Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-156 Mautku


__ADS_3

Entah berapa lama Jack masih berada diruangan itu. Dia sama sekali tidak bisa melihat matahari karena tebalnya penutup matanya. Tubuhnya terasa semakin lemah dari jam ke jam, dia merasakan kerongkongannya begitu kering, dia sangat kehausan.


Bibirnya sudah terlihat mengering. Mungkin kalau lapar masih bisa dia tahan tapi rasa haus ini, sangat membuat tubuhnya semakin lemah. Tapi dia terus mencoba untuk tenang dan bertahan. Tubuhnya fisiknya sudah terbiasa dilatih untuk hal-hal seperti ini.


Jack merasakan ada langkah yang datang semakin mendekat. Diapun menajamkan pendengarannya.


Terdengar suara pintu dibuka. Kembali didengarnya langkah mendekatinya tapi tidak sebanyak tadi, melainkan dua langkah, bulan dua, tapi tiga, tiga langkah medekat dan banyak langkah berhenti tidak mendekat.


Dua langkah semakin mendekatinya, satu langkah, langkah itu berbeda suaranya, lebih berat, sebuah besi yang menyentuh lantai.


“Apa kabarmu anak gila?” tanya sebuah suara. Jack tidak menjawab, dia mengingat-ingat suara itu dan diapun tahu suara siapa itu.


“Aku rasa kau mengenal suaraku meskipun matamu tertutup,” ucap suara itu.


Jack tidak bisa menjawab karena mulutnya tersumpal.


Terdengar beberapa langkah kaki yang berat mendekati Jack, lalu dirasanya tangan-tangan yang membuka sumpalan di mulut dan matanya Jack.


Karena berhari-hari tidak melihat sinar matanya, Jack mengerjapkan matanya yang terasa perih karena kain penutup itu juga basah dan mengotori matanya. Kini terlihat jelas orang yang ada didepannya itu. Ayah tirinya, Tn.Ferdi.


Jack menatap pria itu lalu tersenyum.


“Jadi kau yang melakukan ini semua?” tanya Jack.


“Siapa lagi? Siapa lagi orangnya yang memliki dendam terdalam selain aku?” jawab Tn.Ferdi.


“Anak buahku bekerja sangat bodoh!” ucap Tn.Ferdi.


“Seharusnya kau sudah mati saat masih di Paris,” lanjut Tn.Ferdi.


Jack menghela nafas panjang, dia berusaha tenang karena fisiknya sangat lemah sekarang.


“Jadi sebenarnya kau mau apa?” tanya Jack.


“Tentu saja aku ingin kau menderita dan tidak bisa pulang lagi ke rumahmu! Hahha..” jawab Tn.Ferdi, diiringi tawanya.


Diapun berjalan beberapa langkah mengitari Jack.


“Istrimu yang sedang hamil itu, terus meratapi kepergianmu! Aku sangat senang melihatnya hahaha…” ucap Tn.Ferdi.


Tentu saja Jack sangat terkejut, ternyata istrinya sedang hamil? Arasinya sedang hamil.


“Is..istriku hamil?” gumam Jack, ada rasa haru muncul dihatinya, juga rasa sedih dan bersalah. Dia bisa membayangkan bagaimana perasaan istrinya karena tidak ada dia disampingnya disaat sedang hamil begini.


“Ya! Sebenarnya ada tiga orang yang aku harus binasakan, tapi ternyata kau tidak bodoh! Kau jaga rumahmu dengan ketat dan bodyguard itu selalu mengikuti kemanapun istrimu pergi! Sangat menjengkelkan!” gerutu Tn.Ferdi.


“Jangan pernah sentuh istriku!” bentak Jack.


Tn.Ferdi tertawa.


“Tentu saja aku akan menyentuhnya, setelah melenyapkanmu! Aku tidak mau keturunan Cosntantine lahir ke dunia ini,” ucap Tn.Ferdi, berdiri didepan Jack.

__ADS_1


“Aku bilang jangan sentuh istri dan anakku!” teriak Jack, menatap pria yang sangat dibencinya itu.


Tn.Ferdi tertawa lagi.


Dia mengetukkan tongkatnya berkali-kali ke lantai.


“Kau lihat ini? Kau lihat ini?” tanyanya dengan gigi yang menggeretuk.


“Kau memukuliku sampai membuatku cacat dan tidak bisa berjalan dengan normal! Selamanya aku akan begini! Aku tidak bisa terima!” teriak Tn.Ferdi, dengan kesal.


“Itu sudah sepantasnya, karena kau sudah berselingkuh dengan Ibuku!” teriak Jack juga marah, mengingat penghianatan Ibunya pada Ayahnya.


“Haa..Ayahmu..Ayahmu itu pria sok kaya yang sudah merebut Ibumu dariku, aku tidak terima!” gerutu Tn.Ferdi.


“Kau sudah menikah dengan Ibuku, kau juga punya Bastian, kenapa kau masih terus menggangguku?” bentak Jack.


“Tentu saja karena aku tidak mau keturunan Constantine ada di muka bumi ini, aku tidak mau melihat wajah Constantine ada didepanku! Kau, dan bayi yang ada dalam perut istrimu!” kata Tn.Ferdi.


“Sudah aku katakan jangan sentuh anak dan istriku!” teriak Jack, dia akan bergerak maju tapi tida bisa karena kaki dan tangannya terikat kuat. Betapa dia begitu membenci pria ini, dia tidak habis fikir kenapa Ibunya menyukai pria jahat ini?


“Ha..ha….” Tn.Ferdi tertawa.


“Semua sudah terlanjur jauh, aku juga terlalu lambat untuk menyelesaikan semua urusanku! Seharusnya  aku melenyapkanmu dari dulu! Tidak perlu ada scenario membuatmu gila, menyembunyikan Arum, semua itu sangat memuakkan!” ucap Tn.Ferdi.


Jack menatap Tn.Ferdi.


“Dengar, kau hanya pria serakah, kau tidak akan mendapatkan apapun yang kau inginkan!” kata Jack.


Jack diam dengan kesal, dia terus berfikir bagaimana dia bisa lolos dari tempat ini? Dilihatnya pintu lumayan jauh dibelakang Tn.Ferdi. Beberapa orang berdiri disana.


Dia harus bisa keluar dari tempat ini. Dia tidak boleh mati disini. Dia tidak boleh membiarkan pria ini menyakiti istri dan anaknya, ternyata istrinya sedang hamil, hatinya semakin merasa sedih saja.


Apalagi dengan apa yang hampir dia lakukan? Janji pertama untuk cepat pulang tidak dia tepati, janji kedua untuk setia hampir tergoda wanita lain, sungguh dia merasa bersalah disaat istrinya sedang hamil dia hampir tergoda wanita itu.


“Sayang, aku minta maaf, aku sudah membuatmu menangis, tolong maafkan aku. Aku merindukanmu, bayiku..bayiku..aku rindu ingin melihatmu lahir kedunia ini,” batinnya.


Jack tidak mau putranya atau putrinya lahir tanpa Ayah, dia harus keluar dari tempat ini. Jack melihat kesekeliling, memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini. Apa ajudannya melihat kejadian kemarin? Tapi sepertinya tidak, karena sampai hari ini dia masih ada diruangan ini.


“Kenapa? Kau memikirkan ingin keluar dari tempat ini? Tidak bisa, aku sudah membuat keputusan kau tidak akan pernah keluar dari negara ini! Kau tidak akan pernah bertemu lagi dengan istri dan anakmu juga ibumu. Setelah kau lenyap, istri dan anakmu akan menyusul!” ucap Tn.Ferdi  lalu tertawa lagi.


“Senangnya hatiku melihat kau menderita seperti ini. Kau bau! Kau kotor! Persis sepetri orang gila! Inilah kau yang sebenarnya! Orang gila!” ucap Tn.Ferdi, terus tertawa bahagia atas kemenangannya.


Jack terdiam menatapnya, dia sungguh kesal dia belum menemukan cara apapun untuk keluar dari sini. Dia tidak boleh mati! Dia tidak boleh mati! Dia harus melihat bayinya lahir kedua ini!


“Tapi sebelum aku menghabisimu, sepertinya aku tidak puas kalau tidak membuatmu merasakan sakitnya tendanganmu di tubuhku!” bentak Tn.Ferdi, lalu melirik pada pria-pria yang tinggi besar itu. Merekapun langsung mendekati Jack, lalu menendang kursi yang sedang diduduki Jack, sampai Jack terjatuh ke lantai.


Tn.Ferdi tertawa terbahak-bahak, dia sangat senang. Dia negara ini dia bebas melenyapkan Jack, tidak akan ada yang tahu tentang perbuatannya yang sudah melenyapkan Jendral ini.


Dengan kedua kaki yang diikat, Jack mencoba bangun dengan susah payah. Dia mencoba untuk berdiri tapi sebuah tendangan mengenai tubuhnya hingga terjungkal lagi. Jack mencoba melepaskan ikatan tangannya tapi tidak berhasil.


Terdengar lagi suara tawa dari Tn.Ferdi. Dia senang sekali melihat Jack menderita.

__ADS_1


“Pukuli dia! Tapi jangan sampai mati! Karena aku yang akan mengakhiri hidupnya!” perintah Tn.Ferdi.


Pria-pria berbadan besar itu tidak menunggu perintah berikutnya, mereka langsung memukuli Jack dan menendang nendang tubuhnya dengan keras. Jack berusaha menghidar tapi tidak bisa, tangannya terikat ke belakang. Dia hanya bisa menguatkan dirinya untuk menerima setiap pukulan dan tendangan di tubuhnya.


Brugh! Tubuh Jack tersungkur ke lantai, seluruh tubuhnya babak belur habis dipukul dan ditendang pria-pria itu.


Terdengar lagi suara tawanya Tn.Ferdi. Jack meludahkan darah yang keluar dari mulutnya. Dia masih menelungkup dengan pipi yang menempel di lantai. Dia mendendam dalam hati, tidak akan pernah membiarkan pria itu lolos! Pria itu sudah menghancurkan hidupnya, hidup Arum, keluarganya!


Dia tidak akan membiarkan pria itu lolos, tapi bagaimana caranya? Melepaskan ikatan di kaki dan tangannya saja tidak bisa, dia terpaksa menerima semua pukulan dan tendangan pria-pria itu.


 Jack merasakan sakit di seluruh tubuhnya, tulang tulangnya terasa remuk. Perutnya sangat mual karena perutnya terkena tendangan juga. Sudah tubuhnya tida terisi air dan makanan sedikitpun ditambah dipukuli seperti ini, apakah dia akan kuat?


“Bagaimana Tuan? Apa masih kurang?” tanya pria-pria itu, melihat Jack  yang tursungkur dan tidak bergerak lagi. Kaki salah satu pria itu menendang kakinya Jack lagi.


“Aku rasa, saatnya aku menghabisinya! Aku tidak mau berlama-lama dengan anak gila yang menjengkelkan ini!” kata Tn.Ferdi, sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah senjata api.


Klek! Dia memeriksa peluru di senjatanya lalu ditutup lagi, semua siap hanya tinggal menarik pelatuknya dan Dor! Peluru itu akan menembus kepalanya Jack, Jendral Jack Delmar, anak tirinya yang gila itu!


Tn.Ferdi menatap Jack yang terdengar batuk-batuk. Dia terlihat sangat lemah, berbaring di lantai  yang kotor apalagi bajunya basah tadi di siram air, semakin tidak karuan saja wujudnya.


Jack berusaha sekuat tenaga untuk bangun, tapi dia hanya bisa mengangkat kepalanya melihat Tn.Ferdi memegang senjata yang diarahkan padanya.


Tidak, tidak, dia harus tenang, dia harus tenang! Dia tidak boleh mati, meskipun harapannya semakin menipis karena tidak ada peluang sedikitpun untuk lolos darisini.


Dia tidak boleh mati! Dia tidak siap untuk meninggalkan istrinya! Dia masih ingin melihat senyumnya, memeluknya, menciumnya, mengusap perut bulat istrinya yang mengandung buah hatinya. Sungguh Jack sangat merindukan istrinya.


 Tiba-tiba Jack teringat pada ucapannya pada istrinya.


“Sayang, kau harus ingat aku ini Jendral 9 nyawa, aku memliki banyak nyawa,” ucapnya sebelum pergi, untuk menghibur istrinya.


“Disaat nyawaku hilang satu, masih ada 8 nyawa lainnya, jadi aku akan tetap hidup,” ucapnya lagi kala itu.


Satu nyawanya sudah hilang saat di lokasi konflik yang terselamatkan oleh ponselnya yang ada di sakunya. Masih 8 nyawa lagi yang ada di dalam dirinya, apakah 8 nyawanya ini akan melindunginya lagi dari kematian?


“Tidak Jack, itu hanya dongeng! Tidak ada 9 nyawa atau seribu nyawa. Kalaupun kau memilikinya, disana ada ribuan peluru bukan 9,” ucap istrinya.


Apa benar begitu? Istrinya mengatakan ada ribuan peluru, tapi tidak dengan apa yang ada di hadapannya, hanya satu senjata api, yang hanya terisi beberapa peluru saja, masih ada 8 nyawanya yang akan menghalangi peluru itu menembus tubuhnya.


Terdengar lagi tawa Tn.Ferdi, dia mengarahkan sentaja api itu kearah kepala Jack yang sedang menatapnya.


Klek! Pria itu siap menembuskan peluru disenjatanya ke kepalanya Jack.


Senjata itu tertuju tepat di kepalanya Jack,  kepala anak tirinya yang begitu dibencinya. Melenyapkan Jack artinya melenyapkan bayang-bayang Constantine dalam hidupnya.


“Apa kau ada kata-kata terakhir? Mungkin kau akan menitipkan pesan cinta jika aku bertemu dengan istrimu untuk melenyapkan istrimu?” tanya Tn.Ferdi, melangkah satu langkah lebih dekat. Jack memperhatikan kaki pria itu.


“Satu tembakan aku rasa sudah cukup membuat kepalamu hancur dan kau akan  lenyap selamanya!” ucap Tn.Ferdi.


Jack mengangkat kepalanya keatas, menatap senjata api yang mengarah padanya. Bagaimana dia bisa merebut senjata itu dengan tangan yang terikat kebelakang? Apakah sisa 8 nyawanya tidak bisa menghindarinya lagi dari maut?


***********

__ADS_1


__ADS_2