Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-132 Penolakan Jack


__ADS_3

Ara menghampiri Ny.Inez.


“Nyonya, ayo masuk!” ajak Ara.


“Tidak perlu,” ucap Jack membuat Ara menoleh pada suaminya.


“Jack,” kata Ara, merasa tidak setuju dengan sikap Jack.


“Ada apa kau kemari? Aku sudah tidak ada urusan lagi denganmu!” kata Jack pada Ny.Inez, itupun tidak menatap Ny.Inez.


Ny.Inez terdiam mendapat perlakuan sinis dari putranya, tapi dia mencoba bersabar, dia sadar kesalahannya terlalu besar pada Jack.


“Apa kalian sudah makan? Ibu membawakan makanan kesukaanmu,” kata Ny.Inez, sambil mengangkat kantong yang ada ditangannya, mencoba tidak menghiraukan sikap penolakannya Jack.


“Apa kau masih ingat apa makanan kesukaaanku?” tanya Jack, dengan ketus.


“Tentu saja, waktu kecil kau suka memakannya,” jawab Ibunya.


“Kau salah, aku sudah tidak suka makananku waktu kecil,” ucap Jack, masih ketus.


Ny.Inezpun terdiam, Ara juga.


“Kau buang-buang waktu kemari. Sepertinya kau belum tahu kalau seleraku berubah sejak aku keluar dari RSJ,” kata Jack, lalu pergi masuk ke dalam rumah.


“Jack!” panggil Ara tapi Jack tidak menghiraukannya, tetap meninggalkan Ibunya yang hanya diam mematung, melihat putranya masuk.


Ara mendekati Ny.Inez dan meraih tangannya.


“Nyonya, masuklah, tidak apa-apa Jack tidak mau masakanmu, tapi aku ingin mencicipinya. Aku ingin tahu makanan kesukaannya Jack apa, Nyonya bisa beritahu aku resepnya, aku akan membuatnya untuk Jack,” ucap Ara, menarik tangannya Ny.Inez supaya masuk kedalam rumah. Terpaksa Ny.Inez masuk kedalam rumah.


Merekapun duduk di ruang tamu.


Ny.Inez mengeluarkan tempat makanan dari kantong yang dibawanya itu.


“Waktu kecil Jack suka sekali makanan ini,” kata Ny. Inez, membuka salah satu wadah itu.


“Wah sepertinya sangat enak, bolehkah aku mencicipinya?” seru Ara.


“Tentu saja,” kata Ny. Inez, mengambil sendoknya dan diberikann pada Ara yang segera mencicipi makanan itu.


“Ternyata sangat enak, aku tidak tahu kalau Nyonya bisa memasak. Jack pasti suka,” kata Ara.


“Dulu, dulu sekali, kadang-kadang juga,” ucap Ny.Inez tersenyum, dia merasa senang pada menantunya itu.


“Kau tahu Nyonya, makanan ini benar-benar enak, sepertinya Jack akan menyesal tidak memakannya, tapi tenang saja, nanti aku akan sajikan buat Jack,” ucap Ara, sengaja mencoba menghibur mertuanya.


Ara tahu Ny.Inez telah berbuat hal yang menyakiti Jack tapi walaubagaimanapun dia Ibu kandungnya Jack, mertuanya.


Ny.Inez mengangguk.


“Tadi ada mobil siapa?” tanya Ny.Inez, yang sempat melihat mobil yang keluar dari rumahnya Jack.


“Itu mobil prajurit dari Paris,” jawab Ara.


Ny.Inez menatap Ara. Dia kembali merasa bersalah pada Jack, sampai putranya menjadi seorang jendralpun dia tidak tahu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, putranya tumbuh tanpa kasih sayang darinya, jadi pantas kalau Jack sekarang membencinya.


“Jack ada pekerjaan ke Paris,” kata Ara.


“Jack akan kembali ke Paris? Apa kau juga ikut?” tanya Ny.Inez.


“Sepertinya tidak, karena Jack mungkin ada tugas keluar kota,” jawab Ara.


“Begitu rupanya!” Ny. Inez mengangguk-angguk.


“Kau harus terbiasa ditinggal-tinggal dinas oleh Jack,” kata Ny. Inez kemudian sambil mengusap tangannya Ara.

__ADS_1


“Apakah dulu Ayahnya Jack juga seperti itu?” tanya Ara, menatap Ny.Inez.


“Iya, Ayahnya Jack sering pergi-pergi meninggalkanku dan Jack. Setiap pulang membawakan hadiah miniature jendral itu buat Jack,” jawab Ny.Inez.


Arapun tertegun dan menatapnya, apakah itu yang menyebabkann Ny.Inez berselingkuh dengan Tn.Ferdi? Karena Ayahnya Jack sering meninggalkannya?


Ny.Inez menatap Ara.


“Tapi aku yakin kau sangat mencintai Jack, begitupun Jack, dia terlihat sangat mencintaimu, keadaan seperti ini tidak akan mengganggu cinta kalian,” kata Ny.Inez.


“Iya aku mengerti pekerjaannya Jack, aku harus menerima resiko menikahinya,” jawab Ara.


“Kapan Jack ke Paris?” tanya Ny. Inez.


“Aku belum tahu, sepertinya segera,” jawab Ara, sebenarnya hatinya merasa sedih akan ditinggalkan Jack.


“Kalau kau merasa kesepian, kau bisa menghubungiku, mungkin kita bisa mengisi waktu bersama, seperti berbelanja atau kegiatan lainnya,” kata Ny.Inez.


Ara merasa senang mendengarnya, sepertinya hubungannya dengan mertuanya semakin baik tapi sayang Jack belum bisa menerimanya.


“Tentu saja Nyonya. Aku akan sangat senang sekali. Kalau Jack sudah berangkat ke Paris aku akan menghubungimu,” ujar Ara.


Ny.Inezpun mengangguk senang. Mungkin dengan dia lebih dekat pada istrinya Jack, lambat laun Jack akan menerima kehadirannya dan memaafkannya.


“Kau belum pulang juga?”


Tiba-tiba obrolan mereka terganggu oleh Jack yang tiba-tiba muncul membuat mereka menoleh kearahnya.


“Aku sedang mencicipi masakan Ibumu, ternyata sangat enak, pantas kau menyukainya,” kata Ara, pada Jack yang menghampiri mereka.


“Aku kan sudah bilang kalau seleraku sudah berubah saat aku di RSJ,”ujar Jack masih dengan nada ketus.


Ny. Inez menoleh pada Ara.


“Sebaiknya aku pulang saja, maaf sudah mengganggu waktu kalian,” kata Ny. Inez sambil bangun dari duduknya.


Ny.Inez akan bicara tapi Jack mendahuluinya.


“Tidak perlu, kau bisa melihatnya di internet. Lagi pula Ny.Inez sangat sibuk,” kata Jack.


Jack tidak suka Ara dekat dengan Ibunya dan dia tidak mau memanggil Ibunya dengan sebutan Ibu.


“Benar kata Jack, kau bisa lihat di internet. Aku pergi dulu,” kata Ny. Inez lalu pergi dari ruangan itu.


Ara ingin mencegah tapi dia juga tidak bisa memaksa jika memang Jack belum mau menerima Ibunya.


Jack sama sekali tidak mencegahnya, dibiarkannya Ibunya pergi. Ara juga hanya bisa menatap kepergiannya Ny.Inez. Dia juga bingung kalau sudah begini.


Ara menghampiri Jack.


“Jack, sepertinya Ibumu berniat baik,” kata Ara.


“Aku tidak mau berhubungan lagi dengannya,” ucap Jack.


“Ibumu mengajakku belanja bersama jika kau pergi dinas ke Paris supaya aku tidak kesepian,” kata Ara, menatap Jack, berusaha melunakkan hatinya Jack.


“Kau kan bisa belanja dengan Ibumu,” ucap Jack, dengan nada tidak suka.


“Tidak seperti itu Jack, tidak ada salahnya menantu dekat dengan mertuanya, seperti orang-orang,” kata Ara.


“Tapi aku tidak suka. Aku tidak ingin melihat wajah Ibuku lagi,” ujar Jack, bersikukuh.


“Jack dia itu Ibumu, jelek-jelek juga dia Ibu kandungmu,” kata Ara.


“Aku tidak mau punya Ibu seperti itu,” ucap Jack, lalu menoleh pada makanan di meja itu.

__ADS_1


“Berikan saja makanannya pada pelayan, masih banyak makanan lain di rumah,” kata Jack lagi, lalu beranjak masuk ke rumah meninggalkan Ara.


Arapun diam mematung. Bagaimana ini? Hati Jack tidak  mau luluh, tapi sepertinya Ny.Inez memang benar-benar ingin berdamai dengan Jack. Sepertinya lagi memang butuh waktu buat Jack untuk memaafkan Ibunya.


Arapun segera membereskan makanan diatas meja itu lalu dibawanya ke ruang makan.


Ny.Inez merasa hatinya tercabik-cabik, terasa begitu sakit ditolak lagi oleh putranya. Mungkin ini juga yang dirasakan Jack saat dia menolak keberadaannya  dan menyembunyikannya di RSJ di Paris, dia malu mengakuinya ditempat umum karena Jack depresi. Dia lebih memikirkan egonya dan rasa malunya daripada memikirkan perasaannya Jack yang butuh perhatiannya.


Ny.Inez menutup pintu rumahnya dengan lesu. Dia terkejut saat melihat suaminya sudah ada di ruang tamu, berdiri dengan memakai kedua tongkatnya.


“Kau kemana saja? Kau pergi diam-diam tidak bicara denganku,” tegur Tn.Ferdi.


“Aku ada janji dengan teman sebentar,” jawab ny.Inez, tanpa menoleh pada suaminya, terus berjalan masuk ke rumah.


Melihat sikap istrinya yang lesu dan terlihat bersedih, Tn.Ferdi merasa curiga.


“Kau kenapa?” tanya Tn.Ferdi.


“Tidak apa-apa,” jawab Ny.Inez.


“Tidak apa-apa? Kau jangan berbohong padaku,” kata Tn.Ferdi, membuat Ny.Inez menghentikan langkahnya.


“Ternyata begini rasanya ditolak keberadaannya,” ucap Ny.Inez membuat Tn.Ferdi tidak mengerti.


“Apa maksudmu?” tanya Tn.Ferdi.


“Jack menolakku, dia tidak ingin bertemu denganmu lagi,” jawab Ny.Inez.


Tn.Ferdi terkejut mendengarnya, ternyata diam-diam istrinya pergi menemui Jack.


“Kau bicara dengan Jack?” tanya Tn.Ferdi, melangkah tertatih menghampiri istrinya.


“Iya sebentar, aku bicara dengan istrinya,” jawab Ny.Inez.


“Mungkin Jack sedang sibuk baru pulang kerja, jadi dia marah-marah atau hatinya sedang tidak nyaman,” kata Tn.Ferdi, sok bijaksana padahal mau memancing informasi dari istrinya.


“Tidak, dia hanya sudah ada tamu dari Paris, sepertinya Jack ada rencana kembali ke Paris, ada tugas Negara kata istrinya,” ujar Ny.Inez.


Mendengarnya membuat Tn. Ferdi seakan mendapat angin segar, bisa mendapatkan informasi tentang Jack.


“Jack akan ke Paris dengan istrinya? Mereka akan pindah?” tanya Tn.Ferdi.


“Tidak, hanya Jack saja, jadi aku mengajak istrinya untuk berlanja bersama supaya dia tidak terlalu kesepian,” jawab Ny. Inez.


Tn.Ferdipun diam, berbagai rencana bermunculan, bukankah itu kabar yang bagus? Jack akan pergi ke Paris sendirian, itu akan memudahkan rencananya. Sepertinya mencelakai Jack di Paris akan lebih baik dari pada disini, karena istrinya  Jack sudah melaporkan keluarganya ke pengacara pidana, mereka akan cepat jadi tersangka kalau terjadi apa-apa pada Jack disini.


“Kapan Jack ke Paris?” tanya Tn.Ferdi.


“Istrinya tidak mengatakan pastinya tapi sepertinya segera,” jawab Ny. Inez.


“Kau yang sabar saja, Jack pasti akan sulit memaafkanmu. Kau bisa dekati istrinya, mungkin kalau kau dekat dengan istrinya Jack, Jack akan pelan-pelan menerimamu, itu bagus,” kata Tn.Ferdi, padahal dia masih butuh informasi kapan Jack pergi ke Paris dan ke kota mana Jack bertugas.


“Iya. Dan ternyata istrinya Jack itu sangat baik. Padahal aku sudah memperlakukannya dengan buruk tapi dia masih mau menerimaku,” ujar Ny.Inez.


“Iya kau benar. Bagaimana kalau kau ajak dia main kesini, dia kan belum tahu rumah kita yang baru, terutama kalau Jack sudah berangkat ke Paris, pasti dia kesepian dirumahnya,” kata Tn.Ferdi, mencoba mencari jalan supaya bertemu lagi dengan Ara dan mengetahui kapan Jack pergi ke Paris.


“Kau benar, aku akan mengajaknya mampir kesini,” jawab Ny. Inez mengangguk, lalu meninggalkan ruangan itu.


Tn.Ferdi tersenyum senang, sepertinya semua rencananya berjalan mulus.


“Tunggu pembalasanku, anak gila!” umpatnya, sambil melihat kakinya yang terpaksa harus menggunakan tongkat, entah untuk sementara atau bisa jadi selamanya.


***********


Readers jangan lupa like dan gift ya. Dukung authornya biar semangat nyelesein novelnya. Jika kalian sudah bosan apalagi yang nulisnya hehe...sekali lagi maaf ya aku cuma bisa nulis satu bab satu bab.

__ADS_1


 


******


__ADS_2