
Hari sudah gelap, saat mobil itu berhenti disebuah gerbang tinggi. Ara melongokkan kepalanya ke kaca jendela. Pintu gerbang tinggi itu terbuka. Mobil melewati gerbang itu menuju halaman rumah itu.
Ara melihat beberapa orang yang berjaga berjejer disepanjang jalan masuk. Jarak radius beberapa meter dari satu orang ke orang lainnya. Dia kebingungan karena banyaknya penjagaan. Kenapa satpam begitu banyak? Bukan satpam, mereka tidak mirip satpam, mereka lebih mirip prajutit dengan bersenjata.
Ara merasa seram melihatnya, apa di Perancis satpam itu harus bersenjata?
Mobil terus melaju menyusuri jalanan yang kanan kirinya diapit taman rumput hijau berbentuk kerucut dengan pohon pohon sekitarnya yang mirip pohon cemara. Pohon-pohon itu berjajar rapih dipesepanjang jalan, serapih penjaga peanjag di depan gerbang itu.
Ara langsung tersenyum melihat taman indah itu yang dihiasi lampu-lampu taman yang sudah menyala.
Senyumnya semakin lebar saat moil berbelok menyusuri sebuah kolam air mancur yang sangat luas, dengan hiasan monument kelopak kelopak daun berwarna emasnya mengelilingi airmancur ditengah kolam itu, membuat air mancur itu terlihat semakin indah.
“Jack, apa kau tinggal disini? Rumahmu sangat indah Jack,” ucap Ara, dia senang sekali melihat pemandangan ini.
“Kalau kita punya anak pasti mereka sangat senang bermain disini, halamannya sangat luas, tidak perlu main ke halaman rumah tetangga. Kau tahu kan rumahku sangat padat penduduk,” ucap Ara sambil tertawa, dia membayangkan anak-anaknya akan senang berlarian ditaman yang indah ini. Selain rumputnya begitu lembut dan hijau, airmancur itu membuatnya taman semakin cantik.
Tapi beberapa menit kemudian dia menghentikan tawanya. Bagaimana bisa dia punya anak dan hidup normal seperti pasangan suami istri yang lain, keadaan Jack saja seperti itu. Diapun bersandar ke jok mobil, menghilangkan bayang-bayang itu.
Beberapa detik kemudian dia melongok lagi ke jendela, sebuah rumah megah ada tepat didepannya. Mata Ara mengikuti jalannya mobil, melihat keatas rumah itu. Apa ini sebuah rumah? Rumah Jack di ibukota sangat mewah, tapi ini jauh-jauh lebih mewah. Apakah ini sebuah hotel? Tapi bukannya mereka sedang ke rumahnya Jack?
Terasa mobil itu berhenti. Tidak lama kemudian ada yang membukakan pintu mobilnya. Ara fikir Pak Beni, ternyata bukan. Seorang pria berseragam membuka pintu itu. Ara turun dengan hati yang ketar-ketir melihatnya. Satpam itu begitu gagah dengan wajah tampannya.
Dia heran dari awal masuk, kenapa satpam-satpam itu begitu gagah dan tampan? Bisa dilihat mereka juga memiliki tubuh yang bagus. Apa mereka suka nge-gym dengan Jack? Jack juga memiliki badan yang bagus. Ara malah membayangkan melihat Jack bertelanjang dada berenang waktu itu.Jangankan melihat, dia juga berbaring disamping tubuh Jack tadi malam.
Ara merasa lucu saat satpam itu memberi hormat padanya dan berbicara dalam bahasa Perancis. Ingin tertawa rasanya diperlakuan seperti pejabata begitu, seperti orang penting saja, satpam disini sangat formil, seharusnya tidak perlu hormat-hormat segala.
Dan yang membuatnya merasa tambah lucu satpam itu tidak menurunkan tangannya. Pak Beni langsung menghampiri Ara dan berbisik.
“Dia memberi ucapan samat datang,” ucap Pak Beni.
“O, begitu rupanya. Apa aku juga harus membalas hormatnya?” gumam Ara.
Dengan iseng diapun mengangkat tangannya memberi hormat pada satpam itu, yang langsung menurunkan tangannya.
“Seperti upacara saja,” batinnya. Dalam hati dia keheranan kenapa penyambutannya sangat kaku begitu, satpam tidak menurunkan tangannya sampai dia membalasnya.
“Mr!” panggil Pak Beni pada Jack.
Ara mengernyit tumben Pak Beni memanggil Mr! Pasti mau bicara bahasa Perancis lagi! Huh lagi-lagi dia akan jadi kambing conge tidak tahu mereka bicara apa, batin Ara.
Jack keluar dari mobilnya, satpam itu menyambutnya dan memberi hormat. Jack hanya diam saja. Lalu berjalan melewati satpam itu, yang langsung menurunkan tangannya.
“Tadi tangannya tidak mau turun, kenapa sekarang diacuhkan Jack mau turun?” keluh Ara dalam hati, melirik satpam itu sekilas.
Ara buru-buru mengikuti langkahnya Pak Beni dan Jack menuju bangunan mewah itu.
“Pak Beni, ini rumah atau gedung berkantoran atau hotel?” tanya Ara.
“Rumah Tuan,Nyonya,” jawab Pak Beni.
__ADS_1
“Rumahnya bagus sekali Pak Beni, sangat mewah, seperti yang ada di internet, pasti sangat mahal,” ucap Ara.
Dia tidak bisa membayangkan betapa banyaknya uangnya Jack, rumahnya saja suda seperti ini, mungkin peninggalan ayahnya. Pantas saja para Pengacara itu sangat ketat menjaga uangnya Jack.
Pintu rumah itu terbuka lebar, lagi-lagi ada beberapa orang satpam berjejer disamping kanan dan kiri dengan seragam yang terlalu formil menurut Ara, mungkin karena tradisi disana memang seperti itu, fikirnya tidak ambil pusing.
Apalagi lagi-lagi mereka memberinya hormat, tapi sekarang dia mengikuti caranya Jack yang ngeloyor masuk saja tanpa membalas hormat, Arapun hanya tersenyum pada mereka.
Yang menjadi perhatian Ara bukan itu, tapi isi rumahnya yang super mewah. Ini adalah rumah terindah yang pernah dia masuki. Matanya menatao kearap bangunan megah itu lalu ke sekeliling juga lantainya. Lantainya saja begitu bening dengan motif daun dan bunga ditengah ruangan itu, dia bisa berkaca dilantai itu, sepertinya tidak ada debu sebutirpun yang menempel di lantai. Yang pasti jangan sekali-kali menggunaan dress tanpa celana pendek atau akan terlihat dalemannya berbayang dilantai itu.
“Jack!” panggil Ara, menengok kepinggirnya, ternyata pria itu sudah tidak ada.
“Kemana Jack?” tanyanya. Dilihatnya pria itu sudah berjalan jauh masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga. Pak Beni berhenti ditangga bawah tidak ikut Jack naik lagi.
Ara segera menyusul dan menghampiri Pak Beni.
“Benar ini rumahnya Jack?” tanya Ara.
“Benar Nyonya,” jawab Pak Beni.
“Ooh..” gumam Ara, matanya melihat lagi ke sekeliling, ruangan yang begitu luas dengan hiasan lampu atas yang sangat mewah, benar-benar seperti rumah mewah yang di internet.
“Dengan siapa Jack tinggal? Apa ada keluarga lain?” tanya Ara.
“Sendiri,” jawab Pak Beni.
“Apa? Sendiri?” tanya Ara lagi, semakin keheranan. Meskipun banyak satpam dan pekerja tetap saja mereka bukan keluarga, rumah ini tetap sepi, batinnya.
“Kau benar, hatinya pasti sedang galau. Jack tidak bicara-bicara,” ucap Ara, hatinya kembali merasa sedih memikirkan suaminya yang masih sakit.
“Tapi aku senang di rumah sakit tadi Jack mengenaliku, dia tahu namaku,” ucap Ara. Tanpa bicara apa-apa lagi, kakinya perlahan menaiki tangga.
“Beristirahatlah Nyonya,” ucap Pak Beni.
“Terimakasih Pak Beni,” kata Ara.
Kaki Ara terus menaiki tangga yang lebarnya lebih dari 2 meter, dengan dihamparkan karpet yang terasa begitu lembut saat diinjaknya. Dia tidak akan khawatir jika anak-anaknya nanti berlarian di tangga, dia tidak akan takut jatuh, kalau jatuhpun tidak akan apa-apa saking empuknya karpet itu.
Setelah beberapa langkah dia baru tersadar kalau Jack sudah tidak ada.
“Kamana lagi dia? Jack! Jack!” teriaknya, sambil terus menaiki tangga dengan cepat, mencari Jack.
Dilantai atas sangat luas, dia bingung kemana Jack? Dia juga tidak tahu kamarnya dimana. Arapun berkeliling mencari cari dimana letak kamarnya.
“Jack! Jack!” teriaknya, melihat ke sekeliling, dia merasa bingung karena bangunan rumah itu begitu luas. Ada beberapa ruangan disana, Ara mencoba menebak yang mana kamarnya.
Hingga dilihatnya ada beberapa pintu ruangan. Ara membuka pintu pertama ternyata dikunci, diapun terus berjalan pada pintu lain, dicobanya dibuka juga dikunci, dia terus berjalan, akhirnya menemukan sebuah pintu yang sedikit terbuka, diapun mengintip kedalamnya, dan matanya terbelak saat melihat isinya, ruangan didalam sangat luas, dia melihat ada sebuah tempat tidur besar didalamnya, itupun letaknya sangat jauh.
“Jack!” panggilnya. Tidak ada jawaban.
__ADS_1
Ara melangkahkan kaki masuk ke kamar itu.
“Jack!” panggilnya. Tentu saja Jack tidak akan menjawab, karena memanga biasanya juga tidak menjawab.
Mata Ara terhenti pada sosok suaminya itu. Dia sedang berdiri menatap sebuah foto yang besar yang mirip dengan dirinya, sepertinya itu adalah ayahnya Jack. Ayahnya menggunakan pakaian seragam yang entah apa namanya, sepertinya ayahnya adalah orang yang sangat Penting di Perancis ini.
Mungkin itu alasannya kenapa waktu itu Pak Beni menelepon dalam bahasa Inggris mengatakan Jack orang penting karena mungkin Jack putra dari seseorang yang berpengaruh di Perancis.
“Jack,” panggil Ara mendekati Jack. Dilihatnya wajah Jack seperti bersedih. Diapun berdiri disamping Jack.
“Dia ayahmu?” tanya Ara.
“Ayah,” gumam Jack.
“Ayahmu sangat gagah dan tampan. Ternyata kau tampan mirip ayahmu,” ucap Ara, keceplosan memuji Jack, dia langsung menutup mulutnya. Kenapa dia terus terang memuji Jack tampan? Kalau Jack sembuh sekarang pasti akan sangat memalukan, batinnya.
Jack tidak menjawab, tiba-tiba dia pergi. Ara menoleh kearah Jack pergi, ternyata pria itu naik ke tempat tidur dan berbaring.
“Kau mau tidur?” tanya Ara.
“Sebentar lagi waktunya makan dan minum obat,” ucap Ara lagi.
Yang diajak bicara tidak menjawab, pria itu tidur terlentang. Ara segera menghampirinya. Mungkin Jack memang lelah.
“Kau boleh istirahat, tapi sebentar saja, karena sebentar lagi pelayan akan membawakan makan malam untukmu, kau tidak boleh telat minum obatnya,” ucap Ara.
Tidak ada jawaban, pria itu hanya memejamkan matanya. Ara menghela nafas panjang. Dia bingung bagaimana cara mengeluarkan fikiran Jack dari rasa bersalahnya?
Jack melipat satu tangan ke atas keningnya. Ara hanya bisa menatapnya. Jack terlihat sangat lelah, dilihatnya lagi Jack masih menggunakan sepatunya. Arapun naik ke tempat tidur, tangannya terulur melepas sepatunya Jack lalu disimpan di bawah tempat tidur.
Besok Ara akan membawa Jack ketempat kejadian itu, hal ini memang beresiko tapi dia harus berupaya apapun untuk membuat Jack benar-benar sembuh.
“Tidurlah Jack, sebentar lagi aku bangunkan, kau tidak boleh telat minum obat,” ucap Ara. Tidak ada jawaban, akhirnya diapun merebahkan tubuhnya disamping Jack. Kamar yang luas itu terasa begitu dingin dan sepi.
************
Visual rumahnya Jack di Paris. Jangan nyinyir ya, ngehalu setinggi mungkin mumpung ngehalu belum dilarang.
Salah satu rumah termahal di Perancis dan di dunia.
__ADS_1