
Arum kecil duduk berhadapan dengan Jack kecil, peris sama dengan apa yang sekarang Ny.Imelda lihat. Putri kecilnya sangat suka duduk menghadap kaca jendela karena dia bisa melihat orang lalu lalang diluar café.
“Bu! Aku mau es krim strawberry!” kata Arum kecil.
“Pesanlah sama Jack, kalian mau apa,” sahut Ny.Imelda.
“Aku akan memesan dua es krim coklat, satu untukku satu untukmu,” kata Jack, yang sudah duduk duluan dikursi itu.
“Tidak mau, aku mau strawberry,” tolak Arum.
“Tapi kau selalu makan es krim coklatku! Es krimku jadi sedikit,” keluh Jack.
“Tapi aku mau strawberry,” ujar Arum kecil, mulai merengek.
Ny.Inez menoleh pada Jack.
“Jack, pesankan yang strawberry, jangan buat Arum menangis,” kata Ny.Inez.
“Tapi Arum selalu ikut makan es krimku, kenapa dia tidak membeli es krim coklat saja,” keluh Jack lagi, dengan wajah masam.
“Aku suka strawberry,”ujar Arum.
Akhirnya Jack memesan rasa strawberry dan coklat ,meskipun akhirnya Arum masih juga mencicipi es krim coklatnya, Jack kecil hanya bisa mengalah atau Arum akan menangis.
Seperti yang terlihat Ny.Imelda sekarang. Jack tampak kesal es krimnya dicicipi terus oleh istrinya tapi akhirnya dilihatnya Jack tersenyum lagi makan es krimnya yang tinggal setengah itu dan istrinya masih sesekali mencicipi es krim dimangkuknya Jack.
Tiba-tiba ada air mata bening menetes dipipinya Ny.Imelda. Bagaimana dia tidak membenci Jack, dia sangat kehilangan putrinya, mungkin putrinya sekarang sudah dewasa seperti Arum yang ada di rumahnya atau juga mungkin seperti istrinya Jack yang sedang makan eskrim itu.
Ny.Imelda menunduk sedih, kemudian menoleh lagi kearah Ara dan Jack, saat terdengar suara Jack.
“Kau menghabiskan es krimku!” keluh Jack.
Ara tertawa, lalu memasukkan es krim coklat ke mulutnya dan Jack hanya bisa memberengut.
“Seharusnya kau pesan yang coklat saja,” ujar Jack yang makan es krim coklatnya.
“Aku tidak mau. Aku tidak suka yang coklat, aku mau strawberry saja,” kata Ara, membuat Jack kesal tapi mau gimana lagi, mau istrinya begitu.
“Tapi kau kan bisa memesan lagi yang coklat,” ujar Ara.
“Kalau aku pesan lagi yang coklat, kau pasti akan ikut makkan lagi,” ucap Jack.
“Tidak,“ elak Ara, menggelengkan kepalanya.
“Tidak! Kau akan tetap makan es krimku, biasanya juga begitu,” kata Jack.
“Biasanya begitu bagaimana? Kapan kau memesan es krim coklat kedua kalinya?” tanya Ara, menatap Jack.
Jack menghentikan makan eskrimnya. Dia dan Ara baru beberapa kali makan es krim disini dan tidak pernah dengan santai makan eskrim sampai dia memesan lagi, selalu ada kejadian yang mengganggu mereka.
Jack menatap Ara yang juga menatapnya. Jack terdiam, apa dia sedang berhadapan dengan Arum kecilnya sampai dia mengatakan sudah tahu kalau Ara akan makan lagi es kirm coklatnya kalau dia memesannya lagi?
Bukan Jack saja yang mengingatkannya pada Arum kecil, begitu juga dengan Ny.Imelda. Perasaannya semakin sedih saja teringat pada putrinya. Biasanya putrinya melakukan hal itu, putrinya suka mengganggu Jack makan es krim. Sekarang dia melihat pemandangan itu, hatinya semakin teriris-iris.
“Silahkan Nyonya!” kata pelayan café sambil menyimpan menu pesanannya Ny.Imelda.
__ADS_1
“Ya, simpan saja dimeja,” kata Ny.Imelda sambil menoleh pada pelayan itu. Tapi karena dia melamun membuatnya tidak sengaja malah menyenggol nampan pelayan itu sampai tumpah ke atas meja dan menimbulkan suara yang berisik.
“Maaf!” kata Ny.Imelda, terkejut.
“Saya yang minta maaf Nyonya, saya tidak hati-hati, apa Anda baik-baik saja?” tanya pelayan.
Tentu saja kegaduhan itu membuat beberapa orang yang ada diruangan itu menoleh kearah mejanya Ny.Imelda termasuk Jack dan Ara.
Mereka terkejut melihat Ny.Imelda ada di cafe itu.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” kata Ny.Imelda.
Ara menoleh pada Jack lalu pada Ny.Imelda. Jack menatap Ibunya Arum itu, apakah Ny.Imelda sudah dari tadi duduk disana? Apakah Ny.Imelda juga merasakan hal yang sama dengannya? Kalau kebiasaan Ara itu mengingatkan mereka pada Arum kecilnya?
“Maaf, saya harus ke toilet,” kata Ny.Imelda, sambil meraih tasnya lalu bangun meninggalkan meja itu.
Jack menoleh pada Ara.
“Sayang, kau tunggu disini dulu,” kata Jack, sambil bangun dari duduknya.
“Kau mau apa?” tanya Ara, mengangkat wajahnya menatap Jack yang berdiri.
“Aku mau ke toilet,” jawab Jack.
Ara tidak bicara lagi, meskipun dia tidak mengerti, apakah Jack akan bicara dengan Ny.Imelda? Atau memang dia ingin ke toilet? Tidak mungkin kan kalau Jack mengikuti Ny.Imelda ke toilet wanita.
Ny.Imelda menyusuri lorong itu dengan tangis yang tidak tertahankan. Istrinya Jack itu mengingatkannya pada putrinya dan itu sangat membuatnya sedih. Dia begitu merindukan putrinya. Bayangan putri kecilnya terbawa arus laut tidak pernah lepas dari ingatannya. Putri kecilnya, dia rindu putri kecilnya.
Ny.Imelda berhenti sebelum masuk ke toilet wanita, menempelkan wajahnya ke tembok dan menangis.
“Sayang, Ibu merindukanmu,” ucapnya, dengan airmata yang terus keluar membasahi pipinya. Meratapi sesuatu yang tidak mungkin kembali.
Ny.Imelda cepat-cepat menghapus airmatanya dan membalikkan tubuhnya menghadap pemilik suara itu. Dia terkejut saat melihat Jack sudah berdiri didepannya.
“Kau, kau mau apa?” tanya Ny.Imelda.
“Kau teringat putrimu?” tanya Jack.
“Kau jangan menggangguku! Putriku ada dirumah,” jawab Ny.Imelda.
Jack diam beberapa detik.
“Istriku mengingatkanmu pada Arum kan?” tanya Jack.
“Kau ini bicara apa? Arumku ada di rumah,” jawab Ny.Imelda.
“Istriku memang begitu,” ucap Jack, membuat Ny.Imelda terdiam.
“Ada beberapa hal yang mengingatkanku pada Arum,” kata Jack, membuat Ny. Imelda menatapnya.
Jack balas menatap Ny.Imelda.
“Arum yang di rumahmu bukan Arum kan?” tanya Jack membuat Ny.Imelda terkejut.
“Kau ini bicara makin ngelantur, aku mau ke toilet,” kata Ny.Imelda akan pergi tapi Jack bicara lagi.
__ADS_1
“Arum kecil suka mengganggu es krim coklatku, sama seperti istriku,” ucap Jack.
Ny.Imeldapun diam tidak bergerak.
“Apa yang istriku lakukan, mengingatkanmu pada Arum kecil kan? Begitu juga denganku!” kata Jack.
Mendengarnya membuat hati Ny.Imelda berdebar-debar. Diapun membalikkan badannya menatap Jack, menatap mata kebiru-biruan itu.
“Dia..dia…” bibir Ny.Imelda tampak gemetaran.
“Dia mirip Arum, tapi dia bukan Arum. Aku sudah mengeceknya, istriku bukan Arum, maaf,” ucap Jack.
Ny.Imeldapun diam, jadi Jack menyadari kalau sikap istrinya mengingatkannya pada Arum dan ternyata Jack malah sudah menyelidikinya kalau istrinya itu bukan Arum. Dan .. Ny.Imelda menatap Jack.
“Aku tahu Arum yng dirumahmu bukan Arum! Maaf,” ucap Jack lagi diakhiri dengan maaf, karena dia merasa bersalah telah menyebabkan Arum kecil tenggelam.
“Maaf,” ulang Jack.
Ny.Imelda tidak bicara apa-aa.a Dia ingin marah pada Jack, ingin memakinya, tapi dia merasa tubuhnya begitu lemas dan hampa, dia begitu merindukan putrinya.
“Nyonya!” panggil Jack.
“Nyonya!” panggil Jack lagi,
“Nyonya!” panggilan yang ketiga kalinya dari Jack masih terdengar tapi kemudian suara itu menghilang tidak di dengarnya lagi.
Jack terkejut mendapati Ny.Imelda tiba-tiba terjatuh didepannya. Diapun segera mengangkat tubuhnya Ny.Imelda.
“Securty! Securty!” teriaknya, sambil membawa tubuh Ny.Imelda dari lorong itu.
Seorang pelayan yang melihatnya segera berlari menghampirinya dan buru-buru menemani Jack keluar café dari pintu samping. Seorang security juga menghampiri mereka.
“Tolong katakan pada istriku di meja 24 untuk menyusul ke mobil, bawa kuncinya!” seru Jack pada security yang baru datang.
Security itupun segera masuk ke café dan menemui Ara.
“Maaf Nyonya, suami Nyonya meminta Nyonya menyusul ke mobilnya membawa kunci,” kata security, membuat Ara terkejut.
“Ke mobil?” tanya Ara, keheranan. Katanya Jack mau ke toilet ko menyuruh menyusul ke mobil?
Dilihatnya ke kaca cafe itu, Jack menggendong seseorang dibawa ke mobilnya yang masih terkunci bersama seorang pelayan café.
Ara segera bangun mengambil tasnya juga kunci mobilnya Jack yang ada di meja. Setelah menyimpan uang di meja Ara segera keluar dari café itu menyusul Jack yang masih berdiri menggendong seseorang.
Ara terkejut setelah dekat dia bisa melihat siapa wanita yang sedang di gendong Jack itu, yang ternyata Ny.Imelda.
“Ny.Imelda kenapa?” tanya Ara.
“Kita bawa ke rumah sakit!” jawab Jack.
“Aku akan menemaninya di belakang,” kata Ara, sambil membuka pintu mobilnya Jack.
“Iya,” jawab Jack.
Ara segera masuk ke dalam mobil belakang, barulah Jack memasukkan tubuhnya Ny.Imelda dibantu security yang ikut menyusul ke parkiran.
__ADS_1
Tidak berapa lama Jack yang memang tidak mengajak Pak Beni dari kemarin, masuk ke mobil, mulai menyetir melajukan mobilnya meninggalkan café itu menuju rumah sakit. Sedangkan Ara duduk di belakang bersama Ny.Imelda yang berbaring di pangkuannya.
*******