Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-61 Menyusul Ara


__ADS_3

Jack tidak banyak bicara di dalam mobil. Selain memikirkan kepergiannya Ara, dia juga memikirkan Arum. Semakin banyak teka-teki yang muncul sekarang. Ada banyak hal yang membuatnya ganjil. Apa semua yang terjadi ini biang keroknya adalah ayah tirinya? Kalau ayah tirinya tahu Arum masih hidup kenapa merahasiakannya? Apakah itu semua disengaja karena memang ingin dia di RSJ selamanya untuk menguasai hartanya?


Kembali lagi pada Ara, apa yang harus dilakukannya untuk meyakinkan Ayahnya Ara supaya membiarkan istrinya kembali padanya?


Di rumahnya Ara…


“Sayang, ternyata kau sudah pulang dari Paris?” tanya ibunya begitu Ara dan Ayahnya masuk ke rumah.


“Iya Bu, aku sudah pulang!” jawab Ara.


“Kau keterlaluan sudah membohongi Ayah,” kata Pak Amril.


“Aku minta maaf yah,” ucap Ara.


“Sudah jangan memarahinya, ayo duduklah, bagaimana di Paris? Seharusnya kau mengajak Ibu juga,” ujar ibunya Ara sambil menarik tangannya Ara duduk di ruang tamu diikuti ayahnya.


Arapun duduk dengan lesu. Ibunya langsung duduk disampingnya.


“Kau harus meninggalkan Jack, kau harus bercerai dengannya,” kata ayahnya Ara, berdiri menatap putrinya.


Ibunya Ara memegang tangan Ara juga menatapnya.


“Ibu sudah cerita pada Ayahmu tentang kondisinya Jack, dan sudah Ibu kira pasti ayahmu tidak setuju,” kata Ibunya.


Ara menatap ayahnya lalu pada ibunya.


“Bu, Ayah, aku tidak bisa meninggalkan Jack,” ucap Ara.


Pak Amril duduk disofa disebrang Ara, menatap putrinya.


“Ayah tidak mau hidupmu suram. Jack memang kaya tapi dalam pernikahan juga tidak hanya dibutuhkan uang saja. Kau harus bisa hidup normal seperti orang lain,” ucap Pak Amril mulai bicara.


“Apa kau tidak ingin seperti orang lain, bersama suamimu berjalan-jalan, bergaul dan mengasuh anak-anak kalian, bersekolah dan yang lainnya? Kalau kau punya anak dari Jack, bagaimana masa depan anak itu? Dia akan dicemooh oleh teman-temannya, kasihan dia. Jadi lebih baik tinggalkan Jack, kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik meskipun tidak sekaya Jack tapi pria yang normal dan tidak depresi,” lanjut Pak Amril.


Ibunya Ara tidak menjawab, dia sudah membicarakan hal ini dulu pada Ara dan putrinya bersikeras ingin melanjutkan pernikahannya.


“Aku terlanjur menyayangi Jack. Kasihan dia,” ucap Ara.


“Kau bukan menyayanginya, kau hanya kasihan! Tapi kau harus ingat kalau kau tidak bisa menjadi seorang istri, kau hanya akan menjadi perawat Jack seumur hidupmu,” kata Pak Amril.


Ara diam mendengarkan Ayahnya Bicara.


“Apa kau mau hidup terus begitu? Kau juga berhak mendapat kasih sayang dari seorang pria normal, Nak, jadi jangan sia-siakan hidupmu,” kata Pak Amril.


“Jack, dia menyangangiku Yah,” ucap Ara.


“Sayang darimana? Dia saja depresi dan tidak bisa mengurus dirinya sendiri, bagaimana  dia menyayangimu?” keluh Pak Amril.


Arapun kembali diam begitu juga ibunya.


“Ayah takut kalau kau hamil anakmu akan mengalami penyakit seperti Jack itu, bagaimana kalau itu penyakit turunan dan menular pada anakmu, hancur sudah masa depan anakmu, kau mau hidup seperti itu?” lanjut Pak Amril.


Ibunya Ara langsung menatap Ara.


“Kau bilang waktu itu kau belum disentuh Jack. Apa sekarang kau sudah melakukan itu? Kalian sudah  berhubungan?” tanya Ibunya.


“Sudah berkali-kali katanya,” yang menjawab Pak Amril, membuat Ibunya Ara  terkejut.


“Apa? Apa pria depresi bisa melakukan itu?” tanya Ibunya kepo.


Ara hanya diam saja, padahal dia berbohong pada Ayahnya soal itu.


“Bagaimana cara dia melakukannya? Apa dia berhasil?” tanya Ibunya, membuat Ara mendelik pada ibunya. Maksudnya berhasil apa?

__ADS_1


“Maksud Ibu, apa..dia..” Perkataan Ibunya Ara terpotong.


“Sudah tidak perlu membahas seperti itu!” potong Pak Amril, membuat Ibunya Ara diam.


Dia sangat penasaran bagaimana caranya putrinya itu berhubungan dengan suaminya yang depresi?


“Ayah, Ibu hanya penasaran saja,” keluh Ibunya Ara.


Diluar rumah, dipinggir jalan. Seperti biasa mobil mewahnya Jack yang berukuran lebih panjang dari umumnya mobil biasa, membuat jalanan macet lagi. Bahkan mobil itu tidak bisa dibawa masuk kepekarangan rumahnya Ara. Selain karena ada mobil Ayahnya Ara, gerbangnya juga tidak terlalu lebar untuk masuknya mobil mewah itu.


“Tuan, terpaksa kita turun disini,” ucap Pak Beni.


“Pa Beni, bukankah aku sudah memberi hadiah rumah mewah buat Ara? Kenapa orang tuanya masih tinggal di rumah ini?” tanya Jack.


“Saya juga tidak mengerti Tuan, mereka pasti punya alasannya,” ucap Pak Beni.


Jack pun diam, sungguh aneh keluarganya Ara tidak menempati rumah mewah yang diberinya dan masih menempati rumah kecil ini.


“Kenapa dia betah tinggal dirumah kecil ini,” keluh Jack.


“Tidak kecil juga Tuan, rumah ini cukup besar,” ucap Pak Beni.


“Ah tidak, mobilku saja tidak bisa masuk ke rumahnya,” keluh Jack.


“Kenapa mereka tidak tinggal di rumah baru saja?” Jack kembali mengeluh. Pak Benipun teringat yang pernah Jack keluhkan saat melamar Ara, kalau rumah Ara sangat kecil.


“Kita turun sekarang, Tuan?” tanya Pak Beni.


“Iya,” jawab Jack, lalu Pak Beni membukakan pintu dan turun duluan baruah Jack.


Lagi-lagi mobil itu membuat pusat perhatian orang di sekitarnya, tentu saja karena membuat macet.


Jack dan Pak Beni memasuki halaman rumah terus menuju teras. Dari luar terdengar suara yang berbicara di ruang tamu.


Jack menghentikan langkahnya saat mendengar suara-suara percakapan itu. Lalu melangkahkan kakinya dengan pelan menuju pintu.


“Tolong Yah mengertilah, aku terlanjur menyayangi Jack,” ucap Ara.


Jack tertegun mendengar suara istrinya bicara, istrinya menyayanginya.


“Aku tidak bisa meninggalkan Jack. Aku masih berharap Jack bisa sembuh, aku yakin Jack bisa sembuh, Ayah tidak perlu khawatir,” ucap Ara.


“Tapi kita tidak tahu Jack sembuhnya kapan. Ayah tidak mau kau buang-buang waktu bersama pria depresi, tadi kan Ayah sudah bilang apalagi kalau kau sampai punya anak, kasihan anakmu, mumpung kau belum punya anak akan lebih baik bercerai saja,” kata Pak Amril.


Mendengar perkataan Ayahnya Ara, Jack merasa bingung, apa dia harus jujur kalau dia sudah sembuh? Tapi lagi-lagi ini bukan waktu yang tepat. Semakin banyak yang tahu dia sembuh semuanya akan semakin kacau. Apalagi sekarang ada informasi tentang Arum, dia harus menyelidiki dan benar-benar harus bertemu dengan Arum.


Jack menoleh pada Pak Beni yang berdiri disampingnya.


“Tuan!” panggil Pak Beni.


Mendengar ada suara dipintu membuat Pak Amril dan anak istrinya terkejut dan menoleh ke arah pintu yang sedari tadi belum ditutup.


Pak Amril bangun dari duduknya, begitu juga Ara dan Ibunya. Mereka menuju pintu.


“Jack!” panggil Ara terkejut melihat suaminya dan berdiri dipintu. Senyumnya langsung mengembang di bibirnya. Dia tidak menyangka suaminya akan menyusulnya.


“Jack, kau menyusulku? Masuklah!” ucap Ara, dia langsung menghampiri Jack tapi tertahan saat tangan Ayahnya menghalangi tubuhnya.


“Kau diam!” kata Pak Amril.


“Ayah,” Ara menoleh pada Ayahnya.


Pak Amril menatap Jack, menatap mata menantunya itu.

__ADS_1


“Tuan Jack,  sekali lagi saya katakan saya tidak akan membiarkan putriku untuk melanjutkan pernikahannya denganmu! Kalian harus bercerai!” ucap Pak Amril lalu menoleh pada Pak Beni.


“Pak Beni, bisakah kau bawa pulang Tuanmu, dan jangan datang-datang lagi kemari?” Pinta Pak Amril.


“Maaf Pak Amril, tapi Tuan memaksa ingin kemari, Tuan ingin membawa Nyonya pulang,” ucap Pak Beni.


“Tidak, tidak, aku tidak akan membiarkan putriku kembali ke rumah itu,” kata Pak Amril.


“Pak Amril, Tuan Jack akan memberikan apapun yang kalian inginkan asal Nyonya bisa kembali pulang bersanya,” ucap Pak Beni.


“Maaf Pak Beni, saya tidak menginginkan apapun selain kebahagiaan putriku, aku ingin putriku bahagia,” ucap Pak Amril.


“Ayah,” Ara memegang tangan Ayahnya.


“Ayah aku akan bahagia dengan Jack,” ucap Ara.


“Bagaimana bisa seorang pria depresi membahagiakanmu?” tanya Pak Amril, menatap Ara.


“Ara, istriku,” ucap Jack, membuat Pak Amril menoleh dan menatap Jack.


“Saya tahu, tapi saya tidak bisa membiarkan Ara bersamamu, maaf Tuan Jack Delmar. Sebaiknya kau pulang saja,” ucap Pak Amril lalu akan menutup pintu.


“Ayah! Jangan!” Ara menahan pintu itu.


Jack  terkejut Pak Amril akan menutup pintunya, tangannya segera menahan pintu itu.


“Jangan! Istriku!” ucap Jack dengan bingung.


“Maaf Tn.Jack, sebaiknya kau pergi!” usir Pak Amril kembali menutup pintu rumahnya.


Tentu saja Jack semakin terkejut saat melihat pintu itu sudah tertutup.


“Kau masuk kamar!” Perintah Pak Amril pada Ara.


“Ayah, Jack diluar,” ucap Ara.


“Nanti juga dia pulang!” ucap Pak Amril, lalu menoleh pada istrinya.


“Bawa Ara masuk, pastikan dia tidak keluar kamar,” ucap Pak Amril.


“Ayah, aku harus kembali bersama Jack,” ucap Ara.


“Apa kau tidak mendengar apa yang Ayah katakan?” bentak Pak Amril, mulai kesal. Ara terdiam melihat ayahnya membentaknya.


“Masuk!” perintah Ayahnya dengan nada tinggi.


Ara tidak berkata apa-apa lagi, dia tidak mau bertengkar dengan ayahnya, dia sangat menghormati Ayahnya. Ibunya Ara hanya bisa diam, dia menarik tangan  Ara dibawanya masuk ke dalam menuju kamarnya Ara.


Pak Amril segera mengunci pintu rumahnya.


“Ara! Ara! Istriku!” Jack mengetuk-ngetuk pintu itu, tapi Pak Amril mengacuhkannya dan diapun pergi ke kamarnya. Tidak memeperdulikan keberadaannya Jack diluar dengan Pak Beni.


Jack menoleh pada Pak Beni.


“Aku harus bisa membawa Ara kembali, aku tidak mau kehilangan istriku,” ucap Jack, menatap Pak Beni.


Pak Beni tidak bisa bicara lagi, dia juga bingung harus bagaimana. Tadi dia sudah mencoba memberikan penawaran pada Pak Amril tapi ditolak.


*******


 Readers meskipun flat, tetap di like ya...


************

__ADS_1


__ADS_2