
Rebecca menatap Jack dengan bingung.
“Apa kau bisa mencintai pria yang dari cara makannya saja sangat menjijikkan? Kau dicemooh semua orang saat bersamanya? Tidak diberi nafkah, tidak diberi uang? Ditindas keluarganya, apa kau masih akan mencintai pria itu?” tanya Jack.
“Apa maksud perkataanmu Jendral? Aku benar-benar tidak mengerti,” tanya Rebecca.
“Aku tanya sekali lagi, jika kau bertemu denganku dalam kondisi seperti itu apa kau bisa mencintaiku? Mencintai pria yang depresi, yang orang menyebutnya gila? Bukan seorang Jendral yang kau lihat sekarang?” tanya Jack.
Rebecca menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jendral, jangan kau katakan kalau kau pernah gila,” kata Rebecca.
“Ya aku penghuni rumah sakit jiwa. Aku punya ganguan mental,” jawab Jack.
Rebecca terbengong saja mendengarnya, tidak percaya dengan ucapannya Jack.
“Tapi..” gumamnya dengan bingung.
“Istriku mencintaiku disaat aku seperti itu. Disaat aku depresi, disaat aku menjadi cemoohan orang dan memalukan, bahkan aku sama sekali tidak bisa melindunginya, memberikan haknya, aku tidak bisa membelanya disaat dia disakiti, tapi dia selalu mencintaiku,” jawab Jack.
Rebeccapun diam, dia merasa shock dengan apa yang Jack katakan.
Jack menoleh pada Ara yang sedang menyapanya.
“Dia mencintaiku dengan segala kekuranganku, bukan kelebiahanku, bahkan disaat aku tidak bisa memberikan apapun untuknya, dia selalu disampingku.” ucap Jack , kemudian berpindah menoleh pada Rebecca.
”Bagaimana bisa kau katakan pengorbananmu lebih dari istriku?” tanya Jack.
Rebecca langsung membisu.
Jack menoleh lagi pada Ara, saat istrinya itu sudah berlinang airmata saja.
“Bagaimana mungkin aku tega menyakitinya, dia mengorbankan hidupnya untukku, aku sangat tidak tahu diri kalau aku menyakitinya hanya karena seorang wanita yang tidak aku cintai,” ucap Jack.
Rebecca benar-benar tidak bisa bicara, dia tidak menyangka ternyata istri Jendral itu begitu tulus mencintai Jendral tampan itu. Jika disaat seperti itu dia bertemu dengan Jendral itu dan tidak tahu kalau pria depresi itu seorang jendral, apa dia mau mengejar-ngejarnya sampai ke Paris begini?
Rebecca melihat Jack yang menatap Ara dengan pandangan cinta yang tidak bisa disembunyikan, pandangan cinta yang bukan tertuju padanya tapi pada istrinya.
Jack menatap mata istrinya yang sudah meneteskan airmata dipipinya. Ara merasa sedih setiap kali Jack mengingatkan beratnya perjuangan mereka sampai bisa berkumpul seperti ini.
“Jack,” ucap Ara.
“Jangan menangis,“ ucap Jack mengusap airmata di pipinya Ara, padahal matanyapun mulai memerah.
“Aku mencintaimu,“ ucap Jack. Tangannya terus mengusap pipi istrinya yang basah.
“Jangan menangis, aku sudah berjanji pada ayahmu, aku akan menjagamu aku akan membahagiakanmu, jangan menangis,” ucap Jack.
Jack mendekatkan kepalanya Ara lalu mencium keningnya.
“Aku mengajakmu kesini, supaya kau tahu aku sama sekali tidak pernah berniat menyakitimu,” ucap Jack.
“Aku ikut merasa sakit jika kau tersakiti,” lanjut Jack.
“Aku mencintaimu, Jack,” ucap Ara.
“Aku tahu,” ucap Jack, memeluk istrinya ke pelukannya dan mencium rambutnya.
Rebecca terdiam mendengar apa yang Jack katakan. Tentu saja itu yang membuat Jendral itu sangat mencintai istrinya? Begitu berat pengorbanannya istrinya Jendral itu, mendampingi suaminya disaat kondisi seperti itu. Belum tentu dia bisa menyukai Jendral ini kalau pertemuan mereka disaat Jendral itu depresi.
Ada perasaan malu dihati Rebecca. Dia yang sok sok sangat mencintai Jendral itu dan begitu ingin memilikinya, ternyata hanya obsesi belaka pada kesempurnaan Jendral tampan itu.
Jack menoleh pada Rebecca.
“Apa kau mengerti apa yang aku katakan?” tanya Jack.
Rebecca menatapnya, menatap Jendral tampan itu yang sedang memeluk istrinya. Jelas terlihat begitu sayangnya pria itu pada istrinya, berusaha jujur pada istrinya dengan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Jendral itu.
__ADS_1
“Aku..aku minta maaf, aku sudah melakukan kesalahan,” ucap Rebecca.
“Jangan pernah menyakiti istriku, aku akan selalu menjaganya,” kata Jack.
“Tidak, aku benar-benar minta maaf,” ucap Rebecca, lalu dia menoleh pada Ara yang terlihat punggungnya saja.
”Aku juga minta maaf pada istrimu, kerena sudah mengganggu suaminya. Aku tidak akan melakukannya lagi,” kata Rebecca.
Ara menghapus airmatanya dan menoleh pada Rebecca.
“Carilah laki-laki yang benar-benar mencintaimu, maka kau akan bahagia. Bukan laki-laki yang menginginkan tubuhmu, sayangilah hidupmu,” kata Ara.
Rebecca tidak bicara lagi, dia hanya mengangguk saja, kemudian meraih tasnya.
“Jendral, kau boleh melaporkanku,” kata Rebecca, lalu bangun dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.
Ara kembali menatap suaminya, diapun tersenyum. Jac memeluknya lagi.
“Aku mencintaimu Jack,” ucapnya, menyusupkan wajahnya ke dada suaminya.
“Aku juga,” jawab Jack, mencium rambutnya Ara.
“Bagaimana, Tuan?” tanya Pengacara.
“Terserah istriku,” jawab Jack.
Ara menoleh pada Pengacara itu.
“Dia sudah meminta maaf dan berjanji tidak melakukannya lagi, tarik saja tuntutan dari suamiku,” kata Ara.
“Baiklah Nyonya, kalau begitu saya permisi, Tuan, Nyonya,” kata dua pengacara itu lalu meninggalkan meja mereka.
Jack menatap istrinya dan mencium pipinya.
“Sayang sepertinya aku lapar,” kata Jack.
“Iya disini juga tidak apa-apa,” ucap Jack.
“Ada menu eskrim?” tanya Ara pada Jack.
“Apa kau mau eskrim?” tanya Jack.
“Kalau ada,” jawab Ara.
“Sepertinya tidak ada, bagaiman kalau kita ke taman bermain saja?” tanya Jack.
“Taman bermain dimana?” tanya Ara.
“Ada, tidak jauh dari sini,” jawab Jack.
“Ah tidak, aku teringat pada putra kita, seharusnya kalau ke taman bermain, Galand diajak,” kata Ara.
“Kau benar, kalau begitu kita cari taman bermainnya yang siang saja,” ujar Jack.
“Tapi taman bermainkan tidak baik untu Galand karena masih kecil, tapi kalau dia tidak di ajak, aku merasa tidak nyaman,” kata Ara, membuat Jack terdiam.
“Kau benar, ya sudah kita makan saja dulu. Nanti kita cari tempat makan eskrim yang enak,” ujar Jack.
Merekapun akhirnya makan disitu.
Setelah makan, mereka tidak berlama-lama, langsung pulang karena khawatir Galand ditinggal bersama Bibi.
Saat mobil Jack memasuki taman rumah Jack, disebrang airmancur terlihat ada tenda-tenda yang entah tenda apa. Tenda itu menghdapat kearah rumah.
“Jack tenda apa itu?” tanya Ara keheranan.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Jack.
__ADS_1
Tentu saja Ara merasa penasarana. Saat mobil itu berhenti di depan teras, dia segera turun dari mobil itu barulah terlihat itu tenda apa. Tenda eskrim!
Ara langsung tersenyum senang.
“Kenapa ada tenda es krim di ruamh?” tanya Ara.
“Kau kan ingin eskrim, tapi kita tidak bisa pergi ke taman bermain, jadi biar penjual eskrimnya yang datang kerumah. Kau bisa makan eskrim sepuasnya,” jawab Jack.
Ara menoleh pada Jack.
“Seharusnya kau berterimakasih pada suamimu,” kata Jack.
Arapun tertawa.
“Terimakasih suamiku,” ucap Ara.
Jack mengangguk dan tersenyum. Dia akan bicara lagi tapi ternyata istrinya sudah berlari jauh pergi ke tenda eskrim. Jackpun segera mengikutinya.
Istrinya sudah nongkrong di meja eskrim itu, memasan es krim kesukaannya. Wanita itu terlihat bahagia dengan eskrimnya.
“Kau pesannya yang coklat saja,” kata Jack.
“Ah tidak, aku suka yang strawberry,” ujar Ara, menggelengkan kepalanya, sambil melihat pria itu yang mengambilkan eskrim untunya ke sebuah mangkuk yang besar.
Ara menerima mangkuk itu dan disimpan di meja tenda itu, lalu mulai mencicipi es krimnya.
“Aku ingin membuat resepsi disini, apa kau setuju?” tanya Jack.
Ara menatap Jack , sambil terus makan eskrimnya. Sedangkan Jack hanya memperhatikan istrinya makan eskrim itu. Wanita itu senang sekali makan eskrim tapi tubuhnya tidak gemuk gemuk.
“Resepsi?” tanya Ara.
“Iya,” jawab Jack.
“Terserah kau saja,” ujar Ara.
“Kita undang semua keluargamu ke Paris,” kata Jack.
“Iya,” jawab Ara sambil tersenyum, terus makan eskrimnya dengan semangat.
“Bolehkah aku mencicipi es krimmu? Selama ini aku tidak pernah mencicipi eskrim strawberymu, kau saja yang makan eskrim coklatku,” kata Jack.
“Ah tidak, nanti kau menghabiskannya, kau pesan sendiri, tuh masih banyak,” ujar Ara, dengan bibir yang belepotan dengan eskrimnya karena sambil bicara.
“Tidak, sedikit saja,” kata Jack.
”Ah tidak tidak,” Ara menjauhkan eskrimnya menjauh dari jangkauannya Jack.
Jack menghela nafas melihat mangkuk itu dijauhkan. Tapi dia tetap mendekatkan wajahnya pada Ara, yang sekarang menjauhkan sendok eskrimnya juga. Tapi ternyata bukan sendok atau mangkuk yang menjadi incaran Jack, tapi eskirm yang menempel di bibirnya Ara. Diapun langsung makan eskrim di bibir itu sambil menciumnya. Tentu saja Ara terkejut.
“Jack, apa yang kau lakukan?” tanya Ara terbelalak kaget.
“Kau sangat pelit, makan eskrim di bibirmu juga tidak apa,” jawab Jack, sambil tersenyum.
Ara menatap Jack keheranan, sambil makan eskrimnya.
“Kau bisa memesannya. Ya sudah aku beri, nih,” ucap Ara.
Ara menyodorkan sendok itu ke mulut Jack. Tapi bukan sendok yang masuk ke mulutnya Jack, pria itu malah mengincar eskrim di bibirnya Ara.
Jack mencium bibir Ara yang penuh dengan eskrim.
“Jack!” teriak Ara lagi, terkejut.
Suaminya hanya tertawa saja.
“Es krimnya sangat manis,” kata Jack. Kemudian dia menciumnya lagi, dia ketagihan makan eskrim di bibir istrinya.
__ADS_1
******