Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
Extra Part- 4 Hari yang Repot


__ADS_3

Prang! Prang! Prang!


Terdengar suara benda-benda berjatuhan ke lantai dan pecah.


Jack yang baru pulang dari kerjanya, menghentikan langkahnya di depan pintu. Hari ini tidak ada yang menyambutnya di depan rumah seperti biasanya, yang ada dia mendengar suara barang yang berjatuhan dan teriakan istri tercintanya.


“Galand apa yang kau lakukan? Kenapa kau nakal sekali?” teriak Ara, sambil membantu Bibi membersihkan  pecahan gelas di lantai.


Jack muncul dipintu utama rumah tidak ada yang menyambutnya, hanya dilihatnya Galand berlari diruang tengah dikejar Rubiena yang membawa boneka barbynya.


Jack tertegun melihatnya, dia pulang kerja dalam keadaan lelah malah disuguhkan dengan keributan dirumahnya.


Kakinya melangkah masuk keruang tengah.


“Sayang! Kenapa kalian tidak menyambut Ayah pulang?” tanya Jack pada putra dan putrinya yang malah berlarian kesana kemari.


“Ayah pulang!” seru Rubiena, dia akan berlari menghampiri Jack tapi langkahnya terhenti saat Galand menembaknya dengan senjata mainannya yang sangat berisik.


“Gaalaand! Kenapa harus membunyikan mainan itu? Sangat berisik!” teriak Ara sambil  bangun dari jongkoknya, mengambil pecahan gelas yang dipecahkan Galand, pekerjaannya dilanjutkan oleh Bibi.


Ara segera pergi keruang tengah, dilihatnya suaminya sedang berdiri diruang tengah menatap Galand dan Rubiena yang berlarian lagi dengan berisiknya suara mainan itu.


Ara menatap Jack dengan wajah memberengut, membuat Jack keheranan.


“Anak-anak hari ini sangat merepotkan! Mereka bermain membuat rumah ini seperti gudang!” keluh Ara.


Jack melihat gurat lelah diwajah istrinya, padahal biasanya Ara dan anak-anak sudah berdandan rapih menyambutnya pulang di teras.


“Ada Bibi yang pulang dulu karena anaknya sakit,” Ara berjalan menghampiri Jack.


Sekarang mengertilah Jack kenapa istri dan anaknya tidak menyambutnya pulang.


Jack membuka topinya lalu disimpan di atas meja. Tangannya merentang menyambut istrinya yang menghampirinya.


“Kemarilah!”


Melihat kedua tangan Jack merentang, senyum langsung mengembang di bibirnya Ara. Tapi saat kakinya melangkah semakin dekat, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya.


“Kenapa?” tanya Jack.


“Aku belum mandi, aku bau!” Ara mengangkat tangannya lalu mencium  ketiaknya, wajahnya kembali memberengut menatap Jack.


Suaminya itu malah tersenyum.


“Biasanya juga telat mandi, ayo kemarilah!”


“Ah tidak, kau pasti merasa bau!”


“Tidak, ayo kemarilah!”


Akhirnya Ara kembali berjalan semakin mendekat kemudian Jack memeluknya. Dia merasakan tubuh istrinya yang berkeringat dan rambutnya yang sedikit mengeluarkan aroma yang tidak sedap.


Ara balas memeluk tubuh Jack,” Aku sangat bau kan?”


“Tidak,” Jack menggelengkan kepalanya,diciumnya rambut istrinya yang sebenarnya memang tercium bau keringat.

__ADS_1


“Kau lihat kan, kalau tidak ada Bibi aku kewalahan mengurus keempat anakmu,” ucap Ara menyandarkan kepalanya ke dadanya Jack.


“Berapa lama Bibi pergi, seharusnya Bibi bicara dulu kalau mau cuti jadi kita akan mendapatkan penggantinya lebih cepat.”


“Bibi ijinnya tidak lama, aku fikir tidak masalah aku mengurus anak-anak dengan berkurangnya pengasuh mereka, tapi kau lihat saja rumah ini seperti mau pecah, barusan Galand memecahkan gelas-gelas di ruang makan dengan bolanya, sekarang lihat saja suara mainan itu sangat berisik!”


Jack kembali mencium rambutnya Ara, memeluknya semakin erat saja.


“Bagaimana kalau kita bulan madu!” usul Jack tiba-tiba mengagetkan Ara yang langsung mengangkat wajahnya menatap Jack.


“Bulan madu?” tanyanya.


Jack mengangguk tanpa menjawab, menatap wajah istrinya yang terlihat sekali gurat lelah di disana.  Tangannya langsung mengusap pipi istrinya yang terasa dingin.


“Apa tidak terlalu telat kau membahas soal bulan madu?”


“Kenapa telat? Tidak ada yang terlambat untuk bulan madu, bukankah kita belum pernah berbulan madu?”


“Kita akan meninggalkan anak-anak?” Ara mengerutkan dahinya tampak berfikir keras.


“Untuk sementara kita titipkan anak-anak sama Bibi, kau tentukan tempatnya dimana.”


Ara kembali berfikir.


“Hemm sebenarnya dulu aku bercita-cita kalau aku menikah aku ingin bulan madu ke Paris, tapi karena sekarang kita tinggal di Paris, masa bulan madunya ke Paris?”


Jack langsung tertawa mendengarnya,” carilah tempat yang lain.”


“Baiklah aku akan mencari tempat yang cocok untuk kita bulan  madu,” Ara menganggukkan kepalanya, pria itu langsung mencium bibirnya.


“Ayah tidak menciumku!” Tiba-tiba suara Rubiena mengagetkan mereka.


Jack segera melepaskan pelukannya lalu berjongkok di depan Rubiena.


“Putri Ayah, kau ingin Ayah menciummu?” tanyanya, tersenyum menatap putri kecilnya yangcantik, menatap  sebagian wajahnya yang ada pada diri Rubiena.


Rubiena mengangguk-angguk.  Jack langsung menggendong putrinya sambil bangun lalu mencium pipi Rubiena yang lembut beberapa kali.


Ara tersenyum melihatnya, suaminya itu sangat menyayangi anak-anaknya. Meskipun pulang kerja dalam keadaan lelah tidak pernah marah meskipun anak-anak merepotkannya.


Jack membawa Rubiena duduk di sofa, bersamaan dengan Galand yang menghamprinya dan duduk disamping ayahnya.


“Ayo kita main perang-perangan, Rubiena kalah terus, aku malas main dengannya!” ucap Galand.


“Kakak suka curang!” kata Rubiena, wajahnya langsung saja memerah.


“Aku tidak curang, tapi kau berlari terlalu lambat, kakimu sangat pendek! Jadi aku berhasil menembakku terus!” Galand malah mengeluh.


Rubiena langsung saja menangis.


“Tuh kan cengeng!” ucap Galand.


Ara yang kembali datang ke ruang keluarga dengan membawakan minuman untuk Jack langsung saja menyela.


“Galand kau sangat nakal! Kau mengganggu adikmu lagi?” Ara menyimpan minuman itu diatas meja.

__ADS_1


Jack langsung menoleh pada istrinya, sudah bisa dibayangkan bagaimana repotnya istrinya seharian ini.


“Aku mau menyiapkan air untukmu mandi!” ucap Ara sambil beranjak, tapi tangannya ditarik oleh Jack.


“Nanti saja, duduklah denganku!” kepalanya mengangkat menatap Ara.


Akhirnya Arapun duduk disebelahnya Galand. Putranya itu kembali turun dari kursi dan menyalakan  mainannya lagi yang berisik.


Dilihatnya Jack masih menggendong Rubiana dan mengusap pipinya yang berair. Putrinya itu terlihat sangat cantik dan lucu meskipun sedang menangis.


“Putri Ayah yang cantik, jangan menangis nanti cantiknya hilang!” hibur Jack sambil mencium pipi Rubiana berkali-kali, lalu menolah  pada Ara yang sedang menatapnya.


“Duduklah sebentar bersamaku, jangan terlalu lelah, tidak apa-apa aku sedikit terlambat mandi,” ucap Jack, tangannya terulur memeluk Ara supaya lebih dekat padanya. Istrinya itu langsung mendekat dan menyandarkan kepalanya ke bahunya Jack.


“Mana si kembar?” Jack menoleh pada Ara.


“Sedang dimandikan Bibi, sebentar lagi turun!” Tangan Ara menyentuh tangannya Rubiena yang masih terisak.


“Sayang, jangan menangis, nanti kau akan bermain lagi dengan kakakmu!”


Jack mencium kepalanya Rubiena, tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah kaki menuruni tangga. Dua babysitter yang mengurus si kembar menghampiri mereka dengan menggendong bayi-bayi di tangan mereka.


 “Apa mereka sudah mandi?” tanya Jack,menatap kearah tangga.


“Sudah Tuan!” jawab Babysitter itu bersamaan.


Ara langsung mengambil Rubiena dari pangkuannya Jack, membiarkan suaminya menggendong


sikembar.


“Berikan sikembar padaku!” kata Jack.


Yang pertama di gendong Jack adalah  Aima. Sekarang pria itu sudah terbiasa menggendong bayi jadi sudah tidak kaku lagi.


Babysitter yang menggendong Aima tadi langsung mengambil Rubiena dari tangan Ara, sedangkan babysitter Edgard memberikan Edgar pada Ara yang langsung menggendongnya.


“Rubi saya mandikan sekarang, Nyonya?”


“Iya,” jawab Ara menoleh pada Babysitter Aima yang segera beranjak meninggalkan ruang itu.


Jack tersenyum senang menatap bayi dalam gendongannya yang sudah berdandan cantik itu, lalu menoleh pada bayi Edgar yang sedang digendong Ara. Tangannya langsung mengusap Edgar lalu mencium keningnya. Bukan saja Edgar yang mendapatkan ciuman dari Jack tapi Ara juga.


“Aku senang anak-anak tumbuh sehat! Maafkan aku kau sangat kerepotan oleh mereka,” ucapJ Jack , menatap Ara.


“Mereka juga anak-anakku.”


Tangan Jack kini mengusap rambutnya Ara.


“Kau ingin berapa lama bulan madunya, terserah kau saja,” ucap Jack.


Ara menatap Jack yang masih menatapnya.


“Tidak apa-apa nanti aku akan minta cuti.”


Pria itu seperti tahu apa arti tatapannya Ara itu.

__ADS_1


“Baiklah aku akan mencari lokasi bulan madu kita!” Ara menganggukkan kepalanya tanda setuju.


*****


__ADS_2