
Hari ini Jack bersiap-siap akan berangkat ke kantornya. Setelah istrinya tidak marah lagi, Jack kembali bersemangat untuk bekerja, ada banyak hal yang harus dia kerjakan setelah pengambil alihan perusahaannya dari Ibunya.
Ara menjajari langkah suaminya sambil memeluk tangannya.
“Hari ini kau tidak perlu menemaniku ke kantor, kau dirumah saja,” kata Jack, menghentikan langkahnya saat mereka sampai di ruang tamu.
“Iya,” jawab Ara, dia menghadap suaminya, merapihkan lagi bajunya Jack.
“Mungkin aku akan pulang larut,” kata Jack.
“Kenapa? Kau jangan terlalu lelah,” ujar Ara.
“Aku harus mengerjakan banyak hal dengan cepat, aku ingin segera membawamu ke Paris, aku juga punya pekerjaan disana,” kata Jack.
Ara mengusap dadanya Jack lalu mengangkat wajahnya menatap Jack.
“Jangan telat makan siang nanti, apa ada yang menyiapkan makanmu disana?” tanya Ara.
“Iya, kau jangan khawatir, sekretarisku sudah ganti laki-laki,” jawab Jack, membuat wajah Ara memerah.
“Kau serius mengganti gadis itu?” tanya Ara.
“Tentu saja. Aku tidak mau istriku khawatir dirumah memikirkan suaminya digoda wanita lain,” jawab Jack, membuat Ara tersenyum. Suaminya begitu pengertian.
Sebuah ciuman mendarat di pipinya. Jack juga memeluknya. Ara balas memeluk tubuhnya Jack. Tidak pernah terbayangkan kalau dia benar-benar memeluk pria dengan tubuhnya yang sempurna.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam rumah, membuat Jack melepaskan pelukannya, melihat kearah yang datang.
“Bastian! Bastian! Tunggu!” teriak suara gadis yang ternyata Kinan, dia mengejar Bastian yang masuk ke rumah.
“Sudah aku katakan, aku tidak bisa membuat pesta semewah itu untuk pernikahan kita! Aku dan keluargaku akan keluar dari rumah ini! Orangtuaku tidak mungkin mau mengeluarkan uang sebanyak itu!” kata Bastian, langkahnya terhenti saat Kinan memegang tangannya.
“Aku ingin pernikahan kita tetap dirayakan di kapal pesiar, aku sudah membuat pengumuman pada teman-temanku,” ujar Kinan, dengan wajahnya yang masam.
Jack dan Ara saling pandang, rupanya mereka sedang meributkan pesta pernikahan mereka.
“Kalian meributkan apa?” tanya Jack, membuat Bastian dan Kinan menoleh, menyadari ada orang lain di ruangan itu.
Bastian langsung menghampiri Jack.
“Ini semua gara-gara kau!” maki Bastian.
“Jaga bicaramu Bastian!” bentak Ara.
Ara kesal melihat sikap adik iparnya yang tidak bisa menghargai kakaknya. Tapi sepertinya Jack hanya bersikap biasa saja.
“Gara-gara aku apa?” tanya Jack, menatap adiknya, buah cinta ibunya dengan selingkuhannya, membuatnya muak saja melihatnya.
“Kau membuat rencana pernikahanku berantakan,” jawab Bastian.
“Kenapa aku yang salah?” tanya Jack.
“Kau mengambil alih perusahaan, kau juga mengusir kami dari sini, pernikahanku yang mewah terancam gagal,” jawab Bastian, dengan ketus.
Kinan menoleh pada Jack.
__ADS_1
“Aku ingin pernikahanku tetap diadakan di kapal pesiar,” kata Kinan.
“Ya kalau begitu, menikahlah kalian disana, apa masalahnya?” sahut Jack.
“Ibuku keberatan karena biayanya terlalu besar! Karena kami harus membeli rumah baru!” ujar Bastian.
“Itu resiko kalian, urus saja sendiri!” kata Jack, mulai ketus.
“Pokoknya kalau acara di kapal pesiar batal, aku tidak mau menikah dengan Bastian, aku malu pada teman-temanku!” ujar Kinan, sambil memberengut.
Bastian menoleh pada Kinan.
“Kita cari tempat lain,” kata Bastian.
“Tidak mau, aku lebih baik batal menikah denganmu, daripada dibuat malu begini!” ujar Kinan, membuat Bastian menatapnya.
“Kau dengan mudahnya membatalkan pernikahan kita? Aku sudah memberimu segalanya!” kata Bastian, dengan nada tinggi.
Sedang mereka bertengkar begitu, ada lagi yang masuk keruang tamu itu. Ternyata Ny. Inez. Langkah Ny.Inez terhenti melihat pertengkaran mereka.
“Ada apa ini?” tanyanya pada Bastian.
“Kinan tetap ingin pernikahannya di kapal pesiar,” kata Bastian.
Ny.Inez menoleh pada Kinan.
“Kita cari tempat lain,” ujar Ny.Inez.
“Tidak bisa Nyonya, aku sudah mengundang teman-temanku, mau ditaro dimana mukaku?” kata Kinan.
“Pokoknya aku tidak mau kalau acara di kapal pesiar batal,” kata Kinan, bersikeras.
Bastian menoleh pada Ibunya. Ny. Inez mengerti arti tatapannya Bastian.
“Tidak bisa sayang, kita cari tempat lain saja, kita harus berhemat,” kata Ny.Inez.
“Jadi kalian tidak punya uang? Kalian miskin sekarang?” tanya Kinan, menatap calon Ibu mertuanya lalu pada Bastian.
“Kita sedang banyak pengeluaran sekarang,” jawab Ny.Inez.
“Aku tidak mau menikah dengan Bastian kalau tidak di kapal pesiar atau pernikahan kita batal!” seru Kinan pada Bastian, lalu keluar dari ruangan itu.
“Kinan! Kinan! Kau tidak bisa begitu saja meninggalkanku !” teriak Bastian, segera menyusul Kinan keluar rumah.
Ara tertegun melihat kejadian itu. Terlihat sekali kalau Kinan hanya memanfaatkan hartanya Bastian.
Jack menoleh pada Ibunya yang juga menoleh kearahnya. Dia sudah mengusir Ibunya dan keluarganya untuk meninggalkan rumah ini.
“Ada apa kau kemari? Apa ada masalah?” tanya Jack pada Ibunya dengan ketus.
“Ibu tidak bisa pindah sekarang, Ibu masih harus merawat ayah tirimu di rumah sakit. Nanti kalau Ayah tirimu sudah sembuh dan kita sudah mendapatkan rumah baru, baru kita pindah,” jawab Ny.Inez.
Jack tidak menjawab, dia menarik tangannya Ara mengajak keluar dari ruangan itu. Ara tahu di dalam lubuk hatinya Jack dia rindu kasih sayang ibunya, tapi kondisinya menjadi buruk sekarang. Ibunya Jack sudah menyakiti hati Jack, mungkin akan sulit untuk memaafkan ibunya.
Ny.Inez terdiam ditinggalkan oleh anak menantunya. Dia bisa melihat sorot mata kebencian dimatanya Jack. Terlihat sekali Jack begitu membencinya.Ternyata terasa begitu menyakitkan dibenci oleh putra kandungnya sendiri. Tapi semua itu adalah salahnya sendiri yang bersikap memutuskan ikatan ibu dan anak yang seharusnya terjalin harmonis.
__ADS_1
Sampai diteras, Jack memutar tubuh istrinya supaya menghadapnya. Tangannya menarik pinggang Ara supaya menempel ke tubuhnya.
Ny. Inez menoleh keluar teras, dilihatnya Jack dan Ara disana. Diapun berjalan menuju jendela, menyibakkan gordennya, memperhatikan anak menantunya.
“Kau baik-baik dirumah, jangan keluyuran,” kata Jack, memberi nasihat pada istrinya, sambil memegang bahunya Ara.
“Iya. Tadinya aku akan membelikanmu pakaian untuk bekerja,” ujar Ara.
“Iya boleh, tapi tidak boleh pulang terlalu sore, aku tidak mau kau lelah, buatlah dirimu nyaman di rumahku,” kata Jack.
“Baiklah,” Ara mengangguk.
Kedua tangan Jack mengusap pipinya Ara. Menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semalam adalah malam yang sangat berat, karena melihat istrinya marah padanya.
“Apa kau mau berjanji?” tanya Jack.
“Berjanji apa?” Ara balik bertanya.
“Jangan marah lagi padaku, aku tidak bisa tenang kalau kau marah padaku,” jawab Jack.
“Aku ingin selalu melihatmu bahagia bersamaku,” lanjut Jack.
Ara menatap wajah suaminya itu. Jack yang tumbuh dalam kekerasan dunia dan berpendidikan militer dengan tubuhnya yang kekar, tapi memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang, dia pria yang penyayang.
“Selama kau tidak nakal, aku tidak akan marah padamu,” jawab Ara sambil tersenyum.
“Aku berjanji tidak akan nakal,” jawab Jack membuat Ara tertawa. Dia langsung mendapat ciuman dari suaminya.
Ny. Inez melihat mereka di jendela, putranya terlihat begitu mencintai istrinya. Sedangan Imelda dan suaminya berencana menghancurkan kebahagiaannya Jack. Apa itu adil buat Jack?
Dilihatnya lagi Jack melepaskan pelukannya pada Ara. Tidak berapa lama putranyan itu masuk ke mobilnya bersama Pak Beni.
Setelah Jack pergi, Ara kembali masuk kedalam rumah, ternyata dia melihat masih ada Ibu mertuanya disana.
Ara tidak bicara apa-apa, terus melangkahkan kakinya masuk, tapi Ny.Inez mengajaknya bicara.
“Suamimu sudah berangkat bekerja?” tanya Ny.Inez
“Iya,” jawab Ara, menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menatap Ny. Inez.
“Aku minta maaf atas semua yang terjadi padamu dan Jack,” kata Ara.
Ny. Inez tidak menjawab.
“Sebenarmya Jack sangat menyayangimu, tapi sepertinya kau sudah sangat mengecewakannya,” kata Ara lagi.
“Iya aku tahu,” jawab Ny.Inez.
Ara tidak bicara apa-apa lagi, dia kembali membalikkan badannya, tapi terdengar Ny.Inez bicara lagi.
“Apa kau akan membeli pakaian kerja untuk Jack?” tanya Ny.Inez membuat Ara menoleh lagi.
“Aku tahu ukuran yang pas untuk tubuhnya Jack,” lanjut Ny.Inez.
Ara tertegun mendengarnya. Apa dia tidak salah dengar kaIau Ibu mertuanya mengajaknya berbelanja bajunya Jack?
__ADS_1
***********