Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-131 Menerimamu Apa Adanya


__ADS_3

Saat Jack dan Ara sudah memasuki kamar, Ara menghentikan langkahnya.


“Jack,” Ara menahan tangannya Jack.


Jack membalikkan badannya menatap istrinya, keheranan.


“Katakan padaku ada apa sebenarnya?” tanya Ara, menatap Jack menuntut jawaban pria itu.


“Tidak ada apa-apa,” jawab Jack, menggelengkan kepalanya.


Ara langsung memasang wajah cemberut. Diam berdiri saja, menunduk dan mematung. Melihat istrinya begitu yang menandakan marah padanya, Jack segera memegang tangannya Ara.


“Lihat aku,” kata Jack.


Ara tetap saja menunduk, dia kesal pada Jack yang selalu main rahasia-rahasiaan.


“Lihat aku,” pinta Jack lagi, kedua tangannya menyentuh pipinya Ara yang terpaksa menatapnya.


“Aku tidak suka kau bersikap seperti itu, kau tidak jujur padaku,” keluh Ara.


Jack terdiam sesaat menatap istrinya yang sedang kesal padanya.


“Baiklah ada yang ingin aku jelaskan,” kata Jack.


Ara tidak menjawab, sedikit menengadah  menatap Jack saja, karena tubuh Jack lebih tinggi darinya.


“Suamimu ini, seorang Jendral di GIGN,” ucap Jack. Terhenti sejenak lalu bicara lagi.


“ Aku punya ikatan dinas dengan negaraku,” lanjut Jack.


Ara mendengarkan dengan hati yang berdebar kencang, apakah Jack akan mengatakan hal yang buruk?


Jack mulai bicara lagi.


“Tragedi itu sangat membekas dalam jiwaku, tidak bisa menyelamatkan Arum dan tenggelamnya Ayahku sangat membuatku menyesal, sehingga saat aku keluar dari RSJ, aku memutuskan untuk mendidikasikan diriku masuk GIGN, pasukan khusus dibidang kemanusiaan, penyelamatan dan sebagainya. Bukan di Perancis saja tapi juga diseluruh dunia. Karena kejadian itu membuat aku merasa tidak berguna, dengan masuk GIGN aku bisa menyelamatkan  banyak orang, dan itu mengobati penyesalanku atas tragedi itu,” kata Jack, panjang lebar.


Ara masih tidak bicara, hanya menatap matanya Jack saja.


“Aku sudah terikat sumpah dan berkewajiban menjalankan tugas negaraku,” kata Jack.


Jack menghela nafas sebentar, mencoba mencari kata-kata yang enak untuk didengar.


“Jadi… kau sebagai istriku harus siap jika suatu saat aku harus pergi bertugas meninggalkanmu,” kata Jack.


Ara masih diam, hanya hatinya saja yang gelisah mendengar perkataannya Jack itu.


“Sebenarnya aku berat mengatakan ini. Dulu sebelum masuk ke militer, sebelum aku mengenalmu, hanya ada penyesalan atas tragedi itu, tapi sekarang, jujur aku merasa berat untuk meninggalkanmu, aku ingin selalu bersamamu,”  lanjut Jack.


“Apa kau akan pergi?” tanya Ara.


“Tidak untuk sekarang ini, mungkin nanti,” jawab Jack.


“Apa kau pergi akan lama?” tanya Ara.


“Tidak juga,” jawab Jack.


“Berapa lamapun kau pergi bertugas, aku akan setia menunggumu,” ucap Ara, kenapa mengatakan hal itu terasa ada sesak didadanya?

__ADS_1


“Aku akan selalu menunggumu,” lanjut Ara lagi.


Jack mengusap pipinya Ara.


“Aku mengatakan ini supaya kau mengerti kondisiku. Aku menikahimu saat aku depresi dan tidak memberimu banyak waktu untuk berfikir. Aku tidak memikirkan  hal apapun selain ingin menikahimu tanpa memberi tahu siapa aku, pekerjaanku apa. Aku hanya ingin menikahimu saja,” kata Jack, menghela nafas sebentar.


“Mungkin kalau aku normal dan jujur soal ini, kau pun tidak akan mau menikah denganku,” lanjut Jack.


“Tidak, kau salah,” ucap Ara, menggelengkan kepalanya, membuat Jack terkejut.


“Aku menikahimu dengan kelebihan dan kekuranganmu, aku tidak akan menghianati janji setia pernikahan kita, untuk selalu bersama dalam suka dan duka,” kata Ara.


“Sayang,” ucap Jack, dia  merasa terharu mendengar perkataannya Ara, tangannya berulang kali mengusap pipinya Ara.


“Ini yang membuatku berat meninggalkanmu. Kau adalah bagian dari hidupku, aku sangat mencintaimu,“ ucap Jack.


“Aku mengerti apa yang kau maksudkan, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, hanya saja aku berpesan satu hal padamu,” ucap Ara.


“Pesan? Ada yang kau inginan?” tanya Jack.


“Dimanapun kau berada, setialah padaku, dan berjanjilah untuk pulang secepatnya,” jawab Ara.


“Aku berjanji, aku berjanji akan setia dan cepat pulang,” ucap Jack.


“Aku pegang janjimu,” kata Ara, sambil mengangguk.


Jack langsung mencium bibirnya dengan lembut, beberapa saat melepas ciuman itu dengan berat. Jemarinya mengusap bibirnya Ara perlahan.


“Ada tugas Negara memanggilku, tapi aku masih ingin bersamamu, aku sangat berat meninggalkanmu,” ucap Jack.


“Kau pergi untuk betugas, bukan untuk meninggalkanku, kau juga memiliki tanggung jawab yang besar pada negaramu,” kata Ara.


“Kau tahu apa yang dikatakan supir taxi itu?” tanya Ara.


“Supir taxi yang mana?” tanya Jack, keheranan.


“Supir taxi yang mengantarku ke rumahmu di Paris,”jawab Ara.


“Apa katanya?” tanya Jack.


“Mereka menyebutmu Jendral 9 nyawa, kau menyelamatkan banyak orang, begitu banyak orang yang berterimakasih padamu, mereka kagum padamu. Aku juga sangat bangga padamu,” jawab Ara, sambil tersenyum, senyum yang selalu terlihat cantik dimatanya Jack.


Jack menatap wajah istrinya itu. Selama hidupnya baru sekarang dia merasa benar-benar dicintai, orang yang mencintainya itu adalah istrinya, bagaimana dia tidak merasa berat meninggalkannya?


“Kalau kau ada pekerjaan, pergilah, kau pergi bukan untuk selamanya, tapi kau pergi untuk kembali, aku akan menunggumu,” kata Ara.


Mendengarnya semakin membuat hati Jack merasa berat saja meninggalkannya. Ternyata istrinya sangat mengerti dengan pekerjaannnya.


“Kau yakin?” tanya Jack.


“Iya,” jawab Ara.


Jack langsung mencium kening istrinya kemudian pipinya, hidungnya  bibirnya lalu memeluknya dengan erat.


“Aku sangat mencintaimu,” ucap Jack.


“Aku juga,” jawab Ara, balas memeluk erat tubuhnya Jack, meskipun dalam hatinya berat untuk melepaskan Jack tapi itu sudah menjadi tugasnya Jack dan apa yang dilakukan Jack adalah tugas mulia, dia harus mendukungnya.

__ADS_1


“Jack apa kita tidak akan mandi-mandi? Airnya jadi dingin,” ucap Ara karena Jack masih terus memeluknya.


Jackpun tersadar dan segera melepaskan pelukannya.


“Kau benar, tapi kalau kita masuk bathub bersama airnya kembali panas,” ucapnya, membuat wajah Ara memerah, sepertinya Jack punya niat lain.


Dan benar saja dugaan Ara, dia langsung berteriak kaget karena Jack sudah menggendongnya.


“Kau kebiasaan!” keluh Ara sambil memeluk lehernya Jack.


Pria itu tidak menjawab, hanya membawa istrinya masuk ke kamar mandi.


Meskipun harus menunggu berjam-jam di ruang kerja itu, prajutit-prajurit itu tampak tidak bosan dan tidak mengeluh, sepertinya memang mereka sudah terbiasa disiplin.


Pak Beni yang menemaninya yang merasa gelisah karena Tuannya tidak juga datang-datang ke ruang kerja, entah apa yang dilakukan Tuannya itu sampai berjam-jam, jangan-jangan lupa kalau ada tamu.


Tidak berapa lama akhirnya pintu ruang kerja itu terbuka juga, Jack masuk ke ruangan itu.


Kedua prajurit itu langsung berdiri bersamaan.


“Jendral!” sapa mereka.


“Kalian tunggu sebentar, aku akan menuliskan surat,” kata Jack.


“Siap Jendral!” jawab mereka bersamaan lagi.


Pak Beni menoleh pada Jack yang tidak menyuruhnya keluar, jadi dia masih diam di ruangan itu.


Jack pergi ke meja kerjanya dan mengambil kertas kosong diletakkan diatas meja, sedangkan kedua Prajurit itu masih berdiri menunggunya.


Jack tampak ragu menulis dikertas itu, tapi dia juga teringat ucapannya Ara yang mengijinkannya pergi, diapun mulai menulis dalam bahasa sandi.


‘Aku siap,’ tulisnya. Hanya itu, lalu kertas itu dilipatnya.


Jack menghampiri prajuit itu, memberikan surat itu.


“Siap Jendral,” kata mereka memberi hormat. Kemudian mereka keluar dari ruangan itu bersama Jack juga Pak Beni.


Ara yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya, melihat suaminya dan dua prajurit itu juga Pak Beni menuruni tangga mau keluar rumah. Dia segera mengikuti, malangkahkan kakinya dengan pelan melihat kerpergian tamunya Jack.


Entah tugas apa yang menanti suaminya, hanya dia harus siap menerima apapun karena dia mencintai Jack. Suaminya itu mencintai pekerjaannya, dia juga harus mencintai apa yang disukai Jack dan apa yang sudah menjadi keputusannya Jack, dia tidak akan pernah merasa menyesal sudah menikahinya.


Tidak berapa lama terdengar suara deru mobil meninggalkan rumah itu.


Ara segera mengikuti mereka ke teras. Jack menoleh ke arahnya, sedangkan Pak Beni kembali masuk ke rumah.


Mereka akan masuk lagi, tapi terhenti saat mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah, mendekati teras dan berhenti tidak jauh dari mereka.


Ara tampak keheranan, tidak dengan Jack, wajahnya langsung berubah masam saat melihat mobil siapa yang masuk kerumahnya, itu adalah mobil ibunya, Ny.Inez.


Jack akan masuk tapi Ara memegang tangannya, menahannya. Terpaksa Jackpun diam, sebenarnya dia malas untuk bertemu ibunya.


Ny.Inez keluar dari mobil itu dengan membawa sebuah kantong.


“Nonya!” sapa Ara, tersenyum ramah, sedangkan Jack diam saja.


Ny.Inez balas tersenyum pada Ara, dan terdiam saat melihat sikapnya Jack yang hanya diam saja, jelas terlihat tidak menyukai kedatangannya.

__ADS_1


***********


__ADS_2