
Tidak ada yang berubah, meskipun Ara tahu kemungkinan Jack tidak Depresi, dia masih sabar untuk mengurusnya. Memakaikan pakaiannya, menemaninya makan, memberinya obat.
Apakah cukup hanya dengan mengetesnya buang air itu menunjukkan kalau Jack tidak depresi? Setiap gerak-geriknya Jack sangat diperhatikan Ara sekarang. Dia semakin menyadari kalau Jack memang berubah.
Saat menggunakan pakaian, Jack tidak banyak bicara seperti biasa, pria itu tidak protes apapun yang dilakukannya, hanya diam seperti boneka, tapi tatapannya lebih focus saat melihat apapun.
Cara makan Jack juga sudah sangat teratur. Ara ingat pertama kali makan bersamanya selain makan dengan cepat sampai makanan berjatuhan, porsi makannyapun sangat berlebihan, seperti orang yang tidak makan berminggu-minggu. Tapi tidak lagi sekarang, dia lebih tenang saat makan, juga bersih, Ara hanya sesekali melap bibirnya Jack yang terkena makanan.
Hingga tiba saatnya minum obat.
“Pak Beni, dimana obatnya Jack?” tanya Ara.
“Ini Nyonya!” kata Pak Beni, memberikan kotak obat pada Ara, lalu dia berpindah berdirinya dekat Jack.
Ara menyiapkan obat sambil menunduk, dia melirik pada Jack dan Pak Beni. Ara baru sadar kalau Pak Beni akan berdiri dekat Jack setiap kali minum obat.
“Ini Jack, minumlah,” ucap Ara, menyodorkan obat itu yang segera diambil Jack.
Kemudaian Ara sengaja menyenggol piring makannya. Pray! Piring itu jatuh ke lanatu membuat kaget semua orang.
“Aduh! Pak Beni bisa minta tolong pelayan!” teriak Ara, pura-pura kaget bajunya kotor terkena makanan.
Tentu saja Pak Beni terkejut, diapun segera meninggalkan Jack dan memanggil pelayan rumah.
Sedang sibuk-sibuk begitu, mata Ara melirik pada apa yang dilakukan Jack, pria itu seperti minum obat lalu menurunkan tangannya sebelah. Ara sudah menebak pasti Jack memasukkan obat itu ke saku celananya.
Sudah jelas semuanya, Jack memang pura-pura depresi tapi merahasiakan kesembuhannya darinya. Hati Ara semakin sedih karenanya. Dia tidak mengerti alasan Jack merahasiakannya padahal selama ini dia sangat menyayangi Jack.
Mungkin setelah Jack sembuh, Jack menyadari kalau Jack tidak mencintainya. Jack tidak memilki perasaan yang sama dengan saat Jack depresi atau mungkin menyesal karena sudah menikahinya? Menikahi wanita biasa-biasa saja yang bagaikan bumi dan langit jika dibandingkan dengan status sosialnya Jack?
Mengingat semua itu membuat Ara sedih. Apa Jack tidak tahu, kalau dia begitu menyayanginya dan melihat Jack sembuh adalah harapan terbesarnya? Tapi Jack malah merahasiakan kesembuhannya itu.
Ara berdiri mencuci tangannya di wastafel juga membersihkan noda di bajunya. Dia merasa kecewa pada Jack tapi Ara juga tidak bisa memaksakan kehendaknya jika memang Jack menyadari kalau tidak mencintainya atau mungkin menyesal dengan pernikahannya.
“Jack, aku ke kamar duluan, aku harus berganti pakaian,” ucap Ara pada Jack lalu menoleh pada Pak Beni.
“Pak Beni tolog bantu Jack,” ucap Ara lagi.
“Baik, Nyonya,” jawab Pak Beni.
Arapun segera meninggalkan ruangan itu. Dia sudah tidak tahan ingin menumpahkan segala kekecewaannya pada Jack. Tidak terasa airmatanya terus menetes dipipinya. Dia merasa tidak mengenal Jack.
Berkali-kali dihapusnya airmata dipipinya itu, sambil mengganti bajunya. Tidak ada yang ingin dia lakukan lagi, dia merasa lelah dengan semua ini. Dia tidak mengerti apa yang ada dalam fikirannya Jack. Kalau tahu seperti ini, buat apa dia menyusul Jack ke Paris?
__ADS_1
Jack depresi yang mengajaknya menikah tapi Jack sudah sembuh Jack tidak berbagi kebahagiaan dengannya. Itu menunjukkan dia memang tidak berarti bagi Jack.
Apalagi sedikit demi sedikit terkuak, Jack bukan pria sembarangan. Apalah dirinya? Mungkin Jack tidak jujur karena dia menyadari kalau dia menikahi wanita yang salah? Karena dia bukan kriterianya Jack?
Ara segera naik ke tempat tidur, dia hanya ingin tidur saja, dia ingin begitu bangun tidur semua ini adalah mimpi, bukan dia tidak mau Jack sembuh, tapi dia ingin menghilangkan kenyataan kalau Jack tidak mencintainya.
Ara berbaring miring menatap pernak pernik yang ada diatas meja di samping tempat tidur.
Sudah puluhan menit berlalu tapi Ara sama sekali tidak bisa terlelap, rasa sedih dan kecewanya membuatnya tidak bisa tidur.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Ara cepat-cepat menutup matanya pura-pura tidur.
Jack melihat istrinya yang berbaring, diapun tersenyum, dia senang melihat istrinya ada di kamar tidurnya. Sudah terbiasa satu tempat tidur dengannya, beberapa hari tidur sendiri rasanya begitu sepi. Meskipun mereka tidak pernah melakukan apa-apa ditempat tidur itu.
Ara merasakan suara derit tempat tidur, sepertinya Jack naik ke tempat tidur, makin dia mau tidur juga, tapi ternyata tidak. Ara merasakan hangat ditubuhnya, ternyata Jack menyelimutinya. Dirasanya tangan pria itu menyentuh bahunya.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. Ara mengerutkan dahinya, itu bukan suara ponselnya, terus suara ponsel siapa?
Ara merasakan kembali derit tempat tidur, sepertinya Jack turun. Kemudian terdengar suara kaki menjauh bersamaan dengan hilangnya suara dering ponsel juga suara pintu dibuka dan ditutup lagi. Sepertinya Jack menerima panggilan diluar kamar. Sejak kapan Jack punya ponsel? Kemarin menelpon saja Pak Beni yang menelponnya!
Ara membukakan matanya, sudah jelas semua, Jack tidak depresi lagi, Jack sudah sembuh dan Jack tidak jujur padanya. Rasanya begitu sakit diperlakukan seperti ini.
Tidak berapa lama terdengar suara pintu dibuka lagi, Ara menajamkan pendengarannya, yang terdengar sekarang bukan suara sepatunya Jack, tapi suara lebih ringan dan ternyata bukan satu orang tapi seperti beberapa orang.
“Jangan berisik, nanti Nyonya bangun,” terdengar suara seorang wanita dalam bahasa Perancis.
Ara membuka matanya sedikit, dia mengintip melihat arah ruangan pakaian itu. Dilihatnya pintu walk in closet itu sedikit terbuka. Apa yang dilakukan mereka? Saking penasarannya, Ara bangun dari tidurnya dan melangkahkan kakinya perlahan menuju walk in closet.
Diintipnya lewat pintu yang terbuka itu, ternyata dua orang pelayan rumah sedang membuka lemari ujung yang terkunci itu. Ara terkejut saat melihat pakaian yang dikeluarkan dari lemari itu. Itu adalah pakaian dinasnya Jack, terlihat dari model baju dan atribut yang terpasang dibaju itu. Ternyata benar, Jack seorang Jendral, model baju itu mirip dengan yang ada di internet yang digunakan Jendral Jack Delmar.
Para pelayan itu juga mengambil sebuah kotak yang entah apa isinya, mungkin accesoris.
Mata Ara semakin terasa perih saja. Buat apa Jack melakukan ini semua? Dia menyuruh pelayannya mengambil baju dinasnya diam-diam dikemas dimasukkan dalam koper? Apa Jack akan mencari tempat khusus untuk berganti pakaian menggunakan pakaian dinasnya supaya tidak diketahui olehnya?
Melihat wanita-wanita itu mulai mengepak, Ara kembali ke tempat tidur dan pura- pura tidur lagi. Dia tidak mengerti buat apa Jack melakukan ini semua? Kenapa harus mengambil bajunya diam-diam?
Tidak berapa lama terdengar suara langkah-langkah kaki itu melewati tempat tidurnya kemudian suara pintu dibuka dan ditutup, sepertinya mereka sudah pergi.
Ara kembali membukakan matanya, dia merasa jadi orang asing dalam kehidupannya Jack, karena Jack sendiri tidak mau mengatakan siapa dia sebenarnya.
Apa Jack tidiak tahu kalau dia begitu menyayanginya? Apa Jack tidak tahu kalau perilakunya ini sangat menyakitinya? Air mata kembali menetes di pipinya Ara, tapi dia juga berusaha untuk tenang dan tidak emosi dalam menyikapi masalah ini.
Malam semakin larut tapi Jack tidak muncul muncul masuk ke kamar itu, entah kemana pria itu. Kalau Jack masih depresi, Ara mungkin akan mencarinya dan mengajaknya tidur, tapi tidak sekarang, Ara tahu Jack sudah sembuh dan tidak membutuhkan perhatiannya lagi.
__ADS_1
Arapun akhirnya hanya berbaring dan berusaha untuk tidur.
****
Terdengar suara derit gorden kamar dibuka.
Ara membuka matana, dia terkejut ternyata hari sudah siang. Diapun bangun dan duduk di tempat tidurnya.
Beberapa orang wanita sedang membuka-bukakan jendela kamarnya.
Salah seorang menyapanya dalam bahasa Perancis. Ara tidak mengerti.
“Dimana Tuan Delmar?” tanya Ara.
Tapi wanita-wanita itu tidak menjawab, mungkin tidak mengerti bahasa Inggris atau mungkin memang dilarang oleh Jack untuk bicara dengannya.
Mereka hanya bicara lagi dalam bahasa Perancis lalu keluar dari kamar itu, bersamaan dengan seseorang yang baru datang dan hanya berdiri dipintu yang terbuka.
“Pak Beni! Kemana Jack?” tanya Ara, nadanya agak tinggi, dia masih kesal dengan semua ini, tapi kemudian Ara teringat harus bersikap biasa saja.
“Aku bangun, Jack sudah tidak ada,” kata Ara, sambil turun dari tempat tidur.
“Tuan sudah pergi terapi, Nyonya,” jawab Pak Beni.
“Sendirian?” tanya Ara.
“Nanti saya akan menjemputnya, karena Tuan menugaskan saya untuk menjaga Nyonya,”jawab Pak Beni, masih didekat pintu dan menunduk.
“Tidak perlu, aku baik-saik saja, kau pergi saja temani Jack, atau bagaimana kalau aku menyusulnya?” tanya Ara.
Dia sudah yakin Pak Beni akan melarang.
“Tidak perlu Nyonya, nanti terapi Tuan terganggu,” kata Pak Beni.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu dirumah saja, Pak Beni tidak perlu menjagaku. Jika Pak Beni ada yang akan dikerjakan, silahkan saja. Aku hanya ingin bersantai dirumah,” ujar Ara, lalu melangkahkan kakinya pergi ke kamar mandi.
“Baiklah Nyonya, saya akan mengerjakan pekerjaan yang lain,” ucap Pak Beni, lalu menutup pintu kamar itu.
Di dalam kamar mandi Ara terus memberengut. Jack pura-pura terapi membuatnya kesal, tiba-tiba matanya tertuju pada pakaiannya Jack yang dipakai tadi malam yang ada dalam keranjang. Pakaian kotor itu belum diambil pelayan rumah.
Arapun mendekati keranjang itu lalu mengambil celana panjangnya Jack. Dia merogoh saku celana itu dan mengeluarkan sesuatu disana, obat-obatannya Jack.
Ternyata Jack benar-benar tidak minum obat tadi malam, obatnya di masukkan saku celananya. Sudah jelas-jelas Jack memang tidak depresi lagi.
__ADS_1
Terus kalau Jack pergi sepagi ini, kemana dia? Yang pasti bukan ke tempat terapy. Mungkin Jack pergi ke kantornya! Dimana kantornya Jack? Terbersit difikirannya Ara untuk melihat langsung Jack berada di kantornya, untuk meyakinkan kalau Jenderal Jack Delmar itu memang Jack Delmar suaminya.
********