
Moderator mulai mengumumkan acara rapat siang ini dimulai. Setelah berbasa-basi menyapa yang hadir, moderator itu menoleh pada Jack.
“Para hadirin semua, kita kedatangan Tn. Jack Delmar selaku pemilik perusahaan ini. Ada banyak hal yang ingin Tn.Delmar sampaikan. Kepada Tn.Jack Delmar, kami persilahkan!” kata Moderator itu, sambil menoleh pada Jack.
Pria muda itu segera beranjak, pindah ke depan audiens, mengambil mikenya dan mulai bicara.
Ara merasa sangat gelisah, matanya melirik pada Pak Beni yang tampak biasa-biasa saja.
“Selamat siang,” sapa Jack, menatap semua yang hadir.
“Ini adalah pertemuan kita yang kedua. Aku minta maaf karena meeting hari itu sempat terganggu dan akan dilanjutkan hari ini,” kata Jack.
“Apa anda akan kembali mengambil alih operasional perusahaan?” terdengar suara seseorang.
“Iya, mulai sekarang aku akan mengambil alih semua perusahaan ayahku yag selama ini kuasa pengeloalaannya diberikan pada ibuku,” jawab Jack.
Ny. Inez diam, akhirnya Jack benar-benar mengambil perusahaannya. Tn.Ferdi menahan amarah yang bertumpuk-tumpuk di dadanya. Dia juga merasa malu setelah sekian lama menjadi pimpinan tertinggi kini dengan mudahnya diambil alih oleh Jack.
“Maaf Tn. Delmar, setahu kami anda sakit, seperti yang dulu kami sampaikan kami tidak bisa bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin orang sakit. Kami tidak mau bangkrut,” kata salah seorang yang hadir.
“Kalian tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Aku hanya butuh tim pendukung yang berkualitas. Jadi semua keputusan mulai hari ini ada ditanganku,” kata Jack.
Yang hadir tampak kasak-kusuk membicarakan sesuatu.
“Jika ada yang ingin ditanyakan, tanyakan saja,” kata Jack.
“Bagaimana dengan Tn.Ferdi, selama ini Tn.Ferdi yang memimpin dan memberikan keputusan,” ujar pria tadi.
Jack menoleh pada ayah tirinya itu.
“Sementara ini aku belum mendapatkan posisi yang coock buatnya, nanti aku akan berunding dengan bagian personalia,” kata Jack.
Raut wajahnya Tn.Ferdi langsung saja memerah, apa-apan Jack ini, memberikan jabatan dengan menunggu bagian personalia? Apa dia akan diberikan jabatan yang rendah?
Ny. Inez merasa tidak nyaman mendengarnya, diapun menoleh pada Jack.
“Tn. Delmar, selama ini Tn.Ferdi sudah bekerja dalam perusahaan sangat lama apa tidak bisa kau memposisikannya seperti biasa sebagai puncak pimpinan karena kau sendiri masih muda,” kata Ny. Inez.
Jack menoleh pada ibunya.
“Tidak, aku perlu menilai kinerjanya selama ini. Kalau ternyata tidak sesuai dengan kriteriaku, aku akan menggantikannya dengan orang lain,” ujar Jack.
Ny. Inez pun diam, dia mencoba menyelamatkan posisi suaminya, meskipun bukan lagi menjadi pemimpin perusahaan tapi setidaknya suaminya harus memiliki jabatan penting di perusahaan ini.
Tn. Ferdi tidak menyela, dia belum dapat cara untuk menggeser posisinya Jack. Walaubagaimanapun Jack itu pemilik dia berhak membuat aturan apapun pada perusahaannya. Percuma berdebat minta jabatan, yang pasti menyingkirkan Jack selamanya adalah cara yang paling baik.
Tn. Ferdi masih memperhatikan anak tirinya bicara di depan. Pria itu tanpa obat-obatan beberapa puluh menit di depan masih bisa survive itu artinya Jack benar-benar sembuh. Apalagi pria itu lama semakin lama seperti jelmaan Constantine saja kalau sedang berorasi. Semakin membuat hatinya mendendam.
Tiba-tiba seorang pria mengacungkan tangannya.
“Ada yang ingin saya tanyakan Tuan!” katanya.
“Silahkan!” jawab Jack.
“Kami butuh waktu untuk memastikan bahwa Tuan Delmar mampu untuk menjalankan perusahaan ini,” kata pria itu, membuat Tn.Ferdi tersenyum, para anggota menyangsikan keahliannya Jack.
__ADS_1
“Tidak perlu waktu, bagi yang tidak mau bekerjasama dengan perusahaanku, silahkan mengundurkan diri sekarang juga. Aku sudah mendapatan perusahaan pengganti jika ada yang mengundurkan diri,” ujar Jack tidak basa basi lagi.
Tentu seja jawaban Jack itu membuat semua orang kaget. Mereka tidak menyangka kalau Jack akan bicara begitu.
“Tn. Delmar, kami semua ini adalah perusahaan yang kuat di negeri ini,” kata salah seorang dari mereka.
“Aku tidak peduli. Jika kalian keberatan bekerjasama dengan perusahaanku silahkan tarik saham kalian. Aku mendapat banyak investor dari Perancis yang siap menggantikan kalian. Satu detik kalian mundur satu detik selanjutnya posisi kalian sudah terisi,” kata Jack, dengan tegas.
Dia menoleh pada moderator yang langsung menyalakan infocus. Dari layar muncul nama-nama perusahaan besar di Perancis dan beberapa Negara lainnya.
“Ini adalah daftar perusahaan besar yang akan segera menggantikan perusahaan kalian. Kalau aku mau aku yang akan menghentikan kerjasam dengan perusahaan kalian,” lanjut Jack, mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Sontak semua yang hadir diam. Begitu juga Tn.Ferdi. Dia tidak menyangka kalau Jack akan langsung mengambil keputusan besar. Jack benar-benar akan merombak perusahaannya, sudah tidak ada celah lagi untuk minta dukungan rekan bisnis
yang berpihak padanya.
“Silahkan jika ada yang akan mengunduran diri!” kata Jack.
Ruangan begitu hening. Tentu saja kalau bukan karena Jack depresi mereka tidak ada niatan berhenti bekerja sama.
Ara melihat suaminya didepan, tersenyum haru melihatnya. Sudah puluhan menit berlalu, pria itu masih survice dengan gagasan-gagasannya. Tidak ada lagi Jack yang gemetaran, terbata-bata, tidak focus dan menyenggol apapun yang ada didekatnya. Pria itu terlihat sangat sempurna.
Tidak terasa matanya berkaca-kaca. Rasanya sungguh tidak percaya suaminya sudah sembuh. Dia menoleh pada Pak Beni yang juga menoleh kearahnya. Pria tua itu hanya mengangguk saja padanya.
Ara tahu selain dirinya yang bahagia dengan kesembuhannya Jack, ada sosok lain yang juga merasa bahagia, dia adalah Pak Beni, yang sudah begitu setia menjaga Jack dari kecil.
Tiba saatnya break, Ny. Inez langsung menghampiri Jack.
“Jack, kita perlu bicara,” kata Ny. Inez.
“Kau orang luar, tidak perlu ikut,” kata Ny. Inez, melirik pada Ara sambil lalu.
“Dia bukan orang luar, dia istriku, menantumu,” ucap Jack dengan tegas.
Ny. Inez tidak bicara lagi, dia terus melangkahkan kakinya. Jack menoleh pada Ara dan menarik tangannya supaya mengikutinya.
Ara tidak tahu apa yang akan di bicarakan oleh Ny. Inez. Dia hanya mengikuti kemana langkah kaki suaminya pergi.
Ternyata Ny.Inez mengajak mareka keruang Direktur utama. Ara sempat melihat pada sosok gadis cantik yang **** yang dimejanya bertuliskan sekretaris. Wajahnya langsung berubah merah saja saat melihat reaksi gadis itu melihat ada pria tampan melewatinya.
Bagaimana kalau dia sekretarisnya Tn.Ferdi yang artinya akan menjadi sekretarisnya Jack? Kepala Ara langsung pusing saja memikirkan sekretaris itu menggoda suaminya.
Ara mengikuti langkah suaminya masuk ke ruangan itu. Diapun menutup pintunya.
Ny.Inez berdiri menatap Jack.
“Ibu tidak suka dengan apa yang kau lakukan tadi,” kata Ny. Inez.
“Maksud ibu apa?” tanya Jack yang juga menatap ibunya. Mereka berdiri berhadap-hadapan.
Ara melangkah mundur beberapa langkah, dia mencoba untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan ibu dan anak ini.
“Kau tidak bisa begitu saja menyingikirkan ayah tirimu! Dia yang sudah memimpin perusahaan ini puluhan tahun! Kau harus menghargainya!” kata Ny. Inez.
“Dia memegang jabatan pimpinan perusahaan bukan karena kerjanya yang bagus, tapi karena dia suami ibu. Dia tetap karyawan di mataku aku berhak menilai kinerjanya!” ujar Jack.
__ADS_1
“Justru karena dia ayah tirimu, kau harus memberikan posisi yang tinggi!” kata Ny. Inez.
Jack masih menatap Ibunya. Sorot matanya mulai berubah, mata itu begitu tajam menatap Ibunya.
“Suami Ibu itu sudah mendapatkan gaji yang seharusnya. Dan ibu juga tidak perlu mengingkari kalau kalia juga sudah menggunakan uangku. yang Ibu kirimkan lewat Pak Beni hanya sebagian kecil saja,” kata Jack, dengan tegas.
“Sayang, ibu tidak bisa memberikan semua uangmu pada orang lain. Kau dirawat di RSJ, Ibu tidak bisa percaya sepenuhnya pada Pak Beni untuk mengelola uangmu!” ujar Ny. Inez.
“Terus apa Ibu sudah mengelolanya dengan baik? Ibu terlalu memikirkan takut orang lain memanfaatkan
uangnya. Apa Ibu tidak sadar kalau Ibu juga dimanfaatkan oleh suami Ibu itu?” tanya Jack.
“Kau ini bicara apa? Ayah tirimu sudah banyak membantu Ibu mengurus kekayaanmu!” kata Ny. Inez dengan nada tinggi.
“Semua ini milikku bukan? Warisan dari ayahku?” tanya Jack.
Ny.Inezpun diam.
“Apa dia, suami Ibu itu lebih berhak memiliki warisan ayahku daripada aku?” tanya Jack.
“Jack, bukan begitu, kau sakit, kau tidak bisa menjalankan perusahaan sebesar ini! Kau tidak mampu!” kata Ny. Inez, masih dengan nada tinggi.
Ara hanya diam saja disudut melihat perdebatan Ibu dan anak ini.
Jack berjalan mendekati Ibunya.
“Ibu bilang tidak mampu? Bagaimana Ibu tahu aku tidak mampu sedangkan menengok aku di RSJ saja tidak pernah. Apa Ibu tahu aku melanjutkan pendidikan apa?” tanya Jack.
“Sayang kau sakit. Pendidikanmu cuma formalitas supaya kau tidak bodoh saja. Ibu juga sudah mencoba memberikan guru privat untukmu, tapi kau malah ingin menikah,” kata Ny. Inez.
“Formalitas supaya tidak bodoh? Terus aku menyelesaikan pendidikaan militerku dengan apa? Menyontek saat ujian? Membeli ijasah? Menyogok untuk mendapatkan jabatan, begitu?” tanya Jack.
Ny.Inez terkejut mendengarnya.
“Apa maksudmu pendidikan militer? Orang depresi tidak bisa bersekolah formal!” kata Ny Inez.
“Itu semua karena Ibu tidak peduli padaku, Ibu sibuk dengan harta peninggalan ayahku dan keluarga baru Ibu,” kata Jack, menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul.
“Kau salah faham,” kata Ny, Inez.
“Salah faham bagaimana?” tiba-tiba Jack berteriak keras. Ara sampai kaget mendengarnya.
Ny. Inez terpaku, putranya berani membentaknya seperti itu.
“Kenyataannya Ibu tidak tahu siapa aku! Selain aku anak yang gila!” teriak Jack lagi, ada nada ketir dari kata-kata itu.
Ny. Inez tampak gugup melihat sikap protesnya Jack.
“Tidak Jack, jangan menghakimi Ibu begitu, Ibu…” Ny. Inez menggelengkan kepalanya.
*****
Maaf ya banyak typo, buru-buru akunya mau pergi. Malam ga bisa up.
****
__ADS_1