
Acara pemakaman hari itu sudah selesai. Orang-orang sudah mulai meninggalkan tempat pemakaman itu, begitu juga Ny.Inez, Bastian dan Arum.
“Bastian, kita ke rumah sakit dulu sebentar, kita lihat keadaannya Kakak iparmu, kau juga harus minta maaf padanya juga Kakakmu,” kata Ny.Inez.
Bastian tidak menjawab, hanya mengangguk saja.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.
“Bastian!” panggilnya.
Langkah mereka terhenti, ternyata Kinan yang datang.
Kinan menoleh pada Ny.Inez.
“Tante aku turut berduka cita,” kata Kinan.
“Terimakasih,” jawab Ny.Inez.
Kinan menoleh pada Bastian.
“Bastian, kau yang sabar ya,” kata Kinan.
“Iya, terimakasih,” jawab Bastian, pendek. Lalu menoleh pada ibunya.
“Ayo, Bu!” jawabnya, merekapun melangkahkan kakinya.
“Bastian tunggu!” panggil Kinan lagi langsung menghampiri Bastian.
“Ada apa? Aku buru-buru mau ke Rumah Sakit,” kata Bastian dengan ketus.
“Mmm.. aku ingin kita balikan lagi,” kata Kinan.
Bastian terkejut mendengarnya juga Ny.Inez.
“Aku sudah sadar kalau aku salah dan egois. Kau mau kan balikan lagi?” ucap Kinan.
Bastian terdiam, kenapa tiba-tiba Kinan ingin balikan lagi? Jangan-jangan Kinan sudah tahu kalau dia sudah tinggal di rumah yang dulu dan lagi Ayahnya meninggal pasti semua warisan akan jatuh padanya. Apa lagi alasan Kinan ingin balikan kalau bukan soal harta?
“Maaf, aku sudah punya pacar,” kata Bastian, membuat Kinan terkejut juga Ny.Inez.
Ny Inez menatap Bastian, belakangan ini putranya itu tidak terlihat membawa pacarnya kerumah selain Kinan, dia juga pergi ke luar negeri tidak pulang-pulang karena patah hati dibatalkan pernikahannya oleh Kinan.
Keterkejutan mereka tidak hanya itu, karena tiba-tiba Bastian memeluk bahunya Arum.
“Ini pacarku, namanya Arum,” kata Bastian.
Tentu saja Arum terkejut mendengarnya. Kenapa Bastian tiba-tiba mengatakan itu padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa? Tapi dia diam saja, mungkin nanti baru dia bisa tanyakan kenapa Bastian bersikap begitu.
Kinan terdiam melihat Bastian memeluk bahu Arum, dia tidak menyangka kalau Bastian sudah move on padahal Bastian sangat cinta sekali padanya.
“Ayo sayang,” ajak Bastian pada Arum, masih memeluk bahunya Arum mengajak pergi.
Ny.Inez hanya mangerjapkan matanya tidak mengerti tapi dia tidak bicara apa-apa, langsung pergi mengikuti langkah kaki Bastian dan Arum.
Setelah jauh dan akan masuk ke mobil, memastikan Kinan tidak melihat mereka lagi, barulah Bastian melepaskan tangannya dari bahunya Arum.
“Maaf,” ucap Bastian, lalu langsung masuk kedalam mobil. Arum hanya tersenyum kecut saja, diapun masuk diikuti Ny. Inez.
Mobilpun melaju menuju rumah sakit.
***
Jack duduk di pinggir tempat tidur pasien itu dan menatap Ara. Memegang kedua tangannya Ara. Menatap wajah pucat yang sembab itu karena banyak menangis hari ini.
Ara balas menatap suaminya.
“Seharusnya kau berbaring, beristirahat,” kata Jack.
Ara tidak menjawab, hanya manatapnya saja. Tangan Jack berpindah menyentuh pipinya.
“Aku akan memberikan pelajaran pada Bastian karena sudah menyakitimu dan membahayakan bayi kita,” kata Jack.
Ara masih tidak menjawab, hanya menatapnya saja.
“Kenapa? Kau ingin sesuatu?” tanya Jack.
“Tidak,” jawab Ara.
“Aku hanya bingung saja, apa kita berteman waktu kecil?” tanya Ara.
“Iya, kau anak kecil yang cantik dan lucu, aku sangat menyayangimu,” jawab Jack.
Ara tersenyum mendengarnya.
“Kau harus cepat sembuh, bukankah kita akan membeli eskrim itu? Aku memperbolehkanmu makan es krim coklatku, kalau habis aku akan memesannya lagi,” kata Jack, menatap binar mata itu.
__ADS_1
Ara jadi tertawa mendengarnya.
“Apa aku seperti itu?” tanyanya, tidak merasa.
“Memang seperti itu,” jawab Jack, memberengut karena istrinya itu tidak pernah mengaku.
Melihat Ara yang tertawa, diapun tersenyum, lalu pindah duduknya dibelakang Ara dan langsung memeluknya, menempelkan pipinya ke pipi istrinya sambil mengusap perutnya.
“Aku mencintaimu,” ucap Jack mengecup pipinya Ara.
“Aku juga,” jawab Ara, tangannya menempel di pipinya Jack.
Ara merasakan pelukan hangat suaminya, pelukannya terasa sangat nyaman. Apalagi kedua tangan itu tidak berhenti mengusap perutnya perlahan-lahan.
“Sayang, apa tadi Dokter bilang bayimu laki-laki atau perempuan?” tanya Bu Amril yang duduk di kursi tunggu didalam kamar itu bersama Pak Amril dan Ny.Imelda juga.
Ara menoleh pada Jack yang juga menatapnya.
“Tidak,” jawab mereka bersamaan. Tadi saking paniknya tidak kefikiran akan menanyakan jenis kelamin bayi.
“Kami tidak bertanya itu, soalnya tadi sangat panik,” jawab Jack, menoleh pada mertuanya.
“Nanti kau tanyakan laki-laki atau perempuan,” kata Bu Amril.
“Nanti keperluan bayimu biar Ibu yang sediakan ya, mau bayi laki-laki atau perempuan, tidak masalah, kau jangan khawatir,” kata Ny.Imelda.
Ibunya Ara langsung meliriknya tajam, bibirnya memberengut. Ny.Imeda hanya diam saja melihat reaksinya.
“Kau tenang saja, Ibu juga bisa membelikan kebutuhan bayimu,” kata Bu Amril, tidak mau kalah.
“Iya, terimakasih,” jawab Ara.
“Nanti Ibu siapkan kamar khusus untukmu dan bayimu,” kata Ny.Imelda.
“Ibu juga akan merenovasi kamarmu biar lebih luas jadi ranjang bayimu bisa masuk, iya kan Pak?” ujar Bu Amril menoleh pada suaminya.
“Iya,” jawab Pak Amril mengangguk.
Bu Amril kembali mendelik pada Ny.Imelda. Dia merasa wanita itu akan mengambil Ara darinya.
Ara tersenyum melihat kedua ibunya.
“Rencanaya aku dan Jack akan tinggal di Paris, setelah aku melahirkan,” kata Ara, yang diangguki Jack.
“Apa? Kau akan tinggal di Paris?” tanya Bu Amril, terkejut.
“Kalau begitu Ibu bisa ikut? Ibu ingin melihat Paris, Ibu belum pernah ke Paris!” serunya Bu Amril dengan semangat.
“Ibu juga punya rumah di Paris, kau bisa melihatnya nanti, rumah Ibu kan rumahmu juga,” kata Ny.Imelda.
Bu Amril kembali memberengut.
“Iya, Ibu boleh ikut jalan-jalan ke Paris. Nanti aku juga mau mampir kerumah Ibu di Paris,” jawab Ara menoleh pada Ibunya lalu pada Ny.Imelda.
Ny.Imelda menoleh pada Bu Amril.
“Kalau Ibu mau jalan-jalan di Paris, aku bisa mengantar,” kata Ny.Imelda, berusaha ramah. Walau bagaimanapun Bu Amril sudah membesarkan putrinya.
“Benar begitu?” tanya Bu Amril, masih memberengut.
“Benar, kita ke menara Eiffel,” jawab Ny.Imelda.
“Wah aku belum pernah kesana!” seru Bu Amril, langsung berubah ceria.
“Ada tempat wisata lainnya,” kata Ny.Imelda.
“Atau kau ingin berbelanja melihat koleksi perhiasan, aku tahu tempatnya!” lanjut Ny.Imelda lagi.
“Benarkah?” tanya mata Bu Amril, matanya semakin berbinar saja.
“Hemm tapi pasti mahal-mahal kan harganya,” kata Bu Amril, kembali lesu.
“Kau tenang saja, aku punya member discount kalau ada perhiasan yang Ibu suka,” ujar Ny.Imelda.
“Benarkah? Sayang! Cepat-cepat kau lahiran, Ibu tidak sabar ingin jalan-jalan ke Paris!” seru Bu Amril, menoleh pada Ara.
Ara langsung mencibir, Ibunya selalu begitu, masa lahiran diburu-buru?
Jack hanya tersenyum saja melihat istrinya cemberut, dia kembali memeluk dan mencium pipinya.
Terdengar dari luar suara langkah-langkah kaki mendekati ruangan itu.
Jack dan Ara menoleh kearah yang jendela, ternyata Ny.Inez, Batsian dan Arum.
“Nyonya!” panggil Ara.
__ADS_1
Ny.Inez menoleh kedalam ruangan, tersenyum dibalik jendela, lalu membukakan pintu itu.
Jack langsung berubah masam saat melihat Bastian.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ny.Inez.
“Baik Nyonya,” jawab Ara.
“Oh ada Pak Amril dan Bu Amril,” sapa Ny. Inez, saat menoleh ke kursi tunggu ada orangtua Ara, mereka membalasnya dengan anggukan.
Bastian berjalan mendekati Ara dan Jack yang menatapnya tajam, dia ingin sekali memukul adiknya itu.
“Kakak ipar aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi,” kata Bastian.
“Coba saja kalau kau melakukannya lagi!” bentak Jack, menatap Bastian dengan kesal.
“Iya kakak aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku minta maaf,” ucap Bastian.
Bu Amril langsung bangun dan menghampiri Bastian dan tiba-tiba menjewer kupingnya.
“Jadi kau yang melukai putriku?” makinya, memelintir telinga Bastian dengan keras sampi Bastian berteriak kesakitan.
Semua orang terkejut melihatnya.
“Ibu, sudah Ibu, jangan ribut di Rumah sakit,” teriak Ara.
Bu Amril langsung melepaskan telinganya Bastian.
“Kalau diluar, aku pasti memukulimu!” maki Bu Amril.
“Iya Nyonya, aku minta maaf,” kata Bastian, sambil memegang telinganya yang hampir copot.
“Bu! Jangan buat keributan! Dudulah!” seru Pak Amril.
“Awas, kau!” ancam Bu Amril pada Bastian, lalu kembali duduk dengan kesal.
Semuapun kembali diam dan ruangan menjadi hening.
“Pemakamannya sudah selesai?” tanya Ny Imelda pada Ny.Inez.
“Sudah, semua sudah beres,” jawab Ny.Inez.
“Kami turut berduka cita, Nyonya,” kata Pak Amril dan istrinya.
“ Iya, terimakasih,” ujar Ny.Inez.
Arum tampak diam saja dari tadi. Ny.Imelda menatapnya lalu dia berdiri dan menghampirinya, lalu menarik tangannya dan menoleh pada Ara.
“Sayang, kau tidak keberatan kan kalau Arum tetap tinggal bersama Ibu?” tanya Ny.Imelda pada Ara.
Arum terkejut mendengarnya, menoleh pada Ny.Imelda lalu pada Ara.
“Iya tidak apa-apa, biar Ibu juga tidak kesepian kalau aku tinggal di Paris,” jawab Ara.
Ny.Imelda tersenyum mendengarnya, lalu menoleh pada Arum, yang menoleh pada Ara.
“Terimakasih kau mau menerimaku,” ucap Arum.
Ara hanya mengangguk saja.
“Maaf, aku sudah berbuat salah padamu,” kata Arum, lalu menoleh pada Jack.
“Aku juga minta maaf padamu,” ujar Arum pada Jack.
Jack tidak menjawab, hanya diam saja.
“Jack sudah memaafkanmu,” Ara yang menjawab.
“Titip Ibuku,” kata Ara.
“Iya, aku akan menjaganya, seperti Ibu kandungku sendiri,” ujar Arum.
Ny.Imelda tersenyum dan memeluk Arum.
Ara hanya tersenyum saja. Dia bahagia akhirnya dia bisa berkumpul dengan keluarganya lagi, hanya dia belum bertemu dengan Ayah kandungnya saja, dia hurus menunggu beberapa hari lagi karena ayahnya sedang ada di Luar Negeri.
***********
Readers, beberapa episode lagi end ya. Tidak perlu extrapart kan? Pasti dah bosan kelamaan.
Tunggu release Berbagi Cinta : Terpaksa Dinikahi Mafia, belum selesai review.
Jangan nyinyir aku ambil judul pasaran, ada beberapa pertimbangan, aku tidak mau kehilangan pria tampan dan kaya di novelku. Maaf ya bagi yang tidak suka.
Soalnya pria-pria tampan dan kaya itu penyemangatku dalam menulis hehe....
__ADS_1
Yang sudah baca sampai bab ini terimakasih banyak. I love U.