
Malam telah tiba…
Ara sibuk mendandani Jack. Raut wajah Ara tampak berubah tidak seperti tadi. Dia tidak sepucat tadi, wanita inipun mulai sering bicara dan tersenyum. Meskipun dia terkesan cerewet tapi itu lebih baik bagi Jack, itu artinya istrinya baik-baik saja.
Ara melangkah mundur beberapa langkah lalu bertolak pinggang menatap Jack dari atas sampai bawah, membuat pria itu kebingungan, kenapa Ara bersikap begitu?
“Perfect! Kau sangat sempurna! Suamiku yang tampan kau sudah siap menghadiri pertunangannya Bastian dengan Kinan!” seru Ara,bersemangat.
Wanita itu kemudian berjalan mendekati Jack, kembali merapihkan pakaiannya Jack.
Jack hanya memperhatikan setiap gerak langkah istrinya tanpa banyak bicara. Istrinya benar-benar memperlakukannya seperti boneka, tapi dia menyukai setiap sentuhan dari tangan istrinya.
“Sekarang aku yang akan berdandan, kau juga perlu pendamping yang cantik, bukan? Jangan sampai orang-orang melihatmu sendirian dan mengira kau belum beristri,” ucap Ara, menepuk-nepuk pipinya Jack membuat pria itu meringis, buat apa pula Ara menepuk-nepuk pipinya?
“Kau tunggu saja di bawah, nanti aku turun,” ucap Ara, tidak lupa sebuah ciuman mendarat di pipinya Jack.
Ara menempelkan bibirnya mencium pipinya Jack dengan lembut. Saat Ara melepaskan ciumannya perlahan, pria itu bereaksi menoleh kearahnya membuat wajahnya Jack begitu dekat dengan wajahnya Ara, pandangan merekapun bertemu. Beberapa saat mata itu saling menatap. Entah kenapa tatapan Jack itu membuat Ara resah dan gugup, Arapun segera menjauh perlahan setelah melepaskan ciumannya.
Ada sesuatu yang terasa berbeda yang Ara rasakan saat Jack menatapnya, sorot mata itu begitu tajam tertuju padanya, seakan menembus jantungnya. Pria itu menatapnya dengan pandangan lain. Ara semakin menyadari kalau pandangan Jack selalu focus menatapnya, bahkan dia merasa Jack terlalu focus menatapnya. Apakah Jack sudah berangsur-angsur pulih?
“Sebelum berangkat, kau minum obat dulu,” ucap Ara, membuang perasaaan yang tidak menentu.
Ara menarik tangannya Jack keluar dari walk in closet, mengajaknya duduk di sofa dalam kamar tidur, lalu mengambil obatnya Jack didalam laci.
Diambilnya beberapa butir obat buat Jack, juga segelas air minum, setelah itu Ara kembali menghampiri Jack.
“Ayo minumlah, aku ingin kau baik-baik saja di acara itu,” ucap Ara, memberikan obat dan gelas minum pada Jack lalu berdiri menatap Jack.
Jack menerima obat dan gelas minum itu, tapi tidak segera pura-pura meminumnya, karena Ara tidak pergi malah menungguinya minum obat sambil menatapnya.
Jack kebingungan, bagaimana cara dia membuang obat itu? Tidak mungkin dia meminumnya atau efeknya malah tidak baik bagi tubuhnya kerena dia sudah tidak memimun obat itu lagi.
Untunglah terdengar suara ketukan dipintu, Arapun beranjak menuju pintu. Jack buru-buru memasukkan obat itu ke saku celananya, lalu minum air yang dari Ara itu. Karena terburu-buru, ada satu obat yang tidak disadarinya terjatuh ke sofa.
Ara membuka pintu ternyata Pak Beni.
“Nyonya, sebentar lagi kita berangkat, bersiap-siaplah,” ucap Pak Beni.
“Ya, sebentar lagi,” jawab Ara lalu menoleh pada Jack.
“Jack, kau sudah minum obatnya?” tanya Ara menghampiri Jack.
“Kau tunggu dibawah bersama Pak Beni, sebentar lagi aku turun,” ucap Ara, tangannya terulur memegang tangan Jack mengajaknya berdiri dan menghampiri Pak Beni.
__ADS_1
“Jack sudah siap, dia juga sudah minum obat, sebentar lagi aku turun,” ucap Ara.
Pak Beni mengangguk lalu menoleh pada Jack.
“Mari Tuan!” ajak Pak Beni, lalu membalikkan badannya meninggalkan tempat itu diikuti oleh Jack.
Ara segera berdandan, memakai gaun yang ada dilemari. Ini adalah gaun yang paling indah yang belum pernah dia pakai. Gaun yang dikirimkan dari butik yang mengurus pakaian keluarga Jack.
Di ruang tamu, Tn.Ferdi dan Ny. Inez sudah menunggu duduk di ruang tamu.
“Mana Bastian, kenapa lama sekali?” keluh Ny. Inez.
Terdengar suara langkah mendekat, saat Ny. Inez menoleh ternyata bukan Bastian melainkan Jack.
“Dia ikut?” tanya Tn.Ferdi melihat kedatangan Jack.
“Iya, walau bagiamanapun kan Jack kakaknya Bastian,” jawab Ny. Inez.
“Huh, kau mulai lagi!” gerutu Tn.Ferdi, dia tidak suka jika istrinya menunjukkan sikap peduli pada Jack.
“Nanti Ara yang akan menjaganya,” ucap Ny. Inez.
Terdengar langkah kaki lagi masuk ke ruangan itu.
“Kau sudah siap?” tanya Ny. Inez menatap Bastian yang memakai pakaian formilnya, putranya itu terlihat sangat tampan hari ini.
Ny.Inez langsung menghampiri, tersenyum pada Bastian.
“Seharusnya tanpa kau membawa apapun, Kinan tidak bisa menolakmu, kau terlalu tampan untuk ditolak,” ucap Ny. Inez pada putranya.
“Ibu bisa saja, ayo berangkat! Aku tidak mau keluarga Kinan menunggu terlalu lama,” ucap Bastian, lalu menoleh kearah Jack.
“Kau ikut?” tanyanya dengan wajah yang berubah masam.
“Tentu saja, dia kan kakakmu.” Ny.Inez yang menjawab.
“Bagaimana kalau dia membuat keributan? Aku tidak mau acara pertunanganku berantakan,” keluh Bastian.
“Tidak akan, nanti istrinya yang akan menjaganya,” jawab Ny. Inez.
“Kau mencari-cari masalah saja dengan mengajaknya,” keluh Tn.Ferdi, sambil bangun dari duduknya lalu pergi keluar rumah.
Jack terdiam menyaksikan sikap penolakan keluarganya. Padahal dia sudah memberi uang untuk biaya lamarannya Bastian dan ternyata mereka sama sekali tidak ingat itu.
__ADS_1
Pak Beni hanya diam saja tidak berkomentar apa-apa.
“Ayo berangkkat!” kata Ny. Inez.
“Eh mana istrimu Jack? Dia belum siap?” tanya Ny. Inez baru menyadari Ara tidak ada diruangan itu.
Terdengar suara langkah sepatu terburu-buru.
“Jack! Kau dimana?” panggil Ara, muncul diruangan itu. Jackpun menoleh kearah suara.
Seketika dia tertegun melihat sosok wanita yang muncul itu. Istrinya terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Ada perasaan tidak nyaman didalam hatinya Jack. Seharusnya dia memberi hadiah gaun untuk istrinya. Bahkan hadiah perhiasanpun tidak pernah dia belikan untuk istrinya. Dia merasa bersalah tidak memperhatikan kebutuhan istrinya. Tentu saja meskipun semua kebutuhan pakaian tersedia di rumah ini tapi seharusnya dia memberikan yang spesial untuk istrinya. Apalagi istrinya itu hanya merawatnya dan mengurusnya tanpa pamrih.
“Jack!” panggil Ara, keheranan karena Jack hanya menatapnya saja.
“Kau cantik,” ucap Jack spontan.
“Apa? Aku cantik? Kau sedang memujiku?” ujar Ara tersipu, kemudan dia tersadar kalau Jack tidak biasanya memujinya begitu.
“Ah tidak perlu cantik-cantik, buat apa? Yang kau dampingi itu hanya seorang pria yang depresi,” keluh Bastian.
“Kau iri saja!” gerutu Ara, langsung memberengut.
Jack menoleh pada Bastian, kenapa pula adiknya itu merusak suasana hati istrinya? Keluhnya.
“Sudah, ayo berangkat! Kau jaga Jack dengan baik, jangan sampai membuat keributan!” kata Ny. Inez, melirik sekilas pada Ara lalu keluar dari ruangan itu.
Bastian segera mengkuti langkah ibunya.
Ara menoleh pada Jack.
“Ayo suamiku,” ucapnya sambil tersenyum dan memeluk tangannya Jack.
Melihat senyum istrinya membuat Jack merasa tidak nyaman, istrinya itu selalu tersenyum padanya padahal sudah mendapat ejekan karena keadaaannya.
Tidak ada yang terucap dari bibirnya Jack, hanya tangan kanannya menyentuh jari-jari tangan Ara yang melingkar dilengannya. Ara melirik pada tangan Jack yang sedan mengusap tangannya. Diapun mengangkat wajahnya sedikit menatap Jack, ada rasa lain dalam hatinya, kenapa Jack seperti sedang menghiburnya? Apa Jack mengerti dengan keadaan disekitarnya?
Tapi Arapun tidak terlalu banyak berfikir, yang pasti dia merasa senang Jack menunjukkan perhatian padanya.
Tidak berapa lama, beberapa mobil yang sudah terparkir diteras itu meninggalkan rumah itu meluncur dijalan raya menuju gedung tempat acara pertunangan Bastian dan Kinan diadakan.
***********
Readers, terimakasih banyak buat yang sudah ngasih like, gift, vote dan tipsnya.
__ADS_1
*****