
Ny. Inez menatap suaminya.
“Apa maksudmu anak itu sudah sembuh?” tanya Ny. Inez kebingungan.
“Siapa lagi kalau bukan anak gilamu!” teriak Tn.Ferdi membuat Ny. Inez shock, begitu juga Ara, ternyata memang Tn.Ferdi sudah tahu kalau Jack sudah sembuh, kemana Jack? Katanya dia ditunggu diruang kerja, apa dia tidak mendengar ribut-ribut disini? Bastian juga tidak ada menghampiri, entah kemana anak itu.
“Dokter Mia yang memberitahu,” kata Tn.Ferdi.
Barulah Ara mengerti kemana Jack, suaminya itu pergi berobat ke Dokter Mia tanpa mengajaknya.
Ny. Inez tampak lesu dan menatap suaminya. Ada perasaan senang Jack sudah sembuh tapi disisi lain dia tidak mau kesembuhan Jack mengubah kehidupannya bersama suami dan anaknya, yang selama ini terbiasa dengan kemewahan yang Jack miliki.
“Jack sudah sembuh,” gumam Ny. Inez.
Tn.Ferdi tampak terbatuk-batuk.
“Sayang, tenanglah, kau mabuk!” kata Ny.Inez, memegang tangan suaminya.
Ara masih berdiri menempelkan tubuhnya ke tembok, dia ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa dia harus memberitahu semua ini pada Jack? Sedangkan pria itu tidak mau jujur juga padanya.
“Kau sedang apa?” tiba-tiba suara seorang pria mengagetkannya. Arapun menatap pria itu, ternyata Bastian.
Bastian menatapnya lalu menoleh pada pintu ruang kerja ayahnya.
“Kau menguping?” tanya Bastian dengan nada tinggi.
Ny. Inez yang didalam ruang kerja itu mendengar suara Bastian.
“Bastian, Bastian!” teriak Ny.Inez.
“Bantu Ayahmu ke kamar!” kata Ny. Inez.
Bastian menatap Ara sebentar lalu segera membuka pintu ruang kerja itu. Ara sedikit melongokkan kepalanya melihat kedalam, dia melihat ruang kerja itu berantakan begitu banyak barang-barang yang pecah.
“Apa yang terjadi?” tanya Bastian.
“Anak gila itu! Anak gila itu sembuh!” teriak Tn.Ferdi dalam mebuknya.
“Apa maksud Ayah sembuh?” tanya Bastian, kebingungan sambil meraih tangan Tn.Ferdi disilangkan ke bahunya.
“Katanya kakakkmu sembuh. Mana mungkin! Ayahmu terlalu banyak minum, ayo bawa ke kamar!” jawab Ny. Inez.
“Hah? Kakak sembuh?” tanya Bastian juga terkejut, tentu saja dia juga tidak suka mendengarnya. Semakin sulit saja dia menginginlan sesuatu.
“Nanti kita tanya Ayahmu kalau sudah sadar, cepat bawa ke kamar!” kata Ny, Inez, Bastianpun segera membawa Ayahnya keluar dari ruangan itu.
Ara buru-buru pergi meninggalkan tempat itu kembali ke kamarnya. Dia sungguh merasa gelisah. Berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Dilihatnya jam didinding sudah larut tapi Jack belum pulang juga.
Bagaimana ini? Jack harus tahu kalau Tn.Ferdi sudah tahu kesembuhannya. Kira-kira apa yang akan dilakukan Jendral itu pada keluarganya kalau sudah tahu begini?
Ara duduk dipinggir tempat tidur. Jack adalah suaminya tapi terasa orang asing, dia tidak tahu apapun yang Jack fikirkan. Jack tidak bicara, tidak berkeluh kesah, tidak berbagi cerita, padahal dia adalah istrinya.
Dia kadang merasa bingung dia tinggal dirumah ini sebagai apa? Benar kata Ny.Inez , dia hanya perawat Jack, hanya perawat saja.
Ara naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya, memikirkan semua ini membuatnya sangat bingung. Matanya suda mulai mengantuk, dilihatnya lagi jam itu semakin larut tapi Jack belum pulang juga.
Dia harus menunggu Jack, dia harus memberitahu soal ini, setelah itu jika Jack ingin pura-pura sakit lagi terserah Jack, hanya dia harus memberitahu semua ini saja.
Ara hampir terlelap saat mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Diapun langsung turun dari tempat tidur.
“Jack, kau pulang?” tanyanya.
__ADS_1
Pria itu menutup pintu, lalu membalikkan badannya, saat Ara menghampirinya.
Ditatapnya isrinya yang belum tidur itu.
“Kau darimana?” tanya Ara.
Jack tidak menjawab, dia berjalan menuju tempat tidur lalu duduk dipinggirnya dan membuka sepatunya.
“Kau dari Dokter Mia?” tanya Ara, membuat Jack terkejut dan menatapnya.
“Kau sudah dari Dokter Mia kan?” tanya Ara lagi, berdiri di hadapannya Jack.
Darimana istrinya tahu kalau dia sudah dari Dokter Mia? Fikir Jack.
“Kau sudah dinyatakan sembuh kan?” tanya Ara lagi, membuat Jack semakin terkejut. Dia selesai melepaskan kedua sepatunya. Ditatapnya istrinya yang sedang menatapnya tajam.
Matanya bertemu dengan tatapan istrinya itu.
“Semua orang sudah tahu kalau kau sudah sembuh,” kata Ara, tanpa menunggu Jack mulai bicara.
Mendengarnya membuat Jack terkejut lagi.
“Tn.Ferdi, Ny Inez juga Bastian sudah tahu kau sudah sembuh,” kata Ara.
Jack masih tidak menjawab, dia masih menatap wanita yang berdiri di depannya itu.
“Apa kau masih mau melanjutkan kebohongan ini lagi?” tanya Ara.
Jack masih tidak bicara, dia malah bangun, berjalan menuju ceriman dengan tangannya mulai membuka kancing-kancing kemejanya.
“Ternyata kau masih mau bersikap begini?” tanya Ara dengan nada tinggi melihat sikap diamnya Jack.
“Jendral!” panggil Ara dengan ketus.
Dipanggil begitu membuat Jack menghentikan langkahnya.
“Apa karena kau seorang Jendral kau tidak mau bicara padaku?” tanya Ara masih dengan nada tinggi.
Jack menghentikan gerakannya membuka kancing kemejanya.
“Sejak kau sembuh apa aku bukan istrimu lagi?” tanya Ara.
Jack masih diam, membelakangi Ara. Ara hanya bisa melihat punggung pria itu.
“Setelah kau sembuh aku tidak mengenalmu lagi!” kata Ara.
Jack masih membelakangi Ara.
“Aku istrimu tapi aku tidak tahu siapa kau? Aku sama sekali tidak mengenalmu, kau orang asing bagiku, kau bukan Jack-ku lagi,” ucap Ara, suaranya terdengar pelan dan menundukkan kepalanya, dia mendadak sedih mengatakan itu pada Jack.
Mereka terdiam beberapa saat. Kemudian Jack membalikkan badannya menatap Ara yang sedang menunduk. Jack segera menghampiri.
Setelah dekat, begitu dekat, hampir saja tubuh pria itu menempel ditubuhnya Ara. Ara bisa merasakan dadanya yang keras, dilihatnya dada yang terbuka itu karena kacing kemejanya sudah terlepas sebagian.
Jack mengulurkan tangannya mengangkat wajahnya Ara supaya menghadapnya. Merekapun saling tatap.
“Kenapa kau tidak mengenaliku? Setiap saat aku selalu bersamamu, mana mungkin kau tidak mengenaliku?” tanya Jack, menatap Ara lekat-lekat.
Ara tidak bisa melepaskan pandangannya menatap Jack.
“Kau tidak jujur padaku, kau menyembunyikan kesembuhanmu padaku, aku merasa kau tidak menganggap aku istrimu lagi,” ucap Ara, kini matanya mulai memerah beraca-kaca.
__ADS_1
“Jangan, jangan berfikir begitu,” ucap Jack dengan lirih. Jemarinya menyentuh bibirnya Ara.
“Aku hanya butuh waktu,” ucap Jack.
Ara tidak bicara lagi, hanya beberapa tetes airmata tidak bisa ditahannya untuk jatuh ke pipinya.
“Aku sedih kau tidak jujur padaku,” ucap Ara, kemudian.
“Jangan menangis, aku minta maaf jika menyakitimu,” ucap Jack, menghapus airmata yang menetes di pipi istrinya.
“Jangan menangis, aku tidak mau melihatmu menangis,” ucap Jack lagi, dia langsung gelisah saja kalau melihat istrinya menangis.
Kata-kata itu semakin membuat airmata itu tumpah lebih banyak, itu salah satu kata yang sering Jack ucapkan saat depresi.
“Aku masih Jack-mu,” ucap Jack, masih menghapus tiap tetesan airmata yang membasahi pipinya Ara.
“Aku masih Jack-mu yang selalu kau rawat, kau suapi, kau mandikan, kau peluk dan kau cium,” ucap Jack, semakin membuat Ara semakin sedih mendengarnya.
“Aku masih Jack yang mencintaimu, dulu juga sekarang,” ucap Jack lagi. Kembali mengusap tetes-tetes airmata itu yang tidak berhenti menganak sungai.
Kemudian Jack sedikit menundukkan kepalanya lalu mencium bibir istrinya dengan lembut. Ara hanya bisa merasakan bibir itu berada diantara bibirnya. Tidak lagi suara debaran jantung yang bertalu-talu tapi rasa haru yang menyelimuti hatinya. Jack tidak berubah, Jack masih mencintainya.
Beberapa saat Ara masih merasakan ciuman dari suaminya, kemudian bibir itu mulai terlepas perlahan, pria itu kembali menatapnya lagi.
“Sudah cukup, jangan menangis lagi!” ucap Jack, tangannya mengusap-usap pipinya Ara.
“Kau tidur, istirahatlah. Besok siapkan pakaian kerja untukku,” ucap Jack.
Ara terkejut mendengarnya, dia menengadah menatap Jack.
“Kau bekerja besok?” tanya Ara sedikit terbata-bata.
“Iya, “ jawab Jack menatap wajah istrinya, mengusap rambutnya. Apa istrinya masih meragukan cintanya, kalau dia sangat mencintainya?
Arapun diam. Dirasakannya tangan Jack berpindah memeluk pinggangnya.
“Tidurlah, tidak perlu mencariku, aku ada diruang kerja,” kata Jack, dia tahu istrinya terbiasa akan mencarinya jika tidak melihatnya.
Ara tidak menjawab, dia hanya kembali merasakan bibir Jack kembali menciumnya. Kemudian Jack mengusap rambutnya lagi setelah itu beranjak menjauh pergi ke kamar mandi.
Ara diam mematung. Apa yang sudah terjadi? Jack barusan jujur padanya? Tapi hanya itu saja yang dikatakannya? Ah dia itu sangat pelit bicara! Sekian lama berbohong cuma mengatakan yang pendek-pendek saja.
Ara menoleh ke tempat tidur, Jack menyuruhnya tidur, bagaimana dia bisa tidur? Tetap saja dia merasa aneh tidur bersama Jendral itu.
Tapi tidak ada yang bisa di lakukannya selain dia menuruti apa yang Jack katakan untuk segera tidur dan besok menyiapkan baju kerjanya.
Arapun naik ke tempat tidur dan berselimut, mencoba untuk tidur. Sebenarnya hatinya merasa khawatir dengan keadaan ini. Dia merasa was-was. Dia tahu bagaimana keluarga Jack begitu terobsesi memiliki kekayaannya Jack, akan banyak rintangan ke depannya.
Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, Ara buru-buru memejamkan matanya pura-pura tidur.
Terdengar suara pintu walk in closet dibuka, sepertinya Jack sudah mandi dan akan berganti pakaian. Tidak berapa lama terdengar lagi langkah di dalam kamar itu. Ara masih mencoba memejamkan matanya untuk tidur tanpa terganggu dengan aktifitasnya Jack.
Tiba-tiba dirasakannya ada derit di tempat tidur, sepertinya Jack naik ketempat tidur. Kemudaian dirasakannya ada tangan yang membetulkan selimutnya, mengusap bahunya lalu ciuman pipinya.
“Selamat malam,” ucap Jack, berbisik di telinganya Ara.
Ucapan yang begitu indah didengar. Dirasakannya lagi jemari Jack menyentuh pipinya lalu terdengar suara derit tempat tidur lagi, rupanya Jack turun. Disusul langkah- langkah menjauh dan suara pintu dibuka dan ditutup.
“Selamat malam Jack,” gumam Ara, diapun mencoba untuk tidur.
*********
__ADS_1