Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-116 Mandi Bersama ( Part 2 )


__ADS_3

“Kau benar-benar akan memandikanku? Aku mau mandi sendiri,” kata Ara, meskipun semalam sudah tidak ada jarak diantara mereka, dia tetap merasa malu.


“Sekarang giliran aku yang memandikanmu,” jawab Jack, berdiri menatap istrinya yang sudah duduk dikursi itu menatapnya seperti seorang pesakitan saja.


Jack tersenyum lalu berjongok didepan Ara, melihat wajah tegang istrinya. Ditepuk-tepuknya pipinya Ara.


“Hei, aku ini suamimu, aku cuma mau memandikanmu, kenapa kau tegang begitu?” ucap Jack.


Arapun tersenyum dengan terpaksa. Wajahnya semakin merah saja tapi dia tidak bisa menolak saat suaminya mulai membukakan mantel panjang yang dipakainya.


Sekarang dia duduk tidak menggunakan apapun di depan pria itu, sangat membuatnya tidak percaya diri. Dia bukanlah wanita cantik yang mungkin sebagian orang menganggapnya tidak pantas bersanding dengan Jack.


Pria itu kembali menatapnya lalu menciumnya. Ah Jack, mau mandi saja ada acara menciumnya segala, batin Ara. Jack menarik tangan Ara untuk berdiri lalu mengambil selang shower, mulai memandikannya perlahan. Tangan itu menyusuri tubuhnya Ara menggosoknya dengan sabun perlahan, dari mulai jemari tangannya ke leher, turun ke dada dan seluruh tubuhnya sampai ke kakinya, tidak ada bagian tubuh manapun yang luput dari sentuhannya.


Sebenarnya kalau dirasa-rasakan, rasanya geli tangan itu menyusuri tubuhnya, tapi melihat ekspresi Jack yang serius begitu focus memandikannya, Ara hanya bisa membiarkan tubuhnya menjadi milik suaminya, seperti yang biasa dia lakukan pada Jack.


Jack kembali mendudukkannya dikursi itu, mengambil satu kakinya disimpan diatas lututnya, dia mulai membersihkan jari-jari kakinya. Ara hanya diam, pria itu sangat memanjakannya, terkadang ada perasaan apa dia pantas diperlakukan seperti ini? Pia itu begitu mencintainya, menjaganya, tidak mau menyakitinya, padahal dia pria yang sangat sempurna, yang bisa mendapatkan wanita yang lebih segala-galanya darinya.


Setelah selesai, Jack berdiri dan melepasan mantel yang dipakainya. Kini tubuh telanjang itu yang berdiri depannya Ara.


“Saatnya kau mandi,” kata Ara, langsung berdiri.


Tangannya akan mengambil handuk tapi tangan Jack menahannya. Arapun mengalah dan meraih tangan Jack untuk mandi di bathub, tapi Jack kembali menahan tangannya.


“Kenapa? Biasanya kau suka berendam,” kata Ara.


“Kau akan tidak nyaman kalau kau memandikanku di bathub,” kata Jack, balas menatap Ara.


Jack benar di bagian kakinya masih terasa sakit, makanya Jack memandikannya dikursi. Ditatapnya pria itu, hatinya semakin mencintainya saja, pria itu begitu sangat perhatian padanya.


Ara mulai memandikaan Jack. Ternyata Jack sesekali menyiramkan air juga ketubuhnya Ara. Ini pertama kalinya mereka mandi bersama sebagai pasangan suami istri.


Tiba-tiba Jack bertanya.


“Apa kau akan bersiul?” tanya Jack, membuat Ara terkejut.


“Sepertinya tidak perlu, aku tidak akan bersiul lagi padamu,” jawab Ara, dengan wajah yang mendadak pucat, dia merasa tidak enak karena melakukan hal itu selama ini pada Jack.


Jack tersenyum melihat perubahan di wajahnya Ara.


“Tanpa bersiul juga sudah berdiri sendiri. Tapi sesekali aku pasti merindukan siulanmu” ucap Jack.


Kini wajah Ara berubah memerah, Jack cepat-cepat mencium pipinya Ara, istrinya pasti tidak nyaman dengan hal itu.


Tidak berapa lama Ara selesai memandikan Jack. Pria itu langsung memakaikan piyama handuk ke tubuhnya Ara, juga pada tubuhnya sendiri. Seperti yang tadi dia lakukan, Jack sudah menggendongnya keluar dari kamar mandi. Dia tidak membiarkan istrinya berjalan- jalan, padahal Ara tadi sudah pergi ke ruang kerja untuk menguping percakapannya dengan tamu itu.


Jack langsung membawa Ara ke ruangan walk in closet, ternyata para pelayan rumah yang membersihkan kamar itu sudah tidak ada. Sekarang tempat tidur itu sudah bersih dan rapih juga harum.

__ADS_1


Jack memilihkan baju untuk Ara.


“Apa kau akan memakai baju ini?” tanya Jack, dia tidak tahu seleranya Ara.


“Iya itu saja,” jawab Ara, tangannya terulur akan mengambil baju itu tapi ternyata Jack tidak membiarkannya.


“Aku yang akan memakaikannya,” kata Jack.


“Aku bisa melepaskan pakaianmu, aku juga harus bisa memakaikannya,” lanjut  Jack, membuat wajah Ara memerah. Untung saja Jack mengatakan itu tidak sedang ada pelayan-pelayan rumah atau dia akan malu nanti.


Akhirnya Ara menyerah, dia hanya berdiri di depan cermin saat Jack mendandaninya. Ara memperhatikan bayangan suaminya di cermin, diapun tersenyum, bahagia rasanya memiliki suami sebaik Jack. Pria itu memperlakukannya seperti putri saja.


Dilihatnya lagi dirinya di cermin, ada beberapa tanda dileher dan dadanya. Pantas saja Jack memilihkan pakaian yang model agak tertutup, supaya dirinya nyaman.


“Jack!” panggil Ara.


“Iya,” jawab Jack, menutup resleting gaunnya Ara.


“Apa kau akan berangkat bekerja?” tanya Ara, menatap Jack.


“Kalau kau tidak keberatan aku tinggal sebentar,” jawab Jack, membalikkan tubuhnya Ara supaya menghadapnya.


“Tidak apa-apa, kau pasti sangat sibuk, tapi jangan pulang larut, kau bisa melanjutkannya di rumah saja,” kata Ara.


“Iya,” jawab Jack.


Ara membuka lemari pakaiannya Jack, dipilihkannya baju yang kemarin dibelinya bersama Ibu mertuanya.


“Terserah kau saja,” jawab Jack.


“Ini, Ibumu yang membelikannya,” kata Ara, membuat Jack terkejut dan menatapnya.


“Aku berbelanja bajumu diantar Ibumu. Dia tahu betul ukuran tubuhnya, tadinya aku fikir hanya aku saja yang hafal,” jawab Ara.


“Kau memilihkanku baju yang mana?” tanya Jack.


Ara menoleh kearah lemari lalu mengambil beberapa pakaian.


“Ini, ini juga,” jawab Ara.


“Aku pakai itu saja!” ucap Jack menunjuk baju yang Ara pegang yang di pilihkan sendiri untuk Jack.


“Kau tidak mau memakai baju pilihan Ibumu?” tanya Ara.


“Tidak, aku tidak mau memakainya,” jawab Jack, sambil melepaskan piyama handuknya.


Ara tidak bicara lagi, sepertinya Jack benar-benar membenci ibunya. Itu sesuatu yang tidak baik, karena walau bagaimanapun Ny. Inez adalah Ibu kandungnya Jack. Arapun memakaikan baju yang ditunjuk Jack itu.

__ADS_1


Pria itu tidak bicara apa-apa lagi, hanya menatap ke cermin, hatinya masih terluka dia marah pada Ibunya. Ibunya yang begitu tega berselingkuh dari ayahnya tidak memikirkan dirinya. Pantas saja ibunya tidak menjenguknya di RSJ, karena ibunya tidak menyayanginya juga tidak mencintai ayahnya.


Ara selesai memakaian pakaiannya Jack.


“Sudah selesai,” ucap Ara, tersenyum pada suaminya, lalu mencium pipinya Jack, seperti yang biasa dia lakukan. Kini Jack balas mencium pipinya.


Ara berteriak kaget lagi saat Jack lagi-lagi menggendongnya.


“Jack, jangan terus terusan menggendongku! Aku bisa jalan sendiri,” kata Ara.


“Aku yang membuatmu sakit, jadi aku harus bertanggung jawab,” ujar Jack, lagi-lagi perkataannya membuat wajah Ara memerah dan tidak bisa menolak saat Jack menggendongnya  ke kamar itu dan mendudukkannya di tempat tidur.


Ara menatap Jack yang berdiri di depannya, apapun yang dipakainya selalu cocok buat Jack. Pria itu memiliki tubuh yang dipakaikan baju apapun akan bagus, dia seperti foto model.


“Kau kenapa?” tanya Jack, melihat istrinya malah menatapnya.


“Kau seperti foto model, baju apapun yang kau pakai selalu cocok, kenapa kau tidak jadi foto model saja?” tanya Ara, sambil tersenyum.


“Kau ini! Aku tidak suka jadi foto model!” keluh Jack, wajahnya langsung masam.


Ara malah tertawa. Dia membayangkan pria itu berlenggak lenggok di catwalk.


Jack menepuk pipinya, membuat Ara berhenti tertawa.


“Jangan berfikir macam-macam!” ujar Jack.  Arapun mengangguk, menahan tawanya.


“Ada yang tidak bisa aku lakukan padamu,” kata Jack.


“Apa?” tanya Ara.


“Meriasmu, aku tidak bisa,” jawab Jack, membuat Ara kembali tertawa.


“Lagi pula aku tidak mau kau meriasku!” ucap Ara, sudah terbayang bagaimana hasilnya jika Jack mendandaninya.


“Apa aku perlu memanggil orang untuk meriasmu?” tanya Jack.


“Ah tidak usah, aku bisa sendiri,” kata Ara sambil tersenyum.


“Baiklah, aku akan mencari Pak Beni dulu sekarang,” kata Jack.


Lalu dia mengangkat tubuhnya Ara lagi dipindahkan ke depan meja rias, Jack pun keluar dari kamar itu.


Ara menatap wajahnya dicermin tapi dia teringat ponselnya, tadi dia mengirimkan pesan pada temannya untuk mencarikan orang yang bisa bahasa Perancis.


Diapun segera mencari ponselnya dan melihat apakah ada jawaban atau belum. Ternyata sudah ada, diapun membuka pesan itu dan membacanya. Wajahnya langsung saja pucat, dia diam terpaku dengan ponsel masih ditangannya.


“Sebenarnya orang itu kesini untuk menjemput Jack? Mereka akan membawa Jack kemana? Apakah Jack akan pergi jauh? Kenapa Jack tidak cerita malah merahasiakan ini?” gumamnya.

__ADS_1


Ara menghela nafas panjang, mencoba menenangkan hatinya. Seharusnya Jack jangan main rahasia-rahasiaan begini. Dia istrinya, sudah seharusnya tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Dia harus bicara pada Jack, dia tidak suka Jack tertutup padanya.


***********


__ADS_2