Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-41 Mimpi yang sama


__ADS_3

Ara menoleh pada Jack yang tampak senang melihat miniaturenya yang utuh.


“Kau senang Jack?” tanya Ara, sambil mengambil box miniature itu dari pangkuannya Jack dan disimpan di atas meja didekat tempat tidur.


“Kau pasti sangat lelah, tidurlah, aku juga lelah,” ucap Ara, meraih bahu Jack supaya berbaring, diambilnya selimut dan menyelimuti tubuh Jack yang tidak berpakaian.


“Diluar masih hujan, kau pasti kedinginan,” ucapnya.


Arapun kembali berbaring disamping Jack menatap langit-langit, lalu diliriknya Jack yang tidur terlentang dengan memeluk miniaturnya.


“Aku juga senang Jendralmu masih tersisa, itu kenang kenangan dari ayahmu yang terselamatkan,” ucap Ara.


Jack tidak menjawab, pria itu menatap langit-langit, entah apa yang ada di fikirannya Jack saat itu.


“Kita akan pergi ke Perancis Jack, kita cari Dokter yang bagus supaya kau bisa sembuh,” ucap Ara yang kembali menatap langit-langit seperti Jack.


“Tapi apa di Perancis tidak ada Dokter yang bagus, Jack? Kau dirawat dari kecal kan? Masa tidak sembuh-sembuh?” keluh Ara, dengan bingung juga.


“Tapi kita tidak mungkin mencari Dokter lain, Dokter yang di Perancis itu tahu betul apa yang terjadi padamu dari kecil,” ucap Ara lagi.


Ara memiringkan tubuhnya menghadap Jack.


“Tidurlah Jack, supaya bangun kau lebih baik,” ucap Ara, sambil memejamkan matanya mencoba untuk tidur meskipun hari masih siang, dia ingin beristirahat dan menenangkan hatinya.


Lama kelamaan Arapun tertidur. Diluar masih hujan diiringi dengan petir yang menggelegar.


Ara berjalan dipesisir pantai, berbeda dengan waktu itu, sekarang pantai itu begitu gelap, hujan dan petir terus menyambar.


“Jack! Jack!” teriaknya tapi tidak ada jawaban dari Jack.


Angin terus bertiup kencang. Ara memegang gaunnya yang tertiup angin dan basah kuyup kehujanan, udara terasa begitu dingin menusuk nusuk kulitnya.


“Jack! Jack!” teriaknya. Tapi masih tidak ada jawaban.


Tiba-tiba dari arah laut ada ombak tinggi menerjangnya, membuatnya terkejut dan kehilangan keseimbangan tubuhnyapun terseret arus laut.


“Jack! Tolong Jaaack!” teriaknya.


Ombak laut itu begitu tinggi menariknya semakin jauh kelaut, membuat tubuhnya bergumpalan dengan ombak .


Ara semakin banyak meminum air laut, dia tidak bisa berenang, dia merasakan sesak yang amat sangat, membuatnya tidak bisa bernafas. Dia mencoba untuk bertahan dan tetap bernafas, tapi terasa begitu sulit sampai membuatnya batuk-batuk dan terbangun.


Ara duduk diatas tempat tidur itu dengan keringat yang membasahi keningnya, dadanya masih terasa sesak. Ini adalah untuk yang kedua kalinya dia bermimpi diterjang ombak. Mimpi dilokasi yang sama, tapi dia tidak tahu dimana itu karena dia tidak suka bermain ke pantai karena tidak bisa berenang. Kenapa mimpi itu terasa begitu nyata?


Dilihatnya diluar hujan mulai reda hanya sisa gerimis saja. Ara menoleh pada Jack yang juga tidur terlelap dengan bertelanjang dada dan selimut hanya menutupi sampai perutnya.

__ADS_1


Ara menghela nafas panjang melap keringat dikeningnya. Mimpi itu terasa begitu nyata sampai dia merasakan sesak yang sama. Arapun kembali berbaring, tapi sekarang mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jack, menempelkan kepalanya ke bahu Jack.


“Aku bermimpi buruk Jack, mimpi yang sama tapi terasa begitu nyata, aku seperti pernah melihat tempat itu tapi aku tidak tahu dimana. Aku sangat takut Jack, rasanya aku benar-benar seperti akan tenggelam,” ucapnya, kini hidungnya menempel kebahunya Jack.


“Seharusnya kau memelukku, Jack,” lanjutnya.


 Ara memiringkan tubuhnya semakin rapat pada tubuh Jack. Hujan diluar membuat tubuhnya terasa semakin kedinginan, Arapun berusaha untuk tidur lagi meskipun ternyata dia tidak bisa tidur lagi kerena mimpi itu begitu terasa nyata, seakan dia benar-benar akan tenggelam barusan, diterjang ombak dan sesak nafas.


Tangannya meraih lengan kokohnya Jack dan memeluknya erat. Meskipun Jack tidak memeluknya, siapa tahu dengan memeluk lengan Jack dia bisa lebih tenang dan melupakan mimpinya.


*********


 Keesokan harinya, di ruang kerja Ny.Inez...


Susana saat itu begitu tegang. Ara didampingi oleh Pak Beni dan pengacaranya Jack, sedangkan Ny. Inez dan Tn Ferdi juga bersama pengacaranya.


“Nyonya, apa Nyonya yakin akan memberikan surat kuasa atas seluruh hartanya Tn. Jack Delmar?” tanya Pengacaranya Jack itu.


“Iya. Kondisi Jack sekarang memburuk dan aku harus focus mengurusnya di Perancis, jadi aku mengembalikan kuasa atas hartanya Jack pada ibunya, Ny, Inez,” ucap Ara.


“Baiklah Nyonya, kalau itu sudah menjadi keputusan Nyonya,” kata pengacara itu, lalu menoleh pada Ny.Inez dan Tn.Ferdi.


“Tapi harus diingat, prosedur lama masih berlaku. Untuk angka dalam limit tertentu tetap harus lewat proses sidang, karena pemilik yang sahnya masih hidup,” kata pengacara itu.


Tn. Ferdi yang mendengarnya merasa kesal bukan main, kenapa begitu sulit mengambil laih kekayaannya Jack? Padahal ayahnya Jack sudah meninggal dan Jack juga gila, fikirnya.


Ny. Inez tersenyum mendapatkan surat kuasa itu. Tn.Ferdi hanya diam saja, dia masih tidak puas dengan masalah negosiasi hari ini, karena dia masih tidak bisa mengambil uang dalam jumlah besar.


“Aku sudah menyiapkan perjalanan kalian ke Perancis,” kata Ny. Inez.


“Kami akan pergi secepatnaya,” ucap Ara, lalu bangun dari duduknya diikuti oleh Pak Beni sedangkan para pengacara sudah meninggalkan ruangan itu duluan.


“Sayang!” panggil Tn. Ferdi pada Ny. Inez.


“Ada apa?” tanya Ny. Inez.


“Masa kita masih harus ikut prosedur lama, kalau mengambil uang jumlah besar harus sidang ini dan itu lagi?” keluh Tn.Ferdi.


“Ya aturannya begitu. Tetap saja kita bukan pemilik hartanya Jack, semua terjadi karena Jack sakit, itu saja. Kalau Jack benar-benar sembuh dan dia ingin hartanya kembali tetap saja akan kembali pada Jack,” ucap Ny. Inez.


“Sudahlah yang penting, hartanya sudah aku yang pegang. Lagipula uang Jack yang bisa diambil tiap bulannya  sudah lebih dari cukup,” lanjut Ny.Inez lalu meninggalkan ruang kerja itu.


Tn.Ferdi memberengut sebal. Mau sampai kapan dia begini? Dia sudah bosan dan semuanya harus diakhiri. Semua hartanya Jack harus benar-benar jadi miliknya, bukan Cuma kuasa dalam jumlah tertentu saja.


Terbersit fikiran buruk dalam benaknya Tn. Ferdi. Tapi dia belum tahu kesempatan yang bagus untuk melakukannya.

__ADS_1


Terdengar suara yang masuk keruangan itu, ternyata Bastian yang muncul.


“Bagaimana? Semuanya sudah beres kan? Aku ingin bertunangan dengan Kinan,” kata Bastian.


“Kinan tidak mau kalau acaranya biasa biasa saja,” lanjut Bastian.


“Beres tapi tetap saja kalau jumlah besar harus lewat sidang pengacara itu, menyebalkan!”


gerutu Tn. Ferdi.


“Masih sama seperti dulu?” tanya Bastian.


“Iya,” jawab Tn.Ferdi.


“Kenapa sih susah amat menyingkirkan kakak gila itu? Dia dirumah sakit jiwa saja bikin repot,” keluh Bastian.


“Terpaksa dia harus disingkirkan, jangan sampai kembali ke rumah ini, apalagi sampai sembuh,” ucap Tn.Ferdi.


“Lagipula dia hidup juga tidak ada gunanya, gila begitu! Hanya meratapi kematian ayahnya dan teman kecilnya itu, payah!” gerutu Bastian.


“Untuk sementara biarkan Jack kembali ke RSJ, setidaknya selama dia sakit kita usahakan merubah asset asetnya Jack beralih padaku, tapi jangan sampai ibumu tahu, dia masih ada sayang pada anak gila itu!” kata Tn.Ferdi.


“Bagaimana dengan kakak ipar yang sok itu?” tanya Bastian.


“Dia akan ikut ke Perancis,” jawab Tn.Ferdi.


“Apa? Dia akan ikut tinggal di Percanics? Modus amat! Dia hanya ingin jalan-jalan saja!” keluh Bastian.


“Gadis ingusan, dia fikir bisa mengalahkanku!” umpat Tn.Ferdi.


“Setidaknya mereka sudah tidak ada sisini, dan aku bisa minta uang pada ibu. Kinan kan ingin lamarannya dengan hadiah seperti yang kakak bawa untuk istrinya dulu,” kata Bastian, membuat Tn.Ferdi melongo.


“Apa? Kau gila? Uang sebanyak itu bisa menguras uang kita!” bentak Tn.Ferdi, dengan kesal.


“Makanya pakai uang kakak saja, aku tidak mau Kinan menolakku. Pokoknya semuanya harus ada,” ujar Bastian, tanpa bicara lagi dia keluar daru ruangan itu.


Tn.Ferdi menatap putranya itu.


“Dia gampang saja minta uang sebesar itu!” keluh Tn.Ferdi.


Di kamarnya Ara, dia merapihkan baju-baju yang akan dibawanya ke Perancis. Tidak lupa dia akan membawa foto pernikahannya dengan Jack. Dia masih ingat dulu meskipun Jack belum benar-benar normal  tapi dia bisa focus bicara padanya meskipun sedikit-sedikit. Tapi sekarang, Jack hanya focus pada miniaturnya dan kenangan lamanya dengan ayahnya.


Sebenarnya hatinya semakin sedih, tapi mau bagaimana  lagi? Semua sudah terjadi dan dia harus menghadapinya dengan sabar juga berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhannya Jack.


Dilihatnya keluar balkon, Jack sedang duduk sendiri dengan memangku box miniaturnya. Miniature yang utuh itu berada diatas tumpukan miniatur yang rusak.

__ADS_1


“Aku akan melakukan apapun demi kesembuhanmu Jack,” gumamnya, lalu menoleh lagi pada bingkai foto pengantinnya yang masih tertumpuk diatas tempat tidur, segera dirapihkannya untuk dibawa serta ke Perancis.


************


__ADS_2