
Ny.Inez sangat terkejut saat mendapat kabar kalau Jack dan Ara juga Pek Beni baru tiba dari Paris.
Senyum mengembang di bibirnya. Berdiri di pintu menatap putranya turun dari mobil bersama menantunya yang sedang hamil. Jack dan Ara menoleh pada Ny.Inez yang menyambut mereka keluar.
Jack terdiam saat melihat senyum ibunya. Entah sudah berapa lama dia tidak pernah melihat senyum Ibunya saat menyambutnya.
“Jack, kau baik-baik saja?” tanya Ny.Inez menghampirinya.
“Ya aku baik-baik saja,” ucap Jack.
Ny.Inez berjalan semakin dekat lalu berhenti didepan Jack.
Ny.Inez menatap putranya dari atas sampai bawah.
“Ibu mengkhawatirkanmu, Ibu senang kau selamat,” ucapnya, tangannya mengusap bahunya Jack sampai lengan lalu ke dadanya, menatapnya lagi dari atas sampai bawah, butiran bening itu jatuh ke pipinya.
Ny.Inez merasa sedih dalam penyesalannya yang amat sangat, siapa yang akan menduga kalau putra yang tidak dia pedulikan itu justru tumbuh menjadi pria tampan berprestasi yang sangat didambakan kebanyakan orang tua pada umumnya. Airmata itu semakin banyak jatuh ke pipinya.
“Ibu senang kau selamat,” ucap Ny.Inez lagi, menatap Jack.
Jack pun diam, hanya menatap Ibunya, dia harus menyampaikan kematian suami Ibunya itu, ayah tirinya yang brengsek itu. Dia harus mengatakan pada Ibunya kalau tangananya sudah menembak pria itu.
“Ada yang ingin aku tanyakan,” ucap Jack.
“Kau mau bertanya apa?” tanya Ny.Inez, sambil mengusap airmatanya, dan mencoba untuk tidak menangis.
“Kalau kau disuruh memilih antara aku atau suamimu yang mati, kau mau memilih siapa?” tanya Jack, tidak memanggil ibunya dengan panggilan Ibu.
“Kau ini bicara apa? Tentu saja Ibu ingin kau hidup. Ferdi, meskipun dia sudah melakukan kejahatan, tapi Ibu juga tidak mengharapkan kematiannya,” jawab Ny.Inez.
“Aku hanya bertanya mau memilih aku yang mati atau suamimu yang mati?” tanya Jack lagi.
Tentu saja Ny.Inez terkejut dan menatap Jack penuh tanda tanya. Dia langsung gelisah saja dan tegang.
“Kau, kau pulang, apa itu artinya Ferdi yang meninggal?” tanya Ny.Inez, menatap Jack.
Putranya itu tidak menjawab.
Ara sangat terkejut mendengarnya, karena Jack belum menceritakan masalah itu. Dia menatap suaminya yang sedang menatap Ibunya.
Ny.Inez juga menatap matanya Jack. Hatinya langsung saja tidak karuan, dia curiga sudah terjadi sesuatu.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Ny.Inez.
Jack tidak menjawab.
“Apa ..kau bertemu Ferdi? Dimana? Di Paris?” tanya Ny.Inez, dengan bibir yang bergetar.
Jack tidak menjawab.
“Kenapa kau tidak menjawab? Apa Ferdi benar-benar sudah meninggal?” tanya Ny.Inez, dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
“Ke kenapa..Ferdi kenapa bisa meninggal?” tanyanya dengan suara terbata.
Meskipun suaminya ternyata berbuat kejahatan tetap saja Tn.Ferdi adalah suaminya, yang menemaninya selama bertahun-tahun.
“Dia tertembak,” jawab Jack, membuat Ny.Inez terkejut juga Ara.
“Apa?” tanya Ny.Inez, dia sangat shock, menatap Jack dengan airmata menetes.
“Tertembak? Bagaimana dia bisa tertembak?” tanya Ny.Inez, menahan airmata yang ingin tumpah.
“Aku yang menembaknya,” jawab Jack. Tentu saja Ny.Inez dan Ara terkejut.
Ara yang sedang memeluk tangan Jack langsung melepaskannya dan menatap suaminya tidak percaya.
“Jack, apa yang kau lakukan? Kau membunuh Tn.Ferdi? Kau..apa kau menjadi seorang pembunuh sekarang?” tanya Ara, langsung saja matanya memerah.
Mimikirkan bagaimana kalau Jack ditahan dipenjara, apa dia akan selamanya sendirian? Tangannya langsung memeluk perutnya. Hatinya kembali sedih, apa takdir akan memisahkannya kembali dengan Jack?
__ADS_1
“Kau…kau menembaknya?” tanya Ny.Inez menatap Jack.
Jack tidak menjawab.
Ny.Inez menatap Jack tanpa bicara, hanya airmatanya yang menetes.
“Kau, kau dendam pada Ayah tirimu?” tanya Ny.Inez, menahan isak tangisnya yang tersekat didadanya.
“Dia menculikku sebelum aku pulang ke Paris,” jawab Jack.
Ara dan Ny.Inez semakin terkejut. Ara terdiam, jadi yang membuat Jack menghilang itu Tn.Ferdi?
Ny.Inez menunduk sambil menangis.
“Dia ingin membunuhku, dia tidak suka aku kembali ke Paris, dia ingin menghabiskan keturunan Constantine,” kata Jack.
Ny.Inez tidak bisa berkata-kata lagi, dia tidak menyangka suaminya itu akan nekat menyakiti Jack. Ny.Inez hanya menunduk dan menangis.
Ara tercengang mendengarnya, dia kembali memeluk perutnya dan menatap Jack.
“Jack, apa Tn.Ferdi ingin membunuh bayiku?” tanyanya sambil kembali mendekati Jack dan memegang tangan pria itu.
“Iya sayang,” jawab Jack.
Tangan yang dipegang Ara itu langsung ditariknya lalu memeluk istrinya. Ara sangat ketakutan mendengarnya.
“Jack, aku jadi takut, apa rumah ini aman?” tanya Ara.
Jack mencium keningnya Ara.
“Aman, kau tidak perlu khawatir,” ucap Jack, mengusap-usap punggung istrinya.
Ny.Inez terus menunduk sambil menangis.
Ara dan Jack menatapnya.
Ara menengadah menatap suaminya, memberi syarat supaya Jack menghibur ibunya.
Perlahan Jack melepaskan pelukannya, berjalan menghampiri ibunya lalu memeluknya. Ny.Inezpun langsung memeluk Jack dengan tangis yang semakin keras.
Ara hanya menatap Ibu dan anak itu. Dia berharap hubungan Jack dan Ibunya membaik. DIa juga tahu kalau Jack sebenarnya rindu dengan perhatian Ibunya.
“Ibu minta maaf, kalau bukan karena salah Ibu, semua ini tidak akan terjadi,” ucapnya disela tangisnya.
Jack tidak menjawab, dia terus memeluk Ibunya.
Entah berapa lama Ny.Inez menangis mengeluarkan kesedihan dan penyesalannya di pelukan Jack. Setelah reda, Ara mengantar Ny.Inez ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah membantunya berbaring dan diselimutinya, Ara keluar dari kamar itu membiarkan mertuanya untuk beristirahat.
Dari kamar Ny.Inez, Ara pergi ke kamarnya, dilihatnya Jack sedang berdiri menatap foto pernikahan mereka di dinding.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Ara, lalu menutup pintu kamarnya.
Kemudian dihampirinya suaminya itu. Jack menoleh padanya, tersenyum dan langsung mencium bibirnya sambil mengusap perut istrinya.
“Kau istirahatlah, kau pasti lelah,” kata Jack.
“Jack, ada yang aku khawatirkan,” ucap Ara, sambil memeluk pinggangnya Jack.
“Soal apa?” tanya Jack, menatap istrinya.
“Apa kau akan dipenjara karena membunuh Tn.Ferdi?” tanya Ara.
Jack tersenyum mendengarnya, dia sudah menduga pasti istrinya sudah gelisah lagi.
“Kau jangan khawatir soal itu, semua akan baik-baik saja. Aku juga dilindungi intitusiku, lagipula itu pembelaan diriku, kalau aku tidak melakukannya, aku yang akan mati. Ada pengacara yang akan membantuku,” jawab Jack.
Ara menatap pria itu lekat-lekat. Kedua tangannya terulur menyentuh dadanya Jack.
“Aku tidak mau berpisah denganmu lagi, itu sangat menyedihkan,” ucap Ara.
__ADS_1
Jack tersenyum mendengarnya.
“Aku senang kita bisa bersama lagi,” ucapnya, mengusap-usap baju suaminya.
“Aku juga, aku tidak sabar ingin melihat bayi kita. Kapan kau ke Dokter? Aku ingin tahu jenis kelaminnya!” kata Jack, sambil meraih tubuhnya Ara, memeluknya dari belakang. Kedua tangannya mengusap-usap perut istrinya, sambil sesekali mencium pipinya Ara.
“Aku bahagia bisa bersamamu lagi,” kata Jack.
Ara menoleh kesampingnya, sebuah ciuman mendarat di bibirnya.
“Aku juga,” ucapnya.
Jack semakin erat memeluknya, merekapun melihat foto didinding itu beberapa saat.
“Kau istirahtalah, aku akan ke ruang kerja,” kata Jack, sambil melepaskan pelukannya.
“Kau juga lelah, apa harus langsung bekerja?” tanya Ara.
“Tidak apa-apa, sebentar saja,” jawab Jack, lalu keluar dari kamar itu.
Ara hanya menatap kepergian suaminya. Matanya kembali melihat fotonya di dinding.
Kemudian terdengar dering di meja beberapa kali. Ara menoleh kearah meja, ternyata ponselnya Jack ketinggalan, lalu diambilnya ponsel itu.
Dia melihat sebuah nama yang tidak di kenalnya, sepertinya seseorang dari luar negeri.
Diapun menoleh kearah pintu, Jack sudah pergi. Arapun mengambil ponsel itu lalu keluar dari kamarnya,.
Dengan ponsel yang terus berbybunyi, dia mencari Jack ke ruang kerjanya. Deringnya sangat berisik karena beberapa kali menelpon, tapi Ara tidak berani mengangkatnya. Diapun segera ke ruang kerjanya Jack dan membukanya.
“Jack! Ada telpon!” ucapnya, sambil masuk keruang kerja itu, ternyata Jack tidak ada. Bersamaan dengan ponsel itu mati.
“Hmm mati, kemana sih Jack, katanya mau ke ruang kerja?”tanyanya, bicara sendirian.
Ara mengedarkan pandanganya ke ruangan kerja itu, disana masih tertempel gambar-gambarnya dulu. Arapun tersenyum melihat gambar wajahnya yang Jack buat saat dia depresi.
“Kau berbakat jadi pelukis,” ucapnya sambil menyentuh salah satu gambar itu.
Setelah itu Ara menoleh ke meja kerjanya Jack, masih ada gambar itu, Arapun mendekati meja itu dan mengambil beberapa tumpukan gambar itu.
“Dia menggambar wajahku sebanyak ini!” gumamnya, sambil melihat gambar yang ada ditangannya.
Ara kembali menyimpan gambar itu dimeja, tapi tangannya terhenti saat melihat sebuah amplop diatas meja itu yang tadi tertutup oleh gambarnya.
Yang menarik adalah dia melihat kop surat nama rumah sakit diamplop itu.
Disimpannya gambae itu diatas meja yang kosong lalu mengambil amplop itu dan membacanya.
“Kenapa ada surat dari rumah sakit? Jangan-jangan Jack sakit tidak bilang-bilang!” ucapnya, lalu dengan tergesa-gesa mengambil isi dari amaplop itu lalu membacanya.
Seketika tangan Ara langsung bergetar saat membacanya. Dia tidak percaya apa yang sedang dibacanya. Hasil tes DNA dirinya dengan Ny.Imelda? Yang benar saja! Jack melakukan ini diam -diam? Dan, dia semakin shock saja saat melihat hasilnya, tes itu cocok.
“Ap..apa ini?” gumamnya, dengan jantung yang berdebar kencang.
Kertas itu masih dipegangnya, dia sungguh tidak percaya.
Apa ini? Apa yang telah Jack lakukan? Jack melakukan tes DNA dirinya dengan Ny.Imelda dan hasilnya cocok?Jadi dia adalah Arum? Bagaimana mungkin dia Arum? Arum sudah tenggelam dilaut! Tidak, dia bukan anaknya Ny.Imelda! Dia putrinya Ibu dan Ayahnya, bukan putri Ny.Imelda!
Ara melempar kertas itu, mundur beberapa langkah sampai punggungnya menabrak tembok. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya semakin gemetaran.
************
Readers maaf ya dua hari kemarin aku tidak up, aku sedang bersedih, karena ternyata aku dibohongi lagi, sepertinya seumur-umur akan berbohong terus, capek!
Jadi aku tidak focus nulis, udah dicoba nulis juga ga selesai- selesai, semoga bab ini tidak aneh.
Terimakasih buat yang masih baca sampai bab ini.
******
__ADS_1