Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-159 Melepas Rindu


__ADS_3

Sore harinya Ara sudah berada diteras rumah besar itu, kadang duduk dikursi yang ada diteras, kadang berjalan-jalan, nanti duduk lagi, begitu terus menerus, sambil sesekali mengusap perutnya dan mengajak bicara bayi dalam perutnya. Dia gelisah menunggu Jack pulang. Meskipun dia tahu Jack sudah ada di kantornya, tapi perpisahan kemarin membuatnya trauma.


Sampai akhirnya mobil itu memasuki halaman rumah, senyum sudah mengembang dibibirnya dengan mata yang kembali memerah. Haru dan bahagia menjadi satu melihat suaminya pulang.


Dilihatnya suaminya turun dari mobil itu, tidak berapa lama mobil itu pergi lagi meningggalkan halaman rumah itu.


Jack menoleh pada istrinya yang berdiri di teras menatapnya, diapun tersenyum. Melihat istrinya menyambutnya tersenyum dengan perutnya yang buncit membuatnya terlihat semakin cantik.


Ara akan menuruni tangga, tapi Jack berteriak.


“Kau tetap disitu, tunggu aku disana!” teriaknya, membuat kaki Ara terhenti.


Pria itu segera menghampirinya, menaiki tangga lalu menghentikan langkahnya berdiri tepat didepan Ara.


“Kau sudah menungguku dari tadi?” tanya Jack, menatap istrinya yang juga terus menatapnya seakan masih tdiak percaya kalau dia sudah ada didepannya.


Ara mengangguk, tidak menjawab. Kenapa sekarang bibirnya begitu sulit untuk bicara? Apa dia takut nantinya ucapannya berubah tangisan?


Jack melepaskan topinya, kemudian tangannya langsung mengulur, mengusap wajah istrinya dan mencium bibirnya dengan penuh rasa rindu. Dia merasa lega sudah bisa berada disamping istrinya lagi. Lalu dia berjongkok, menatap perut bulat itu, mengusapnya perlahan dan menciumnya.


“Kau selalu menemani Ibumu  selama Ayahmu ini pergi, kan?” tanyanya,  sambil kembali mencium perut itu. Tangan Ara mengusap rambut pria itu, yang topinya sudah dilepas. Dia juga bahagia suaminya sudah pulang.


Jack kembali berdiri dan memeluknya.


“Ayo masuklah, aku sudah tidak sabar ingin mendengarmu bercerita,” ajaknya.


Merekapun masuk kerumah itu yang terasa begitu sepi.


“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi,” kata Ara, saat mereka sudah di dalam kamar.


“Tidak, kau jangan berusah payah, ada banyak orang yang bisa melakukan itu. Jangan bolak balik ke kamar mandi, licin, aku tidak mau kau terjatuh,” ucap Jack, sambil melepaskan pelukannya lalu mencium kening istrinya.


Jack menyimpan topinya di bagian lemari yang datar, lalu menekan tombol yang ada ditembok dan meminta pelayan rumahnya menyiapkan perlengkapan mandinya.


Ara hanya berdiri menatapnya. Jack membalikkan badannya melihat istrinya hanya menatapnya saja. Diapun menghampirinya dan langsung menggendongnya.


“Jack!” teriak Ara yang kaget karena pria itu tiba-tiba menggendongnya. Tangan Ara langsung memeluk lehernya Jack.


“Kau bertambah berat sekarang,” ucap Jack, melangkahkan kakinya menuju sofa lalu duduk disana dan mendudukkan istrinya di pangkuannya.


“Iya aku naik beberapa kilo. Bayimu sepertinya akan gemuk,” jawab Ara, sambil mengusap perutnya.


Jack menatap perut yang sedang diusap Ara itu lalu menatap wajah istrinya.

__ADS_1


“Apa kau tidak ingin menciumku?” tanya Jack, membuat Ara terkejut. Diapun menatap suaminya. Pandangan merekapun bertemu.


“Aku selalu merindukanmu,” ucap Jack dengan serius.


Tangan Ara langsung memeluk lehernya Jack, mendekatkan wajahnya lalu mencium bibirnya Jack. Matanya langsung berkaca-kaca saja. Jack merasa kasihan melihatnya, pasti istrinya sangat menderita karena dia pergi lama tanpa kabar berita.


Kedua tangan Jack memegang kepalanya Ara, mengusap rambutnya dengan pelan.


“Aku minta maaf,” ucap Jack.


Ara balas menatapnya, tapi Jack tidak bicara lagi, hanya mencium bibirnya lalu tangannya menarik tubuh istrinya supaya bersandar padanya.


“Katakan padaku, kau mengidam apa?” tanya Jack,sambil mengusap perut istrinya.


“Aku tidak mengidam apa-apa, aku hanya ingin kau pulang,” ucap Ara, menempelkan kepalanya di dadanya Jack, sambil tangannya menimpa diatas tangan Jack yang ada diperutnya.


Jack mencium rambutnya Ara, memeluknya lebih erat.


“Aku sangat merindukanmu,” ucapnya.


“Aku juga,” ujar Ara.


Terdengar suara pintu diketuk.


“Masuk saja!” teriak  Jack.


“Tuan, kami akan menyiapkan perlengkapan mandi Tuan!” kata salah satunya.


“Ya!” jawab Jack, sedikit berteriak karena posisi sofa itu agak jauh dari tempat tidur dan toilet.


Para pelayan itupun pergi ke kamar mandi. Kehadiran mereka tidak mengganggu dua orang yang sedang saling melepas rindu.


“Kenapa kau tidak menelponku? Aku sangat khawatir, aku fikir kau sudah melupakanku!,” ucap Ara, menjauhkan tubuhnya dari Jack dan menatapnya dengan serius.


Jack membalas tatapan istrinya, mengusap rambutnya, lalu mencium bibirnya lagi.


“Kau merindukanku?” tanya Jack.


Ara mengangguk.


“Ponselku rusak, lokasinya juga sangat kacau, daerahnya tidak ada jaringan komunikasi,” jawab Jack, tangannya mengusap-usap rambutnya Ara.


“Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir,” lanjut Jack.

__ADS_1


Ara terdiam, matanya kembali memerah, mengingat bagaimana putus asanya dia karena Jack tidak bias dihubungi.


“Jangan melakukannya lagi,” ucap Ara, dengan bibir yang bergetar dan butiran airmata menetes dipipinya.


“Iya, tidak akan seperti itu lagi,” kata Jack, sambil mengusap airmata istrinya, lalu menciumnya lagi, dia tidak akan bosan untuk menciumnya. Lalu tangannya memeluk Ara lagi supaya bersandar lagi.


Tangan kanannya menyentuh ujung kakinya Ara, mengusapnya perlahan naik ke betis, paha, terus menyusuri semua bagian tubuh istrinya, seakan sedang memastikan kalau istrinya baik-baik saja.


“Apa kakimu terasa pegal?” tanyanya.


“Sedikit,” jawab Ara.


Tangan kanan Jack langsung memegang kakinya Ara dan memijatnya perlahan. Ara terharu melihatnya, setidaknya kekhawatirannya Jack tidak ada saat dia melahirkan tidak akan terjadi, pria itu sudah ada bersamanya.


“Kau menyayangiku?” tanya Ara, bersandar di dadanya Jack.


“Tentu saja,” jawab Jack.


“Kau masih ingat janjimu padaku?” tanya Ara.


“Iya, aku ingat,” jawab Jack, tangannya masih memijat kakinya Ara.


“Apa kau menepati janjimu?” tanya Ara.


Jack melepaskan pijatannya, lalu menoleh pada Ara yang langsung menjauhkan tubuhnya menatapnya.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Ara, kenapa hatinya langsung merasa gelisah saja.


“Aku minta maaf aku tidak menepati janji yang pertama, aku tidak cepat pulang,” jawab Jack.


“Tapi sekarang aku pulang, apa kau menempati janjimu yang kedua?” tanya Ara lagi, kenapa hatinya jadi merasa resah.


Jack tidak langsung menjawab, membuat hati Ara semakin gelisah melihatnya  diam dan malah menatapnya.


“Kau tidak menepati janjimu?” tanya Ara, dengan sedikit khawatir.


“Apa aku harus jujur?” tanya Jack.


Mendapat pertanyaan itu membuat Ara merasa bimbang, kenapa Jack bertanya itu? Apakah Jack menjalin hubungan dengan seseorang? Apa dia jatuh cinta pada wanita lain?


“Ya, kau harus jujur,” ucap Ara, kini melepaskan pelukannya dan hanya duduk saja dipangkuannya jack.


Jack juga menatapnya, menimbang-nimbang apakah kejujurannya akan berdampak buruk atau tidak? Apakah kalau dia tidak cerita malah akan lebih baik atau sebaliknya?

__ADS_1


Melihat sikap Jack itu semakin membuat Ara curiga kalau telah terjadi sesuatu saat Jack jauh darinya. Apakah Jack akan jujur padanya atau tidak?


*****


__ADS_2