Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-138 Makan Malam


__ADS_3

Ara beranjak meninggalkan ruangan itu. Jack melihat bingkai foto itu yang lupa tidak dimasukkan oleh Ara. Diapun mengambilnya dan kembali melihatnya lagi. Setiap kali melihat foto itu setiap kali perasaan bersalah timbul dihatinya. Tapi itu sudah takdir dan kenyataan tidak bisa diubah, dia harus bisa menerimanya dan menjalani hari-harinya dengan normal.


Jack menyimpan kembali foto itu dilaci, lalu menyusul istrinya kembali ke kamarnya. Dilihatnya istrinya sedang menerima telpon.


“Iya Bu,” jawab Ara.


“Aku dan Jack akan bersiap-siap makan malam, kami akan makan diluar,” kata Ara.


“Apa?” tanya Ara. membalikkan badannya menatap Jack yang sudah ada didepannya.


“Ada apa?” tanya Jack.


Ara menurunkan ponsel dari telinganya.


“Ibu mengajak makan malam dirumah saja, karena Ayah sudah pulang dari luar kota, Ayah membelikan oleh-oleh untukku,” jawab Ara.


“Itu ide bagus, kita makan dirumah orang tuamu,” kata Jack.


“Kau serius?” tanya Ara.


“Iya, kita bisa mencari waktu lain makan direstaurant,” jawab Jack.


Ara kembali menempelkan ponselnya.


“Baiklah, Jack dan aku setuju makan malam dirumah Ibu, tapi kita tidak menginap ya Bu, Jack banyak pekerjaan,” kata Ara.


“Iya,” ucap Ara lagi.


Telponpun di tutup. Ara menatap Jack.


“Apa kau serius kita makan di rumah Ibu?” tanya Ara.


“Tidak apa-apa, lagi pula jarang kan bertemu Ayahmu,” jawab Jack.


Ara mengangguk, memang benar terakhir Jack bertemu Ayahnya saat dia dipaksa pulang oleh Ayahnya dan Jack menyusulnya ke rumah setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi.


Merekapun segera bersiap-siap pergi makan malam di rumah orang tuanya Ara.


****


Sebenarnya mereka bisa saja ke tempat restauran mewah yang romantis, tapi karana Jack berfikir jarang bertemu dengan ayahnya Ara, tidak ada salahnya dia menerima undangan mertuanya untuk makan malam dirumahn mertuanya.


“Kalian bermalam disini saja,” kata Bu Amril, saat mereka datang.


“Sepertinya tidak Bu, Jack punya banyak pekerjaan,” jawab Ara.


“Anak mantuku sudah datang?” terdengar suara Pak Amril muncul keruang tamu.


“Sudah Pak,” jawab Ibunya Ara.


Pak Amril langsung saja menatap Jack dengan tajam, membuat Jack seketika merasa tidak tenang. Jangan-jangan Ayahnya Ara akan menyuruhnya bercerai lagi dengan Ara. Dia langsung berkeringat.


“Apa kabarmu?” tanya Pak Amril pada Jack, masih dengan tatapan menyelidik.


“Baik, Ayah,” jawab Jack dengan kaku, dia jarang sekali bertemu Ayah mertuanya.


Ara tersenyum melihat sikap Jack yang kikuk dan wajahnya memucat.


Jack menoleh pada istrinya yang senyum-senyum saja.


“Kenapa kau tersenyum?” bisik Jack.


Ara berjinjit, mendekatkan mulutnya ke telinga Jack.


“Kau sangat gugup,” bisiknya.


Jack langsung menoleh pada istrinya.


“Apa benar begitu?” tanya Jack pelan, jangan sampai mertuanya mendengar.

__ADS_1


Ara berjinjit lagi dan berbisik.


“Kau tenang saja, Ayahku tidak akan menyuruh kita berpisah,” ucapnya.


Wajah Jack semakin pucat saja, dia tidak mau kalau sampai ayah mertuanya memintanya berpisah dengan istrinya. Spontan tangannya memegang tangan Ara, membuat Ara menatapnya.


Pak Amril menatap Jack, melihatnya dari atas sampai bawah, kata istrinya Jack itu sudah sembuh, apa benar begitu?


“Kenapa kalian hanya berdiri saja? Ibu mengundang kalian untuk makan, ayo!” kata Ibunya Ara, menarik tangan putrinya, yang tertarik bukan Ara saja tapi juga Jack yang memegang tangan Ara.


Pak Amril melirik tangan putrinya  yang dipegang Jack itu. Jack segera mengikuti Ara menuju ruang makan. Bicara dengan Ayah mertuanya membuatnya panas dingin.


Ara menatap makanan di meja makan itu yang serba ada.


“Wah kenapa makanannya begitu banyak?” tanya Ara.


“Makanan ini adalah makanan untuk Ibu hamil, supaya Ibu dan bayinya sehat,” jawab Ibunya Ara, membuat Ara terkejut begitu juga Pak Amril.


“Apa kau hamil?” tanya Pak Amril pada Ara.


“Belum Ayah, Ibu  suka ada-ada saja,” jawab Ara.


“Sebentar lagi, kalian kan minum jamu itu, pasti sebentar lagi kalian punya bayi,” seru Ibunya Ara bersemangat.


“Jamu apa? Jangan memberikan jamu-jamuan tidak jelas pada putriku!” kata Pak Amril , tampak tidak setuju pada istrinya.


“Jamu biasa, aman kok,” kata Ibunya Ara, sedikit memberengut.


“Aku sudah lapar!” seru Ara, mencoba mencairkan suasana.


Merekapun mulai makan dengan lahap sambil sesekali bercanda. Jack merasa senang dengan keluarga ini, orangtua dan anak terlihat sangat dekat. Tidak seperti dirinya bergelimang harta tapi terasa begitu sepi.


Sesekali Jack melirik Ayah mertuanya yang masih menatapnya seperti itu, mungkin Ayah mertuanya masih tidak percaya kalau dia sudah sembuh. Jackpun tidak banyak bicara,  sikap ayah mertuanya membuatnya merasa was was akan menyuruhnya bercerai dengan Ara.


Ara hanya tersenyum saja melihat sikapnya Jack yang mendadak kaku itu. Sepertinya suaminya trauma disuruh bercerai dengannya.


Setelah makan, mereka berkumpul diteras, duduk di kursi-kursi depan rumahnya Ara, sambil melihat kendaraan yang padat berlalu lalang di jalan raya.


Ara menoleh pada suaminya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Jack.


“Hati-hati bicara dengan Ayahku, jangan salah bicara,” ucap Ara malah menggodanya, sambil tersenyum, dan beranjak meninggalkan Jack dan Pak Amril.


Jack langsung berubah masam. Ingin rasanya mencium istrinya karena malah mengejeknya. Dia sebenarnya tidak mau istrinya masuk ke dalam rumah. Dia bingung harus bicara apa dengan Ayahnya Ara itu. Dia benar-benar tegang.


“Apa kau benar-benar sudah lebih baik sekarang?” tanya Pak Amril, masih dengan tatapan menyelidik, membuat Jack semakin tegang saja, sepertinya Ayahnya Ara itu tidak percaya dia sudah sembuh, apa harus ditunjukkan sampai putrinya hamil baru percaya kalau dia pria yang normal?


“Iya,” jawab Jack.


“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Pak Amril lagi, meskipun Jack seorang jendral, tetap saja dimatanya Jack adalah menantunya, suami putrinya jadi sama saja dengan anaknya juga.


“Baik,” jawab Jack.


“Apa kau akan tinggal disini selamanya?” tanya Pak Amril.


“Tidak, aku berencana mengajak Ara tinggal di Paris, karena aku ada pekerjaanku disana,” jawab Jack, kenapa rasanya dia seperti sedang di interview? Dia yang biasa berkuasa  serasa mati kutu di depan mertuanya.


Pak Amril mengangguk-angguk, meskipun dia tidak mau jauh dari putrinya tapi Jack suaminya Ara lebih berhak atas putrinya sekarang.


“Ayah hanya berpesan, jaga Ara dengan baik, jangan menyakitinya, kami sangat menyayanginya,” ucap Pak Amril


“Iya, aku akan selalu menjaganya, aku sangat mencintainya,” jawab Jack.


“Ayah pegang ucapanmu,” ucap Pak Amril dengan tegas.


 Jack hanya mengangguk saja, kenapa kata-kata itu seperti ancaman baginya? Padahal dia seorang jendral, bahkan menghadapi penjahatpun dia berani kenapa bertemu dengan ayah mertuanya sangat gugup begini?


Merekapun kembali diam, Jack tidak tahu harus bicara apa, istrinya malah ga muncul-muncul. suasan semakin canggung.Tiba-tiba dia teringat sesuatu.


“Ayah, ada yang ingin aku tanyakan,” kata Jack.

__ADS_1


“Soal apa?” tanya Pak Amril.


“Sebelum tinggal disini apa Ayah tinggal di tempat lain? Sepertinya Ayah sering pergi keluar kota,” tanya Jack, basa basi daripada tidak ada yang di obrolkan.


“Iya Ayah memang suka pergi dinas keluar kota, “ jawab Pak Amrik.


“Tentunya Ayah sudah berkali-kali pindah tempat tinggal,” ucap Jack.


“Tidak, dari dulu Ayah tinggal di rumah ini, ini adalah rumah peninggalan orangtua Ayah. Jadi meskipun kau sudah memberikan Ara rumah mewah, kami tidak bisa menempatinya, karena di rumah ini banyak kenangannya,” jawab Pak Amril.


“Jadi dari kecil Ara tinggal disini?” tanya Jack.


“Tentu saja, dimana lagi?” jawab Pak Amril.


Mendengarnya Jack terdiam,  kata Ara kalau dia tidak punya foto waktu kecil karena pindah-pindah rumah, sedangkan kata Pak Amril kalau mereka tinggal dirumah ini dari dulu. Kenapa ceritanya bisa berbeda begitu?


“Ada apa? Kau kenapa?” tanya Pak Amril.


Jack membetulkan letak duduknya, dengan serius menatap Pak Amril, mau tidak mau dia harus menanyakan ini.


“Ayah aku minta maaf, tapi aku harus menanyakan hal ini,” kata Jack.


“Menanyakan  apa?” tanya Pak Amril tidak mengerti, menatap menantunya.


Jack menghela nafas sebentar, dia merasa tegang, kemudian bicara lagi.


“Apakah, apakah Ara bukan putri kandung Ayah?” tanya Jack, sontak membuat Pak Amril terkejut.


“Kau ini bicara apa?” bentaknya.


”Ayah aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyinggung, aku hanya ingin tahu saja, dan aku punya alasan untuk itu,” kata Jack, merasa tidak enak pada ayah mertuanya.


Pak Amril menatapnya.


“Apa kau yang menyuruh orang untuk mencari identitasnya Ara ke tempat temanku bekerja?” tanya Pak Amril.


Jack terkejut mendengarnya, ternyata Ayahnya Ara tahu soal itu, dia tidak tahu kalau teman Pak Amril ada yang bekerja di pendataan penduduk Ibu kota.


“Iya Ayah, aku minta maaf, ada beberapa hal yang ingin aku pastikan tentang istriku,” kata Jack, membuat Pak Amril menatapnya, apakah Jack tahu kalau Ara anak adopsinya?


“Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Pak Amril.


“Terkadang sikap istriku mengingatkanku pada seseorang, yaitu teman kecilku, Arum,” jawab Jack dengan jujur.


Pak Amril terdiam, apa ini yang dikatakan oleh istrinya itu? Ara mirip dengan putrinya Ny.Imelda?


“Sungguh ini suatu hal yang diluar nalar sebenarnya, aku hanya merasa kadang sikapnya mengingatkanku pada Arum, meskipun aku tahu istriku bukan Arum, begitu juga dengan Ibu kandungnya Arum. Itulah alasannya aku mencari tahu identitasnya Ara, aku minta maaf,” kata Jack dengan jujur, dia takut menyinggung perasaannya Pak Amril.


Pak Amril terdiam beberapa saat.


“Nak, Ara putri kandungku atau bukan, yang pasti tidak mungkin teman kecilmu itu, teman kecilmu tenggelam dilaut di Perancis, tidak mungkin jauh-jauh terbawa arus kesini, mungkin kalau itu terjadipun anak sekecil itu tidak akan bertahan lama di laut, pasti sudah meninggal,” kata Pak Amril.


Jackpun diam, apa yang dikatakan Pak Amril memang benar.


“Mungkin itu hanya kebetulan saja Ara mengingatkanmu pada Arum,” ucap Pak Amril.


“Iya Ayah, kau benar, aku minta maaf,” kata Jack.


“Sebaiknya kau tenangkan dirimu, jangan terobsesi hal hal yang seharusnya kau lupakan.  Jangan terikat masa lalu yang akan menghantuimu seumur hidiupmu. Kau harus move on, kau sudah punya Ara sekarang dan mungkin sebentar lagi kalian akan punya bayi, kau focus saja pada keluargamu,” kata Pak Amril menasihati Jack.


Jack kembali diam, apa yang di katakan Pak Amril benar, tapi entah kenapa dia merasa ada yang mengganjal dihatinya, sungguh  tidak nyaman setiap kali perilaku Ara mengingatkannya pada Arum dan rasa penasaran itu kembali timbul.


“Kalian serius sekali!” tendengar suara Ara mengagetkan mereka. Ara segera menghampiri suaminya.


Jack menoleh pada istrinya dan tersenyum.


“Ayah membelikanku oleh-oleh kain, aku sangat suka,” kata Ara sambil mengangkat kantong ditangannya, lalu duduk di samping Jack.


Jack langsung memeluk istrinya dan mencium keningnya, dia sangat mencintainya, melupakan kalau ada ayah mertuanya disana, dia lupa padahal tadi dia begitu gugup di depan mertuanya.

__ADS_1


Pak Amril hanya tersenyum melihatnya.


********


__ADS_2