
Malam sudah larut, Jack sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dia merasa begitu lelah. Hari-hari terakhir begitu terasa berat. Tadi dia tidak langsung pulang bersama Ara karena dia harus membicarakan kasus penculikan yang terjadi pada dirinya yang akhirnya ayah tirinya itu tewas ditangannya.
Ara mengunci pintu kamarnya. Dilihatnya suaminya sudah berbaring duluan, pria itu terlihat lelah, tapi dia tidak tahu apa Jack sudah tidur atau belum.
Ara duduk dipinggir tempat tidur, menatap suaminya itu. Karena Jack menggunakan piyama putih, dan tidur dengan menyimpan satu tangan di atas keningnya membuat lengan bajunya tersingkap, dia baru sadar kalau ada memar memar ditangan suaminya. Dilihat juga ke kakinya.
“Jack, kau kenapa? Ini kenapa?” tanya Ara, sambil menyentuh kaki suaminya dan menarik ujung celana itu naik ke betisnya.
“Kau, apa kau baik-baik saja?” tanya Ara langsung naik ke tempat tidur dan menarik celana suaminya semakin keatas, banyak sekali memar seperti sudah dipukuli.
Jack jadi terbangun dan menurunkan tangannya. Ara langsung mendekati meraih tangannya Jack yang ternyata ada bekas memar juga dipergelangannya.
“Ini juga, kenapa ini?” tanya Ara, semakin khawatir. Kedua tangannya menyentuh pipinya Jack ditolehkan kekanan dan kekiri.
Jack malah tersenyum dan tangan kanannya menyentuh pinggang istrinya yang sudah melebar karena kehamilannya.
“Tidak apa-apa,” ucap Jack, sambil mengusap punggung itu.
“Tidak apa-apa bagaimana? Kau memar-memar, apa ada yang memukulimu?” tanya Ara, menatap Jack.
Jack tidak menjawab, dia bangun, lalu menumpuk bantal-bantalnya supaya lebih tinggi, diapun berbaring dengan posisi sebagian tubuhnya lebih tinggi.
“Tidak apa-apa, ini sudah biasa, nanti juga membaik,” kata Jack.
Ara teringat pria itu setiap terluka tidak pernah mengeluh apapun.
“Apa kau sudah ke Dokter? Apa kau sudah minum obat nyeri atau apa? Mana obat dari Dokter? Apa mau aku oleskan minyak atau obat nanti aku carikan di tempat obat. Dokter juga pasti memberikan obat untuk memarmu kan? Dimana? Dimana obatnya?” tanya Ara dengan panik, sambil melihat memar di tangan suaminya yang kanan.
Pria itu bukannya menjawab malah bangun dan menarik tubuh istrinya ke pelukannya dan mencium pipinya.
“Obatnya cuma satu, memelukmu dan menciummu saja, sudah sembuh,” ucap Jack, dan langsung mencium bibir istrinya.
“Jack, kau malah bercanda! Aku khawatir! Bagaimana mungkin memelukku dan menciumku kau bisa sembuh?” gerutu Ara, mendorong tubuhnya suaminya yang mendekapnya, lalu kembali menatap wajahnya Jack.
Jack tidak menjawab, dia malah merasa senang melihat istrinya seperti itu. Dia malah mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya yang memucat.
“Jack, aku serius,” ucap Ara, menatap wajah suaminya yang begitu dekat didepannya.
“Aku juga serius, kau obat dari sakitku!” jawab Jack, lalu menarik bahu istrinya lalu menciumi seluruh wajahnya berkali-kali.
Ara langsung mencubit pipinya Jack.
“Kau bermain-main terus! Aku khawatir!” teriak Ara, tubuhnya menjauh dari pelukannya Jack.
“Sudah aku bilang aku tidak sakit. Bagaimana aku bisa sakit kalau obatnya ada didepanku,” ucap Jack.
Tangan Ara langsung mengusap wajah suaminya.
“Kau malah bercanda, apa tidak tahu istrimu ini khawatir dengan keadaanmu! Memarmu dimana-mana kau bilang tidak sakit!” gerutu Ara.
__ADS_1
Jack tersenyum lagi.
“Kau mengkhawatirkanku?” tanya Jack.
“Tentu saja!” jawab Ara.
“Artinya kau mencintaiku?” tanya Jack.
“Tentu saja aku mencintaimu!” teriak Ara dengan kesal, dia akan bangun, tapi Jack malah memeluknya lagi dengan erat, mendekatkan tubuhnya itu rapat ke dadanya.
Jack menatap wajah istrinya.
“Ada satu hal yang membuatku bersyukur aku mengalami depresi,” ucap Jack.
“Kau ini bicara apa?” gerutu Ara, matanya menatap wajah suaminya.
“Aku menikahimu, aku bahagia memilikimu,” ucap Jack dengan serius.
Mendengarnya membuat Ara terdiam sejenak.
“Apa kau sedang merayuku?” tanya Ara, dengan suara pelan, jarinya menyentuh bibirnya Jack. Kemudian mengusap wajah suaminya, senang rasanya sudah bisa menyentuh suaminya lagi.
“Iya, aku sedang merayumu,” jawab Jack, sambil tersenyum. Arapun tersenyum.
“Aku mencintaimu, Jack,” ucap Ara.
“Aku juga, sangat mencintaimu,” balas Jack, kemudian bibirnya mencium jari istrinya yang menempel dibibirnya. Merekapun saling tatap.
“Aku juga,” ucap Jack, lalu mendekatkan wajahnya mencium bibir istrinya dengan lembut.
Setelah melepaskan ciumannya, menatap istrinya lagi, menciumnya lagi, berulang-ulang, tidak bosan dia menciumnya.
“Sayang,” ucap Jack kemudian, menatap Ara.
“Apa?” tanya Ara.
“Bagaimana kalau aku menengok bayi kita?” tanya Jack.
“Menengok? Menengok siapa? Bayi kita? Bayi kita tidak sakit, dia ada dalam perutku,” ucap Ara, tidak mengerti lalu mengusap perutnya.
Jack memberengut dan langsung mencium bibir istrinya.
“Kadang kau sangat menggemaskan!” gerutunya.
“Karena kau sangat aneh!” kata Ara.
“Tentu saja aku ingin menengok bayi kita yang ada di perutmu,” gerutu Jack.
“Kau harus menunggu dia lahir baru bisa melihatnya,” ucap Ara, menepuk pipinya Jack berkali-kali.
__ADS_1
“Kau tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?” gerutu Jack, memperkuat pelukannya.
“Aku memang tidak mengerti,” ucap Ara, menatap Jack.
“Iya aku ingin menengoknya,” kata Jack serius.
Tangan Jack mengusap rambut istrinya, kemudian pindah mengusap bibir istrinya, lalu menciumnya. Ciumannya berpindah ke leher dan dada istrinya.
Arapun terdiam, apa maksudnya suaminya mengajaknya berhubungan suami istri? Dia hanya membiarkan suaminya menciumi tubuhnya. Tapi kemudian tiba-tiba Jack berhenti menciumnya dan menatapnya serius.
“Ada apa?” tanya Ara.
Jack terdiam. Dia ingat kata-kata Hector, kata orang-orang katanya kalau bagian privasinya tidak digunakan dalam waktu lama, akan mengalami ganguan kesehatan dan mungkin tidak akan befungsi dengan normal, karena dia selalu menolak berhubungan dengan wanita lain.
“Ada apa?” tanya Ara.
Jack maih diam. Dia merasa heran dia sudah semesra ini mencumbu istrinya tapi tidak ada yang berubah dalam dirinya, bagian privasinya itu sama sekali tidak berubah, apakah bagian itu sudah tidak memiliki rasa lagi atau bagaimana?
“Jack, ada apa? Kau membuatku takut!” tanya Ara, malah jadi cemas melihat Jack seperti itu.
“Sayang, sepertinya aku sakit sekarang!” ucap Jack, menatap istrinya.
“Sakit? Kau sakit karena memar-memarmu?” tanya Ara, langsung memegang tangannya Jack.
“Bukan itu, Jendralku kecilku sepertinya tidak berfungsi, mengalami gangguan, bagaimana ini?” tanya Jack, masih menatap istrinya.
“Gangguan apa?” Ara malah bingung.
“Kata Hector, kata orang-orang kalau laki-laki tidak menggunakan senjatanya dalam waktu lama maka akan mengalami gangguan kesehatan,” jawab Jack.
“Apa? Kenapa pria itu mengatakan itu?” tanya Ara, semakin bingung.
“Karena aku menolak wanita -wanita itu, aku ingin setia padamu, aku ingin menepati janjiku padamu,” ucap Jack.
Ara menatap suaminya.
“Aku lebih baik mengalami gangguan kesehatan daripada tidak setia padamu, aku lebih tidak mau aku menyakitimu, aku sangat mencintaimu,” ucap Jack dengan jujur.
Ara menatapnya dengan haru, ternyata suaminya benar-benar burusaha untuk setia padanya meskipun mereka berpisah sekian lama dan dia digoda oleh wanita, meskipun dia hampir tergoda tapi ternyata Jack memiliki cinta yang lebih besar padanya.
“Sekarang aku sudah mencumbumu tapi aku merasa tidak ada perubahan apa-apa,” ucap Jack langsung melihat ke bagian bawah tubuhnya, begitu juga dengan Ara. Ternyata memang tidak ada perubahan ukuran, merekapun saling pandang.
“Tapi aku tidak mau kalau kau pergi jauh kau bersama wanita lain! Kau hanya milikku saja,” kata Ara.
“Iya, tidak, aku tidak akan bersama wanita lain,” ucap Jack, meraih kepala istrinya dan mencium keningnya.
“Cuma bagaimana sekarang? Bagian itu tidak berfungsi sekarang, aku ingin kita memiliki anak yang banyak,” keluh Jack.
Ara tidak menjawab, dia hanya menatap suaminya, dia juga jadi bingung.
__ADS_1
**********