
Ara masih menempelkan ponsel di telinganya.
“Jack!” panggil Ara berubah lirih.
“Jack, apa kau mendengarku?” tanyanya lagi, dengan suara yang semakin pelan. Tangis bahagia seketika berubah sedih.
Ponsel Jack tergeletak dipinggir jalan, beberapa anak remaja bergerombol melewati jalan itu dan melihat ada ponsel dipinggir jalan. Mereka berhenti, mengambilnya, tertawa-tawa dan mematikan ponselnya.
Ara terkejut saat panggilannya terputus dan hening.
“Jack, Jack..Jack..!”panggilnya lirih, dia semakin panik, sambungan itu terputus. Ara langsung mendial balik nomor itu, ternyata tidak tersambung.
Ditatapnya ponsel itu yang dipegang kedua tangannya yang semakin gemetar.
“Jack..” panggilnya, menatap ponsel itu. Satu tetes dua tetes airmata jatuh ke ponsel itu.
“Jaaaaack!” Arapun berteriak memanggil Jack. Lalu menangis, terduduk dilantai pinggir sofa sambil menangisi ponsel itu.
“Jack, kenapa kau tidak menjawab?” tanyanya disela isaknya.
Kemudian Ara teringat Paman Favier. Ara langsung menelpon Paman Favier.
“Paman, tadi Jack menelpon!” ucapnya dengan gugup, tangannya sesekali menghapus airmatanya.
“Jack menelpon? Itu bagus!” kata Paman Favier.
“Tapi dia tidak menjawab dan sekarang tidak bisa dihubungi,” ucap Ara, membuat Paman Favier terkejut.
“Begitu? Kau yang tenang, Paman akan mencari tahu, nanti Paman kabari, itu artinya mereka sudah sampai di perkotaan dan bisa komunikasi,” kata Paman Favier.
Ara hanya menutup telponnya dengan lesu.
Baru saja dia bahagia akan bertemu Jack, kenapa harus ada hal seperti ini? Kenapa dia harus berpisah lama dengan Jack? Dulu membayangkan kalau Jack sembuh maka pernikahannya akan bahagia, tapi sepertinya kebahagiaan itu begitu sulit diraihnya.
Ara kembali mengusap perutnya.
“Sayang, kau bersabar, sebentar lagi kita bertemu Ayahmu,” ucapnya dengan lirih.
****
Ajudannya Jack memasuki toko ponsel itu mencari Jack, tapi melihat ke sekelilingnya ternyata yang dicarinya tidak ada.
“Jendral! Jendral!” Panggilnya, sambil berjalan masuk, tidak ada sahutan, malah membuat orang-orang menoleh padanya.
Karena Jack tidak ada, diapun bertanya pada penjual ponsel itu, yang memberitahu kalau Jack sudah selesai membeli ponselnya. Diapun keluar dari toko mencari kesana kemari tapi Jendralnya sudah tidak ada. Kemana dia?
Sang Ajudan mendekati mobilnya, tentu saja mobil itu terkunci karena dia yang membawa kuncinya. Diapun menageluarkan ponselnya menelpon nomornya Jack tapi tidak tersambung. Sungguh membuatnya sangat heran. Dia menyusuri jalan jalan itu barangkali Jack membeli makanan atau sejenisnya. Ternyata tidak ditemukan juga. Beberapa kali menelponpun tidak tersambung.
Kemana Jendralnya? Apa terjadi sesuatu? Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dilihatnya dari kantor GIGN di Perancis.
“Apa kau bersama Jendral Delmar?” tanya suara disebrang.
“Aku sedang mencarinya! Jendral menghilang!” jawabnya.
“Ya, Jendral ada menelpon istrinya tapi kemudian terputus,” jawab suara di sebrang.
“Apakah telah terjadi sesuatu pada Jendral?” tanya sang Ajudan terkejut. Dia merasa bersalah tidak bisa menjaga Jendralnya.
__ADS_1
“Kau cari Jendral sampai ketemu!” jawab suara di sebrang.
“Siap! Apakah kepulangan kami akan ditunda, sampai Jendral ditemukan?” tanya ajudan Jack.
“Pasukan tetap kembali, semua sudah diurus kita juga kedatangan tamu dari pemerintah. Kau dengan beberapa orang carilah Jendral!” jawab suara disebrang itu.
Tidak lama kemudian telaponpun ditutup. Sang ajudan tidak menyerah terus mencari keberadaannya Jack disekitar lokasi.
Paman Favier sangat terkejut saat mendapat informasi kalau Jack mengilang dan pasukan akan tetap kembali pulang ka Perancis sesuai jadwal, ditemukan atau tidaknya Jack. Dia semakin cemas, kemana Jack? Apa yang terjadi dengannya? Dia hanya bisa menghibur Ara untuk tenang menunggu kabar darinya.
****
Satu hari telah berlalu, Jack sama sekali tidak ada kabar. Pencarian di kota itu tidak berhenti, meskipun pasukan dijadwalkan pulang ke Perancis.
Ara semakin gelisah saja, Jack sama sekali tidak ada kabarnya. Setiap saat melihat ponselnya barangkali ada Jack menelponnya lagi, atau dapat kabar dari Paman Favier.
Hari itu…Ara mendapat laporan kedatangan tamu, dia sangat terkejut saat melihat tamu itu adalah Paman Favier, kenapa Paman Favier tidak menelpon saja?
“Apa Paman sudah mendapat informasi Jack?” tanyanya, menatap Paman Favier dengan cemas.
Paman Favier malah diam dan bingung.
“Apa tidak ada kabar dari Jack?” tanya Ara.
“Sayang, Paman minta maaf, Jack belum ada kabar. Dan pasukan tetap kembali ke Paris tanpa Jack,” jawab Paman Favier.
Ara terbengong mendengarnya.
“Pencarian masih dilakukan, kau bersabarlah,” jawab Paman Favier.
Arapun terdiam, duduk di kursi dengan lesu.
“Ka kapan penyambutan kedatangan mereka diadakan?” tanya Ara, dengan mata yang kembali basah.
“Dua hari lagi,” jawab Paman Favier.
“Dua hari lagi?” tanya Ara.
“Iya,” jawab Paman Favier.
Ara terduduk di kursi dengan lesu.
“Apa Jack tidak akan pulang dengan pasukannya?”tanya Ara.
“Tidak, sayang,” ucap Paman Favier.
“Jack ditinggalkan disana?” tanya Ara lagi, seakan tidak puas dengan kabar ini.
“Ada petugas yang mencari keberasaan Jack disana, bersabarlah!” kata Paman Favier.
Merekapun terdiam dan hening. Paman Favier juga terduduk di kursi dengan lesu, tidak tahu harus berkata apa pada Ara.
Ara menoleh pada Paman Favier.
“Paman, bolehkah saat acara itu aku tetap ikut hadir?” tanya Ara.
__ADS_1
“Tapi sayang, Jack tidak ikut pulang, kau tidak akan bertemu Jack disana,” kata Paman Favier.
“Aku hanya menunggu keajaiban, Jack akan pulang,” ucap Ara, menatap lagi Paman Favier.
“Aku masih berharap Jack bisa pulang, Paman. Aku tidak mau anakku tidak bisa melihat Ayahnya,” lanjut Ara.
Paman Favier pun merenung.
“Baiklah kalau kau maunya begitu. Paman akan menjemputmu, tapi kuatkan hatimu karena Jack tidak akan pulang bersama pasukannya!” kata Paman Favier.
Arapun menganguk. Meskipun Paman Favier mengatakan Jack tidak pulang dengan pasukannya, Ara masih berharap pria itu akan datang.
Akhirnya Paman Favier mengijinkan Ara tetap hadir di acara penyambutan kembalinya pasukan itu meskipun Ara sudah diberitahu kalau Jack tidak bisa pulang bersama mereka.
Sepeninggalnya Paman Favier, Ara menelpon Ny.Inez.
“Apa kau sudah tahu kapan Jack pulang?” tanya Ny.Inez.
“Tidak, Nyonya!” jawab Ara menggelengkan kepalanya.
“Maksudmu tidak bagaimana? Katamu Jack dan pasukannya kembali ditarik ke Perancis? Kenapa sekarang tidak?” tanya Ny.Inez.
“Jack menghilang di negera itu dan belum ditemukan, jadi pasukan kembali tanpa Jack,” jawab Ara, membuat Ny.Inez terkejut, lalu terdiam.
Apa telah terjadi sesuatu pada Jack? Apakah suaminya pelakunya? Apakah suaminya akan mencelakai Jack? Beberapa bulan ini tidak ada kabar apapun tentang suaminya, mungkin suaminya tidak akan pernah pulang karena tidak mau dipenjara.
Setelah menutup telponnya, dia terduduk lesu di sofa.Hatinya mendadak sedih, apakah dia akan kehilangan Jack selamanya? Apakah dia akan diberi kesempatan sekali lagi untuk menjadi ibu yang baik untuk Jack?
******
Byuuur! Air dalam ember itu disiramkan ketubuh pria yang terikat duduk di kursi kayu dengan tangan dan kakinya diikat tambang, mulutnya tersumpal dan matanya di tutup.
Pria itu terbangun dan terkejut karena seketika tubuhnya basah dan dingin. Dia tidak butuh mandi, tapi dia butuh minum. Sejak seseorang membiusnya dan membawanya kesini, mereka tidak memberinya makan dan minum sampai badannya terasa lemas.
Karena matanya tertutup kain hitam dia tidak bisa melihat siapa yang ada di hadapannya itu. Hanya menajamkan pendengarannya membaca pergerakan disekitar ruangan itu. Ada tiga orang berdiri di depannya.
“Pagi Jendral!” kata pria, melangkah lebih dekat.
Pria terikat itu yang tiada lain adalah Jack, mengangkat kepalanya, mencoba menebak siapa yang bicara, tapi dia tidak mengenalnya.
“Kau bersiap-siap! Tuan akan datang!” kata suara pria itu.
Mendengar paggilan Tuan, Jack mengerutkan dahinya berfikir, siapa yang mereka maksud? Dia tidak merasa punya musuh, dimanapun, tidak tahu kalau ada penyandera yang merasa dendam padanya. Jack mencoba mengenali sekitarnya lagi. Tetesan air jatuh dari rambutnya yang basah.
Dia ingin bertanya tapi tidak bisa karena mulutnya tersumpal.
“Kau sangat beruntung Jendral, sudah lama kami mengintaimu tapi tidak ada kesempatan untuk melenyapkanmu! “ kata pria itu.
“Jadi sekaang Tuan sendiri yang akan menghabisimu dengan tangannya sendiri,” lanjut pria itu, lalu merekapun tertawa.
Jack tidak menjawab, dia hanya bisa mendengar suara tawa mereka, lalu mereka melangkah keluar dari ruangan itu.
“Tuan, Tuan siapa yang mereka maksud? Siapa yang membawaku kesini? Siapa yang menculikku?” batin Jack.
Tubuhnya terasa kedinginan, karena siraman air itu, bajunyapun basah kuyup. Tubuhnya semakin lemas, tapi dia harus bisa kuat, dia jangan lemah, dia harus bisa keluar dari tempat ini. Diapun hanya diam, tidak banyak bergerak untuk menghemat energinya.
*********
__ADS_1