
Ny. Imelda berdiri dibelakang Jack yang masih mematung di teras dengan wajahnya yang kusut. Melihat pertengkaran Jack dengan Ara membuat hati Ny. Imelda senang, dia senang Jack tidak bahagia, Jack tidak boleh bahagia.
“Sudahlah Jack, nanti dirumah kau jelaskan pada istrimu,” kata Ny. Imelda, basa basi.
“Ini hanya salah faham,” lanjut Ny. Imelda, sambil menghampiri Jack.
Jack tidak menjawab, dia menghela nafas sesaat, mencoba menenangkan hatinya. Dia hanya ingin melihat tahi lalat itu bukan mau mencium Arum, kenapa hasilnya jadi begini? Dia belum melihat tahi lalat itu, tapi dia malah bertengkar dengan istrinya. Ara pasti sedih baru juga semalam mereka bersama, dia sudah membuatnya kecewa, sungguh suami yang tidak berperasaan.
“Sepertinya aku tidak bisa lama, aku harus pulang,” kata Jack.
“Terimakasih kau sudah datang, semoga kau bisa menjelaskannya pada istrimu, karena aku berharap kau datang lagi kemari, bantulah Arum supaya sembuh,” ujar Ny.Imelda.
Jack tidak menjawab, dia tidak tahu apakah menemui Arum lagi sesuatu yang baik atau yang buruk, dia tidak mau hal itu akan menyakiti istrinya, dia tidak mau kehadiran Arum akan membuatnya terus bertengkar dengan Ara.
“Apa kau mau melihat Arum depresi sepertimu? Tidak kan? Kalau perlu kau bicara dengan Dokternya nanti supaya kau percaya kalau Arum sedang sakit sekarang,” kata Ny. Imelda.
Jack menatap Ny. Imelda lekat-lekat. Dia ingin menanyakan soal tahi lalat itu, tapi kalau dia menanyakannya bisa saja nanti Ny.Imelda membuat skenario ada tahi lalat di belakang rambutnya Arum supaya saat dia membuktikannya, terbukti kalau gadis itu Arum kecilnya. Sungguh membingungkan. Diapun mengurungkan niatnya bertanya soal itu.
Jack menoleh pada Pak Beni.
“Kita pulang sekarang,” kata Jack.
Pak Beni langsung mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.
Ny.Imelda tersenyum senang melihat kepergiannya Jack. Inilah yang di inginkannya, membuat hidup Jack kacau. Tapi beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah sendu, dia teringat lagi pada putrinya, dia sangat
merindukan Arum putri kecilnya.
*******
Saat tiba dirumah, Jack merasa gelisah mobil yang dipakai istrinya tidak ada dirumah. Diapun bergegas mencarinya dalam rumah, langsung ke kamarnya. Ternyata istrinya tidak ada di kamarnya, hanya ditemukanya buket bunga diatas tempat tidur dan kartu ucapan yang terbuka. Sepertinya istrinya sedang mencari tahu arti dari puisinya.
Jack duduk dipinggir tempat tidur itu. Dia bingung harus mengatasi masalah ini seperti apa. Kalau dia jujur soal ingin melihat tahi lalat itu pasti Ara juga akan marah kerena dia masih memikirkan Arum terus. Padahal niatnya hanya memastikan saja supaya Ny.Imelda dan Arum tidak mengganggu rumah tangganya lagi. Dan letak tahi lalat itu tertutup rambut jadi dia memang harus menunduk bukan mau mencium Arum. Ah kenapa jadi begini, keluh Jack dalam hati.
Sementara itu Ara pulang kerumahnya. Dia meminta supir untuk meninggalkannya dan kembali ke rumah Jack.
Ibunya Ara terkejut karena putrinya pulang kerumah mendadak dengan wajahnya yang kusam.
“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau pulang dalam keadaan begini?” tanya Ibunya Ara.
“Tidak apa apa Bu, aku hanya rindu saja pada Ibu dan Ayah, aku ingin tidur disini beberapa hari saja,” jawab Ara, akan meninggalkan ibunya tapi Ibunya segera menghalangi langkahnya, berdiri di depan Ara.
“Jangan membohongi Ibu, ada apa? Ceritalah! Apa kau bertengkar dengan Jack? Apa Jack menyakitimu?” tanya Ibunya, menatap Ara dengan penuh pertanyaan.
Arapun diam menunduk, airmata kembali menetes dipipinya.
“Apa, apa yang dilakukan pria itu? Bukankah pria itu sangat mencintaimu? Kenapa dia membuat kau menangis seperti ini?” tanya Ibunya Ara, memegang bahunya Ara.
Ara mengangkat wajahnya menatap ibunya yang juga menatapnya. Ditanya begitu, membuat Ara teringat lagi Jack mencium Arum, tangisnyapun langsung pecah. Tentu saja ibunya Ara semakin penasaran.
“Ada apa? Katakan pada Ibu! Pria itu menyakitimu? Apa dia tidak tahu kalau Ibumu bisa beladiri? Dia harus berhadapan dengan Ibu, Ibu bisa membuatnya langsung KO hanya dalam beberapa detik!” Ibunya Ara mulai tersulut emosi, mengguncang-guncang bahunya Ara.
Ara menatap ibunya lalu tangisnya semakin keras, membuat Ibunya Ara kebingungan.
“Jack mencium wanita itu!” ucap Ara, langsung memeluk Ibunya.
Tentu saja ibunya semakin kaget.
__ADS_1
“Apa? Mencium wanita? Wanita siapa?” tanya Ibunya Ara.
“Wanita itu, Arum,” jawab Ara.
“Arum? Arum siapa maksudmu? Ibu tidak mengerti,” kata Ibunya Ara melepaskan pelukannya Ara, menatap wajah putrinya.
“Arum, Arum teman kecilnya Jack,” jawab Ara.
“Maksudmu Jack mencium Arum, teman kecilnya?” tanya Ibunya Ara, wajahnya langsung berubah merah.
“Keterlaluan sekali! Suamimu mencium wanita lain?” Ibunya Ara semakin marah.
Ara mengangguk.
“Kata siapa? Mungkin itu gossip,” tanya Ibunya Ara.
“Aku melihat dengan kepalaku sendiri!” jawab Ara, langsung menangis lagi, membayangkan Jack mencium Arum padahal pria itu biasanya menciumnya sekarang mencium wanita lain, hatinya sangat sakit sekali.
“Apa? Jack mencium wanita itu didepanmu?” tanya Ibunya Ara, tidak percaya, matanya tampak melotot.
Ara langsung mengangguk.
“Keterlaluan! Pria itu harus diberi pelajaran!” umpat Ibunya Ara sambil, melintingkan lengan
bajunya.
“Dimana dia sekarang? Ibu harus menemuinya!” teriak Ibunya Ara.
“Sudahlah Bu, Ibu tidak perlu menemui Jack, aku hanya ingin sendiri saja,” kata Ara, memegang tangan Ibunya.
“Tidak, tidak, tidak bisa! Dia sudah menyakiti putriku! Awas dia!” teriak Ibunya Ara.
Ibunya Ara balas menatap putrinya dengan sedih, ikut merasakan kesedihan putrinya. Diapun langsung memeluk Ara, dibiarkannya putrinya menangis dipelukannya. Ibunya Ara merasa sedih, sangat sedih, dia sangat menyayangi putrinya, dia tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya, termasuk Jack.
Tangannya terus mengusap-usap punggungnya Ara.
Setelah agak reda, Ibunya Ara kembali menatap Ara.
“Ceritakan pada Ibu apa yang terjadi,” kata Ibunya Ara, memeluk bahunya Ara diajak duduk dikursi ruang tamu itu.
Ibunya Ara mengambilkan tisu yang ada dimeja lalu dihapusnya airmata putrinya. Ara mengambil tisu dari tangan Ibunya.
“Kau tunggu sebentar,” kata Ibunya Ara, lalu pergi ke belakang, mengambilkan air putih untuk Ara.
“Minumlah, supaya kau tenang,” kata Ibunya Ara, sambil duduk disamping Ara.
Ara segera minum-minuman yang dibawa ibunya, supaya hatinya lebih tenang
“Coba ceritakan bagaimana bisa Jack berselingkuh dengan wanita itu!” kata Ibunya Ara.
”Aku tadi memergoki Jack dipeluk wanita itu dan Jack menciumnya,” ucap Ara sambil terisak lagi.
“Wanita itu selingkuhannya Jack?” tanya Ibunya Ara.
“Bukan begitu Bu, wanita itu memang sudah ada dalam hidup Jack sejak lama.” jawab Ara.
“Maksudmu?” Ibunya Ara kebingungan.
__ADS_1
“Wanita itu adalah teman kecilnya Jack yang tenggelam dilaut, yang membuat Jack depresi selama ini. Dia ditemukan sudah dewasa belum lama ini dan sekarang sudah tinggal di rumah ibu kandungnya,” jawab Ara membuat Ibunya terkejut.
“Arum itu gadis kecil yang tenggelam?” tanya Ibunya Ara, mendadak keningnya berkeringat.
“Iya Bu, kata Ibunya dia sedang sakit, jadi Jack menengoknya, aku menyusul ke rumahnya
dan ternyata Jack sedang dipeluk wanita itu, Jack juga menciumnya, huhu…” jawab Ara, kembali menangis.
Ibunya Ara tertegun mendengarnya.
“Ternyata gadis itu masih hidup?” tanyanya.
“Iya, ternyata Jack masih begitu menyayanginya,” ucap Ara, kembali menghapus airmatanya.
“Tapi kan kau istrinya Jack, kau lebih berhak dari wanita itu. Wanita itu cuma teman kecilnya Jack ya meskipun Jack pernah membuatnya tenggelam, dia bukan siapa-siapa Jack,” kata Ibunya.
“Tapi buktinya Jack menciumnya, aku sangat sedih, aku kecewa pada Jack,” kata Ara.
Ibunya Arapun diam.
“Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Ibunya.
“Aku juga tidak tahu, aku kecewa pada Jack,” jawab Ara, kembali menunduk sedih. Ibunya hanya memperhatikannya, dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan Ara.
Tiba-tiba terdengar suara kendaraan masuk ke halaman rumah.
Ibunya Ara melihat lewat jendela, sebuah mobil mewah parkir didepan teras.
“Sayang, itu sepertinya suamimu yang datang!” kata Ibunya Ara.
“Apa? Jack datang? Aku tidak mau menemuinya,” ucap Ara, sambil bangun dari duduknya.
Ibunya Arapun bangun dan pergi menuju pintu yang terbuka.
Jack turun dari mobilnya bergegas menuju pintu.
“Ibu mertua! aku ingin bertemu putrimu! Aku harus bicara dengannya!” kata Jack, langsung menghampiri ke pintu.
“Putriku tidak mau bicara denganmu, kau pulang saja!” kata Ibunya Ara dengan ketus.
“Aku harus menjelaskan salah faham ini!” kata Jack, matanya melihat kedalam, dilihatnya Ara berdiri diruang tamu, menatapnya dengan matanya yang sembab, membuat hatinya merasa tidak nyaman sudah membuat istrinya menangis.
“Sayang! Kita harus bicara!” teriak Jack.
“Aku tidak mau! Kau pulang saja! Jangan mencariku!” balas Ara berteriak, matanya kembali berkaca-kaca saja melihat wajah Jack, mengingatkannya kalau pria itu mencium wanita lain.
Jack akan masuk ke dalam tapi dihalangi oleh Ibunya Ara, yang langsung bertolak pinggang.
“Kau tidak boleh masuk! Putriku sedang marah padamu! Kau berselingkuh! Kau mencium wanita lain di depannya! Kau pria yang tidak berperasaan!” maki Ibunya Ara, menatap Jack dengan marah.
“Ibu mertua, semua itu tidak benar! Tolonglah! Aku harus bicara dengan putrimu!” kata Jack, memohon pada Ibu mertuanya.
“Aku tidak mau bicara denganmu!” teriak Ara, lalu beranjak meninggalkan ruang tamu itu.
Jack akan masuk lagi tapi lagi-lagi ditahan Ibunya Ara.
“Kau tidak boleh masuk! Putriku sedang marah! Sebaiknya kau pulang! Kau instrospeksi diri apa yang telah kau lakukan!” kata Ibunya Ara dengan ketus.
__ADS_1
Jackpun diam melihat Ibunya Ara menatapnya sambil bertolak pinggang menghalangi pintu. Dia terus berfikir bagaimana caranya membawa Ara kembali pulang ke rumah, sepertinya itu bukanlah hal yang mudah.
**********