
Ara segera menghampiri Jack, melihat air yang masih mengucur dirambut pria itu.
“Kau kenapa? Rambutmu basah, kenapa tidak memakai handuk?” tanya Ara, lalu bergegas masuk kekamar mandi dan mengambil handuk.
Jack tidak menjawab, dibiarkannya istrinya mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ditangannya. Sesekali istrinya itu harus berjinjit supaya tangannya sampai kerambutnya Jack.
Jack memperhatikan setiap gerak gerik istrinya. Istri cantiknya selalu merawatnya dengan baik. Ara beralih melap wajahnya Jack, turun leher dan dadanya Jack yang sedikit terbuka.
Ara hanya bisa menunduk, tidak berani membalas tatapannya Jack. Huh, kenapa tatapan itu begitu membuatnya gelisah? Pia itu selalu begitu, dari sebelum menikah kalau menatapnya tidak bisa cepat beralih, seperti mau memakannya saja, membuatnya panas dingin.
Wajah Ara mulai memerah dan keningnya mulai berkeringat. Dia merasa gelisah Jack terus menatapnya.
“Kau kenapa?” tanya Jack, membuat Ara mengangkat wajahnya.
“Aku? Ah tidak apa-apa,” jawab Ara. Kenapa pria itu bertanya itu segala? Tidak tahu kalau dia mulai gelisah karena tatapannya?
Ara menahan nafasnya saat tangan Jack terulur memeluk pinggangnya, merapatkan tubuhnya, membuat wajah Ara medekati lehernya Jack, hampir saja dia mencium leher itu.
Jantungnya semakin berdebar kencang saja, menyadari kalau pria itu hanya menggunakan piyama handuk dan pasti didalamnya tidak menggunakan apa-apa, membuatnya semakin gelisah saja, keningnya semakin berkeringat.
“Sudah, aku akan mengambil pengering rambut,” kata Ara, untuk mengurangi rasa gugupnya.
Ara akan menjauh tapi Jack sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Arapun menatap Jack, ternyata benar saja pria itu sedang menunduk menatapnya.
Ara merasakan tangan pria itu menyusuri punggungnya. Membuatnya semakin tegang saja.
“Jack,” panggil Ara.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Ara, menatap Jack.
Jack tidak menjawab, tangan Jack memeluk pinggangnya semakin erat, membuatnya kembali menempel pada tubuhnya. Bukan itu saja Jack juga langsung mencium bibirnya, tidak sebentar, tapi begitu lama, menyusuri setiap inci bibirnya, menciumnya begitu dalam. Tidak biasanya ciuman Jack semesra itu seakan merasa-rasakan sentuhan bibirnya.
“Jack,!”gumam Ara, saat pria itu melepaskan ciumannya tapi tidak menjauhkan bibirnya. Sampai nafasnya begitu tercium segar di hidung Ara, tentu saja pria itu sudah mandi dan berkumur-kumur. Hidung mancungnya masih menempel dipipinya Ara. Seakan tidak ada niat untuk menjauh.
Ara memegang bahunya Jack dengan perasaan yang tidak karuan, sungguh dia merasa sangat tegang.
“Istriku,” bisik Jack ditelinganya Ara.
Ara bergerak akan menatap Jack, pipinya langsung bersentuhan dengan pipi pria itu. Kedua tangan Jack memengang wajahnya. Tatapan merekapun bertemu.
Ara tidak mengerti arti tatapannya Jack, hanya saja diapun tidak bisa berpaling menjauh dari pria itu.
“Aku mencintaimu,” ucap Jack.
“Aku membutuhkanmu sekarang,” lanjutnya, mengecup lagi bibir Ara. Bibir yang sedari tadi sudah sangat menggodanya.
“Aku juga mencintaimu,” jawab Ara dengan lirih, membiarkan bibir itu terus menempel dibibirnya.
“Sudah berapa lama kita menikah?” tanya Jack, sama sekali tidak mau menjauhkan bibirnya.
“Kata Ibu lebih dari sebulan,” jawab Ara dengan pelan. Dia semakin tegang saja.
“Sudah saatnya kita punya bayi yang banyak,” ucap Jack.
“Ah jangan banyak-banyak Jack, satu saja dulu,” protes Ara, sambil memberengut, membuat ciuman kembali menempel dibibirnya.
“Satu kurang banyak,” keluh Jack.
“Masih banyak waktu,” jawab Ara. Dia bingung kenapa suaminya ingin punya anak banyak?
“Tidak ada waktu lagi,” ucap Jack.
“Masih banyak waktu,” kata Ara.
“Tidak ada,” jawab Jack.
Ara kembali memberengut, kenapa Jack bersikeras terus? Melihat wajah istrinya yang berubah masam, membuat Jack tersenyum dan kembali menciumnya. Dia sangat suka menggoda istrinya. Dia sangat mencintainya.
__ADS_1
Ara masih memberengut, membayangkan repotnya punya anak banyak. Harusnya satu anak saja dulu, kenapa harus banyak-banyak? Melihatnya membuat Jack kembali menciumnya begitu lama, bahkan pelukan tangannya terasa begitu lain, menyusuri punggungnya Ara perlahan.
Lagi-lagi Ara harus tersentak kaget saat tiba-tiba merasakan tubuhnya melayang karena Jack menggendongnya.
“Jack!” teriaknya. Buru-buru memeluk lehernya Jack.
Pria itu ternyata membawanya ke tempat tidur. Jack memperlakukannya seperti barang yang ringan saja, gampang sekali dia mengangkat-angkat tubuhnya dan sekarang tiba-tiba sudah ada di tempat tidur.
“Kau selalu mengagetkanku!” keluh Ara, menatap suaminya itu.
Wajahnya langsung memerah saat menyadari pria itu tidak menjauh, malah berada beberapa centi diatas tubuhnya. Membuat piyama itu semakin terbuka dan memperlihatkan dadanya.
Ara kembali berkeringat dingin, menatap dada itu tersingkap kemana-mana. Padahal dia sering melihat Jack telanjang dada saat berenang ataupun memandikannya tapi membayangkan Jack tidak menggunakan apa-apa sedang berada diatas tubuhnya, rasanya dia sangat gugup.
Apakah..apakah Jack akan … Ara semakin gelisah.
“Bukankah sebulan terlalu lama?” tanya Jack.
“Lebih dari sebulan,” lanjutnya.
“Ap..apa maksudmu sebulan, lebih sebulan?” tanya Ara, wajahnya semakin memerah.
“Tentu saja seharusnya kita berbulan madu,” jawab Jack.
“Kau kan banyak urusan kita tidak bisa bulan madu sekarang,” kata Ara, menahan nafasnya, menyadari tubuh itu semakin turun mendekatinya.
“Kau ini suka banyak alasan, apa kau tidak mencintaiku?” keluh Jack.
Ara tiba-tiba teringat mimpinya, karena dia menolak dicium Jack, Jack mengancam akan berselingkuh.
“Bukan begitu, iya iya aku mau bulan madu!” seru Ara, membuat Jack terkejut.
“Kau kenapa?” tanya Jack.
“Tidak, aku hanya ingat mimpiku saja,” jawab Ara.
“Kau akan berselingkuh karena aku tidak mau kau menciumku dan merusak lipstikku,” jawab Ara, membuat Jack tertawa.
“Kau mimpi seperti itu?” tanya Jack.
“Iya aku mimpi waktu aku ketiduran di mobil,” jawab Ara.
Jack menurunkan tubuhnya lagi semakin menempel pada tubuhnya Ara, menempalkan hidungnya ke wajah istrinya.
“Tentu saja aku akan melakukannya jika kau menolakku,” bisik Jack.
“Haah? Kenapa kau bicara begitu?” tanya Ara, hatinya langsung merasa sedih saja.
“Tentu saja kalau kau tdak mau kucium, aku mencium wanita lain saja” jawab Jack.
“Jangan!” teriak Ara, tangannya menarik lengan Jack, membuat tubuh pria itu jadi jatuh dan benar-benar ada diatas tubuhnya Ara.
“Maaf,” jawab Ara, melepaskan pegangannya. Sudah tidak terlukiskan bagaimana malunya, pria itu pasti menertawakannya.
“Kalau kau melarangku mencium wanita lain, berarti kau mencintaiku kan?” tanya Jack sambil tersenyum.
“Tentu saja, kau tidak boleh mencium wanita lain,” kata Ara.
“Jadi aku harus mencium siapa?” tanya Jack.
“Tentu saja aku, siapa lagi?” jawab Ara, hampir berteriak kesal, pria itu menggodanya terus, dia kembali memberengut. Jack malah menertawakannya.
“Kau terus-terusan menggodaku!” protes Ara.
Tapi sekarang Jack tidak tertawa lagi, dan malah menatapnya.
“Kau tidak boleh mencium wanita lain,” ucap Ara hampir tidak terdengar, membuat Jack mengecup bibirnya.
__ADS_1
“Tapi aku tidak mau cuma mencium saja,” jawab Jack, membuat Ara terkejut.
“Memangnya kau mau apa?” tanya Ara.
“Malam pertama kita tertunda sangat lama kan?” jawab Jack.
“Oh…” Arapun diam. Obrolan yang sangat membuatnya panas dingin.
Jemari Jack menyusuri wajah istrinya itu.
“Bagaimana kita punya bayi banyak kalau malam pertama saja belum pernah,” ucap Jack.
Ara jadi tertawa, dia merasa geli juga. Mereka membicarakan bayi tapi mereka tidak pernah melewati malam pertama.
“Tanganku sudah sembuh, tidak sakit lagi,” ucap Jack tiba-tiba membuat Ara keheranan.
“Apa hubungannya?” tanya Ara.
“Kau memilih mau push up satu tangan atau dua tangan?” jawab Jack
“Jaaack!” teriak Ara.
“Kau tidak tahu malu!” teriaknya lagi, langsung menutup kedua telinganya.
“Apanya yang malu? Aku sering melakukannya saat latihan!” ucap Jack.
“Aku tidiak mau dengar! Tidak mau dengar!” teriak Ara, menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menutup telinganya.
Melihatnya istrinya begitu membuat Jack merasa gemas saja, dia benar-benar menempelkan tubuhnya dan mulai menciumi wajahnya Ara.
“Jangan katakan kau belum mandi, kau kan sudah mandi tadi,” ucap Jack, menatap wajah yang habis diciuminya.
“Iya, aku sudah mandi,” jawab Ara. Tidak ada lagi alasan untuk menolak. Sebenarnya bukan menolak, hanya saja dia merasa gugup dan tegang jika pria itu mencumbunya.
Sekarang dirasanya Jack mulai menciumnya dengan lembut. Bukan wajahnya saja yang habis, pria itu mulai mencium ke bagian yang lain, menyusuri leher dan dadanya.
“Aku ingin kau melakukan sesuatu,” bisik Jack.
“Melakukan apa?” tanya Ara, membalas tatapannya Jack.
“Kau jujur padaku,” jawab Jack.
“Jujur soal apa?” tanya Ara, tidak mengerti.
“Jujur tentang yang kau rasakan,” jawab Jack, membuat Ara diam dan masih bingung. Jack mulai bicara lagi.
“Kau istriku, aku suamimu, aku sangat menyayangimu, aku tidak mau menyakitimu. Kau merasa tidak nyaman katakan padaku, aku tidak akan melakukannya, aku hanya ingin membuatmu bahagia,” jawab Jack.
Ara terdiam mendengarnya.
“Kau mengerti maksudku? Aku tidak mau menyakiti istriku,” tanya Jack, tangannya mengusap rambutnya Ara.
Ara menatap pria itu, pria itu sangat menghargai istrinya, membuatnya merasa terharu.
“Kau suamiku yang baik Jack, aku mencintaimu,” jawab Ara, sambil mengangguk. Kedua tangannya mengusap kedua pipinya Jack, mengangkat wajahnya mencium bibirnya Jack. Sepertinya ini pertama kalinya dia berani mencium bibirnya Jack.
Jack balas mencium keningnya Ara. Dia mencintai istrinya sepenuh hatinya. Ara kembali merasakan tangan itu menyusup kebawah punggungnya, membuka resleting belakang gaunnya. Dalam beberapa detik tangan Jack sudah terasa menyusuri kulit punggunya. Ara baru sadar kalau tangan Jack sudah tidak diperban lagi.
Sebelah tangannya Jack memeluk tubuh Ara dengan erat, membuat tubuhnya semakin menempel erat di dada pria itu yang terbuka. Entah bagaimana awalnya tali piyama itu juga sudah terlepas, ternyata Jack memang tidak menggunakan apa-apa dibalik piyama handuk itu.
*******
Readers maaf ya kalau kurang romantis, padahl udh dibuat seromantis mungkin ini wkwk..anakku lagi sakit panas muntah muntah jadi g focus nulisnya.
Yang udh mampir ke karyaku di Fc terimakasih. Ka mbu ne, ka niko, dan satu lagi siapa yang udh ninggalin jejak, terimakasih.
********
__ADS_1