
Perjalanan menuju rumahnya Ny.Imelda terasa begitu lama, Ara merasa semakin gelisah saja, Jack disana sudah lebih lama dari keberangkatannya. Sungguh waktu yang sangat benar-benar menyiksa bagi Ara.
Sampai akhirnya mereka tiba di halaman rumahnya Ny. Imelda. Ara semakin merasa gelisah saat melihat mobil Jack ada disana. Dia menebak-nebak apa yang dilakukan Jack dirumah itu.
Sementara di kamar itu, Arum menatap Jack dengan tatapan yang sayu. Ny.Imelda hanya memegang tangannya dengan cemas.
“Jack, apa itu kau jack?” tanya Arum.
Jack menatap gadis itu, Arum terlihat sangat pucat dengan mata panda jelas terlihat dimatanya, terlihat sekali kalau kurang tidur, dia terlihat lemah. Ternyata tidak seperti yang di bayangkan Jack, dia fikir Arum akan bertindak genit
padanya, merayu-rayu sebagainya tapi kenyataannya tidak begitu. Dia terlihat sangat sakit. Membuat Jack merasa bingung apakah itu pura-pura atau benar-benar sakit?
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jack.
“Jack, Jack, aku takut,” jawab Arum, dengan tatapan kosongnya.
Jack masih diam, dia bingung harus bagaimana. Dia menguatkan hatinya untuk tidak masuk dalam permainannya Ny. Imelda dan Arum. Dia tidak yakin itu Arum. Ny. Imelda dan Arum pasti sudah membuat scenario ini, mempengaruhinya meyakinkan dirinya kalau gadis itu Arum kecilnya yang sedang sakit.
Tiba-tiba Arum menangis.
”Aku mimpi buruk,” keluhnya sambil menunduk.
“Aku takut,” ulangnya lagi.
Melihat wajah pucat yang kini menangis membuat Jack tidak tega.
“Aku datang menjengukmu!” kata Jack.
Arum masih duduk menunduk dan menangis.
Sementara itu Ara memasuki rumahnya Ny. Imelda, dilihatnya Pak Beni sedang menunggu di ruang tamu.
“Pak Beni!” panggil Ara, langsung menghampiri.
Pak Beni tampak terkejut melihat kedatangannya Ara.
“Kenapa Nyonya kemari?” tanya Pak Beni.
“Dimana Tuan?” tanya Ara.
“Diatas bersama Ny Imelda,” jawab Pak Beni.
Tanpa menunggu Pak Beni bicara lagi, Ara langsung pergi masuk ke dalam rumah, menaiki tangga dan mencari-cari kira-kira dimana Ny.Imelda membawa Jack.
Pak Beni hanya menatapnya saja dengan bingung.
Arum sekarang menatap Jack yang masih diam mematung. Jack tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada Arum. Dia datang ke sini hanya untuk memastikan itu Arum atau bukan, tapi melihat kondisi Arum yang seperti itu, apa yang akan dilakukannya? Untuk bertanya ini dan itu juga pasti Arum tidak akan menjawab.
Ara mendengar suara percakapan di sebuah ruang yang dia susuri. Dengan perlahan kakinya mencari sumber suara itu.
__ADS_1
Langkahnya terhenti pada sebuah kamar yang terbuka. Disana dilihatnya Ny. Imelda sedang duduk dipinggir tempat tidur dengan Arum yang sedang terisak menangis.
Hati Ara merasa lega saat melihat suaminya hanya berdiri saja menatap Arum. Sesuai dengan perkiraannya tidak ada apa-apa antara suaminya dengan Arum, Jack akan setia padanya.
Tapi ternyata itu hanya dugaan sementara. Arum kembali terisak.
“Jack, aku takut, tolong Jack,” kata Arum, sambil terus menangis.
Jack yang sebenarnya memiliki hati yang lembut, tentu saja melihat Arum seperti ini merasa simpatik, dia tidak tahu itu acting atau bukan, tapi kalau benar Arum sakit, sangat kasihan, dia tidak tega melihatnya.
Ny.Imelda menoleh pada Jack.
“Arum jadi seperti ini, dia kembali trauma, kau membiarkannya jatuh ke kolam,” kata Ny. Imelda, mencoba membuat hati Jack merasa bersalah.
“Mimpi buruk itu selalu menghantuiku!” keluh Arum diantara isaknya.
Jack melangkah beberapa langkah mendekati. Dia tidak mungkin bisa tahu Arum memiliki tahi lalat dibagian belakang rambutnya kalau berjauhan begini.
“Semua akan baik-baik saja, tenanglah,” kata Jack, menghentikan langkahnya beberapa langkah ke tempat tidur.
Arum menoleh pada Jack.
“Tolong aku Jack!” ucap Arum. Tangannya mengulur pada Jack yang langsung menerima uluran tangannya itu.
Melihat sikap Jack yang seperti itu tentu saja Ara merasakan hatinya mulai terbakar. Suaminya menerima uluran tangannya Arum. Dia ingin marah tapi apakah ini waktu yang tepat? Dia juga ingin tahu apakah Arum sakit atau tidak.
“Semua akan baik-baik saja,” ulang Jack, menepuk-nepuk tangannya Arum dengan hatinya yang bingung.
Jack melangkah lebih dekat, Arum menatapnya, memegang tangannya dengan kuat.
Tiba-tiba Arum menurunkan kakinya lalu memeluk Jack, membuat Jack terkejut tidak menyangka Arum akan memeluknya.
“Jack! Aku tahu kau akan datang! Aku tahu kau akan datang!” ucapnya, memeluk tubuh Jack yang sedang berdiri itu.
Jack sangat kaget Arum memeluknya dengan erat, dia ingin mendorong Arum supaya melepaskan pelukannya tapi Jack teringat dia harus melihat tahi lalat dibelakang rambutnya Arum, dan sepertinya ini saat yang tepat. Arum memeluknya, menyandarkan kepalanya di bahunya, dia bisa mencoba untuk melihat tahilalat itu.
“Jack! Jac!” panggil Arum.
Ara juga terkejut melihat Arum yang tiba-tiba memeluk Jack dan suaminya diam saja membiarkannya. Melihat pamandangan itu membuat Ara merasa cemburu, marah dan kecewa.
Melihat suaminya dipeluk wanita lain itu sangat menyakitkan, hatinya terasa disayat-sayat. Matanya langsung merasa perih. Kenapa Jack membiarkan Arum memeluknya?
Seharusnya Ara langsung marah pada Arum, tapi entah kenapa dia hanya bisa mematung menatap mereka. Rasanya tidak percaya Jack membiarkan wanita lain memeluknya.
Ara akan bicara tapi dia melihat pergerakan lain, membuatnya kembali diam. Dia melihat tangan Jack yang mengulur menyentuh rambutnya Arum. Ara semakin tidak percaya Jack membelai rambutnya Arum, sudah tidak terlukiskan tercabik-cabikanya hati Ara, sakit dan perih menjadi satu.
Jack agak sulit menyingkap rambutnya Arum itu karena kepalanya Arum menempel dekat lehernya, jadi Jack harus menyibakkan rambut itu dari wajahnya Arum satu persatu.
Dengan perlahan Jack mencoba menarik rambut itu ke belakang telinganya Arum, Tapi bukan disitu letak tahi lalatnya melainkan di tengkuk atasnya dileher bagian belakang.
__ADS_1
Dalam benak Jack muncul bayangan Arum kecil yang mengangkat rambutnya saat akan dipasangkan kalung olehnya, disitu dia melihat tahilalat itu, seperti yang ada pada Ara, istrinya. Jack harus memastikan itu.
Ara menahan nafas melihat suaminya menyibakkan rambut wanita lain. Dia tidak percaya akan melihat hal seperti itu tepat didepan matanya.
Jack menyingkap rambutnya Arum terus kebelakang, tapi dia belum menemukan tahilalat itu, dia harus mengangkat semua rambutnya. Hatinya gelisah, jantungnya berdabar kencang apakah Arum memiliki tahi lalat yang sama seperti istrinya?
Bagaimana kalau iya ternyata Arum ini Arum kecilnya? Tidak masalah, dia hanya ingin memastikannya, bukan untuk menduakan Ara dengan wanita lain.
Jack mengangkat rambut itu lebih keatas karena posisi tahi lalat itu persis dibelakang, Jack terpaksa harus menundukkan kepalanya, melihat lebih dekat ke tengkuknya Arum.
Ara yang berdiri dipintu kamar wajahnya langsung memerah saat melihat Jack menudukkan kepalanya ke wajah Arum dan dikiranya mencium Arum. Sungguh tidak terlukiskan sakit hatinya Ara, matanya langsung berkaca-kaca.
“Stop Jack! Cukup!” teriak Ara, membuat semua orang terkejut.
Jack yang hampir bisa melihat bagian belakang lehernya Arum, menghentikan gerakannya. Dia mendengar suara istrinya berteriak, segera dijatuhkannya rambut Arum juga melepaskan tangan Arum dari tubuhnya.
Jack menoleh kearah suara, disana istrinya sudah berdiri dipintu menatapnya dengan mata yang sudah berlinangan airmata. Dia sungguh terkejut tidak menyangka Ara akan menyusulnya dan melihatnya dipeluk Arum tadi.
Ny. Imelda menoleh kearah pintu, dia juga terkejut ternyata Ara sudah disana. Hatinya langsung merasa senang melihat kesedihan dan kemarahan di raut wajah Ara yang tidak bisa menahan tangisnya. Sudah dipastikan Jack akan bertengkar dengan istrinya itu dirumah. Dia tidak rela Jack melupakan Arum begitu saja. Seumur hidup Jack harus terikat dengan Arum.
“Sayang!” panggil Jack dengan bingung, menatap wajah yang menatapnya penuh dengan kekecewaan. Butiran air bening itu sudah membasahi pipi istrinya, sungguh hatinya merasa sangat bersalah.
Sebelum Jack menyadari apa yang sedang terjadi, Ara sudah beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Buru-buru Jack mengejar Ara, keluar dari kamar itu, begitu juga dengan Ny. Imelda.
Pak Beni tampak terkejut melihat Ara muncul dari ruangan dalam dengan wajah yang merah dan sesekali menghapus airmata yang menetes di pipinya.
“Sayang, tunggu!” panggil Jack berlari cepat menyusul Ara. Tangannya berhasil memegang tangan Ara.
“Sayang, kau salah faham, ini tidak seperti yang kau lihat, aku jelaskan dirumah,” kata Jack.
“Tidak perlu, apa yang aku lihat sudah cukup menjawab semuanya,” kata Ara, sambil melepaskan tangan Jack.
“Jangan begitu sayang, kau salah faham, kita bicara dirumah,ayo!” ujar Jack, kembali meraih tangan Ara diajak keluar ruangan itu.
Ara kembali menepiskan tangan Jack. Tanpa bicara lagi langsung berlari keluar dari rumah itu. Melihat istrinya seperti itu semakin membuat Jack merasa bersalah, dia telah menyakiti istrinya.
Ara masuk ke mobilnya dengan tangis yang ditahan-tahan. Sekarang bukan sakit ditubuhnya saja yang dirasa tapi sakit dihatinya juga. Baru juga semalam dia merasa tidak ada jurang pemisah antara dirinya dengan Jack, tapi ternyata jurang itu terbuka begitu lebar.
“Aku ingin pulang ke rumah Ibu, kau bisa antar aku?” tanya Ara pada supir.
“Baik Nyonya,” jawab supir.
Jack terdiam di teras menatap kepergian mobil istrinya, dia sungguh bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Ara supaya istrinya itu tidak marah padanya lagi.
***********
Readers maaf ya baru up, mati lampu baru bisa nulis.
__ADS_1
********