Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-148 Melepas Jack


__ADS_3

Jack duduk disampingnya Ara. Memindahkan pakaian dari pangkuan Ara ke tempat tidur lalu meraih tangan istrinya dengan wajah yang sudah penuh dengan airmata.


Jemari Jack menghapus airmata dipipi istrinya itu.


“Kau akan pergi kemana? Tidak bisakah kau jujur padaku? Meski kabar buruk sekalipun seharusnya kau jujur padaku,” tanya Ara, dengan suara tersendat.


Jack menatap wajah itu yang pasti akan sangat dirindukannya. Meremas tangan istrinya dengan lembut, menyusuri jari-jari halus itu lalu diciumnya.


“Aku ada tugas, memang tugasnya agak berat, tapi aku sudah biasa melakukannya, kau tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja,” kata Jack.


“Tugas apa?” tanya Ara.


Jack tampak berfikir mencari kata-kata yang enak di dengar.


“Aku harus membawa pasukanku ke Negara konflik,” jawab Jack.


“Apa? Ke Negara sedang konflik?” tanya Ara, terkejut, menatap suaminya tidak percaya.


“Maksudmu kau berugas ke Negara yang sedang berperang?” lanjutnya, dengan nada tinggi.


“Tidak seperti itu,” Jack menggeleng.


“Tidak seperti itu bagaimana? Disana sangat berbahaya!” kata Ara.


“Kami pasukan bantuan kemanusiaan, kami akan aman disana,” ujar Jack, mencoba menenangkan istrinya.


Ara menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tidak, tidak, kau tidak boleh pergi,” ucapnya.


“Ada beberapa kasus penyanderaan dan kebutuhan penyelamatan lainnya yang korbannya rakyat sipil. Perancis mengirimkan bantuan pasukanku ke sana juga beberapa negara sahabat lainnya,” jawab Jack.


Sudah tidak bisa terlukiskan bagaimana sedihnya Ara mengetahui ini. Ara kembali menggelengkan kepalanya.


“Kau pegi ke tempat yang sedang berperang Jack, itu sangat bebahaya,” tanya Ara.


“Tidak seperti itu, bukan begitu. Kami kesana bukan untuk beperang tapi memberikan bantuan kemanusiaan,” ucap Jack.


“Itu sama saja dengan mengirimmu untuk mati disana! Bagaiaman kalau ada peluru nyasar atau ada bom yang meledak?” tanya Ara, dengan bayangan buruk kemana-mana.


Jackpun tersenyum.


“Tidak, sayang, jangan berfikir begitu,” Jack mengusap kepalanya Ara. Dia mengerti perasaan istrinya.


 “Aku menyesal memberimu ijin,” ucap Ara.


“Jangan begitu sayang,” kata Jack, menggelengkan kepalanya.


“Aku akan sangat menyesal kalau aku hanya diam saja disaat ada banyak orang yang membutuhkan bantuan,” lanjut Jack.


“Bagaimana kalau kau tidak kembali? Kenapa negaramu harus mengirimmu kesana?” tanya Ara, matanya kembali berkaca-kaca.


“Ini sudah tugasku, percayalah aku akan kembali secepatnya,” kata Jack.


Ara menatap Jack.


“Dulu kau katakan kalau aku mengenalmu lebih dulu apa pekerjaanmu, mungkin aku akan menolak menikah denganmu, kau benar, aku tidak mau!” ucap Ara menggelengkan kepalanya.


“Jangan begitu, kau mematahkan hatiku, aku mencintaimu,” kata Jack, lalu mencium bibir istrinya.


 “Kau harus yakin, aku akan baik-baik saja, aku sudah terbiasa bekerja ditempat berbahaya, aku akan baik-baik saja,” lanjut Jack, mencoba menenangkan hatinya Ara.


Ara terdiam, meskipun itu sudah tugas Jack, tapi Jack harus pergi ke negara konflik, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk dan Jack tidak bisa pulang lagi?


 “Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu, bagaimana kalau kau tertembak disana dan tidak pulang lagi?” tanya Ara membayangkan yang tidak-tidak.

__ADS_1


Jack memegang kedua pipinya Ara.


“ Kau jangan lupa. Aku Jendral 9 nyawa, aku tidak akan gampang mati, hilang satu nyawa masih ada 8 nyawa lainnya, aku akan tetap hidup, kau jangan khawatir,” kata jack.


Ara masih menatap Jack.


“Itu hanya dongeng Jack, tidak ada manusia memiliki 9 nyawa atau seribu nyawa, tidak ada,” ujara Ara, airmata itu kembali menggenang dimatanya.


"Kau memilki 9 nyawa, tapi peluru itu ribuan!" lanjut Ara.


“Kalau aku tahu kau akan pergi ke tempat yang berbahaya, aku tidak akan mengijinkanmu,” ucap Ara lagi disela isaknya.


Jack kembali mengusap airmata Ara dan mencium bibirnya berulang-ulang.


Jack menatap wajah yang sedang bersedih karena dia akan pergi. Dia begitu mencintainya, ada banyak wanita yang memilki paras dan tubuh yang cantik diluar sana, tapi dimatanya hanya wajah istrinya yang selalu dirindukannya.


Ara balas menatap wajah tampan itu, dia merasa berat melepas Jack, dia takut suaminya tidak kembali lagi.


Tangan Jack mengusap rambutnya Ara, lalu pipinya, kemudian bahu dan dadanya berhenti di perutnya.


“Jika kau hamil nanti, jaga Jendral kecilku baik-baik,” pinta Jack.


Mendengar kata-kata itu tentu saja membuat Ara terisak. Bagaimana bisa dia melewati hari-hari itu tanpa suaminya?


Ara sudah tidak bisa menahan tangisnya, diapun menangis. Jack langsung memeluknya, membiarkan istrinya meluapkan kesedihannya. Berulang ulang diciumnya rambut istrinya yang menyusup didadanya.


Dia juga bukan tidak sedih meninggalkan istrinya. Tapi dia juga bukan satu-satunya orang yang ditangisi istrinya seperti ini, ada banyak lagi prajurit yang ditangisi bukan saja oleh istrinya tapi anak-anaknya yang masih kecil.


Jack hanya bisa memeluk dan menciumnya untuk menenangkan istrinya.


Setelah agak lama menangis dipelukannya Jack, barulah Ara lebih tenang. Dipeluknya suaminya dengan erat, sebenarnya dia tidak pernah mau melepaskan pelukannya itu.


“Sayang, aku harus bersiap-siap,” ucap Jack.


Ara melepaskan pelukannya, sekarang tangisnya sudah mulai reda. Dia menghela nafas panjang dan menatap Jack.


“Iya,” jawab Jack, mengangguk lalu mencium Ara lagi, menempelkan bibirnya dengan lama, merasakan bibir lembut istrinya barulah melepasnya.


Jack menoleh pada pakaian  yang ada di tempat tidur itu, begitu juga dengan Ara, yang segera mengambil pakaian itu dan melepaskan plastiknya. Disentuhnya pakaian itu, lalu menoleh pada Jack.


Jack langsung berdiri, begitu juga dengan Ara, berdiri didepan suaminya. Dengan gemetaran, tangannya perlahan membuka kancing-kancing kemejanya Jack perlahan. Dirasa- rasanya saat ini seakan dia tidak akan pernah melakukannya lagi. Seakan ini adalah melepaskan pakaian Jack yang terakhir kalinya.


Pakaian ditubuhnya Jack terlepas satu persatu. Sekaranga Ara menatap dada telanjang itu, Ara mengusapnya perlahan, mungkin dia juga tidak akan pernah menyentuh dada itu lagi. Saat tangannya menempel di dadanya Jack, pria itu meraih tangannya lalu menciumnya.


Ara menatapnya dengan sedih, diapun menarik tangan Jack ke depan cermin dan mulai memakaikan pakaian  dinas itu ke tubuh Jack perlahan.


Bukan ini yang Ara ingingkan, dia ingin memakaikan pakaian itu dalam keadaaan bahagia, dengan yakin suaminya berangkat bekerja dan akan kembali pulang tepat waktu, tidak seperti ini melepas suaminya pergi bekerja tapi dia tidak tahu kapan suaminya akan pulang atau mungkin tidak akan pernah pulang lagi.


Ara menahan sesak yang kembali muncul didadanya tapi dia terus berusaha tegar. Dia kembali menyelesaikan memakaikan baju dinas Jack seperti yang diinginkannya. Dia tidak tahu apakah nanti akan memakaikannya lagi atau ini yang pertama dan terakhir kalinya.


Sekarang pakaian itu sudah terpasang rapih ditubuhnya Jack. Ditatapnya sosok itu, benar saja, pria itu terlihat sangat gagah dengan pakaian itu.


Ara masih menahan airmata yang  seperti ingin tumpah lagi. Jack juga membisu melihat istrinya seperti itu. Dia hanya diam saja saat Ara memakaikan sepatunya. Dia kembali berdiri di depan cermin itu, dia tidak perlu bercermin, dia cukup bercermin pada istrinya saja. Apapun yang dipakaikan istrinya itu adalah yang terbaik buatnya.


Ara menatap suaminya itu. Rasa sedihnya ditahan-tahan, meskipun berat melepasnya, tapi tidak ada pilihan lain. Jack sudah memilih pekerjaannya dan dia harus bertanggung jawab pada pekerjaannya, semua pekerjaan ada resikonya masing-masing.


Kedua tangan Ara mengusap dada Jack yang sudah berpakaian dinas itu, kemudian mengangkat wajahnya menatap suaminya.


“Pergilah, suamiku,” ucapnya, sambil tersenyum.


“Tapi kau harus ingat janjimu padaku,” kata Ara.


“Ya, aku akan cepat pulang, dan aku akan setia,” jawab Jack.


Ara mengagguk ternyata suaminya ingat janjinya lalu dia tersenyum lagi, senyum yang paling berat yang dia rasakan, karena setelah itu airmatanya kembali menetes dipipinya.

__ADS_1


Jack langsung memeluknya dengan erat, Ara hanya bisa bersandar ditubuh suaminya, di rasa-rasakannya hangat pelukan itu, yang pastinya akan sangat dirindukannya nanti.


Jack membelai rambutnya Ara. Istrinya itu mengangat wajahnya kembali menatapnya. Jack mencium lagi bibirnya dengan lama.


“Aku mencintaimu,”  ucap Jack.


“Kau bisa pegang janjiku,” lanjutnya.


Ara mengangguk tanpa bicara lagi. Lalu memakaikan topinya. Lengkap sudah tugasnya memakaikan baju dinasnya Jack, kini pria itu berdiri di depannya dengan gagah.


Ara menatapnya sekali lagi.


“Cepat pulang dengan selamat, jaga dirimu baik-baik,” ucap Ara, kembali mengusap dada suaminya.


“Iya” jawab Jack.


Memeluk istrinya lagi, sungguh berat melepasnya. Tapi dia sudah berikrar dengan tugas dan kewajibannya pada negaranya.


Jack keluar dari kamar itu sambil memeluk Ara.


Sampai di ruang tamu, Ny.Inez sudah berdiri disana juga dua prajurit itu dan Pak Beni.


Jack menoleh pada Ibunya.


“Aku titip istriku,” ucap Jack.


“Iya, kau juga jaga dirimu baik-baik,” kata Ny.Inez, dengan mata yang berkaca-kaca.


Hanya itu yang bisa diucapkan olehnya. Kerongkongannya terasa tersekat melihat putra yang diabaikannya bertahun-tahun, kini berdiri di depannya dengan tampan dan gagahnya menggunakan pakaian dinas seperti ayahnya dulu. Sudah tidak bisa terbendung rasa sedih dan penyesalan yang ada didadanya.


Jack menoleh pada Pak Beni.


“Jaga mereka,” katanya .


“Baik, Tuan,” jawab Pak Beni.


Jackpun keluar bersama dua prajurit itu. Ara mengkutinya dengan hati yang sangat sedih, kalau bertugas di Paris mungkin dia tidak akan seberat ini tapi mengetahui pergi ke tempat yang berbahaya, rasanya hatinya begitu berat. Dia harus sudah siap jika hal buruk menimpa suaminya, rasanya tubuhnya seperti melayang di udara, terasa hampa.


Ditahannya supaya airmatanya tidak tumpah lagi, dia harus tegar melepas Jack, dan harus bersabar menunggu dia kembali.


Jack masuk ke dalam mobil bersama 3 orang prajurit itu. Ara mengejarnya saat prajurit yang terakhir naik akan menutup pintunya.


“Jaga dirimu baik-baik!“ serunya pada Jack.


Jack mengangguk dan tersenyum. Ara menoleh pada prajurit itu.


“Apa kau sudah menikah?” tanyanya.


“Sudah Nyonya, anakku 1 usianya 2 tahun,” jawab Prajurit itu.


Arapun diam, apalagi prajurit itu memiliki anak yang masih kecil yang tetap ditinggalkannya demi tugas negaranya.


Pintu mobilpun ditutup, tapi jendelanya masih terbuka.


Ara menatap Jack yang ada didalam mobil itu, pria itu juga menatapnya.


“Cepat kembali, aku menunggumu…Jendral!” ucapnya dengan perasaan kembali sedih.


“Aku akan kembali,” jawab Jack, mengangguk dan tersenyum untuk menenangkan hati istrinya.


Tidak berapa lama mobil itu melaju meninggalkan rumah itu. Ara hanya bisa mematung saja, menatap kepergiannya. Terlihat bayangan Jack duduk di dalam mobil itu tanpa menoleh kebelakang lagi.


Airmata itu perlahan menetes di pipinya.


“Cepat kembali Jack, aku akan menunggumu,” ucapnya dengan sedih. Tangisnyapun pecah sudah tidak bisa tertahankan lagi.

__ADS_1


***********


__ADS_2