
Ara menyusul Jack ke dalam kamar, dilihatnya pria itu sedang melap rambutnya dengan handuk.
“Aku heran, kenapa wanita itu datang kesini lagi? Aku kan sudah bilang supaya dia menjauhimu!” gerutu Ara dengan wajah yang cemberut.
Jack menoleh pada istrinya, yang begitu saja melewatinya langsung masuk kamar mandi menyalakan air kran.
“Dia seenaknya saja mengatakan kau menikahiku karena kau mengira aku itu dia, sangat menyebalkan!” gerutu Ara lagi, saat keluar dari kamar mandi.
Ara langsung menghampiri Jack, mengambil handuk yang ada di rambutnya Jack.
“Kau mencintaiku kan? Eh dia bilang orang depresi tidak tahu artinya cinta! Bagaimana aku tidak kesal? Jadinya aku mendorongnya!” kata Ara, lalu menarik tangan Jack masuk ke kamar mandi.
Jack hanya diam saja melihat sikap istrinya itu. Wanita itu menyiapkan sabun dan sampo dekat bathub , sambil mengecek kadar kehangatan air di bathub itu.
Ara yang sedang berjongkok di bathub itu menoleh pada Jack yang masih berdiri menatapnya, memperhatikan istrinya yang tidak berhenti mengomel.
“Dia itu tuli atau apa? Semua karena orangtuamu, Ibumu dan ayah tirimu tidak menyukaiku, padahal aku kurangnya apa? Aku menerimamu apa adanya, aku juga menyayangimu, salahku dimana?” kata Ara, lalu bangun dan tangannya membuka piyama handuk yang Jack pakai.
“Aku tahu Arum itu cantik, tapi aku juga tidak jelek jelek amat,” ucap Ara, sambil menoleh kearah cermin yang ada di kamar mandi itu dan berkaca.
Ara menyimpan piyama handuk itu di jemuran handuk, lalu menarik tangan Jack berjalan menuju toilet lalu berjongkok dan melepaskan celana renangnya Jack.
Jack mengerutkan keningnya, keheranan, tumben istrinya mau memandikannya!
Ara kembali berjongkok, memejamkan mata dan melepaskan bagian penutup yang paling privasi itu.
“Jack, aku akan bersiul, cepatlah buang air!” ucapnya, lalu mundur membelakangi Jack lalu mulai bersiul.
“Swit wiww!” siul Ara.
“Sudah belum Jack?” tanyanya.
Jack mengerutkan dahinya lagi, apa selamanya dia akan diperlakukan seperti ini, meskipun dia sudah sembuh? Istrinya akan bersiul siul untuk membangunkan Jedral kecilnya, yang sepertinya sudah begitu menurut pada siulan istrinya.
“Aku ulang sekali lagi,” ucap Ara.
“Swuit wiiww!” siul Ara lagi lebih kencang.
Jack hanya bisa pasrah saja, Tidak lama terdengar suara air di toilet.
Arapun kembali mendekati Jack sambil menutup matanya, mengambil selang kran air, membersihkan Jack.
Kini setelah bagian itu bersih dan ditutup kembali, Ara menatap Jack.
“Jack, apa kau yakin wanita itu Arum? Aku merasa tidak yakin,” ucap Ara, lalu menarik Jack supaya masuk ke bathub.
Jack tidak menjawab.
“Sebagai seorang teman, seharusnya dia baik padaku, tidak seenaknya begitu, benar kan?” tanya Ara, sambil menggosok-gosok tubuhnya Jack. Pria itu masih tidak menyahut.
“Eh tapi ngomong-ngomong kenapa kau membiarkannya tenggelam di kolam? Kau tidak kasihan padanya? Untung ada pekerja yang mau menolongnya,” tanya Ara menatap Jack.
Tentu saja Jack tidak menjawab, dia malah membasuh tubuhnya dengan air.
“Kenapa kau pelit sekali bicara? Aku sudah bicara sejak tadi tapi kau diam saja,” keluh Ara lagi, lalu memberi shampo pada rambutnya Jack.
__ADS_1
“Aku rasa setelah dia masuk kolam dia akan kapok dan tidak akan mengganggumu lagi,” ucap Ara, sambil membersihkan rambutnya Jack.
Tiba-tiba Ara tertawa dan menatap Jack, membuat pria itu sedikit terkejut.
“Kau tahu apa yang aku katakan tadi?” tanya Ara, matanya bertemu dengan matanya Jack yang menatapnya.
“Aku mengancamnya, aku akan membuatnya tenggelam di laut untuk yang kedua kalinya!” Ara yang bertanya dia juga yang menjawab lalu tertawa lagi.
Jack sudah tidak bisa menahan senyumnya, istrinya itu terlihat lucu dari tadi mengomel tidak ada habisnya. Itu tandanya dia baik-baik saja, biasanya wanita itu akan diam kalau sedang kesal.
“Bagaimana menurutmu, ancamanku baguskan?” tanya Ara pada Jack yang menatapnya tanpa berkedip.
“Kau kenapa? Kau tidak suka?” tanya Ara.
Jack tidak menjawab.
“Aku tidak suka ada wanita yang mandekatimu, aku cemburu,” keluh Ara, sambil menunduk dan wajahnya berubah muram, lalu kembali membasuh tubuhnya Jack.
Jack masih tidak bicara, kini dia bersikap serius mendengarkan keluhan istrinya. Istrinya begitu menyayanginya, mana mungkin dia berani untuk menyakiti hatinya, apalagi harus menduakannya dengan wanita lain, meskipun wanita itu adalah Arum, seseorang yang sangat dia sayang waktu kecil.
Saat Ara membasuh tangannya Jack, tiba-tiba dia berhenti dan menoleh pada Jack, menatapnya dengan wajah yang berubah pucat, membuat Jack terkejut melihatnya.
Apa ini? Kenapa dia memandikan Jack? Jack kan sudah sembuh! Dia bahkan bersiul-siul membangunkan bagian itunya Jack. Ara menatap Jack tidak berkedip.
Jack balas menatapnya keheranan melihat perubahan Ara.
Ara cepat-cepat membasuh tangan Jack dan melepaskannya, tangannya terlihat gemetaran.
“Ah Jack, kau sudah selesai mandinya,” ucap Ara dengan gugup.
Buru-buru bangun dan segera mengambil handuknya.
“Jack, mandimu sudah selesai,” ujar Ara, lalu mengulurkan tangannya mengajak Jack naik. Pria itu menurut saja.
Ara melap tubuhnya Jack dengan ragu-ragu, sambil terus menunduk dan berhenti bicara.
Jack semakin heran saja, kenapa istrinya tiba-tiba diam?
“Sudah selesai, Jack!” kata Ara.
Setelah memakaikan piyama handuknya Jack, Ara keluar dari kamar mandi terburu-buru.
Tentu saja Jack semakin kaget, ada apa dengan istrinya? Apa ada yang salah dengan tubuhnya? Jack membuka piyama handuknya, melihat tubuh telanjangnya. Tidak ada yang aneh, istrinya itu bahkan selalu memejamkan matanya saat membuka bagian privasinya.
Jackpun keluar dari kamar mandi dan dia semakin heran saja saat melihat istrinya itu buru-buru pergi keruangan walk in closet. Diapun segera menyusulnya dan mengintip dicelah pintu yang terbuka sedikit itu.
Dilihatnya istrinya itu sedang menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bersandar di lemari.
“Aku bodoh, aku bodoh, kenapa aku sampai lupa kalau Jack sudah sembuh? Kenapa aku malah memandikannya? Apa yang akan Jack fikirkan? Sangat memalukan!” keluh Ara, sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
Barulah Jack mengerti apa yang terjadi, rupanya istrinya lupa kalau dia sudah sembuh. Kemarin-kemarin Ara menyuruh perawat laki-laki untuk memandikannya, tapi sekarang gara-gara kesal pada Arum, Ara lupa malah memandikannya lagi, membuat Jack merasa geli saja. Apa istrinya tidak tahu kalau dia menyukai setiap sentuhan istrinya?
“Istriku, kau sangat lucu,” batinnya, sambil tersenyum.
Tangan Jack mendorong pintu ruangan itu membuat Ara terkejut, langsung menatap Jack dengan wajahnya yang tegang dan jantungnya berdebar kencang. Ara sangat malu, begitu malu! Memandikan Jack yang sudah sembuh sangat memalukan!
__ADS_1
“Jack, aku akan mengambilkan baju untukmu,” ucap Ara, sambil tangannya yang gemetaran itu membuka salah satu lemari pakaian.
Tapi sebelum lemari itu dibuka, tangannya sudah dipegang Jack, membuat Ara semakin jantungan saja.
“Apa yang akan dilakuan pria ini? Apakah dia sudah membangunkan macan yang tidur?” batinnya.
Jack memutar tubuh Ara menghadapnya, tangan kanannya memeluk pinggangnya Ara dengan kuat, membuat tubuhnya menempel pada tubuhnya Jack dengan bagian dadanya yang sedikit terbuka, pria itu terlihat semakin ****.
Tangan kirinya Jack memegang jemari tangan kanan Ara.
“Duh Jack, kau mau apa? Jantungku benar-benar mau copot, Jack!” batin Ara, mendadak panas dingin.
Jack sedikit menunduk menatap Ara, tangan kirinya beralih menyingkirkan helaian rambut dikeningnya Ara, membuat Ara menahan nafasnya. Kira-kira apa yang akan dilakukan Jack padanya? Dia sangat malu mengatakan menyayangi pria itu tadi, sungguh, kenapa dia sampai lupa kalau Jack sudah sembuh?
Jemari Jack turun membelai pipinya Ara yang basah terkena cipratan air saat memandikannya.
"Jack kau mau apa sebenarnya?” batin Ara, semakin resah dan geliah saja.
Jemari itu pindah ke bibirnya Ara, mengusapnya dengan pelan. Ara sebenarnya ingin berontak pergi dari hadapannya Jack tapi ternyata dia tidak kuasa melakukannya. Dia malah mematung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Jemarinya Jack turun ke lehernya Ara. Jantung Ara sepertinya sudah siap-siap akan copot saja, apalagi jemari itu mulai menyusuri lehernya, turun sedikit kebawah, menyentuh dadanya. Ara rasanya mau pingsan saja karena menahan nafas terlalu lama.
Dan jemari Jack berhenti sampai disitu.
“Jalan-jalan,” ucap Jack, menyadarkan Ara dari ketegangannya.
“Apa? Jalan-jalan? Kau mengajakku jalan-jalan? Jalan-jalan kemana?” tanya Ara menatap Jack. Rasa gugup Ara langsung mereda.
“Jalan-jalan,” ulang Jack.
“Kau ingin mengajakku jalan-jalan?” tanya Ara sekali lagi.
Jack tidak menjawab, hanya menatapnya saja.
“Baiklah kalau begitu,” kata Ara sambil mengangguk.
“Aku akan membantumu berpakaian, setelah itu aku akan segera mandi dan bersiap-siap,” ucap Ara, sudah mulai berkurang tegangnya.
Ara membalikkan tubuhnya membuka lemari pakaian, mengambil pakaian buat Jack.
Jack mundur beberapa langkah dan bersandar di lemari yang lain, memperhatikan istrinya dari atas sampai bawah. Dia menghitung berapa lama usia pernikahannya. Selama itu dia tidak pernah memberikan sesuatu yang special buat Ara. Dan istrinya itu tidak pernah meminta apapun padanya, bahkan saat semua keuangannya diambil alih oleh ibunya, dia tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Ara hanya mengkhawatirkan keadaannya dan kesehatannya saja. Wanita seperti ini, mana berani dia menyakitinya? Ada perasaan bersalah dihati Jack setiap kali mengingat hal itu, dia belum memberikan apa yang menjadi hak istrinya.
“Jack, ayo berpakaianlah,” kata Ara, menghampiri Jack dan langsung mendandaninya.
Setiap sentuhan, setiap gerak-gerik Ara yang mendandaninya tidak luput dari perhatiannya Jack. Jack benar benar berterimakasih pada istrinya yang sudah begitu mencintainya.
“Sudah selesai,” ucap Ara, sambil tersenyum menatap suaminya.
Saat sudah beres berpakaian, biasanya Ara akan mencium pipinya Jack. Tapi sekarang sebelum Ara melakukannya, Jack lebih dulu menundukkan kepalanya mencium pipi kanannya Ara dengan lembut.
Ara terkejut Jack lebih dulu menciumnya. Jantungnya yang tadi sudah berjalan normal kini bertalu-talu lagi. Dia menengadah menatap Jack, hatinya merasa bahagia, apakah Jendral Jack Delmar ini benar-benar mencintainya? Dia akan menunggu sampai Jack jujur mengatakan siapa dia yang sebenarnya.
“Jack, aku akan bersiap-siap,” ujar Ara, lalu buru-buru keluar dari ruangan walk in closet itu. Ara ingin tahu Jack akan mengajaknya jalan-jalan kemana?
__ADS_1
Jack hanya tersenyum saja melihat sikap istrinya itu.
**********