Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-56 Bunga dari suamiku


__ADS_3

Ara membukakan matanya dan menggeliatkan tubuhnya. Semalam dia tidur sangat nyenyak. Dilihatnya tubuhnya beselimut dengan rapih, pantas saja dia begitu nyenyak, tubuhnya terasa hangat dibawah selimut. Diingat-ingatnya semalam dia tertidur bersandar pada Jack. Mungkin Jack yang memindahkannya ke tempat tidur dan menyelimutinya. Kalau memperhatikan sikap Jack seperti itu rasanya Jack seperti pria normal lainnya.


Dilihatnya ke sampingnya Jack sudah tidak ada, mungkin Jack sedang berenang, ya sepertinya begitu, pria itu pandai sekali berenang.


Ada yang menarik pagi ini, mata Ara tertuju pada buket bunga yang ada diatas meja disebelah tempat tidur, membuatnya keheranan.


“Bunga buat siapa itu?” gumamnya, sambil turun dari tempat tidur. Diambilnya buket bunga itu dan diciumnya, tercium bau bunga itu harum dan segar. Dilihatnya ada kertas ucapan disana, Arapun membukanya.


“Teruntuk istriku dari suamimu.” Tulisan itu sangat pendek.


“Apa ini dari Jack?” gumam Ara.


“Ada yang kurang Jack, seharusnya kau menulis aku mencintaimu, begitu Jack,” ucapnya lagi memberengut sebentar lalu tersenyum. Bunga itu kembali diciumnya.


Sejurus kemudian Ara terdiam, apa itu artinya Jack sudah mulai sembuh? Dulu Jack juga memberinya bunga. Diapun bertanya-tanya. Dilihatnya kearah balkon yang ternyata pintunya terbuka. Buru-buru Ara kesana tapi ternyata Jack tidak ada, dilihatnya ke bawah ke arah kolam renang juga tidak ada. Kemana Jack?


Pria yang dicarinya itu sedang berada di ruang kerjanya. Jack duduk sambil melihat tumpukan kertas yang bergambar wajahnya Ara.


“Aku menggambar wajah istriku sebanyak ini?” tanya Jack, sambil tersenyeum, dia menertawakan dirinya sendiri, yang menggamabar banyak  HVS diatas mejanya.


“Iya Tuan,” jawab Pak Beni.


“Aku pasti sangat mencintainya kan?” tanyanya agi. Menatap salah satu gambar yang ada di tangannya.


Pak Beni mengangguk.


“Dia cantik bukan?” tanya Jack.


“Tentu saja Tuan,” jawab Pak Beni sambil tersenyum.


Jack kembali menatap gambar itu, dia kemali tersanyum. Semalam istrinya tidur dipelukannya. Sebenernya dia tidak ingin melepaskan pelukannya, tapi pasti istrinya akan pegal-pegal jika bangun nanti. Jadi dia membaringkan istrinya dan menyelimutinya.


“Ada banyak yang harus aku bereskan, Pak Beni,” kata Jack, sambil melihat k ke sekeliling ruang kerja itu.


“Tidak ada CCTV kan?” tanya Jack.


“Tidak ada, sejak Tuan tiba disini saya sudah mensterilkannya,” jawab Pak Beni.


“Bastian akan melamar gadis itu? Siapa nama gadis itu?” tanya Jack.


“Kinan. Tuan,” jawab Pak Ben.


“Bastian ingin hadiah yang sama dengan yang aku berikan buat Ara?”tanya Jack.


“Iya Tuan. Apa Tuan akan memberikannya?” jawab Pak Beni.


“Sebenarnya aku tidak masalah, tapi semua terserah pada istriku,” jawab Jack.


“Apa maksud Tuan terserah Nyonya?” tanya Pak Beni, keheranan.


“Kalau Ara setuju, aku akan tandatangan kalau tidak, aku tidak akan tandatangan,” jawab Jack.


“Baiklah kalau Tuan inginnya begitu,” ujar Pak Beni.


Dikamarnya, Ara kembali mencium bunga itu. Dia benar-benar merasa senang, Jack memperhatikannya, itu tandanya Jack sudah mulai sembuh. Diapun segera keluar dari kamar itu dengan bunga yang masih ditangannya.


“Jack! Jack! Kau dimana?” teriak Ara, sembil melihat ke sekeliling ruangan di lantai atas itu. Langkahnya terhenti saat dia bertemu dengan Bastian.


Bastian terkejut melihat Ara ada di hadapannya.


“Kau! Sedang apa kau disini?” tanya Bastian.


Ara menatapnya dengan sebal.

__ADS_1


“Apa lagi? Tentu saja ini kan rumah suamiku,” jawab Ara.


“Orang gila itu kembali?” tanya Bastian.


“Dia kakakmu Bastian! Kau harus menghormatinya!” bentak Ara dengan kesal.


Bastian tampak memikirkan sesuatu, tidak menghiraukan kekesalannya Ara.


“Dimana dia?” tanya Bastian.


“Aku juga mencarinya,” jawab Ara.


Bastian melihat pada buket bunga yang dipegang Ara.


“Kenapa? Ini dari Jack,” kata Ara.


“Huh, bunga dari orang gila saja bangga!” gerutu Bastian, lalu beranjak meninggalkan Ara.


“Heh kau mau kemana?” tanya Ara.


“Tentu saja aku mencari orang gila itu!” jawab Bastian.


“Mau apa kau mencari Jack?” tanya Ara, sambil mengikuti langkahnya Bastian.


Adik iparnya itu tidak menjawab, dia terus melangkah menuju ruang kerjanya Jack.


Pak Beni dan Jack mendengar suara langkah kaki mendekat dan tentu saja suara Ara yang


melengking terdengar ke ruang kerjanya Jack.


“Bastian! Bastian! Mau apa kau mencari Jack? Kau tidak boleh mengganggunya!” teriak Ara.


Jack dan Pak Beni menoleh kearah pintu saat pintu itu ada yang membukanya. Bastian masuak keruangan itu diikuti Ara.


Melihat Jack bersikap seperti itu, rasanya tidak percaya kalau suaminya itu seorang pria depresi.


Jack seperti sudah menebak dengan kehadirannya Bastian, dia menatap adik seibunya itu lalu pada istrinya yang menyusul masuk dengan buket bunga di tangannya. Dilihatnya istrinya itu menoleh kearahnya dan tersenyum. Jack bisa menebak kalau istrinya suka dengan bunga pemberiannya.


Bastian akan bicara tapi terkejut saat Ara menyerobot melewatinya sampai menabrak bahunya Bastian, membuat Bastian kesal.


“Jack!” seru Ara, menghampiri Jack dan menghentikan langkahnya didepan mejanya Jack.


“Ini bunga darimu kan?” tanya Ara. Memperlihatkan bunga itu.


Jack menatap wajah istrinya yang baru bangun tidur itu. Meskipun tanpa make up dan pastinya belum mandi, istrinya terlihat sangat cantik dimatanya.


“Kau suka?” tanya Jack, membuat Ara semakin senang mendengarnya.


“Jack kau mulai sering bicara! Ya tentu saja aku suka! Bunganya sangat cantik, terimakasih!” ucap Ara, berjalan lebih dekat lagi pada Jack lalu mencium pipinya Jack. Tentu saja Jack terkejut mendapatakan ciuman dari istrinya. Istrinya itu suka sekali mencium pipinya.


“Aku senang!  Kau juga ingat kan kalau kau memberikanku bunga setelah kita menikah! Itu artinya kau sudah lebih baik, aku yakin kau akan sembuh!” seru Ara bersemangat.


“Sudahlah jangan drama!” terdengar suara Bastian, membuat Ara membalikkan badannya menatapnya.


“Kau iri saja!” gerutu Ara.


Bastian menatap kakaknya.


“Kakak, apa Ibu sudah mengatakan kalau aku butuh uang untuk membeli rumah mewah dan perhiasan untuk melamar Kinan?” tanya Bastian.


Jack terdiam, semua keluarganya yang diingatnya hanya materi saja, tanpa ada satupun yang bertanya kabarnya bagaimana.


Jack tidak bicara, dia hanya menatap Bastian, adik yang berbeda ayah itu.

__ADS_1


“Apa kau yakin akan melamar dengan hadiah sebanyak itu?” tanya Ara.


“Apa Kinan pantas mendapatkannya?” tanya Ara lagi, membuat Bastian menatap Ara.


“Apa maksudmu? Kau membandingkan Kinan denganmu? Asal kau tau saja. Kalau kakakku tidak gila tidak mungkin memberikan hadiah sebanyak itu padamu! Kau punya apa? Kau berbeda jauh dengan Kinan!” hardik Bastian dengan kesal.


“Bukan begitu, maksudku apa kau sudah yakin kalau Kinan mencintaimu? Seharusnya kalau dia mencintaimu dia tidak akan memberikan persyaratan seperti itu! Apalagi kau meminta hadiahnya dari kakakmu!” ucap Ara.


“Sudahlah tidak usah ikut campur! Yang pasti aku akan melamar Kinan dengan hadiah yang sama yang kakak berikan padamu!” kata Bastian dengan kesal.


Arapun diam.


 “Kau ini semakin lama semakin sok ikut campur! Tentu saja Kinan mencintaiku! Dia minta hadiah itu karena dia memang pantas mendapatkannya! Dia cantik juga dari keluarga berada! Aku tidak mungkin menolak keinginannya!”


Lanjut Bastian.


“Kenapa aku merasa Kinan hanya ingin uangmu saja,” ucap Ara.


“Yang patut dicurigai itu kau! Mau saja menikah denga pria gila, untuk apa kalau bukan uang?” kata Bastian, tersenyum sinis.


Jack hanya mendengarkan percakapan mereka, ternyata memang keluarganya sangat menyudutkan Ara.  Tapi yang dikatakan Bastian benar, siapa wanita yang mau menikahi pria yang depresi? Kecuali wanita yang memiliki hati lembut seperti istrinya.


Bastian kembali menatap kakaknya, lalu menoleh pada Pak Beni.


“Aku ingin secepatnya melamar Kinan, jadi uang itu harus secepatnya dicairkan!” kata Bastian.


“Itu terngatung pada Nyonya Ara, Tuan,” ucap Pak Beni membuat Bastian terkejut.


“Apa maksudmu tergantung Ara?” tanya Bastian.


“Tuan Delmar hanya mau menandatangani ceknya jika Nyonya Ara menyetujuinya,” jawab Pak Beni.


“Apa? Kau mengada-ada! Mana mungkin orang gila berfikir begitu?” maki Bastian dengan kesal.


“Itu keinginan Tuan,” ucap Pak Beni.


Ara terkejut mendengarnya, apa benar Jack mengatakan itu semua? Diapun menoleh pada Jack yang ternyata juga menatapnya.


“Jack, apa benar apa yang dikatakan Pak Beni itu?” tanya Ara.


“Ara,” jawab Jack.


“Kau ingin persetujuan dariku?” tanya Ara, menatap suaminya.


“Ara,” jawab Jack lagi, sebenarnya dia bingung harus terus-terusan berpura-pura masih sakit. Tapi terpaksa dilakukannya demi membongkar semuanya.


Bastian menoleh pada Jack.


“Apa-apaan ini? Kalian mempersulitku?” bentak Bastian dengan nada tinggi.


“Hei, ada pa ini? Kenapa ribut sekali?” tiba-tiba ada suara Ny. Inez memasuki  ruangan kerja itu.


Bastian menoleh pada ibunya yang menatap orang-orang yang ada di ruangan itu.


“Ibu, masa kakak mencairka uang untuk melamar Kinan harus sesuai persetujuan dari kakak ipar? Benar-benar payah!” Bastian langsung mengadu.


Tentu saja Nyonya Inez terkejut mendengarnya. Diapun menoleh pada Pak eni.


“Apa maksudnya itu?” tanya Ny. Inez.


“Tuan tidak mau menandatangani pencairan uang untuk lamaran kalau tidak ada persetujun Nyonya Ara. Tuan hanya akan menandatangani cek jika Nyonya Ara setuju, jika Nyonya Ara tidak setuju maka Tuan tidak akan menandatanganinya,” jawab Pak Beni, semakin membuat Ny. Inez terkejut juga marah.


*********

__ADS_1


__ADS_2