Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-128 Masih di Rumah Sakit


__ADS_3

Jack dan Ara menunggu Arum datang sambil duduk-duduk di kursi yang ada diruangan itu. Jack tampak sibuk dengan ponselnya membalas pesan seseorang. Ara hanya duduk dengan bosan menemani suaminya, sesekali menatap pria itu yang begitu serius, sesekali melihat televisi, sangat bosan.


 Tiba-tiba dia tersentak kaget saat tangan Jack menarik pinggangnya menjadi bergeser menempel ke tubuhnya Jack. Diapun menoleh menatap Jack. Tapi pria itu sama sekali tidak melihatnya, malah kembali sibuk mengetik. Arapun langsung memberengut. Pria itu suka bersikap seperti itu.


Karena jenuh, Ara merasa mengantuk dan menguap beberapa kali, lagi-lagi dia dikejutkan lagi oleh tangan Jack yang memeluk kepalanya supaya bersandar ke bahunya. Terpaksa kepala Ara jadi menempel dibahunya Jack.


Matanya Ara mendelik kearah Jack, eh pria itu kembali sibuk dengan ponselnya. Bibir Ara kembali mengerucut. Pria itu terlihat sibuk tapi apapun yang di lakukannya bisa tahu. Apa Jack punya mata ditelinganya? Jadi bisa melihat orang duduk disampingnya? Batin Ara.


Sambil bersandar dibahunya Jack, Ara melirik pada ponsel Jack, sekilas dibacanya pesan itu, pria itu memang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kemudian kepalanya mendongak menatap pria yang sedang serius menunduk menulis.


Menatap pria tampan itu ada kebahagiaan tersendiri dalam hatinya, pertemuan yang begitu singkat sampai akhirnya dia benar-benar sudah menjadi istrinya, menjadi milik pria ini.


Pria tampan yang begitu sempurna, yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam bayangannya akan memiliki suami seperti Jack, bahkan dalam usianya yang kata orang sudah tua untuk menikah, justru dia mendapatkan pria yang begitu menyayanginya.


Ara terkejut lagi saat tiba-tiba pria itu sedang menatapnya.


“Ternyata kau suka diam-diam memperhatikanku?” tanya Jack dengan suara pelan, tentu saja dia tidak mau membuat gaduh di ruangannya Ny.Imelda.


“Kau juga, sepertinya ditelingamu itu ada matanya, kau tahu apapun yang aku lakukan.” kata Ara.


Jack menatap mata cantik itu lalu tersenyum dan tangannya menarik kepalanya Ara lebih dekat padanya lalu mencium keningnya. Setelah itu kembali memeluk punggung istrinya, mengusapnya beberapa kali, lalu dia kembali sibuk dengan ponselnya.


Ny.Imelda menatap kemesraan mereka, ada perasaan tidak enak dihatinya, mereka terlihat saling mencintai tapi dia berusaha merusaknya karena rasa dendam di hatinya membuatnya tidak rela melihat kebahagiaannya Jack sedangkan putrinya entah dimana. Dikatakan meninggal,  jasadnya tidak pernah ditemukan, dikatakaan hidup, tidak ada kabar yang mengatakan kalau putrinya masih hidup.


Terdengar suara pintu diketuk beberapa kali. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu, masuklah seseorang yang ditunggu mereka dari tadi, Arum.


“Ibu! Apa yang terjadi? Kenapa Ibu sampai dibawa ke rumah sakit, katanya Ibu mau kesalon?” tanya Arum, sambil masuk ke ruangan itu.


“Ibu hanya pusing saja, ayo antar Ibu pulang,” kata Ny.Imelda.


“Ini pasti karena dijambak oleh wanita itu kan? Jadinya kepala Ibu pusing-pusing!” keluh Arum.


“Sudahlah, ayo bawa Ibu pulang!” kata Ny.Imelda, turun dari tempat tidur pasien.


“Nyonya akan pulang sekarang?” tanya Ara yang segera bangun dari duduknya.


Arum yang tidak mengira diruangan ada yang lain di dalam ruangan itu menoleh kearah suara, wajahnya langsung berubah pucat. Kemarin dia pura-pura sakit sampai Jack hampir saja peryca kalau dia benar-benar sakit.


“Ke, kenapa mereka ada disini?” tanya Arum, sedikit gugup, ketahuan kalau dia tidak sakit.


“Mereka yang membawa Ibu kemari,” jawab Ny.Imelda.


Jack dan Ara tidak mau memperpanjang masalah, yang penting mereka sudah tahu kalau Arum ini ternyata bukan putrinya Ny. Imelda.


“Nyonya, kami permisi, semoga Nyonya cepat sembuh,” kata Jack menatap Ny.Imelda,  walau bagaimanapun dia tetap merasa bersalah dengan tenggelamnya Arum.


Ny. Imelda hanya mengangguk saja.

__ADS_1


Jack menarik tangannya Ara keluar dari ruangan itu tanpa menoleh pada Arum, membuat hati Arum kecewa, padahal kemarin dia merasakan perhatiannya Jack. Dia tidak mengerti kenapa Ibunya ada bersama Jack dan Ara. Dia hanya bisa menatap kepergian Jack dan Ara.


“Ayo kita pulang!” kata Ny.Imelda.


Arum hanya mengangguk saja dan memegang tangannya Ny.Imelda, membantunya berjalan.


Jack dan Ara berjalan beriringan di lorong rumah sakit itu. Ara terkejut lagi saat Jack meraih tangannya, menggandengnya, mereka berjalan bergandengan. Rasanya bahagia sekali bisa berjalan berdua bersama Jack, apalagi sekarang Jack tidak depresi lagi. Ara merasa dia akan bisa hidup berumahtangga  dengan normal seperti pasangan suami istri lainnya tanpa ada yang mencemooh karena suaminya depresi.


“Jack!” panggil Ara, menghentikan langkahnya.


Jack menoleh pada istrinya.


“Apa kau tahu kalau Arum itu bukan Arum teman kecilmu?” tanya Ara.


“Apa kau juga tahu?” Jack balik bertanya.


“Iya, Ny,Imelda mengatakannya,” jawab Ara.


“Ny.Imelda mengatakan kalau Arum itu bukan Arum?” tanya Jack.


Ara mengangguk.


“Aku merasa kasihan pada Ny.Imelda. Dia membencimu karena dia sangat kehilangan putrinya. Bagaimana kalau kau coba menyuruh orang lagi untuk mencarinya, siapa tahu Arum itu masih hidup,” kata Ara, menatap Jack.


Jack balas menatapnya.


Tangan Jack meraih pinggangnya Ara, memeluknya dan mengajaknya pergi meninggalkan lorong rumah sakit itu.


Langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan seseorang yang sangat mereka kenal.


Ny. Inez berjalan dengan Tn.Ferdi yang duduk dikursi roda di dorong oleh pelayan mereka, juga beberapa orang yang tidak dikenal.


Ny.Inez terkejut saat melihat Jack dan Ara ada di rumah sakit itu.


“Jack!” panggil Ny.Inez menatap putranya.


Jack tidak menjawab, dia hanya diam saja.


“Nyonya!” sapa Ara, menatap Ny.Inez.


Jack langsung menarik tangannya Ara pergi meninggalkan ibu dan ayah tirinya.


Ara hanya menoleh pada ibu mertuanya dan mengikuti langkah kakinya Jack.


Setiap kali melihat Ibunya, Jack merasa sakit hati atas kelakuan Ibunya yang menghianati ayahnya dan tidak memperdulikannya.


Ara tidak bicara apa-apa, dia terus mengikuti langkah kakinya jack.

__ADS_1


Ny.Inez merasa sedih dalam hatinya melihat putranya yang terlihat begitu membencinya.


“Kau lihat, Anak itu semakin sombong saja!” gerutu Tn.Ferdi.


“Sudahlah sayang, kita pulang saja,” kata Ny.Inez kembali berjalan.


“Seharusnya kita masih tinggal dirumah itu!” kata Tn.Ferdi.


“Sudahlah jangan membahas itu lagi. Aku sudah membeli rumah baru untuk kita tempati, jadi tidak perlu mengungkit kekayaannya Jack lagi,” ujar Ny.Inez.


“Mana bisa aku tidak mengungkitnya? Dia seperti anak yang kacang lupa kulitnya! Kita yang menjaga kekayaannya selama ini, dan apa yang dia perbuat pada kita? Kakiku masih harus berobat dalam waktu lama, awas saja kalau sampai aku cacat permanen, aku akan membalasnya!” gerutu Tn.Ferdi.


Ny.Inez menoleh pada pelayan mereka yang mendorong kursi rodanya Tn.Ferdi supaya mendorong kursi rodanya, melanjutkan perjalanan keluar dari rumash sakit itu.


“Kita focus ke kesehatanmu saja, jangan banyak berbuat yang akan merugikan kita sendiri,” kata Ny.Inez.


“Tunggu!” Tn.Ferdi mengangkat tangannya supaya pelayannya menghentikan mendorong kursi rodanya.


Tn.Ferdi menatap istrinya yang juga menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatapnya.


“Kau fikir ini sudah selesai?” tanya Tn.Ferdi.


“Apa lagi?” tanya Ny.Inez.


“Kau fikir aku akan membiarkan anak gila itu menang begitu saja?” tanya Tn.Ferdi.


“Ini bukan masalah atau menang lagi, kekayaan itu memang milik Jack, mau  bagaimana lagi? Kita sudah cukup mengambil uangnya, selama ini kita hidup dari uangnya Jack! Sekarang dia sudah sembuh dan berumahtangga, biarkan saja dia menikmati hidupnya,” kata Ny.Inez.


“Ini, Ini yang aku tidak suka makanya aku merlarangmu menemui Jack, ya begini! Kau akan terbawa perasaan, kau harus ingat dari kecil kau sudah membuangnya ke RSJ, sudah cukup itu yang harus kau ingat!” seru Tn.Ferdi dengan nada tinggi.


“Iya aku tahu, tapi Jack tetap putraku, sampai kapanpun dia putraku!” kata Ny.Inez, berbalik kesal.


“Aku tidak akan berhenti sampai disini saja! Lihat kakiku! Lihat kakiku! Dia harus membayar semuanya!” Tn.Ferdi semkin marah dan berteriak-teriak, membuat orang yang lewat menoleh kearah mereka.


Ny.Inez menatap suaminya.


“Dengar, Jack itu sudah sembuh, dia itu seorang Jendarl di Perancis, kau fikir kau bisa dengan mudah menyakitinya? Dia bukan pria yang depresi yang hanya bisa menangis dan mengamuk saja, dia sudah normal!” kata Ny.Inez.


“Aku tidak peduli dia seorang jendral sekalipun!” bentak Tn.Ferdi.


“Sudahlah aku tidak mau berdebat soal ini!” kata Ny.Inez lalu meninggalkan  suaminya.


Tn.Ferdi menatap kepergiannya Ny. Inez. Dia marah, sangat marah. Dilihatnya kakinya yang sementara harus menggunakan rusi roda atau tongkat gara-gara dipukuli oleh Jack. Diapun langsung memukul kakinya dengan kesal.


“Lihat saja, lihat saja!  Anak itu akan mendapatkan balasannya! Apalagi kalau kakiku sampai cacat selamanya, aku tidak akan membiarkan anak itu hidup! Kematiannya akan kubuat sangat tragis!” gerutunya, giginya menggemeretuk menahan kesal.


Tangannya Tn.Ferdi memberi kode pada pelayannya untuk kembali mendorong kursi rodanya menyusul istrinya.

__ADS_1


*********


__ADS_2