ini.


Seakan tahu apa yang ada difikirannya Ara, Jack menoleh kearahnya, lalu tersenyum. Ara senang sekali melihat Jack sering tersenyum sekarang.


“Kau jangan khawatir, semua baik-baik, saja” ucap Jack, lalu meraih kepalanya Ara dan menciumnya.


Tn. Ferdi tampak semakin kesal saja melihat kemesraan mereka.


Terdengar MC mulai mengumumkan acara rapat ini dimulai.


***********


Readers maaf beberapa hari kedepan upnya akan telat, aku ada urusan ke luar kota beberapa hari dan sinyalnya tidak bagus. Tapi kalau sempat nulis aku usahain up ya.


**************

__ADS_1


__ADS_2