
Malam terasa begitu gelap hari ini, bulanpun tidak bercahaya seterang hari-hari sebelumnya. Tapi ada yang sedang menikmati malam yang terasa dingin itu dalam kesendirian. Seorang pria duduk diatas bukit yang gundul, tidak ada rumput hijau yang menemaninya, hanya sesekali debu beterbangan teriup angin malam.
Sesekali dia membuka tutup botol minumnya, mengangkat wajahnya menegak minuman yang ada ditangannya itu, kemudian menutupnya lagi. Disimpannya botol itu didampingnya, lalu kembali memeluk kedua lututnya yang ditekuk.
Matanya menyapu lahan yang ada dibawah bukit itu, tenda-tenda tampak memenuhi tempat itu. Api unggun-api unggun dinyalakan karena memang tidak ada penerangan didaerah sini. Meski seperti itu suasananya sangat ramai, bahkan anak-anak kecil juga masih banyak yang berlarian.
Seorang pria muda tampak kelelahan menaiki bukti itu, mengangkat kepalanya melihat pada pria yang sedang duduk itu.
“Jendral!” teriaknya, dengan nafas yang terengah-engah sambil menghentikan langkahnya.
Pria yang dipanggil Jendral itu tampak mencari arah suara.
“Jendral Delmar!” teriaknya lagi.
Pria itu yang tiada lain adalah Jack, menoleh kearah suara, baru terlihat kepalanya pria itu.
“Hector! Kemarilah!” jawabnya juga berteirak.
Pria itu yang dipanggil Hector, kembali mendaki dengan susah payah, keringat mengucur di dahinya.
“Aku mencari Jendral kemana-mana! Ternyata Jendral ada disini!” kata Hector, begitu sampai diatas, disela nafasnya yang terengah-engah.
“Ada apa?” tanya Jack, kembali menatap tenda-tenda yang dibawah itu.
“Jendral belum makan!” jawab Hector.
“Nanti aku makan!” ujar Jack.
Hector berdiri menatap Jack.
“Tadi siang juga jawabannya begitu, perjalanan kita masih jauh Jendral, jangan sampai Jendral sakit!” kata pria itu.
“Kau seperti perempuan saja!” ucap Jack, tersenyum dan tangannya menepuk bahunya Hector yang duduk disampingnya
“Apa Jendral merindukan seseorang?” tanya Hector, sambil dia juga melihat kearah tenda-tenda.
“Aku hanya sedang rindu pada istriku, aku belum bisa mengabarinya sama sekali, dia pasti cemas,” jawab Jack.
“Kita senasib Jendral,” ucap Hector.
Jackpun mengangguk. Mereka berdua tidak bicara lagi, hanya menatap ke tenda-tenda itu. Dilihatnya ada mobil-mobil berdatangan.
“Apa itu? Siapa mereka?” tanya Jack.
“Wah ternyata mereka sudah datang!” seru Hector, wajah murungnya tadi berubah menjadi sangat senang.
“Apa maksudmu sudah datang?” tanya Jack.
“Wanita-wanita,” jawab Hector, sambil tersenyum, tangannya langsung menggeser geser ikat pinggangnya.
Jackpun tidak menjawab, dia memang sudah tahu soal itu.
Hector langsung berdiri.
__ADS_1
“Ayo Jendral!” ajak Hector.
“Mau kemana?” tanya Jack.
“Memilih wanita!” jawab Hector.
“Aku disini saja!” jawab Jack.
“Jendral, jangan begitu, kita tidak tahu kapan kita pulang, perlu hiburan sedikit, biar ada semangat lagi,” jawab Hector.
“Tidak, aku disini saja!” kata Jack, kembali menekuk kedua lututnya.
“Jendral serius?” tanya pria itu.
“Iya, aku sudah berjanji pada istriku akan tetap setia,” jawab Jack.
Hector kembali berjongkok dan menatap Jack.
“Jendral, istri jauh dirumah, dia tidak akan tahu,” bisik Hector.
Jack terdiam.
“Lagi pula ini bukan selingkuh Jendral, kita tidak memakai hati, cuma semalam saja, sudah!” kata Hector.
“Tidak, aku malah selalu terbayang wajah isriku, dia memintaku berjanji untuk cepat pulang dan setia. Janji cepat pulang tidak bisa aku tepati, karena kita masih punya pekerjaan disini. Tapi janji untuk setia, harus bisa aku tepati, aku tidak bisa ingkar janji dua-duanya,” ucap Jack.
Hector menatap Jendralnya.
“Tapi apa?” tanya Jack balas menatap Hector yang masih berjongkok di depannya.
“Aku dengar kalau lama tidak digunakan akan tidak berfungsi dengan normal!” jawab Hector, berbisik sambil menoleh ke kanan dan kekiri.
“Apa? Kata siapa?” tanya Jack.
“Kata orang-orang!” jawab Hector.
“Kau ada-ada saja,” jawab Jack, tersenyum kecut dan kembali melihat ke tenda-tenda itu.
“Percaya tidak percaya, Jendral harus memikirkan itu! Ini demi kesehatan kita juga. Bagaimana nanti kalau tidak bisa berdiri lagi? Istri kita akan selingkuh!” kata Hector.
“Kau ini berfikir macam-macam saja!”gerutu Jack.
“Aku serius, Jendral” kata Hector seakan pernah mengalaminya.
Jack menoleh pada Hector.
“Punyaku tidak berdiri lagi masih ada obatnya, tapi hati istriku yang sakit karena aku berselingkuh, selamanya akan menjadi duri dalam daging! Susah obatnya!” ujar Jack.
“Ya sudahlah kalau begitu, Jendral! Selamat menyendiri, Jendral!” kata Hector lalu berdiri, dan meninggalkan Jack, tapi baru juga beberapa langkah, dia menoleh lagi.
“Apa?” tanya Jack.
“Apa mungkin Jendral mau lihat-lihat dulu? Memilih dulu? Kita tidak masalah Jendral dulu yang memilih,” jawab pria itu.
__ADS_1
“Hector!” bentak Jack, dia akan melemparnya dengan botol minum.
“Maaf, maaf Jendral! Aku bercanda!” teriak Hector sambil berlari menuruni bukit sebelum botol minum itu dilempar Jack dan mengenai kepalanya.
“Aku pergi Jendral!” teriak Hector lagi, buru-buru menuruni bukit.
Jack kembali meraih botol minumnya dan meminum airnya beberapa teguk. Dia bukannya tidak kesepian, tapi yang dia butuhkan bukan wanita-wanita itu, dia hanya ingin istrinya saja.
Kemudian muncul wajah Ara dibayangannya, menelponnya baru bangun tidur dengan wajah pucat dan rambut yang acak-acakan belum mandi, saat dia tiba di Paris.Itu awal awal dia begitu merindukannya saat dia sembuh dari depresinya.
Dia rela membuat sekenario dengan Pak Beni dan menutup pakaian dinasnya dengan selimut, pura-pura Pak Beni yang menelpon padahal dia yang merindukannya. Jack tersenyum mengingat hal itu. Kemudian senyum itu berubah murung. Sudah satu bulan dia meninggalkan istrinya, apa kabarnya istrinya itu? Dia kembali memium air itu dan melihat kearah bawah bukit.
Prajurit -prajuritnya tampak bersuka cita mendapat tamu-tamu istimewa mereka. Memang tidak bisa disalahkan juga, mereka adalah pria-pria normal yang membutuhkan penyaluran hasrat mereka, berjauhan dengan istri-istri mereka dalam waktu yang tidak tentu.
Malam semakin larut, Jack kembali melihat tenda-tenda itu yang mulai sepi, hanya beberapa prajurit yang berjaga-jaga.
Jackpun berdiri dan menuruni bukit itu, dia juga harus istirahat supaya besok tubuhnya kembali segar.
Lumayan lama dia menuruni bukit itu. Kakinya melewati tenda-tenda prajuritnya, yang sebagian terdengar masih mengobrol didalam tenda, juga tawa wanita-wanita yang menemaninya.
Jack terus berjalan menuju tendanya. Beberapa Prajurit yang sedang berjaga menyapanya.
Setelah tiba di tendanya, Jackpun masuk. Dilepasnya topinya itu lalu disimpannya sembarang. Dia merasakan tubuhnya yang pegal, diapun menggeliatkan tubuhnya, lalu mengganti pakaiannya dengan kaos putih yang pas ditubuhnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang atletis.
Dia membungkukkan sedikit badannya dan bercermin pada cermin kecil yang menggantung di tenda lalu merapihkan rambutnya. Setelah itu dia menggantung bajunya di sebuah hanger yang tergantung sealakadarnya.
Jack membalikkan badannya, dia agak terkejut saat melihat seperti ada yang berbaring di tempat tidurnya menggulung menggunakan selimut.
“Hector! Katamu kau sedang memilih wanita! Kenapa kau tidur di tempatku? Malam ini aku tidak mau tempat tidurku sempit! Pergi sana! Jangan menggangguku!” usirnya, sambil bertolak pinggang.
Yang dibawah selimut tidak juga bergerak. Wajah Jack berubah masam dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tanpa berfikir panjang lagi, dia naik ke tempat tidur dan berbaring, lalu menarik selimutnya, menutup seluruh tubuhnya sampai ke kepala, tapi kemudian dia terkejut saat melihat siapa yang ada dibalik selimut itu. Seorang wanita cantik berkulit putih dengan telanjang bulat langsung naik ketubuhnya.
“Malam, Jendral!” sapa wanita itu sambil tersenyum, menatap Jack, masih dibawah selimut.
Tentu saja Jack sangat kaget, tangan kanannya Jack langsung meraih senjata yang dia letakkan di dekat kepalanya dan langsung menodongkannya pada wanita itu. Wanita itu sangat terkejut mendapat perlakuan itu, wajahnya langsung berubah pucat.
“Bangun!” bentak Jack.
“Ba..baik Jendral!” ucapnya dengan gugup dan buru-buru bangun dari tubuhnya Jack, membuat selimutnya terbuka dan jatuh.
Jack masih menodongkan senjatanya ke arah wanita itu.
“Jangan Jendral!” kata wanita itu, kembali melihat senjata itu, sambil mengangkat kedua tangannya keatas.
“Kau siapa?” tanya Jack, masih menatap tajam wanita itu.
Wanita itu duduk diatas perutnya Jack dengan kedua lutut dilipat berada disamping tubuhnya Jack. Kedua tangannya masih diangkat ke atas, wajahnya pucat melihat senjata itu.
Jack masih menodongkan pistol pada wanita itu yang tanpa busana, duduk di atas perutnya, sambil mengangkat kedua tangannya keatas, membuat semua bagian tubuh telanjangnya jelas terlihat.
***********
__ADS_1