Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-178 Rebecca Semakin Penasaran


__ADS_3

Sampai pulang kerumahnyapun, Rebecca masih saja memikirkan Jack. Pertemuan kedua ini benar-benar sangat membuatnya senang, bisa melihat lagi Jendral tampan itu, sungguh diluar dugaan.


Saat pertama kali menemani Tn.Ignasius yang ternyata tinggal di Paris, membuatnya ingin melihat seperti apa Paris. Diapun melancarkan rayuannya untuk menaklukkan hati pria tua itu yang ternyata dengan begitu mudah didapatkannya dan akhirnya membawanya ke Paris dan membelikan rumah mewah untuknya.


Tapi ternyata melayani khusus pria tua itu sangat membosankan dan tidak menyenangkan. Sedangkan dirinya yang masih muda dan cantik memiliki keinginan lebih dari hanya sekedar menemani pria itu di tempat tidur.


Bayangan Jack terus muncul dibenaknya. Pria itu sangat tampan dan gagah, juga kaya, begitu memikat hatinya. Seharusnya dia mendapatkan pria seperti Jack bukan cuma seorang pria tua meskipun Tn.Iganius sangat kaya, lama-lama semakin membosankan menemani pria itu padahal baru juga beberapa bulan tinggal di Paris.


Terbersit lagi pertanyaan di benaknya Rebecca, seperti apa istrinya Jendral Delmar itu yang membuat Jendral itu menolaknya. Rasa-rasanya, tidak ada yang cantik dipesta itu, sudah jelas semua mata lelaki tertarik padanya. Rasanya juga tidak mungkin kalau Jendral itu menikahi wanita biasa biasa saja, apalagi menolaknya hanya karena setia pada wanita yang tidak lebih cantik darinya, sungguh suatu penghinaan.


Fikiran Rebecca terus saja seputar Jack, wajah pria itu tidak bisa hilang dari fikirannya.


******


Seperti malam malam sebelumnya, Jack selalu menjaga putranya supaya tidak menangis. Padahal sebenarnya dia sudah lelah dan mengantuk. Dia tidak berani membangunkan istrinya, dia hanya membukakan dada istrinya supaya bisa menyusui bayinya.


Ara bukannya tidak tahu apa yang dilakukan suaminya, dia hanya tidak mau banyak bicaradengan pria itu, dia  masih saja merasa kesal dengan kejadian itu.


“Sayang, banyak yang menanyakan undangan resepsi, bagaimana kalau kita mengadakan resepsi?” tanya Jack, saat Ara terbangun dan menyusui bayinya.


“Terserah kau saja,” jawab Ara, tanpa menoleh.


Jackpun terdiam, sepertinya istrinya tidak ada minat untuk bicara dengannya. Dia hanya duduk diatas kasur itu menatap bayinya juga istrinya. Tangan kirinya mengusap kaki istrinya.


“Kalau kau mengantuk, tidurlah, biar aku yang menunggui Galand,” ucap Ara.


“Tidak apa-apa, kau sudah lelah menjaganya,” ucap Jack, tapi kemudian dia berbaring disamping bayinya, tidur miring menghadap anak dan istrinya.


Tangannya menyentuh pipinya Ara, masih terlihat bekas-bekas menangis tadi.


“Aku akan membeli perlengkapan rumah,” kata Ara.


“Ya pergilah, tapi jangan sendiri temani orang rumah. Sebaiknya kau tidak perlu capek-capek,” kata Jack.


“Aku ingin membeli makanan yang ku suka, aku tidak terlalu suka makanan disini, tidak sesuai dengan lidahku,” ucap Ara.


Sebenarnya aku ingin menemanimu, tapi aku banyak pekerjaan besok,” kata Jack.


“Tidak apa-apa, besok aku bisa ditemani koki dan lainnya,” ucap Ara.


Jack mengangguk, sekarang tangannya berpindah mengusap bahunya Ara. Melihat bayinya yang sedang menyusu, lama-lama diapun terlelap.

__ADS_1


Ara hanya menatap suaminya itu, pria itu sedang tidur saja terlihat sangat tampan. Bagaimana wanita-wanita tidak menyukainya termasuk Rebecca. Dia tidak bisa menyalahkan kalau banyak wanita yang menyukai Jack, hanya dia memang harus memberikan kepercayaan pada Jack kalau pria itu akan setia padanya.


****


Keesokan harinya…


Mobil itu parkir disebrang jalan rumahnya Jack.  Mata pengemudi itu menatap rumah mewah itu. Dia benar-benar takjub melihatnya. Rumah Jendral Jack Delmar itu benar-benar mewah. Membuatnya semakin penasaran seperti apa wanita yang beruntung bisa dinikahi oleh Jendral tampan itu, apakah seperti foto model Internasional? Sungguh membuatnya penasaran.


Rebecca akan melajukan mobilnya saat melihat sebuah mobil keluar dari rumah itu. Dia mengerutkan keningnya siapa yang ada didalam mobil itu.  Kalau melihat jam segini sudah siang dan tentunya Jendral Jcak sudah berangkat bekerja.


Rebeccapun cepat melajukan mobilnya, memutar balik lalu mengikuti mobil yang baru keluar dari rumahnya Jack itu. Dia penasaran apakah didalam mobil itu adalah istrinya Jendral Jack atau bukan, dia hanya melihat seperti ada beberapa wanita didalam mobil itu.


Lumayan jauh dia mengikutinya, ternyata mobil itu memasuki sebuah supermarket. Karena jam segini termasuk masuk pagi untuk ukuran supermarket, halaman parkirpun tidak terlalu ramai, membuat Rebecca bisa parkir mobilnya tidak jauh dari mobil yang ditumpangi Ara.


Rebecca tidak langsung turun, dia memperhatikan siapa saja yang turun dari mobil itu, apakah diantara wanita itu ada istrinya Jendral itu?


Saat Ara turun dengan koki dan satu pelayan wanita dirumahnya, Rebecca mengerutkan dahinya, dia tidak terlalu yakin apakah itu istrinya Jack atau bukan, karena di pesta itu dia hanya focus pada Jendral tampan itu, dia memang melihat kumpulan Nyonya-nyonya tapi dia tidak mengingat wajah-wajah mereka.


Dilihatnya orang-orang itu masuk kedalam supermarket itu.


Ara mengajak kokinya untuk berbelanja bahan masakan yang biasa dia makan, bukan makanan di Paris tidak enak, hanya untuk lidahnya dia belum terbiasa. Jadi kokinya harus tahu jenis-jenis makanan yang bisa dia konsumsi.


Setelah mendapatkan jenis makanan yang dibutuhkan, Arapun mengajak koki keluar dari sana, saat pelayan wanitanya sedang mengantri di kasir, Ara  pergi ke kursi tunggu, dia malas kalau harus mengantri di kasir.


“Maaf,” kata Rebecca, saat dia hampir bertabrakan dengan Ara.


Ara tidak menjawab, dia malah berbicara dengan wanita itu.


“Nyonya Delmar!” terdengar pelayannya memanggil dipintu kasir.


Rebeccapun terkejut, jadi wanita ini ternyata istrinya Jendral itu?


Ara langsung pergi ke kasir dan membayar belanjaannya, setelah itu mereka akan keluar pintu supermarket itu dan ternyata wanita itu sudah tidak ada, hati Ara merasa lega, malas dia harus beurusan dengan wanita itu, diapun keluar dari supermarket itu.


Tapi saat berdiri ditempat tunggu jemputan kendaraan, Ara terkejut saat ada yang menyapanya.


“Nyonya Jendral Jack Delmar?” terdengar suara seorang wanita.


Jantung Ara langsung saja bedebar kencang mendengar suara wanita itu, diapun membalikkan tubuhnya melihat kearah saura.


Benar saja, wanita **** yang bernama Rebecca itu menghampirinya dengan langkahnya yang lemah gemulai mempesona, pakaian ketatnya selalu memperlihatkan bentuk tubuhnya yang bagus, tentu saja dengan gaun merahnya yang menyolok.

__ADS_1


“Kau, mengenalku?” tanya Ara, pura-pura tidak mengenal Rebecca.


“Sebenarnya aku tidak mengenalmu, tapi aku mengenal suamimu, Jendral Jack Delmar,” ucap Rebecca dengan senyumnya yang manis, membuat Ara muak melihatnya.


“Semua orang memang mengenal suamiku,” jawab Ara.


“Kau benar, terutama aku. Apa kita pernah bertemu di pasta Jendral Ronald?” tanya Rebecca.


“Aku tidak terlalu memperhatikan, banyak tamu yang hadir disana,” jawab Ara.


Rebecca tersenyum, dia menatap Ara dari atas sampai bawah.  Benar-benar diluar ekspektasinya, Jendral itu memiliki istri seperti ini, cantik sih tapi banyak wanita yang lebih cantik  dari wanita ini, salah satunya dirinya, sungguh disayangkan Jendral itu menikahi wanita ini. Sebenarnya  terasa seperti penghinaan, Jendral itu menolaknya dimalam itu demi setia pada istrinya yang biasa saja.


Rebecca menghela nafas sebentar. Tentu saja kalau diberi waktu lebih lama lagi untuk merayu Jendral itu sudah dipastikan Jendral itu akan luluh dan takluk padanya.


“Tentu saja kau tidak melihatku dipesta itu, tapi sudah dipastikan Jendral tampan itu melihatku,” ucap Rebecca sambil tersenyum, membuat Ara kesal mendengarnya.


“Apa kau yakin seperti itu atau Jendral Jack Delmar yang tidak memperdulikanmu?” kata Ara, mulai meninggi. Hatinya rasanya terasa panas saja mengingat bagaimana beraninya wanita itu bersikap mesra pada suaminya.


“Apa benar seperti itu? Kau tidak seperti tidak tahu laki-laki saja, pada yang dirumah laki-laki akan bilang setia, padahal diluar, ya begitulah..” ucap Rebecca, entah kenapa dia juga merasa cemburu, melihat istri Jendral Jack Delmar itu yang dimatanya dibawah standar kecantikannya.


“Aku tidak peduli suamiku diluaran seperti apa yang pasti suamiku pulang ke rumah bukan pulang ketempat wanita lain,” ucap Ara.


Kenapa dia merasa sangat sebal pada wanita ini. Tentu saja jawaban Ara menohok Rebecca. Dia kesal serasa istrinya Jendral itu ingin menunjukkan dia yang menang.


Ara membalikkan badannya, merasa tidak ada gunanya juga melayani wanita ini. Tapi langkah Ara terhenti saat Rebecca bicara lagi.


“Apa kau ingin tahu malam itu aku dan Jendral Jack di sebuah tenda?” tanya Rebecca.


Hati serasa tertusuk benda tajam mendengarnya, dia mencoba untuk tenang dan tidak terbawa emosi.


“Suamimu menyukaiku,” Rebecca menjawab pertanyaannya sendiri. Telinga Ara terasa panas mendengarnya.


“Jangan membela diri mengatakan suamimu tidak tergoda olehku. Suamimu menyukai tubuhku,” ucapnya lagi.


Ara membalikkan badannya menatap Rebecca.


“Kau benar, mungkin suamiku menyukai tubuhmu, bukan suamiku saja melainkan semua laki-laki. Tapi kau harus ingat setelah mereka puas, mereka mencampakanmu! Apa bangganya begitu?” kata Ara, membuat Rebecca terdiam dan kesal.


Ara pun kembali membalikkan tubuhnya, meninggalkan Rebecca yang sudah tidak bisa bekata-kata.


Rebecca merasa kesal, sangat kesal, wanita itu begitu sok, mentang-mentang dia istri Jendral itu, apa dia tidak tahu kalau Jendral itu menyukainya? Lihat saja bagaimana Jendral itu akan tegila-gila padanya, umpat Rebecca dalam hati.

__ADS_1


 ************


__ADS_2