Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-135 Tragedi yang Tersembunyi ( Part 1 )


__ADS_3

Mobil mewah itu memasuki halaman sebuah panti asuhan disalah satu ibukota. Panti asuhan itu berbeda dengan panti-panti pada umumnya, bangunan panti itu terlihat sangat luas dan terawat rapih dan bersih.


Pria itu berjalan tertatih dengan dibantu kedua tongkatnya. Sebenarnya dia ingin istirahat dirumah saja tapi karena rasa penasarannya, dia terpaksa keluar rumah dan datang ke panti asuhan ini. Memastikan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


“Sore Pak, Anda ingin bertemu dengan siapa?” tanya seorang wanita yang masih muda, sepertinya pengurus panti.


“Kepala panti ini, ada? Apakah masih… siapa namanya aku lupa,” jawab pria itu yang tiada lain Tn.Ferdi, masuk kesebuah ruangan dengan pintu dan jendela yang terbuka lebar, seperti lobi, disana juga ada meja reseptionis dan kursi tamu. Sebuah panti yang tertata dengan baik.


“Bu Sinta?  Ada, silahkan Bapak tunggu sebentar,” kata wanita itu, sambil tangannya menunjuk ke kursi tunggu yang ada diruangan itu.


Tn.Ferdi tidak menjawab, wanita itu masuk ke dalam panti. Tn.Ferdi tidak langsung duduk  melainkan melangkah keluar ruangan itu, berdiri di teras melihat kehalaman yang tampak ada beberapa anak yang berlarian.


Ini adalah kunjungannya yang kedua ke panti ini. Dia fikir setelah lebih dari 20 tahun yang lalu dia kesini, dia tidak akan pernah  datang lagi kesini, tapi ternyata situasi memaksanya kembali kesini. Kalau bukan karena Jack mencurigai sesuatu dia tidak akan datang kesini lagi untuk selamanya.


“Selamat sore Pak!” terdengar suara seorang wanita menyapanya dari belakang.


Tn.Ferdi membalikkan badannya dan membuat wanita itu terkejut.


“Tu..Tuan! Tuan Ferdi? Apa benar Anda Tn.Ferdi? Sudah lama sekali,” tanya wanita itu.


“Kau, maaf aku lupa,” jawab Tn.Ferdi, menatap wanita paruh baya itu.


“Saya Sinta, Tuan, kepala panti ini, tidak berubah setelah lebih dari 20 tahun lalu Tuan kesini,” kata Bu Sinta.


“Maaf, maaf aku lupa,” kata Tn.Ferdi, dia benar-benar tidak ingat karena dia hanya bertemu wanita itu satu kali saja.


“Silahkan Tuan, kita keruangan saya,” ajak Bu Sinta, sambil masuk duluan kedalam panti itu diikuti langkah pelannya Tn.Ferdi dan suara tongkatnya yang menghentak-hentak.


Tn.Ferdi melihat ke sekeliling ruangan panti itu, sungguh berbeda dengan lebih dari 20 tahun yang lalu dia kesini, dulu panti ini sangat kecil dan kurang terawat, sekarang panti ini memiliki banyak ruangan dan bertingkat.


Mereka melewati beberapa ruangan yang tampak pengurus panti berlalu lalang sepertinya sebuah kantor adminsitrasi.


Sampailah mereka pada sebuah pintu yang bertuliskan kantor kepala panti .


“Silahkan, Tuan!” kata Kepala Panti, sambil membuka pintu ruangan itu.


“Panti ini sangat banyak perubahannya,” kata Tn.Ferdi.

__ADS_1


“Benar Tuan, uang yang Tuan berikan dulu sangat besar,  sangat bermanfafat bagi panti ini, jadi saya bisa membangun panti ini lebih besar, saya sangat berterimakasih,” ujar Bu Sinta, sambil tersenyum ramah.


“Silahkan duduk, Tuan,” lanjut Bu Sinta.


Tn.Ferdi duduk dikursi untuk tamu itu, dengan agak susah karena repot dengan kedua tongkatnya. Didalam hatinya dia mengutuk anak tirinya.


“Apa Tuan baik-baik saja?” tanya Bu Sinta, melihat kearah kakinya Tn.Ferdi.


“Ada sedikit kecelakaan, tidak apa, ini sudah membaik,” jawa Tn.Ferdi, dengan hati yang kesal mengingat apa yang dilakukan Jack padanya, memukulinya sampai tulang-tulangnya patah dan membuatnya susah berjalan seperti ini.


“Saya turut prihatin,” ucap Bu Sinta.


Tn.Ferdi hanya mengangguk saja.


“Ada yang bisa saya bantu? Sudah sekian lama Tuan baru datang lagi kesini,” kata Bu Sinta, setelah duduk dikursi bersebrangan dengan Tn.Ferdi.


“Kau masih mengingatku?” tanya Tn.Ferdi.


“Tentu saja Tuan! Tuan memberikan dana yang sangat besar untuk Panti ini. Sekarang panti ini sudah dibangun dan Tuan bisa lihat sendiri suasananya sudah sangat lebih baik. Kita bisa menampung lebih banyak anak-anak yang membutuhkan, kita juga bisa mengembangkan pendidikan usaha mandiri untuk anak-anak panti,” kata Bu Sinta, panjang lebar.


“Jadi apa ada keperluan penting, sehingga Tuan kemari?” tanya Bu Sinta.


“Aku kesini ingin menanyakan anak yang aku bawa itu, apa kau masih ingat?” tanya Tn.Ferdi.


“Masih ingat Tuan, anak itu sudah di adopsi oleh sepasang suami istri yang bekerja di Ibukota,” jawab Bu Sinta.


“Apa kau mengganti nama anak itu?” tanya Tn.Ferdi.


“Iya, sesuai petunjuk Tuan untuk mengganti nama anak itu dan memberikan identas sebagai anak kandung pada orang tua adopsinya. Dan kebetulan orang tua adopsinya menyetujui memasukkan identitasnya sebagai anak kandung  bukan adopsi, jadi semua tidak ada masalah,” kata Bu Sinta.


Tn.Ferdi mendengarkan dengan seksama.


“Waktu Tuan membawanya, anak itu memang mengalami trauma berat,” kata Bu Sinta lagi.


“Iya, dia korban kapal yang tenggelam, orang tuanya hanyut dilaut, saya tidak bisa mengurusnya jadi membawanya kesini,” lanjut Tn.Ferdi, mengingatkannya kembali ke masa lalu alasan yang dia pakai saat menemui Bu Sinta.


“Anak itu tidak bisa diajak bicara, menangis terus, mengigau dan bermimpi buruk. Jadi setelah berkonsultasi dengan Dokter, kami setuju untuk memberikan nama baru  untuk memberikan kehidupan baru yang lebih baik dan mengurangi traumanya,” jawab Bu Sinta.

__ADS_1


“Kau beri nama siapa anak itu?” tanya Tn.Ferdi, dengan rasa penasaran yang tinggi.


“Saya mengganti namanya menjadi Arasi, Arasi Mayang. Saya sengaja mengganti namanya tidak jauh-jauh dari nama aslinya Arum, hanya untuk memudahkan mengingatnya saja,” jawab Bu Sinta.


Tentu saja jawaban itu membuat Tn.Ferdi sangat terkejut. Arasi Mayang? Jadi Arum diganti Arasi Mayang? Dan itu nama istrinya Jack? Apa ini?


“Dia, dia tidak ingat nama aslinya siapa?” tanya Tn.Ferdi.


“Kondisi Arum waktu itu sangat buruk, saat dia berangsur pulih dia sudah terbiasa dipanggil Arasi,” jawab Bu Sinta.


Tn.Ferdipun diam, dia tidak menyangka kalau yang dinikahi oleh Jack adalah teman kecilnya yang tenggelam, yang membuatnya depresi.


Semua sungguh diluar dugaan, semua ini seperti lingkaran setan baginya. Meleyapkan seseorang, menghilangkan seseorang tapi takdir mempertemukan mereka dalam kondisi yang tidak terduga, sungguh lucu! Tn.Ferdi tersenyum kecut.


“Apa ada masalah Tuan? Apakah orangtua Arum masih hidup?” tanya Bu Sinta.


“Tidak, tidak,  mereka tenggelam dilaut, jasadnya tidak ditemukan,” jawab Tn.Ferdi, menggelengkan kepalanya,.


Tn.Ferdi merasakan kepalanya mau pecah mengetahui kenyataan ini. Apa yang dilakukannya benar-benar sangat sia-sia dan buang-buang waktu saja. Menjauhkan Arum dari Jack dan keluarganya ternyata dinikahi Jack, sungguh suatu lelucon yang sangat tidak masuk akal. Tn.Ferdi kembali tersenyum sinis.


Saat melihat peluang besar untuk menikahi Inez dan menguasai hartanya Constantine. Dia sengaja merahasiakan kalau Arum sudah ditemukan, demi  menyingkirkan Jack dari kehidupannya Inez, sengaja membiarkan Jack terus tertekan, depresi dan semakin lama berada di RSJ. Dia tidak ingin anaknya Constantine mengganggu kehidupannya dengan Inez.


“Siapa nama orang tua yang mengadopsinya?” tanya Tn.Ferdi, pada Bu Sinta.


“Ditunggu sebentar,” kata Bu Sinta, diapun pergi ke sebuah lemari dan menarik laci yang ada disana.


“Untuk kasus-kasus anak tertentu, saya sengaja menyimpan dokumennya terpisah. Karena saya merasa anak ini akan sangat penting. Meskipun Tuan mengatakan tidak akan pernah kembali lagi kesini dan menyerahkan anak itu sepenuhnya pada saya,” kata Bu Sinta, mengambil berkas itu, lalu kembali ke kursinya tadi disebrang Tn.Ferdi.


“Kau benar, anak ini sangat penting,” gumam Tn.Ferdi.  Dia tidak sabar untuk memastikan keberadaannya Arum. Apa benar yang dinikahi Jack itu sebenarnya Arum?


Bu Sinta membuka berkas-bekas itu dan membacakan siapa nama orang tua yang mengadopsi Arum.


********


Readers aku up 2 bab ya. Jangan lupa likenya di tiap bab. Bab ini panjang jadi aku bagi dua.


*****

__ADS_1


__ADS_2