Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
Extra Part - 5 Bulan Madu (End)


__ADS_3

Petugas hotel membuka pintu kamar hotel itu sambil memasukkan beberapa koper.


“Silahkan, semoga bulan madu Tuan dan Nyonya menyenangkan!” ucap pria berseragam itu.


“Terimakasih!” jawab Jack.


Petugas hotel itupun keluar dari kamar itu dan kembali menutup pintunya.


Ara menoleh pada suaminya sambil tertawa, Jack langsung memeluknya dan menciumnya.


“Sangat lucu dikira bulan madu!” ucap Ara, balas mencium bibirnya Jack.


“Kita memang sedang berbulan madu kan?”  Jack terus menciumi wajah istrinya.


“Hem anggap saja begitu!” Ara kembali tertawa, lalu kemudian dia diam hanya menatap wajah suaminya itu, kedua tangannya melingkar dileher pria tampan itu.


Jack juga menatapnya. Sekarang dilihatnya mata istrinya itu memerah.


“Aku merasa sangat beruntung memilikimu Jack.”


Jack tidak menjawab, membiarkan istrinya mengungkapkan isi hatinya. Dilihatnya butiran bening mulai menetes dipipinya. Jemary Jack menghapus airmata itu.


“Sekarang aku menangis bukan karena sedih, tapi aku merasa sangat bahagia. Aku bahagia bisa selalu bersamamu dan anak-anak!”


“Aku juga, aku bahagia karena kau sudah menjadi istriku, Ibu dari anak-anakku, aku sangat beruntung memilikimu!” balas Jack, lalu mencium bibirnya Ara dengan lembut.


“Apa agenda kita sekarang?” tanya Ara setelah Jack melepaskan ciumannya.


“Saperti biasa yang dilakukan sepasang pria dan wanita yang berbulan madu.”


“Hem apa itu?”


“Apa aku harus menjelaskannya?”


“Tentu saja!”


“Kau serius mau mendengarkan apa yang ingin aku katakan?”


Ara mengerutkan dahinya tampak berfikir keras. Tapi sebelum dia menemukan jawabannya, Jack sudah menggendongnya dan membawanya ke tempat tidur.


“Sangat tidak romantis kita langsung ke tempat tidur, itu kan sudah biasa!” ucap Ara, saat tubuhnya dibaringkan Jack diatas tempat tidur.


Jack menatap istrinya itu yang sekarang tersenyum menggodanya.


“Memangnya apa? Apa kita kan melakukan gaya baru?” tanya Jack.


Ara langsung mencibir,” pertanyaannmu menunjukkan kalau kita sedang tidak berbulan madu! Kita harus pura-pura belum melakukan apa-apa!”


“Kau benar, tapi bagaimana aku bisa berfikir begitu, sudah tidak terhitung kita melakukannya, aku hafal sekali titik sentive tubuhmu, semua sudh di luar kepala.”


Ara langsung memberengut,” sepertinya bulan madu kita tidak akan menyenangkan!”


Jack malah tertawa,” Jadi kau punya ide apa?”


“Sepertinya aku belum melakuakn ini!” seru Ara, langsung bangun dari tidurnya dan turun dari tempat tidur itu.


“Melakukan Apa?” Jack tampak kebingunan, duduk menatap istrinya.


“Aku mendapat ide dari searching di internet,”


“Apa?” tanya Jack dengan bingung.


Ara lalu menarik tangan Jack supaya bersandar di sandaran tempat tidur itu.


Tangannya mulai membuka kancing-kancing kemejanya Jack.


“Kau mau memperkosaku?” tanya Jack.

__ADS_1


“Kira-kira seperti itu!”


“Ha? Kau serius?” Jack kaget sampai mencondongkan tubuhnya tapi Ara malah mendorong dadanya lagi supaya bersandar, Jackpun menurut, dia ingin tahu apa yang ingin dilakukan istrinya.


Ara melempar kemeja itu ke kursi, lalu tangannya terulur pada ikat pinggangnya Jack.


“Tidak biasanya kau bersikap begini,” ucap Jack, tapi membiarkan istrinya melakukan apapun yang diinginkannya, ternyata istrinya benar-benar melepaskan seluruh pakaiannya.


“Kau mempermalukanku kalau begini, aku belu mau bereaksi!” ucap Jack, matanya melirik pada bagian bawah tubuhnya. Ara langsung tertawa.


“Kau tenang saja, dia akan berdiri kalau aku bersiul, aku akan memberikan siulan yang paling merdu kali ini,” ucap Ara, membuat Jack kembali tertawa.


“Yang ada aku ingin tertawa kalau kau bicara begitu!!”


“Kau meragukan keahlianku merayu pria?”


Mendengar jawaban Ara membuat Jack terkejut dan bangun dari sandarannya.


“Apa maksudmu merayu pria? Kau berselingkuh? Kau merayu pria siapa? Waktu aku berdinas kau merayu pria begitu?” tanya Jack.


Ara menatap pria yang sedang menatapnya tajam itu.


“Kau ini gimana sih? Aku berusaha romantis, kenapa kau marah-marah? Tidak seru!” gerutu Ara.


“Jadi siapa pria yang kau rayu?”


“Kau lah, siapa lagi?” ucap Ara memberungut. Barulah Jack tersenyum dan bersandar lagi ke posisi tadi. Bersandar dengan tubuh yang tidak menggunakan apapun. Dia penasaran apa yang akan dilakukan istrinya.


Arapun turun dari tempat tidur itu lalu melepaskan pakaiannya perlahan. Jack tersenyum  melihatnya, jarang-jarang istrinya itu bersikap begitu, biasanya dia yang melepaskan pakaian istrinya.


Setelah Ara melepaskan semua pakaiannya, barulah Jack tahu apa maksud istrinya. Wanita itu sekarang berdiri didepannya dengan hanya menggunakan lingeri merah yang sangat mini. Dia pun langsung tertawa.


Melihat Jack tertawa, Ara langsung memberengut.


“Kenapa kau tertawa? Aku tidak cantik menggunakannya? Aku melihat di internet pakaian untuk yang berbulan madu supaya bulan madunya sukses salah satunya adalah menggunakan lingeri yang cantik,” ucapnya.


Ara menatap suaminya dengan wajah yang masam, bibir yang cemberut.


“Aku tahu kenapa kau tertawa, aku Ibu dengan empat anak, tubuhku tidak cantik lagi!” gumamnya.


Jack menghentikan tawanya, dia merasa bersalah membuat istrinya bersedih, menatap tubuh istrinya yang menggunakan lingeri warna merah itu. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat kepada Ara, dan dia langsung berteriak kaget saat Jack memeluk pinggangnya dan menariknya naik ketempat tidur.


Brug! Tubuh Ara terjatuh keatas tubuhnya Jack. Rambutnya sebagian menutupi wajah pria itu. Tangan Jack merapihkan rambut itu dan menatapnya.


“Aku tidak bilang kau tidak cantik, aku hanya ingin mengatakan apapun yang kau kenakan sudah sangat menggairahkanku. Kau tidak perlu berusaha menggunakan lingeri itu untuk menggodaku,” kata Jack.


 “Memangnya kenapa?”


“Percuma saja kau memakainya!”


“Kenapa? Lingerinya tidak cocok aku pakai?”


“Bukan,” Jack menggeleng.


“Terus apa?”


“Karena secantik apapun lingeri itu aku pasti akan melepaskannya, jadi percuma kau memakainya!” jawab Jack sambil tertawa, membuat istrinya itu juga tertawa, tapi kemudian tawanya hilang saat suaminya melemparnya kesamping merebahkan tubuhnya dan mulai mencumbunya.


Malam semakin dingin, entah berapa malam pertama yang mereka lewatkan, tapi setiap kali melakukannya terasa seperti malam pertama buat mereka, karena ada cinta kasih menyertainya.


Ungkapan cinta senantiasa terucap dari bibirnya Jack, dia sangat mencintai istrinya yang sudah memberikan kebahagiaan padanya. Diusapnya wajah yang berpeluh itu, rambutnya yang menjadi basah. Dia begitu bahagia memilikinya.


Beberapa jam kemudian mereka tertidur pulas.


Ara membuka matanya melihat suaminya yang terlelap. Ditatapnya wajah itu lalu diciumnya. Diapun membuka selimut, mengambil mantel tidurnya dan dipakainya sambil melangkah kearah meja yang ada minuman.


Diisinya gelas yang kosong itu dan meminumnya.

__ADS_1


Matanya menoleh pada jendela yang ternyata tidak ditutup rapat, pantas saja dia merasa sangat dingin. Disimpannya lagi gelas itu lalu pergi kearah pitu balkon dan membukanya.


Diapun keluar merasakan dinginya angin malam! Berjalan menuju pinggir balkon itu menatap  pemandangan yang sangat indah didepan matanya, pemandangan yang dimimpikan banyak pasangan yang berbulan madu.


Pintu balkon yang terbuka itu membuat Jack kedinginan lalu membuka matanya, ternyata istrinya tidak ada disampingnya, diapun turun dan mengambil mantelnya lalu memakainya, kakinya melangkah keluar kamar dan melihat istrinya yang berdiri sambil memeluk sikunya kedinginan. Jack langsung memeluknya dari belakang dan mencium pipinya.


“Apa cita-citamu tersampaikan sekarang?” tanya Jack.


“Iya, ternyata setelah aku searching lokasi-lokasi yang bagus untuk berbulan madu, ternyata aku kembali pada impianku saat gadis,” jawab  Ara, menolah pada Jack yang langsung mencium bibirnya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, bukan ketukan saja tai juga teriakan.


“Ayah! Ibu!” Teriak suara itu yang sangat mereka kenal, suara  Galand dan Rubiena.


Ara langsung menatap Jack.


“Jack bukankah kita sedang berbulan madu?” tanya Ara.


“Iya kita sedang berbulan madu.”


“Tapi kenapa ada anak-anak?”


“Setelah aku fikir, tidak ada salahnya berbulan madu dengan anak-anak, aku tidak bisa berpisah jauh dari anak-anak,” kata Jack.


Arapun diam.


“Aku minta maaf, selain aku mencihtaimu, aku juga mencintai anak-anak, aku tidak mau jauh dari mereka,” kata Jack, dia tahu sudah mengecewakan Ara di  acara bulan madu ini.


Ara langsung tersenyum mendengarnya.


“Bukankah bulan madu kita akan semakin lengkap dengan kehadiran anak-anak?”  kata Ara.


Jack langsng tersenyum senang dan memeluk juga mencium istrinya. Terdengar lagi suara yang mengetuk-ngetuk pintu. Jack segera melepaskan pelukannya lalu masuk kedalam kamarnya dan membuka pintunya.


Galand dan Rubiena  langsung berhambur masuk dan naik ke tempat tidur loncat-loncat. Ara menatap mereka yang membuat berantakan tempat tidur itu setelah dia dan Jack mengacak-acaknya tadi.


“Anak-anak biarkan bersama kami malam ini, kalian kembali saja ke kamar kalian,” kata Jack pada Babysitter.


“Baik Tuan!” jawab mereka.


Jack mengambil Edgar sedangkan Ara mengambil Aima. Jack langsung mencium Edgar juga Aima,  lalu menoleh pada putra putrinya yang masih loncat-loncat di tempat tidur.


“Mau bulan madu atau dirumah situasinya sama saja,” ucap Ara.


Mendengarnya membuat Jack langsung mencium pipi istrinya, lalu menoleh pada Galand dan Rubiena, “Kalian mau melihat menara Eiffel dari sini?”


“Mau!” Teriak mereka sambil turun dari tempat tidur.


 Jack dan Ara keluar dari kamar itu, berdiri di balkon kamar itu menatap pemandangan indah disana.


“Dari sini sangat jelas kan? Tempatnya sangat strategis sekali untuk melihat menara itu yang dihiasi lampu-lampunya,” ucap Jack.


Sebelah tangan Jack menggendong Edgar dan satunya menggendong Rubeina. Sedangkan Ara menggendong Aima dan Galand berdiri di depannya.


“Kita tinggal di Paris dan berbulan madu di Paris, sangat lucu bukan?” gumam Ara sambil menoleh pada Jack.


“Kita bisa ketempat lainnya besok,” kata Jack.


“Tidak, tidak perlu, ini adalah tempat yang paling indah buat keluarga kita,” ucap Ara.


Jackpun tersenyum lalu mencium pipinya Ara. Satu tangan Ara langsung memeluk pinggangnya Jack yang sibuk dengan kedua anak digendongannya. Kini tatapan mereka kembali tertuju pada pemandangan menara Eiffel yang menyala indah didepan mereka.


Sebenarnya bukan hanya karena pemandangannya yang indah tapi rasa cinta dihati mereka yang membuat bulan madu sederhana ini terasa begitu membahagiakan bersama anak-anak yang mereka cintai.


******


                                                   THE END

__ADS_1


__ADS_2