Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-170 Ara Melahirkan


__ADS_3

Sampailah mereka di rumah sakit bersalin. Begitu turun dari mobil, Ara didudukkan di kursi roda. Tangannya terus saja memegang tangannya Jack.


“Jack, ini bagaimana Jack? Perutku sakit sekali,” keluh Ara duduk,mengangkat wajahnya menatap Jack yang berjalan dsampingnya.


“Kau sabar ya, sebentar lagi Dokter akan memeriksamu,” kata Jack, terus menyemangati istrinya. Dia juga kasihan melihat wajah pucat berkeringat itu terus-terusan meringis dan mengeluh sakit.


“Nyonya yang tenang ya!” kata perawat yang mendorong kursi roda itu.


“Aku tidak bisa tenang, perutku sakit, uhu..!” ujar Ara.


“Iya sayang iya,” ucap Jack, dia sangat bingung, entah harus bagaimana supaya istrinya tenang.


“Atur nafas sayang, jangan banyak bicara,” kata Bu Amril, yang mengikuti mereka dari belakang.


Ny.Imelda menoleh pada Bu Amril, memangnya Bu Amril pernah melahirkan?


“Kau kenapa? Meskipun aku belum pernah melahirkan tapi aku dengar kata orang-orang!” ujar Bu Amril, sambil mempercepat langkahnya.


Keduanya mengikuti kursi rodanya yang dibawa perawat itu memasuki lorong-lorong dan langsung masuk keruang bersalin.


“Keluarga ditunggu diluar saja,” kata perawat itu.


“Aku ingin ditemani suamiku,” ujar Ara.


Jack menatapnya.


“Kau serius ingin ku temani?” tanya Jack.


“Tentu saja aku serius! Jangan cuma bisa bikinnya saja! Kau harus lihat pengorbanan istrimu melahirkan!” teriak Ara, memberengut.


“Iya iya, aku akan menemanimu,” kata Jack, buru-buru masuk kedalam mengikuti istrinya.


Melihat ruangan bersalin itu membuat Jack ketar-ketir, apalagi melihat istrinya berbaring sambil terus mengeluh sakit, keluhannya semakin sering saja, dia sudah tidak tahu harus menghiburnya bagaimana, sepertinya apapun yang dikatakannya tidak berpengaruh banyak buat istrinya.


“Jack!” panggil Ara, wajahnya sangat pucat, keringatnya membasahi tubuhnya.


“Aku takut! Sakit sekali..” keluhnya.


“Jangan takut sayang, aku menemanimu, sebentar lagi bayi kita akan lahir, itu yang harus kau ingat, bayi kita akan lahir, kau akan melihat bayi kita,” ucap Jack, lalu mencium kening istrinya.


Ara tidak menjawab, hanya tangannya memegang tangan Jack sangat kuat.


Dokter dan asistennya sibuk menyiapkan persalinannya Ara.


Jack hanya bisa diam membiarkan istrinya terus memegang tangannya dengan kuat, sampai beberapa goresan kuku di tangannya tidak terasa, dia juga khawatir terjadi apa apa pada anak dan istrinya.


“Ikuti arahan saya ya Nyonya, ditahan dulu,” kata Dokter.


“Aku tidak bisa menahan lagi! Bayinya mau keluar!” teriak Ara, yang mulai mengejan-ngejan karena dorongan bayi dalam perutnya semakin kuat mendorong ingin kaluar.


Dokter dan asistennya tampak sibuk memberikan araha supaya Ara cepat  melahirkan.


Jack tertegun melihat bagaimana perjuangan istrinya melahirkan, dilihatnya tangannya yang begitu kuat di pegang istrinya.


“Ya terus dorong Nyonya! Bagus!”


“Aku lelah,” ucap Ara, keringat sudah memenuhi tubuhnya.


“Nyonya pasti bisa, kita coba sekali lagi, dorong yang kuat,” kata Dokter.


Jack menatap wajah istrinya yang pucat itu dengan matanya yang memerah. Istrinya menatapnya, terlihat sekali istrinya sangat lelah.


“Aku mencintaimu,”ucap Jack, dengan tulus, dia memang sangat mencintai wanita ini.


Mendengar ucapan suaminya, Ara tidak bicara apa-apa, hanya dalam hatinya menjawab, “aku juga mencintaimu, Jack.”


Kemudian dorongan dalam perutnya terasa lagi semakin menguat.


“Tarik nafas, dorong yang kuat, Nyonya!” seru Dokternya.


Ara sudah benar-benar tidak bisa menahan lagi dorongan yang ingin keluar dari tubuhnya, dan dia ingin mengeluarkannya segera mungkin. Setelah menarik nafas beberapa kali, dia mengejan sekuatnya, dia tidak bolah membiarkan bayinya terus berlama-lama di perutnya atau akan ada hal buruk yang terjadi pada bayinya.

__ADS_1


Setelah mengejan sekuat tenaga dengan arahan dari Dokter. Ara merasakan sesuatu yang dingin keluar diantara kakinya, bersamaan dengan Dokter mengambil sesuatu disana, seorang bayi mungil yang masih berbalut darah. Kemudian terdengar.


“Oa..oa..”  bayi itu menangis.


“Bayinya laki-laki, Nyonya! Lengkap dan sempurna. Bayinya sangat tampan,” kata Dokter itu.


Ara menghela nafas dengan lega, senyum mengembang di bibirnya, melihat bayi yang sedang di urus oleh Dokter itu. Matanya langsung memerah karena bahagia dia sudah bisa melahirkan bayinya dengan selamat.


Ara mengangkat wajahnya menatap Jack yang duduk disamping kepalanya, yang sedari tadi menemaninya.


Jack melihat bayi itu dengan takjub. Rasanya seperti mimpi dia benar-benar punya bagi sekarang.


Jack menunduk menatap istrinya. Dia langsung mendekatkan wajahnya, lalu mencium kening istrinya juga bibirnya, dia sangat terharu.


“Terimakasih sayang kau sudah melahirkan Jendral kecilku dengan selamat,” ucap Jack, mengusap pipinya Ara lalu menciumnya lagi.


“Bayinya laki-laki, Jack,” ucapnya, menatap suaminya dengan bahagia.


“Iya, laki-laki,” jawab Jack mengangguk.


“Aku akan memberitahu kabar ini dulu pada kedua Ibumu,” kata Jack.


Ara mengangguk, karena Dokter juga masih melanjutkan memeriksa kesehatannya habis persalinan.


Saat Jack keluar dari ruangan itu, Ny.Imelda dan Bu Amril menghampirinya.


“Bagaimana?” tanya mereka bersamaan.


“Bayinya laki-laki!” jawab Jack.


Senyum bahagia mengembang di bibir dua Ibu mertuanya itu. Tiba-tiba Jack teringat Ibunya. Dia memang kecewa pada ibunya, tapi melihat perjuangan  Ara tadi, mengingatkannya pada Ibunya. Ibunyapun pernah mengalami hal yang sama saat melahirkannya, apapun akan dilakukannya demi bayinya lahir ke dunia ini dengan selamat.


*****


Ruang rawat itu terasa sangat ramai. Bu Amril begitu sibuk membicarakann rencana- rencananya merenovasi rumah supaya ranjang bayi bisa masuk ke kamarnya Ara. Begitu juga dengan Ny.Imelda.


Pak Amril hanya tersenyum saja menatap putrinya yang sudah melahirkan dan sedang menggendong bayinya sekarang sambil duduk bersandar di tubuh suaminya.


“Selamat sayang, putramu sudah lahir dengan selamat,” kata Pak Amril dengan matanya yang berkaca-kaca.


Pak Amril mendekati lalu mencium keningnya Ara, mengusap rambutnya perlahan.


“Nanti kalau tinggal di Paris, jaga bayimu dengan baik,” kata Pak Amril.


“Iya,Ayah,” jawab Ara.


Pak Amril menoleh pada Jack.


“Jaga putri dan cucuku dengan baik,” kata Pak Amril.


“Iya Pak, aku akan menjaga mereka dengan baik,” ucap Jack.


Pak Amril mengangguk dan tersenyum. Diapun menoleh pada dua ibu-ibu itu yang sibuk dengan debatannya tentang bayi. Tapi dia tidak bicara apa-apa, hanya keluar saja dari ruangan itu.


Jack menempelkan tubuhnya kepuggung Ara, melihat bayi yang sedang digendongnya.


“Bukankah dia sangat tampan?” tanya Jack, melihat bayi mungil itu yang matanya masih terpejam.


“Iya, dia sangat mirip denganmu,” jawab Ara, menoleh pada suaminya yang langsung mencium bibirnya.


“Kau benar, sepertinya tidiak ada sedikitpun yang mirip denganmu,” ucap Jack.


Ara langsung memberengut, benar kata Jack, semua bagian wajah bayi itu mirip dengan Jack.


“Iya kau benar, dia sangat mirip denganmu,” ucapnya, dengan lesu.


“Tapi kalau kau tidak ada, dia tidak akan lahir,” kata Jack.


“Iya kau benar, aku yang melahirkannya,” jawab Ara.


Jack memeluk istrinya. Sama seperti istrinya, dia juga tidak bosan-bosannya melihat bayi mungil itu. Sesekali dia mencium pipi istrinya.

__ADS_1


“Kita meninggalkan acara pernikahannya Bastian dan Arum,” kata Ara.


“Tidak apa-apa, paling besok mereka datang kesini menjengukmu dan melihat bayi kita,” jawab Jack.


Ara kembali melihat bayinya.


“Apa aku boleh menggendongnya?” tanya Jack.


Ara menoleh pada suaminya.


“Boleh tapi hati-hati, dia baru lahir,” jawab Ara pelan hampir tidak terdengar, dia tidak mau bayinya bangun.


Lalu dia memberikan bayinya pada Jack yang menerimanya dengan hati-hati. Dia merasa sangat bahagia, dia memilii bayi sekarang.


“Bayinya sangat kecil,” ucap Jack.


“Nanti juga besar kalau dikasih makan tiap hari,” jawab Ara, memberengut. Suaminya membandingkan bayi itu dengan tubuhnya ya jauhlah.


“Beneran dia sangat mirip denganku!” ucap Jack, menatap bayi dalam gendongannya.


“Iya, dia sangat mirip denganmu,” jawab Ara.  Matanya menatap pria itu yang sedang menggendong bayinya. Dia merasa bahagia kali ini, sangat bahagia.


“Aku bahagia,” ucap Ara, mebuat Jack menoleh kearahnya.


“Apa?” tanya Jack.


“Aku bahagia akhirnya pernikahanku denganmu berjalan normal,” jawab Ara.


Jack yang sedang berdiri didekat Ara sambil menggendong bayi itu, menatapnya. Mata istrinya sudah mulai memerah.


“Tadinya aku takut pernikahanku denganmu tidak normal seperti pernikahan  orang lain, tapi sekarang aku bersyukur aku memiliki suami sepertimu,” ucap Ara lagi.


Jack menatap mata yang mulai berair itu.


“Aku sangat mencintaimu,” ucap Jack.


Ara hanya menatapnya dan airmata itu menetes dipipinya.


“Aku berterimakasih kau mau menikah denganku,” ucap Jack.


Ara kembali menatap suaminya itu.


“Karena aku yakin suatu saat aku akan bahagia bersamamu,” jawab Ara.


Jack mencondongkan tubuhnya mencium keningnya Ara. Tangan Ara meraih pinggangnya memeluknya erat, ikut melihat bayi yang ada di gendongannya Jack.


“Kau akan memberi nama siapa?” tanya Ara.


“Nama? Oh iya!” seru Jack.


“Iya kenapa?” Ara menatapnya.


“Aku lupa menyiapkan nama untuk bayi kita!” seru Jack.


“Kau ini bagaimana? Kau kan Ayahnya seharusnya kau menyiapkan nama bayi kita, nanti di boxnya mau dikasih nama apa? Tuh lihat belum ada namanya!” kata Ara menunjuk kertas yang menempel di box bayi yang belum ada nama bayinya.


“Waduh namanya siapa ya?” tanya Jack.


“Aaah, kau ini, bayinya sudah lahir kenapa belum menyiapkan nama?” keluh Ara.


“Ya sudah kau gendong dulu bayinya, aku mau lihat di internet!” kata Jack sambil memberikan bayinya pada Ara.


“Hat-hati,” ucap Ara, sambil menerima bayi itu.


Setelah itu Jack duduk samping Ara mengeluarkan ponselnya mencari-cari nama yang baik untuk putranya.


Ara terus saja memberengut, kenapa Jack lupa menyiapkan nama?


******


Readers, Terpaksa Dinikahi Mafia, sudah up ya.

__ADS_1


Yang mau kepo kepo bisa baca.


**********


__ADS_2