
Tubuh Ara gemetar, dia masih shock dengan apa yang barusan dibaca. Mana mungkin dia adalah Arum, teman kecilnya Jack yang tenggelam? Kenapa dia ada disini dan tinggal bersama ayah dan ibunya?
Butiran airmata jatuh kepipinya. Dia masih berdiri menempelkan punggungnya di tembok. Kenapa dia tidak ingat semua itu? Apa Jack adalah teman kecilnya? Apa benar begitu?
Terdengar langkah kaki masuk keruangan itu. Jack terkejut saat memasuki ruang kerjanya melihat istrinya berdiri sambil bersandar di tembok dengan wajah pucat, airmata menetes dipipinya dan tubuh yang gemetar.
“Sayang, kau kenapa?” tanya Jack, merasa kaget.
Tangan kanannya mengulur pada Ara tapi Ara menjauhkan tangannya.
“Sayang, kau kenapa?” tanya Jack.
Istrinya itu menatapnya dengan butiran air mata yang terus menempel dipipi.
“Ada apa? Kenapa kau begini?” tanya Jack.
Ara tidak menjawab, bibirnya terasa kelu. Menatap pria itu, apa benar dirinya adalah Arum, apa benar dia yang sudah menyebabkan pria ini depresi selama ini? Sedemikian berat rasa penyesalan pria ini karena kehilangnnya.
“Sebenarnya ada apa ini? Katakan padaku!” kata Jack kebingungan, sambil melihat ke sekeliling ruangan itu dan matanya terhenti pada selembar kertas yang ada di lantai. Jack segera mengambil kertas itu dan membacanya.
Diapun terdiam, ternyata istrinya membaca hasil tes DNA dengan Ny.Imelda.
Diapun menoleh menatap istrinya.
Wanita itu berdiri bersandar dengan wajahnya yang pucat dan matanya yang sudah penuh dengan airmata, tubuhnya gemetar.
Jack perlahan melangkahkan kakinya menghampiri Ara, menatapnya dengan sedih.
“Sayang, aku minta maaf harus melakukan ini. Bukan karena aku ingin membandingkanmu dengan Arum, bukan, bukan itu. Tolong mengerti aku,” kata Jack.
Ara menatap Jack dengan nanar. Melihat istrinya menatapnya dengan pandangan entah kecewa, marah sedih atau apa, semakin membuat Jack merasa kasihan.
“Bagaimana mungkin aku adalah Arum?” tanyanya dengan terbata-bata, satu tetes airmata jatuh diantara bulu matanya.
“Sayang, tes DNA mu cocok dengan Ny.Imelda dan Ferdi sudah mengakui perbuatannya,” kata Jack.
Tentu saja perkatannya membuat Ara terkejut tidak mengerti.
“Sebenarnya tim penyelamat pantai di Perancis sudah berhasil menemukanmu, tapi Ferdi yang waktu itu menjadi penangggung jawab pencarianmu dan Ayahku, merahasiakan semua ini dari semua orang. Dia menyembunyikanmu ke panti asuhan supaya aku terus gila dan berada di RSJ dalam waktu lama,” jawab Jack.
Ara terdiam mendengarnya, dia semakin shock dan bingung saja.
“Dia ingin menjauhkanku dengan Ibuku juga menguasai harta warisan dari Ayahku,” lanjut Jack.
“Bahkan bukan itu saja, dia terus-terusan berusaha membuatku gila saat terjadi sabotase kapal anak buahku, dia dalang dari semua ini. Dia terus terusan ingin menyingkirkanku tapi dia tidak berani membunuhku waktu itu, karena ada Ibuku,” kata Jack lagi.
Matanya juga mulai memerah, dia juga tidak menyangka hidupnya dan hidup Arum akan semenderita ini karena keserakahan pria itu.
__ADS_1
Ara terdiam, airmatanya kembali menetes dipipinya. Dia saja tidak percaya dengan semua itu.
“Tn.Ferdi kabur keluar negeri karena kejahatannya sudah terbongkar, membawamu ke panti asuhan,” lanjut Jack.
Ara tidak bicara, hanya airmata yang menjawabnya.
“Pak Amril, ayahmu sudah tahu soal ini, tapi Ibumu dan Ny.Imelda belum tahu,” kata Jack.
Ara kembali menatap Jack, dia tidak menyangka ayahnya tahu soal ini, kalau dia putrinya Ny.Imelda.
“Maafkan aku sudah melakukan tes DNA diam-diam. Tapi aku sungguh senang kalau ternyata Arum masih hidup. Aku merasa bebanku berkurang,” ucap Jack.
“Aku sama sekali tidak membanding-bandingkanmu dengan Arum. Aku menyayangi Arum sebagai teman kecilku tapi aku mencintaimu sebagai belahan jiwaku,” lanjut Jack, matanya langsung berkaca-kaca.
Ara semakin tidak bisa menahan tangisnya, dia menunduk sesenggukan.
“Maaf aku sudah membuat hidupmu menderita. Karena diriku kau menjadi korban. Aku tahu kau pasti sangat sakit menjalani hari-harimu dulu, karena aku tidak menjagamu dengan baik, aku minta maaf,” kata Jack lagi.
Ara masih tidak menjawab, dia terus meneteskan airmatanya. Dia masih tidak percaya dengan kata-katanya Jack.
“Apa kau mau memaafkan aku?” tanya Jack, melangkah lebih dekat padanya.
Ara mengangkat wajahnya menatap pria itu.
“Jangan panggil aku Arum,” ucapnya.
“Tidak sayang, aku tidak memanggilmu Arum, kau Arasi, istriku,” jawab Jack.
Dia mengulurkan tangannya memeluk tubuhnya Ara. Memeluknya dengan erat dan mengusap rambutnya Ara yang menempel di dadanya.
“Tenanglah, semua baik-baik saja,” hibur Jack, mencium kepalanya Ara.
“Tenanglah, semua baik-baik saja,” ulang Jack.
“Kau istirahat ya, aku akan menemanimu,” ucapnya, sambil memeluk bahunya Ara, mengajaknya keluar dari ruang kerja itu.
Ara memeluk tubuh pria itu dengan kuat. Dia masih tidak mengerti dengan semua ini, kenapa semua ini terasa begitu tidak masuk akal?
Jack membawanya ke kamar, mendudukkannya di tempat tidur, lalu diambilkannya air minum, disodorkan ke mulutnya Ara. Istrinya malah menatapnya, lalu minum dari gelas itu.
Jack kembali menyimpan gelas itu, lalu kembali menghampiri Ara, berdiri menatapnya. Istrinya itu terlihat sangat bingung, dia mengerti pasti kejiwaannya terguncang, menerima kenyataan yang sungguh diluar dugaannya, begitu juga saat dia pertama tahu semua ini.
“Aku juga tiba-tiba lelah, aku akan menemanimu tidur,” kata Jack.
Tangan Jack membantu isrinya berbaring, barulah dia berbaring disamping istrinya memeluknya dari belakang, sambil mengelus-elus perut buncitnya Ara.
Mereka melihat kearah jendela-jendela yang terbuka lebar. Hembusan anginnya membuat gorden-gorden itu bergerak.
__ADS_1
Ara mencoba menoleh pada suaminya yang ada dibelakangnya, Jack mengangkat kepalanya menatapnya, tapi istrinya malah merubah posisi tidurnya menghadap Jack.
“Kau mau bicara apa? Jangan banyak bicara, kau tidur saja, kau lelah,” kata Jack.
Tapi ternyata Ara tidak bicara apa-apa. Jack mengulurkan tangannya, mengusap pipi istrinya.
“Apa aku sedang bermimpi?” tanya Ara.
“Tidak,“ jawab Jack.
“Itu alasannya kenapa Tn.Ferdi meninggalkan Ibuku karena dia takut aku masukkan ke penjara,” ucap jack.
“Ny.Inez sudah tahu?” tanya Ara.
“Iya, sudah tahu,” jawab Jack.
Ara tidak bicara lagi, dia membantu posisi tidur istrinya supaya dia bisa memeluknya dan bayinya tidak terganggu.
“Apa yang harus aku katakan pada Ibu?” guma Ara, pandangannya melihat keluar Jendela. Suaminya kembali memeluknya dari belakang.
“Aku juga belum tahu bagaimana cara mengatakannya, mungin harus lewat Ayahmu. Kalau kau mau, bagiamana kalau besok kita kerumahmu, apa kau mau?” tanya Jack.
Ara tidak menjawab dia tidak sanggup mengatakan itu pada Ibunya, dia sangat menyayangi Ibunya, begitu juga dengan ibunya.
“Kalau kau belum siap, kita tunda saja masalah ini. Aku juga tidak mau kau terlalu banya fikiran, kau sedang hamil,” kata Jack.
Ara tidak menjawab.
“Apa kau mau membeli es krim?” tanya Jack, kemudian.
“Apa?” tanya Ara.
“Membeli es krim, tapi kau tidak boleh makan terlalu banyak, bayinya nanti kedinginan,” jawab Jack.
Melihat Ara tersenyum, sebuah ciuman menempel di pipinya. Lalu dia menempelkan pipinya juga dipipi istrinya .
“Kau boleh makan eskirm coklatku sebanyak yang kau mau, aku akan memesannya lagi pada pelayan di cafe itu,” ucap Jack.
Ara tidak menjawab, dia merasa masih bingung dengan semua ini.
“Aku telah banyak berbuat salah padamu, aku ingin selalu memberikanmu kebahagiaan, tolong maafkan aku,” kata Jack.
Ara tidak menjawab, hanya mata itu kembali berkaca-kaca.
Dirasanya tangan Jack terus memeluk perutnya.
**********
__ADS_1