Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-188 Peresmian Tempat Bermain ( Part 2 )


__ADS_3

“Jack!” terdengar seseorang menyapanya.


Jack menoleh pada yang menyapanya, ternyata ibunya, Ny.Inez.


“Jack!” panggil Nyonya Inez.


Jack menatap wanita itu.


“Selamat ya,” ucap Ny Inez.


“Terimakasih,” ucap Jack sambil tersnyum. Dilihatnya ibunya tidak berkata-kata lagi hanya matanya terlihat memerah dan sudah tergenang airmata.


Jack mengulurkan tangannya menyentuh pipi Ibunya, menghapus airmatanya.


“Aku menyayangi Ibu,” ucap Jack, semakin membuat hatinya Ny.Inez bersedih.


“Ibu juga menyayangimu,” ucap Ny.Inez, lalu menoleh pada Ara, tangannya mengusap rambutnya Rubeina dan Galand.


“Semoga kalian bahagia selamanya,” ucap Ny.Inez.


“Terimakasih,” ujar Ara sambil tersenyum.


“Selamat! Selamat sayang! Tempat ini sangat indah!” terdengar suara seseorang yang berteriak, siapa lagi kalau bukan Bu Amril, yang menghampiri mereka.


“Jack, apa di dalam ada kantin juga? Jajanan-jananan makanan kecil yang sangat lezat-lezat itu?” tanya Bu Amril.


“Ada banyak, Ibu mertua,” jawab Jack.


“Kalau begitu bolehkan Ibu tinggal beberapa waktu lagi disini? Ibu ingin sering bermain kesini! Kau membuatkan pintu untuk menerobos tempat bermain ini kan?” tanya Bu Amril.


“Tidak Ibu, demi keamanan Jack dan yang lainnya,semua pintu masuk ada didepan,” jawab Ara.


“Ooh, seharusnya kau buat satu pintu kecil lubang tikus gitu untuk masuk kesini, jadi Ibu gampang lewat tidak usah berputar ke depan,” keluh Bu Amril.


“Tidak, nanti anak-anakku akan terus bermain ke taman ini! Belajar mereka akan terganggu!” kata Ara, menggelengkan kepalanya.


“Ya, kau benar, kalau begitu Ibu akan masuk kesana,” kata Bu Amril dengan senang hati, langsung menarik tangan Pak Amril yang menoleh pada Ara sambil tersenyum.


“Selamat ya sayang, semoga kalian bahagia,” kata Ny. Imelda.


“Terimakasih Bu,” ucap Ara pada ibu kandungnya sambil tersenyum.


“Apa kau mau lihat kedalam?” tanya Ny.Imelda menoleh pada Galand.


Anak  itu menengadah keatas menatap ayah dan ibunya.


“Pergilah dengan nenek, jangan nakal, jangan merepotkan nenek!” kata Ara.


“Iya,Bu!” jawab Galand, tersenyum senang.


Ny.Imeda langsung meraih tangannya Galand.


“E eh, aku juga mau mengajak cucuku bermain!” tiba-tiba Bu Amril balik lagi menghampiri Ara.


“Sayang, Rubiena Ibu ajak bermain ya?” teriak Bu Amril.


Ara menoleh pada Jack, yang mengangguk dan mencium pipi si cantik itu.

__ADS_1


“Kau mau ikut nenekmu bermain?” tanya Jack.


“Iya,” jawab Rubiena.


“Bermainlah, tapi hati-hati, jangan jauh-jauh dari nenekmu,” ucap Jack, kembali mencium pipi putrinya itu.


Ara memberikan Rubiena pada Bu Amril yang segera menggendongnya dengan semangat. Ibunya itu masih saja terlihat tidak mau kalah dari ibu kandungnya.


“Bersenang-senanglah!” teriak Ara, lalu menoleh pada Jack yang tersenyum melihat kepergian putrinya.


“Putriku sangat cantikkan? Dia sangat lucu,” kata Ara, menatap suaminya.


“Putriku, dia sangat mirip denganku,” ucap Jack.


Ara langsung mencibir, kenapa putra dan putrinya malah mirip Jack, terkesan dia tidak punya andil melahirkan mereka.


Jack mendekatkan bibirnya ke telinga Ara.


“Kalau bayi kita kembar, satu mirip denganmu satu mirip denganku,” ucap Jack.


Ara menoleh menatap suaminya yang tidak menjauh.


“Kau serius masih ingin punya anak lagi?” tanya Ara.


“Kita belum punya anak kembar kan?” Jack malah balik bertanya, menatap mata cantik istrinya lalu mencium bibirnya.


“Selamat ka,” terdengar suara Bastian menyapa, membuat Jack melepaskan ciumannya dan menoleh kearah Bastian.


“Terimakasih,” jawab Jack.


“Aroon, kau juga bermainlah didalam! Galand sudah pergi sama Nenek,” ujar Ara sambil menunduk  menatap putranya Bastian.


Tentu saja Arum terkejut, karena Aroon terlalu kecil untuk pergi sendiri.


“Aroon, tunggu! “ teiak Arum sambil berlari mengejar putranya, diikuti oleh Bastian.


“Tuan!” terdengar suara seorang pria yang sangat Jack kenal, Pak Beni. Pria itu menghampirinya bersama seorang wanita paruh baya tapi lebih tua dari ibunya.


Jack menatap pria itu.


“Terimakaih kau sudah datang,” kata Jack.


“Aku pasti datang Tuan!” ujar Pak beni.


“Terimakasih,” ucap Jack.


“Perkenalkan ini istriku, Paula,” kata Pak Beni, tangannya memeluk bahu istrinya, yang langsung mengulurkan tangannya pada Jack dan Ara.


Jack dan Ara tampak tertegun, ini pertama kalinya mereka bertemu dengan istrinya Pak Beni.


“Senang berkenalan denganmu, aku minta maaf aku tidak tahu kalau Pak Beni mempunyai keluarga,” kata Ara.


“Tidak apa, sejak awal memang suamiku sudah menjelaskan pekerjaannya seperti apa. Dan aku senang karena Tn.Constantine sangat baik pada suamiku, aku dan anak-anak meskipun kurang waktu bersama dengan suamiku tapi secara ekonomi kami sangat berkecukupan,” jawab Bu Beni, sambil tersenyum.


“Syukurlah aku senang mendengarnya. Aku merasakan sendiri beratnya berpisah dengan suami meskipun dengan alasan pekerjaan,” ucap Ara sambil menoleh pada Jack yang langsung memeluk bahunya dan mencium keningnya.


“Ada yang ingin saya sampaikan, Tuan,” kata Pak Beni.

__ADS_1


“Tentang apa?” tanya Jack.


“Saya dan istri sudah mulai mengisi rumah tua kami di Paris, saya ingin menghabiskan waktu berdua dengan istri disana. Kalau Tuan dan Nyonya tidak keberatan, datanglah ke tempat masa tua saya dan istri,” kata Pak Beni.


“Benarkah? Kalian kini tinggal diParis?” tanya Ara sumringah.


“Benar, datanglah kerumah masa tua kami,” jawab Bu Beni.


 “Tentu saja, kita akan kesana, benar kan Jack?” tanya Ara pada Jack.


“Iya, kita akan kesana!” jawab Jack.


“Pak Beni datang berdua saja?” tanya Ara.


 “Dengan salah satu cucuku yang paling kecil, anak-anakku yang lain belum bisa datang semua karena jadwal pekerjaan mereka, jadi datangnya menyusul,” jawab Pak Beni.


Dia menoleh pada seorang babysitter yang membawa seorang anak yang lebih besar dari Galand yang sudah sampai di pintu masuk menarik-narik tangan babysitternya mengajak masuk, sedangkan Babysitternya menyuruhnya menunggu Pak Beni dan istrinya.


Ara tersenyum melihat kearah mereka, begitu juga dengan Jack.


“Cucumu ingin segera masuk,” ucap Ara.


“Selamat untuk Tuan dan Nyonya, semoga kalian bahagia,” kata Pak Beni.


“Terimakasih,” jawab Jack dan Ara bersamaan.


Pak Benipun segera berpamitan bersama istrinya karena cucu mereka terus memanggil manggilnya supaya mengantarnya masuk kedalam arena bermain.


Jack menoleh pada Ara yang memperhatikan kepergian Pak Beni dan istrinya. Jack menatap istrinya itu dengan senyum menghias bibirnya.


“Kau bahagia?” tanya Jack.


“Iya, tempat bermainnya sangat indah,” jawab Ara mengangguk, balas menatap suaminya.


Jack langsung memeluk Ara dan mencium keningnya. Ara balas memeluk tubuh suaminya dengan erat.


“Semoga kita, aku kau, anak-anak dan juga keluarga besar kita bahagia,” kata Ara.


“Bagaimana kalau kita juga masuk kesana dan ikut bermain dengan yang lain. Di dalam juga ada tenda eskrim gratis buat anak-anak,” ajak Jack.


“Gratis buat anak-anak?” tanya Ara menatap Jack, sambil melepaskan pelukannya.


“Iya gratis, semua jajanan gratis,” jawab Jack, balas menatap istrinya tidak mengerti karena tatapannya seperti yang marah dan bibirnya cemberut.


“Aku bukan anak-anak Jack, masa aku ingin eskrim harus bayar?” ujar Ara, cemberut.


Jackpun terdiam, dia tidak memikirkan hal itu, karena di bannernya dituliskan gratis untuk anak-anak tidak kefikiran orang dewasa juga suka eskrim.


“Kalau begitu biar Galand dan Rubiena saja yang mengambilkan eskrim untukmu,” kata Jack sambil tersenyum.


“Iya kita pakai nama mereka untuk dapat eskrim gratis,” jawab Ara sambil tertawa.


“Iya tapi anak-anak juga terbatas tidak boleh lebih dari dua mangkuk, nanti gigi mereka rusak!” kata Jack.


“Berarti aku cuma kebagian satu mangkuk,” gumam Ara kecewa.


“Dua, kau kan suka menggambil eskrim coklatku,” ujar Jack, membuat Ara tertawa lagi.

__ADS_1


“Iya ayo,” ajak Ara sambil memeluk tangannya Jack, merekapun berjalan beriringan masuk erea taman bermain itu.


*********


__ADS_2