Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-40 Keputusan Ara


__ADS_3

Jack menyelesaikan makannya dengan baik, meskipun dia terus bersedih. Terdengar ketukan di pintu kamarnya Jack. Ara segera menuju pintu itu, Pak Beni sudah ada disana bersama seorang Dokter dan perawat.


“Nyonya, ini Dokter Danu yang akan memeriksa Tuan,” ucap Pak Beni.


“Silahkan masuk Dokter!” kata Ara, membuka pintu dengan lebar.


Merekapun masuk ke dalam. Dokter Danu langsung menghampiri Jack.


“Selamat siang Tuan Delmar, maaf saya akan memeriksa lukamu,” kata Dokter Danu, sambil duduk di pinggir tempat tidur menatap Jack.


Jack tidak peduli dengan kedatangannya, dia masih memegang box miniature itu.


“Bisa disimpan dulu box nya?” tanya Dokter, tangannya terulur mau mengambil box tapi Jack malah memeluknya semakin erat.


“Baiklah, tidak apa,” ucap Dokter Danu, diapun mulai memeriksa luka-lukanya Jack.


“Maaf Dokter, balutanku tidak rapih,” kata Ara.


“Tidak apa-apa Nyonya, ini sudah bagus,” ucap Dokter Danu.


Setelah memeriksa Jack, Dokter Danu memberikan resep pada Pak Beni dan berpamitan.


Pak Beni menoleh pada Ara.


“Nyonya, saya akan menebus resep juga sekalian ke rumah Nyonya,” kata Pak Beni.


“Iya, pergilah, nanti aku menelpon ibu,” ucap Ara, diapun langsung mengeluarkan ponselnya menelpon ibunya.


Pak Benipun keluar dari kamar itu.


Ara kembali menutup pintunya setelah semua tamunya keluar. Dilihatnya Jack sibuk memisah-misahkan miniature yang menempel dengan miniature yang lainnya. Ara langsung naik ke tempat tidur dan duduk disamping Jack.


“Kau sangat menyayangi ayahmu, Jack,” ucap Ara.


“Ayah,” jawab Jack.


“Iya, ayah. Aku masih lebih beruntung darimu, ayahku masih ada bersama ibuku,” ucap Ara, kepalanya bersandar di bahunya Jack.


Pria itu tidak menjawab apa-apa, tapi terus memilah-milah miniaturenya. Ara memikirkan apa yang dikatakan Ny. Inez. Kalau dia masih ingin bersama Jack dia harus memberikan kuasa atas kekayaannya Jack. Apakah kalau Jack sembuh Jack akan mengjinkannya melakukan itu?


Ara melirik melihat apa yang dilakukan oleh Jack.


“Miniatur itu meleleh dan menempel,” ucap Ara.


“Jendral!” kata Jack.


“Iya Jendral, ayo aku bantu memisahkannya,” ucap Ara sambil membalikkan badannya menghadap Box itu lalu membantu Jack memisahkan miniature yang menempel-nempel itu.


Hujan di luar masih sangat deras seperti yang tidak mau berhenti diiringi kilat menyambar. Cukup lama Ara dan Jack sibuk dengan miniature itu, hingga terdengar suara ketukan dipintu.

__ADS_1


Ara segera turun dari tempat tidur dan membuka pintu. Pak Beni sudah berdiri disana.


“Ini miniature nya,” ucap Pak Beni, memberikan sebuah kantong kecil. Ara segera mengambilnya.


“Kita harus bicara, Pak Beni, masuklah,” kata Ara, masuk duluan ke dalam kamar itu diikuti Pak Beni.


Pak Beni menatap Jack yang sedang duduk diatas tempat tidur dengan memangku box miniature.


“Dia terus seperti itu,” ucap Ara lalu berjalan mendekati Jack dan duduk dipinggir tempat tidur menghadap Jack.


“Jack, aku ada sesuatu untukmu,” ucap Ara, sambil mengeluarkan isi dari kantong yang dibawa Pak Beni.


Sebuah miniature Jendral yang diberikan Jack saaat melamar Ara, Jack menyebutnya Jendral 9 nyawa, sudah ada ditangan Ara dan diulurkan ke depan Jack.


Jack yang sedang menunduk menatap miniature dalam boxnya, menghentikan gerak tubuhnya saat melihat tangan Ara memegang miniature yang utuh. Dia mendongak menatap Ara.


“Jendral 9 nyawamu selamat,” ucap Ara sambil tersenyum.


Jack langsung mengambil miniature itu, raut wajahnya terlihat berubah senang.


“Kau senang?” tanya Ara.


“Jendral!” gumam Jack, memegang benda itu dengan erat.


“Seperti yang kau inginkan, aku akan menjaga Jendralmu dengan baik. Kau lihatkan? Jendralnya baik-baik saja,” ucap Ara.


“Sembulah Jack. Kalau kau sembuh, semua Jendralmu akan terjaga dengan baik. Jangan biarkan Jendralmu yang tinggal satu itu hangus seperti yang lainnya,” ucap Ara.


Mendengar perkataan Ara, Jack langsung beringsut mundur dan memeluk Jendral itu, dia menatap Ara.


“Sembuhlah untuk menjaga Jendralmu,” ucap Ara, hatinya begitu banyak perharapan buat Jack.


Pria itu kembali menatap miniaturenya. Ara menoleh pada Pak Beni. Diapun bangun dan pindah duduknya ke sofa yang ada dalam kamar itu, Pak Beni mengikutinya, duduk disebrangnya Ara.


“Pak Beni, Nyonya Inez akan mengirim Jack kembali ke RSJ di Perancis, aku tidak setuju,” ucap Ara.


Pak Beni terdiam.


“Tapi kalau melihat kondisi Jack seperti ini, kita memang perlu Dokter yang bagus. Aku ingin Jack sembuh,” ucap Ara.


Pak Beni masih terdiam mendengarkan.


“Ny. Inez memintaku meninggalkan Jack. Aku tidak bisa, aku tidak mungkin meninggalkan Jack dalam kondisi seperti ini, aku juga terlanjur sudah menikah dengannya, aku ingin pernikahanku sekali seumur hidupku, jadi aku tetap berharap Jack akan sembuh,” ucap Ara, matanya kembali berkaca-kaca.


Pak Beni mendengarkan dengan seksama apa yang Ara katakan.


“Aku ingin Jack sembuh, jika kembali ke Perancis bisa membuat Jack lebih baik, aku tidak masalah, tapi aku tidak ingin Jack dirawat di RSJ, aku ingin selalu menemaninya sampai Jack sembuh,” ucap Ara.


Pria berambut putih itu tampak memerah matanya, dia merasa terharu melihat ketulusannya Ara.

__ADS_1


“Nyonya, aku yakin suatu saat Tuan akan sembuh. Dia pasti sangat senang memiliki istri sepertimu,” ucap Pak Beni.


“Tapi aku tidak tahu kapan Jack akan sembuh,” kata Ara.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Ara kemudian.


“Baiklah kalau Nyonya ingin kita kembali ke Perancis, tapi kita tidak perlu membawa Tuan ke RSJ, kita akan tinggal di rumah Tuan di Paris. Nanti kita konsultasi dengan Dokter Atlantes,” kata Pak Beni.


“Tapi Nyonya Inez memberikan aku persyaratan. Aku tidak tahu apa Jack akan setuju dengan ini,” ucap Ara, menatap Pak Beni yang juga menatapnya dengan Serius.


“Nyonya ingin aku menyerahkan kuasa kekayaannya Jakc padanya jika aku ingin bersama Jack ke Perancis. Bagaimana menurutmu?” ucap Ara.


Pak Benipun tampak berfikir dulu sebelum menjawab.


“Apa yang paling utama yang Nyonya inginkan?” tanya Pak Beni.


“Aku ingin Jack sembuh,” ucap Ara.


“Saya tahu menjadi istrinya Tuan sangat beresiko. Sebenarnya saya merasa khawatir dengan keselamatan Nyonya,” ucap Pak Beni.


“Sebenarnya aku bukan tipe wanita yang mudah menyerah, justru yang aku fikirkan adalah Jack, aku ingin Jack sembuh. Kalau Jack sembuh dia bisa mengambil lagi semua yang menjadi miliknya,” ucap Ara, berhenti sejenak lalu bicara lagi.


“Tapi kalau semua itu terlalu beresiko baginya, lebih baik  aku focus pada kesembuhan Jack dan tidak ada jalan lain aku terpaksa akan memberikan kuasa kekayaannya Jack pada Ny.Inez,” lanjut Ara.


“Apa artinya kekayaan yang banyak tapi Jack tidak sembuh? Semua itu akan percuma saja. Aku ingin Jack sembuh,” kata Ara lagi.


“Baiklah Nyonya, jika itu yang Nyonya inginkan, saya akan mengurus perpindahan Tuan ke Perancis, kita akan tinggal di rumah Tuan di Paris,” ucap Pak Beni.


“Kau atur saja. Tapi kita harus merahasiakan pada Nyonya Inez dan Tn.Ferdi kalau Jack tidak masuk RSJ,” kata Ara.


Pak Beni mengangguk.


“Tapi…” gumam Ara.


“Tapi apa?” tanya Pak Beni.


“Bagaimana hidup kita nanti di Perancis, kalau semua kekayaan diberikan lagi pada Ny. Inez? Darimana kita akan hidup? Aku tidak mengerti kalau harus bekerja di Perancis,” ucap Ara.


“Tabungan Tuan selama ini lebih dari cukup, Nyonya tidak perlu khawatir. Nyonya juga tidak perlu bekerja, Nyonya bisa focus mengurus Tuan,” ujar Pak Beni.


“Aku lega mendengarnya,” ucap Ara, menghela nafas pendek.


“Baiklah Nyonya, saya akan menyiapkan semuanya. Kita akan ke Perancis secepatnya,” ucap Pak Beni.


Arapun mengangguk. Setelah itu Pak Beni keluar dari kamarnya Ara.


Ara merasakan tubuhnya begitu lelah, diapun naik ke tempat tidur dan berbaring disamping Jack.


**************

__ADS_1


__ADS_2