
Ara membuka-buka ponselnya, dia mensearching dimana lokasi tempat kerjanya Jack. Ditemukannya lokasi markas GIGN. Dia harus kesana. Dia harus melihat sendiri apa benar Jack seorang Jendral di GIGN. Tapi bagaimana caranya? Dengan menggunakan taxi, dia harus menggunakan taxi.
Tapi dia hanya bisa memantau dari kejauhan menunggu Jack keluar dari gedung, itu pekerjaan yang tidak tentu hasilnya. Bagaimana kalau Jack tidak ada di kantornya? Arapun diam tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Diam dirumah sangat membuatnya bosan.
Setelah mengecek semua ruangan memastikan kalau Pak Beni tidak ada dirumah, Ara pergi ke halaman rumah itu.
Sedang berjalan-jalan dihalaman rumah sambil memikirkan langkah apa yang bisa dilakukan, Ara melihat sebuah mobil memasuki rumah itu.
Kalau melihat dari bisa lolosnya dari penjagaan gerbang, itu artinya penumpang mobil itu orang yang sudah dikenal oleh penjaga rumahnya Jack.
Dilihatnya dua orang prajurit di depan rumah menghampiri mobil itu.
Turunlah beberapa orang dari mobil itu dengan membawa kotak-kotak yang entah isinya apa. Prajurit itu membuka kotak satu persatu lalu mengijinkan mereka masuk dengan membawa kotak-kotak itu.
Ara segera menghampiri seorang wanita yang turun dari mobil itu, yang bicara dengan prajurit tadi.
“Kalian siapa?” tanya Ara, dalam bahasa Inggris.
Wanita itu menatap Ara, mengerutkan keningnya, karena dia tidak mengenalnya.
“Aku istri Jen, eh Mr. Jack Delmar,” ucap Ara mengerti arti tatapan wanita itu.
Wanita itu tampak terkejut , dia langsung mengangguk lalu menunduk.
“Mrs.Delmar!” ucapnya. Sepertinya wanita itu bisa bahasa Inggris, dia mengerti apa yang Ara ucapkan.
“Kalian siapa?” tanya Ara.
Wanita itu menatap Ara lalu menjawab.
“Kami membawakan makanan dari kediamannya Jendral Favier,” jawab wanita itu dengan bahasa Inggris, membuat Ara lega akhirnya ada orang yang bisa diajak bicara.
“Jendral Favier, siapa?” tanya Ara.
“Pamannya Jendral Jack Delmar,”jawab wanita itu.
Ara terkejut mendengarnya, dia baru tahu kalau Jack punya keluarga di Paris.
“Kau membawa makanan?” tanya Ara.
“Benar, di rumah Jendral Favier sedang ada acara karena Jendral sudah pensiun,” jawab wanitaitu.
“Siapa yang menyuruhmu membawa makanan ini?” tanya Ara.
“Jendral Favier, untuk semua orang di kediaman Jendral Jack Delmar,” jawab wanita itu.
“Apakah kau melihat ada Mr.Jack disana?” tanya Ara.
“Ada Nyonya, beliau hadir,” jawab wanita itu.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya Ara.
“Kau akan kembali ke tempat acara?” tanya Ara.
“Iya,” jawabnya.
“Kalau begitu, aku ikut denganmu,” kata Ara.
“Tapi…” Wanita itu menatap Ara lalu menoleh pada mobilnya.
“Tidak masalah, aku akan ikut mobilmu,” kata Ara.
Wanita itu menatap Ara, ternyata wanita ini adalah istri Jendral Jack Delmar, dia tidak berani menolak perintahnya.
“Baik, Nyonya,” jawab wanita itu.
Ara merasa lega mendengarnya. Diapun segera berlari masuk kerumah dan berdandan lalu kembali lagi menemui wanita itu.
“Siapa namamu?” tanya Ara.
__ADS_1
“Nancy,” jawab wanita itu.
“Baiklah Nancy, kita berangkat,” jawab Ara, dia melihat orang-orang yang bersama Nancy sudah berada dalam mobil.
Dia akan masuk ke mobil itu tapi prajurit itu menghampirinya.
“Maaf Mrs.Delmar! Saya diperintahkaan untuk menjaga Nyonya!” kata prajurit itu.
“Apa kau bisa bahasa Inggris?” tanya Ara.
“Siap! Bisa Nyonya!” jawab Prajurit itu.
“Mr. Jack sedang ulang tahun. Aku akan pergi menemuinya untuk memberi kejutan. Tapi kau jangan bilang-bilang pada Mr.Jack juga Pak Beni karena ini surprice. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau menggagalkan ulang tahunnya Mr. Jack,” kata Ara.
“Siap, Nyonya!” jawab prajurit itu lalu memberi hormat dan mundur.
Akhirnya Ara ikut mobilnya rombongan Nancy dengan aman.
Tidak ada yang Ara dan Nancy bicarakan didalam mobil itu. Ara penasaran dimana Jack sekarang, apa benar ada di rumah Jendral Favier, pamannya Jack?
***
Sampailah mereka dirumah megah yang tidak beda jauh dengan rumahnya Jack yang dijaga begitu ketat oleh prajurit-prajurit.
Kalau yang tidak terbiasa, suasana seperti ini sangatlah mencekam, melalui pria- pria berseragam dan bersenjata.
Halaman rumah yang tidak kalah luas dengan rumahnya Jack begitu penuh oleh mobil-mobil mewah, dan mobil-mobil dinas.
Mobil itu berhenti di garasi halaman belakang rumah, disana ramai para pekerja keluar masuk rumah, menyiapkan makanan dan segala macam untuk jamuan acara.
Saat semua orang sudah turun, Ara menoleh pada Nancy.
“Nancy, aku minta tolong padamu,” ucap Ara dalam bahasa Inggris.
“Ya, Nyonya,” jawab Nancy.
“Pinjami aku baju seperti yang kalian pakai,” jawab Ara.
“Aku akan bepura-pura jadi pelayan di pesta itu,” jawab Ara.
“Tapi…”
“Aku hanya ingin membuat kejutan pada suamiku, frank,seperti yang di tv-tv,” ucap Ara, berbohong.
Nancy tampak bingung tapi akhirny dia menyetujuinya.
“Baiklah Nyonya, mari ikut saya,” kata Nancy.
Ara merasa lega Nancy mau membantu. Wanita itu mengajaknya ke sebuah ruangan dibagian belakang rumah.
“Ini kamar ganti semua pelayan disini, ini pakaiannya,” kata Nancy, mengambilkan sebuah baju dari dalam lemari itu.
Arapun segera memakainya, setelah Nancy keluar.
Setelah rapih dengan baju pelayannya, Ara keluar dari ruangan itu.
Tiba-tiba seorang pria paruh baya menghardiknya.
“Kenapa kau diam saja? Tamu sangat banyak, ayo kerja!” teriak pria itu, melotot.
Ara bingung karena dia tidak bisa bahasa Perancis, tapi dari gerakan tangan pria itu menunjuk keruangan dalam rumah, sudah dipastikan menyuruhnya masuk ke ruangan itu.
Arapun segera pergi ke tempat yang di tunjuk pria yang marah-marah itu.
Terdengar suara musik santai diselingi canda tawa orang-orang dalam ruangan itu. Ara melihat dari pintu, ruangan itu sangat luas dan indah, tidak beda jauh dengan rumahnya Jack, orang-orang tampak bersuka cita bersenda gurau bersama teman-temannya sambil memegang segelas minuman di tangannya.
Pelayan hilir mudik menawarkan makanan dan minuman pada tamu-tamu.
“Kenapa kau diam saja? Bawa minuman ini kesana!” Seorang wanita paruh baya menatap dengan kesal pada Ara yang malah berdiri mematung dipintu.
__ADS_1
Wanita itu memberikan nampan yang berisi minuman.
Ara segera menerimanya sambil mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan, mencari-cari Jack, ternyata tidak ada. Dia berkeliling sambil membawa nampan itu, bebera orang mengambil minuan yang dibawanya.
Para tamu itu berbicara dalam bahasa Perancis, Ara sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia hanya mencari-cari keberadaan suaminya, dia ingin melihat Jack dengan menggunakan baju dinasnya.
Rata-rata orang yang hadir ini berseragam dinas, mungkin karena hari ini hari kerja juga. Tidak hanya laki-laki, ada wanita-wanita juga dipesta ini, mereka cantik- cantik bertubuh tingi dan berkulit putih, ada yang berseragam ada juga yang memakai pakaian baju formil.
Sedang berjalan berkeliling, terdengar suara seseorang melengking tinggi, membuat Ara menoleh kearah suara.
“Jendral Jack Delmar! Kapan kau datang?” teriak seseorang itu.
Ara melihat seorang pria muda berdiri di bawah tangga menatap ke atas. Dari atas tangga yang memilki lebar lebih dari 2 meter itu, turun seorang pria yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Ternyata pria itu adalah pria berumur, bukan Jack Delmar suaminya. Apa ini salah orang atau bagaimana?
Tapi kemudian seorang pria muncul lagi dibelakang pria tadi, dan ini benar-benar membuat Ara tidak bisa bernafas lagi. Seorang pria tampan yang sangat dikenalnya, bertubuh tinggi tegap dengan memakai baju dinasnya terlihat sangat gagah, berjalan menuruni tangga sambil tersenyum pada pria muda yang berdiri dibawa tangga itu.
Ara seketika mematung saking terkejutnya, berdiri masih dengan memegang nampan ditangannya.
Penampilan Jack terlihat begitu sempurna, pria itu seperti seoarng pangeran kerajaan yang memiliki kharisma yang luar biasa.
Mata Ara langsung berkaca-kaca melihatnya, melihat Jack dengan kesempurnaannya, tidak lagi Jack yang depresi dengan kekurangannya yang menjadi cemoohan orang.
“Jack,” gumamnya.
Pria itu turun dengan tenangnya, berjalan sedikit menunduk membenarkan lengan bajunya menuruni tangga dengan senyumnya yang mempesona, sudah dipastikan para wanita yang melihatnya tidak mau berpaling menatapnya.
Pria itu adalah Jack, suaminya. Tapi, apakah benar itu Jack? Suami depresinya begitu gagah sedang berjalan menghampiri temannya itu.
“Apa kabarmu?” tanya pria yang dibawah tangga itu, dalam bahasa Perancis.
“Baik,” jawab Jack.
Ara masih mematung diantara banyak orang yang berkumpul. Matanya tidak bisa berpaling menatap Jack. Pria itu, benar pria itu adalah Jack. Lambat laun rasa kagum akan kegagahannya berubah menjadi rasa perih dalam hatinya, hati yang terasa hancur menyaksikan kenyataan ini.
Dilihatnya kesekeliling. Kata Nancy ini adalah acara pamannya Jack, sebagai keluarga seharusnya Jack mengajaknya berkunjung pada kaluarganya tapi tenyata Jack malah memilih merahasiakan kesembuhannya.
“Hei, kenapa kau diam saja?” terdengar seseorang menegur Ara.
Ara merasakan matanya yang sudah begitu pedih, airmata sudah tidak tertahankan lagi menetes dipipinya, yang segera dihapusnya.
Dilihatnya Jack dan temannya itu berjalan kearahnya. Ara cepat-cepat pergi, tidak menghiraukan wanita yang menegurnya itu. Dia menyimpan nampan itu diatas meja yang penuh minuman dan meninggalkan ruangan itu.
“Hei, kenapa kau malah pergi?” tanya wanita tadi kebingungan.
Ara sudah tidak sanggup melihatnya, dia berlari keluar dari ruangan itu dan berhenti dibalik tembok ruangan itu, menyandarkan punggungnya yang terasa begitu lelah.
Ara kembali membalikkan badannya, mengintip kedalam ruangan, dengan mata yang berlinang air mata, melihat sekali lagi pria yang sedang bergabung dengan tamu-tamu yang lain, dia terlihat bahagia bersenda gurau dengan rekannya.
Sungguh pedih. Hati Ara semakin sakit melihatnya, dia sangat kecewa pada Jack. Dia semakin menyadari keberadaannya yang tidak ada artinya buat Jack.
“Waktu depresi kau sangat mencintaiku Jack, tapi kenapa sudah sembuh kau menyakitiku?” gumam Ara.
Airmata kembali menetes dipipinya.
“Kau sudah tidak mencintaiku lagi. Aku tidak mengenalmu, kau orang asing, kau bukan Jack-ku lagi,” ucapnya lagi, menahan perih dihatinya.
***********
Readers, give away sudah ditutup. pengumumannya diumumkan nanti sore atau malam ya, memberi waktu jeda
untuk pembaca.
Maaf ya banyk typo, spasi dan paragraf juga acak acakan, sinyal jelek, sudah aku edit 3x tapi masih gini.
__ADS_1
************