
Ara tidak pernah menyangka kalau hari ini akan berbelanja baju kerjanya Jack dengan ibu mertuanya di sebuah butiq yang sudah terkenal dengan kualitas baju bajunya, juga sudah di desain khusus oleh desainer terkenal di ibu kota dan manca Negara.
Sesekali dia melirik Ibu mertuanya yang menyanyakan ini dan itu ke pelayan butiq itu. Benar apa yang dikatakan Ibu mertuanya, ternyata Ny. Inez memang hafal betul ukuran tubuhnya Jack. Tadinya Ara fikir hanya dia saja yang mengenal tubuhnya Jack karena sejak menikah dengan Jack, setiap hari dia memandikan pria itu.
“Aku tidak menyiapkan jasnya Jack, karena dia tidak mungkin bisa berada di puncak pimpinan,” kata Ny. Inez, sambil memilih sebuah jas dan bertanya tentang kualitas kain itu pada pelayan butiq.
“Meskipun Jack belajar manajemen dan pemasaran itu hanya pemahaman dasar saja karena walau bagiamanapun dia tidak normal,” lanjutnya, kembali memilih baju yang lain.
“Sepertinya Nyonya sangat mengenal tubuhnya Jack padahal bukankah Jack baru pulang setelah sekian lama tidak bertemu?” tanya Ara, dia juga ikut memilih-milih jas untuk suaminya.
“Tubuhnya Jack sama dengan Ayahnya,” jawab Ny.Inez. Barulah Ara mengerti.
Ara memperlihatkan jas ditangannya.
“Bagaimana dengan ini?” tanya Ara pada Ibu mertuanya.
Ny.Inez melihat jas yang dipilihkan Ara.
“Kau suka?” tanya Ny. Inez, menatap Ara.
“Kenapa Nyonya bertanya begitu? Ini baju untuk Jack bukan aku,” jawab Ara sambil tertawa.
“Asal kau suka, apapun baju yang kau pilih, dia akan suka memakainya,” jawab Ny.Inez, sambil memilih jas yang menggantung-gantung itu.
Ara tertegun mendengarnya, bagaimana Ny.Inez bisa tahu itu?
“Bagaimana Nyonya bisa tahu?” tanya Ara.
“Kau kan yang selalu mendandaninya,” jawab Ny.Inez.
“Iya, meskipun dia sudah sembuh dia tidak pernah protes apapun yang aku pakaikan,” jawab Ara, sambil tersipu.
Ny. Inez hanya menatap menantunya itu, dia tahu putranya sangat mencintai wanita ini. Diapun tidak bicara lagi, kembali memilih-milih baju untuk Jack.
Ara memperhatikan wanita itu yang terlihat lebih diam dari biasanya, tidak banyak bicara. Biasanya Ibu mertuanyanya selalu bergaya congkak penuh percaya diri tapi sekarang tidak, entah kemana Ny.Inez yang biasa dia lihat?
“Kenapa Nyonya memilihkan baju untuk Jack?” tanya Ara.
“Karena mungkin aku tidak akan pernah memilihkan baju lagi untuknya,” jawab Ny. Inez.
Arapun diam, dia tahu Jack sudah mengusir ibunya, dia juga tidak tahu harus berbuat apa, karena urusan Jack dengan ibunya hanya mereka yang bisa menyelesaikannya.
“Nyonya menyayangi Jack?” tanya Ara.
“Tentu saja, tidak ada Ibu yang tidak menyayangi anaknya,” jawab Ny. Inez.
__ADS_1
“Tapi kenapa Nyonya tidak pernah datang menjenguknya? Nyonya membiarkan Jack di Paris sendirian dalam kesepian, menunggumu yang tidak datang-datang menjenguknya? Apa benar Nyonya sesibuk itu sampai tidak ada waktu untuk menjenguknya? Atau Nyonya memang tidak menyayanginya?” tanya Ara.
Ny, Inez tidak menjawab, dia memberikan satu jas lagi pada pelayan butiq.
“Nyonya tahu, Jack sangat kecewa Nyonya menelantarkannya. Dia sakit hati Nyonya tidak memperdulikannya,” kata Ara, menatap Ny.Inez yang memilihkan lagi jas yang lain.
“Ada banyak hal yang tidak akan Jack mengerti,” kata Ny. Inez.
“Apa Nyonya tahu kalau dia sembuh sejak lama?” tanya Ara, membuat Ny.Inez terkejut, dia ingat kalau Jack kemarin itu marah padanya karena tidak tahu perkembangannya.
Ny. Inez menatap Ara.
“Kau tahu kapan Jack sembuh?” tanya Ny. Inez.
“Untuk pastinya aku tidak tahu, tapi apa Nyonya tahu kalau Jack itu seorang Jendral?” tanya Ara, semakin membuat Ny.Inez terperangah, jadi ini arti ucapannya Jack itu? Dia tidak peduli dengan pendidikannya bahkan ternyata dia tidak tahu kalau putranya seorang Jendral?
“Apa maksudmu Jack benar-benar seorang Jendral di Perancis?” tanya Ny. Inez, dari nada suaranya terdengar sangat getir.
“Iya, Jack seorang Jendral, Jendral yang berprestasi,” jawab Ara.
Ny. Inez langsung menunduk, matanya berkaca-kaca. Jadi ini yang ingin Jack katakan? Bahkan dia tidak tahu kalau anaknya berhasil dalam karirnya, sungguh dia Ibu yang tidak bertanggung jawab.
“Nyonya terlalu lama menelantarkannya, lupa kalau Nyonya punya anak di Paris, bagaimana bisa Nyonya tidak tahu kalau Jack sudah sembuh sekian lama dan bisa sekolah formal? Dia seorang Jendral Nyonya, seperti Ayahnya,” ujar Ara.
Ny. Inez tidak menjawab, dia terlihat menahan tangisnya. Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Dia menyerahkan urusan Jack pada suami barunya. Tn.Ferdi yang mengabarinya setiap saat kalau Jack masih sakit di RSJ. Karena tidak mau Jack menjadi bumerang dalam rumah tangganya, dia mempercayai informasi apapun dari suaminya.
Dia memang takut harta kekayaannya Constantine Jack ambil, tapi dia tidak pernah sengaja membuat anaknya depresi seumur hidupnya. Dia selalu mengirim uang untuk keperluan Jack di RSJ.
Ara memberikan tisu pada Ny.Inez, Ibu mertuanya itu menerimanya dan menghapus airmatanya. Ara tidak tahu apa yang ada di dalam fikiran Ibu mertuanya.
“ Apa ada yang akan kau pilih lagi?” tanya Ny.Inez pada Ara, matanya terlihat memerah.
“Tidak Nyonya, sudah cukup,” jawab Ara.
“Kalau begitu, kita pulang saja, aku ada keperluan yang lain,” kata Ny. Inez.
“Apa Nyonya sudah mendapatkan rumah baru?” tanya Ara.
“Belum, sedang dicarikan asistenku,” jawab Ny.Inez, lalu meninggalkan Ara.
Ara menatap kepergian Ny.Inez, sepertinya Ibu mertuanya itu menangis lagi.
Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang disembunyikan oleh Ibunya Jack itu? Katanya tidak ada Ibu yang tidak menyayangi anaknya, tapi Ny.Inez menelantarkam Jack sekalian lama bahkan tidak tahu kesembuhannya, apakah ada yang terjadi dibalik itu? Apakah ada alasan lain?
Sepertinya ibu dan anak ini harus bicara.
__ADS_1
Sepulangnya dari butiq itu, Ara sibuk menyusun pakaian-pakaian suaminya di ruangan menyimpan pakaian. Dia merasa senang mengurus pakaian suaminya, tapi yang ingin dia lakukan belum pernah dia lakukan, yaitu dia ingin memakaikan pakaian dinasnya Jack kalau Jack pergi bekerja di Paris. Saat melihat Jack di rumah pamannya, pria itu terlihat sangat gagah memakai pakaian dinasnya. Dia tidak menyangka kalau suami depresinya itu seorang Jendral.
Sedangkan Ny. Inez kembali lagi ke rumah sakit. Tanpa mengetuk pintu dulu dia masuk ke ruang rawat suaminya itu.
“Kau sudah datang? Kau mengagetkanku!” kata Tn. Ferdi, menoleh kearah pintu.
Ny.Inez tidak menjawab, dia mendapati suaminya masih berbaring di tempat tidur pasien.
“Hei, kau kenapa?” tanya Tn.Ferdi, melihat wajah istrinya yang masam.
“Katakan dengan jujur padaku!” jawab Ny. Inez dengan ketus.
Tn.Ferdi menatap istrinya penuh tanda tanya.
“Jujur soal apa?” tanya Tn.Ferdi.
“Kau, kau tahu kalau Jack sudah sembuh dari dulu kan?” tanya Ny. Inez.
Pertanyaan itu membuat Tn.Ferdi terkejut bukan main.
“Sembuh bagaimana? Aku saja baru tahu dia sembuh kemarin itu dari Dokter Mia,” jawab Tn.Ferdi.
“Jangan berbohong padaku!” teriak Ny.Inez.
Tn.Ferdi menatap istrinya.
“Apa maksudmu? Apa terjadi sesuatu?” tanya Tn.Ferdi.
“Kau membohongiku selama ini kan? Kau katakan Jack masih sakit dan dirawat di RSJ ternyata kau membohongiku!” teriak Ny. Inez histeris.
Tn.Ferdi tertegun mendengarnya.
“Jujur padaku! Kau tahu Jack sembuh sejak dulu kan? Kau tahu kalau dia seorang Jendral kan?” tanya Ny.Inez, masih dengan nada tinggi, meluapkan rasa marahnya.
Tn.Ferdi berusaha duduk tapi tubuhnya sangat sakit jadi dia kembali berbaring.
“Katakan padaku! Kau tahu semua itu dan kau membohongiku!” teriak Ny.Inez.
“Kau tahu hal itu darimana? Saat Jack datang dari Paris, anak itu dalam keadaan gila! Kau lihat sendiri dia seperti apa,” kata Tn.Ferdi dengan kesal.
“Aku tidak tahu kenapa Jack menderita depresi lagi! Apa kau melakukan sesuatu hal yang membuat Jack depresi lagi? Kau sengaja ingin membuat Jack gila seumur hidupnya?” tanya Ny.Inez, membuat Tn.Ferdi menatapnya tajam.
“Aku sudah bilang jangan sentuh anakku! Jangan sentuh anakku!” teriak Ny. Inez lagi. Rasa marahnya sudah tidak bisa dikendalikan.
“Aku tidak menyangka kalau selama ini kau membohongiku! Aku sangat kecewa padamu!” kata Ny. Inez, kini matanya kembali memerah, berkaca-kaca.
__ADS_1
“Kau sangat berisik!” Tn. Ferdi balas membentak istrinya.
**********