
Ternyata berada dipelukan pria itu sangatlah nyaman. Tangan-tangan kokoh itu memeluk punggungnya begitu erat, sampai detak jantung dibalik dada bidang itu terdengar detaknya. Jangan harap Ara bisa lepas dari kungkungan tangan Jack kecuali pria itu sendiri yang mau melepaskan pelukannya.
“Jack!” panggil Ara, menyusupkan wajahnya kedada pria itu.
Sepertinya ini pertama kalinya dia mencium dada pria itu meskipun masih terlapis oleh pakaiannya, tentu saja Ara juga menghindari noda lipstick yang akan menempel dibajunya Jack. Telinganya mendengarkan detak jantung yang ada di balik pakaian itu.
“Tanganmu terluka parah, harus segera diobati,” lanjut Ara, kini mengangkat wajahnya menatap Jack.
Sebenarnya Ara merasa berat melepas pelukannya Jack. Berada diantara tangan yang siap melindunginya, merasakan tubuhnya berada dalam pelukan tubuh atletis yang sering dipuja pujanya itu, membuatnya ingin berlama-lama seperti ini. Tapi luka Jack harus diobati, terpaksa Ara harus melepaskan egonya bermanja-mana dipelukan Jack.
“Ya,” Jack mengangguk, sambil melonggarkan pelukannya.
Ara segera meraih tangan Jack, mengajaknya keluar dari toilet pria itu.
“Pak Beni, Jack harus segera diobati,” ucap Ara.
Pak Beni langsung mengangguk lalu berjalan duluan diikuti oleh Jack dan Ara. Semua orang yang berkerumun memperhatikan mereka dan bertanya-tanya ada kejadian apa di toilet? Beberapa office boy masuk ke dalam toilet membersihkan pecahan kaca yang berserakan lantai.
Di ruang kesehatan yang ada di kantor itu, Jack diperiksa oleh Dokter dan perawat mengobati lukanya. Karena lukanya ada yang cukup dalam, terpaksa harus dilakukan beberapa jahitan.
Ara meringis-ringis melihat tangan Jack yang dijahit, tapi reaksi pria itu selalu begitu, sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit. Apakah dia memang kebal atau rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan dengan sakit di hatinya? Dibandingkan dengan pengalaman pahit hidupnya?
Ara menatap Jack yang malah melihat tangannya yang sedang dijahit perawat itu. Pria sesempurna itu, ternyata memilki banyak luka di hatinya, hidupnya tidak sebahagia kelihatannya.
Apapun yang dimilki Jack, bukan utama bagi Ara, dia hanya menyayangi pria itu saja, dia terlanjur mencintainya bagaimanapun keadaannya. Sampai kapanpun dia akan selalu setia menemaninya, suka dan duka.
Setiap kali memikirkan itu setiap kali juga mata Ara kerkaca-kaca. Butiran air bening sudah menggenang dimatanya. Rasanya tidak tega membayangkan kehidupannya Jack dalam kesendirian yang sepi. Pria itu memiliki segalanya tapi tidak bahagia.
Beberapa waktu belakangan ini Jack sering terlihat tersenyum, itu sangat membuat hati Ara senang. Seharusnya senyum semanis itu tidak perlu disembunyikan. Meskipun senyum itu mungkin akan membuat banyak wanita jatuh hati, termasuk perawat itu.
Perawat? Perawat apa? Ara tersentak kaget dengan lamunannya, lalu menoleh pada perawat yang selesai menjahit tangannya Jack, memberikan obat dan sebagainya. Perawat itu tampak tersipu-sipu saat Jack mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.
Bibir Ara langsung saja mengerucut. Memiliki suami setampan ini, setiap saat dia akan merasa cemburu pada siapapun wanita yang didekatnya dengan alasan apapun.
“Senyum manismu cuma buatku Jack, bukan buat wanita lain,” gerutu Ara pelan, hampir tidak terdengar sambil cemberut.
“Apa?” tanya Jack, tiba-tiba menoleh karena pendengarannya yang terlatih mendengar Ara mengucapkan sesuatu.
“Apa? Aku tidak bicara apa-apa,” jawab Ara, tersenyum terpaksa.
Jack menatap wajah istrinya itu, apa istrinya sedang berbohong? Kenapa dia? Fikirnya.
Dokter menuliskan resep lalu diberikan pada Pak Beni.
Tangan kiri Jack tiba-tiba menarik pinggangnya Ara supaya duduknya lebih dekat padanya, hampir saja Ara berteriak saking kagetnya. Dia langsung mengangkat wajahnya menatap Jack.
“Ada apa?” tanya Ara.
“Jangan jauh-jauh,” jawab Jack, membuat wajah Ara memerah karena malu didepan banyak orang Jack mengatakan itu. Dilihatnya perawat itu tampak cemberut melihat pria itu perhatian padanya. Sepertinya Jack tahu apa yang sedang difikirkan istrinya.
“Tuan, apakah akan pulang atau akan melanjutkan meetingnya?” tanya Pak Beni, menoleh pada Jack.
“Kita lanjutkan meetingnya,” jawab Jack.
“Tuan serius?” tanya Pak Beni.
“Iya,” jawab Jack.
“Jack tanganmu masih sakit,” kata Ara, merasa khawatir pada suaminya.
“Aku baik-baik saja, jangan khawatir,” ucap Jack, menoleh pada Ara sambil tersenyum.
__ADS_1
Ara menoleh pada Pak Beni.
“Baiklah kalau begitu, saya akan bicara dengan moderator,” kata Pak Beni, sambil beranjak, bersamaan dengan Dokter dan perawat yang pamit kembali ke RS.
Jack dan Ara juga keluar dari ruangan itu. Tampak gadis yang duduk didekat ruang Direktur utama itu menghampiri mereka.
Gadis cantik dengan bodynya yang aduhai, menggunakan blazer merah dan rok spannya yang setengah paha, memperlihatkan kakinya yang mulus. Sekretaris yang sangat cantik dan menggoda. Ah Ara tidak suka melihatnya.
“Tuan Delmar, apa meetingnya akan ditunda? Akan saya sampaikan pada Pak Sopian,” kata gadis itu, sambil menoleh pada tangannya Jack yang diperban.
“Kau sekretaris Tn.Ferdi?” tanya Jack.
“Iya Tuan,” jawab gadis itu.
“Siapa Kepala Bagian Personalianya?” tanya Jack.
“Pak Ridwan, Tuan,” jawab gadis itu.
“Beritahu pada Pak Ridwan, kau aku mutasi! Aku minta sekretaris laki-laki!” kata Jack dengan tegas, membuat gadis itu terkejut begitu juga dengan Ara.
“Apa? Tuan, memecat saya? Salah saya apa?” tanya gadis itu dengan wajah yang berubah pucat.
“Aku hanya memberi perintah satu kali! Kau ku mutasi! Terserah personalia mau memindahkanmu kemana! Aku minta sekretaris laki-laki!” kata Jack lagi dengan nada agak tinggi, tanpa basa-basi lagi, tidak peduli gadis itu kebingungan.
Ara tidak bicara apa-apa, dia hanya merasakan tangan kiri suaminya memegang tangannya mengajak Ara pergi dari tempat itu.
Gadis itu masih diam mematung, dia terlihat shock.
“Apa salahku? Hah, dia tampan tapi sangat galak!” keluhnya, lalu bergegas berjalan mengikuti langkah Jack dan Ara.
Sambil mengikuti langkah suaminya, Ara sesekali melirik Jack yang berjalan tegap tidak menengok kanan kiri juga tidak bicara. Ara hanya melihat tangan pria itu menggenggam tangannya, terus menuntunnya, seperti dia akan hilang saja.
Apa Jack mengetahui apa yang ada di dalam fikirannya? Dia tidak suka gadis itu, dan Jack menggantinya dengan sekretaris laki-laki. Apapun alasannya, Ara merasa senang dan tenang kalau Jack berurusan dengan sekretaris laki-laki. Dia tidak terlalu khawatir, kecuali..kecuali..kalau sekretaris laki-lakinya itu…ah fikiran apa ini! Ara menggeleng-gelengkan kepalanya.
*****
Ny. Inez terus menangisi suaminya yang terkapar tidak berdaya diranjang pasien itu dengan luka parah di wajah dan tubuhnya.
“Bagaimana suami saya Dok?” tanya Ny. Inez, pada Dokter yang selesai memeriksa. Kemudian dilihatnya perawat-perawat segera membersihkan luka-luka di tubuh Tn.Ferdi.
“Ada beberapa bagian tulang yang patah, dan penyembuhannya membutuhkan waktu, harus dirawat secara intensif,” kata Dokter.
“Apa ada luka permanen?” tanya Ny. Inez.
“Kita lihat perkembangan ke depan. Tulang punggung dan tulang kaki banyak yang patah, mungkin tidak akan bisa berjalan dengan normal, tapi itu masih prediksi awal,” jawab Dokter, membuat Ny. Inez kembali terisak.
“Terimakasih Dokter,” jawab Ny. Inez lalu mendekati suaminya, sambil menghapus air matanya.
“Anakmu, anakmu benar-benar gila!” keluh Tn.Ferdi, menggerakkan sedikit tubuhnya lalu berteriak kesakitan.
“Tuan jangan dulu bergerak!” kata Perawat yang sedang mengobati lukanya.
“Sayang, kau tenangkan dirimu, jangan banyak bergerak dulu,” ujar Ny. Inez.
“Tulang tulang tubuhku banyak yang patah,” ujar Tn.Ferdi terus meringis kesakitan.
“Lihat saja, aku akan membalas perbuatannya! Anak gila itu seenaknya saja menyerangku dan memukulku dengan membabi buta!” runtuk Tn.Ferdi.
Ny.Inez tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia hanya mengucapkan terimakasih pada perawat-perawat yang selesai mengobati luka suaminya.
“Apa yang terjadi? Kenapa anak gila itu menyerangku?” tanya Tn.Ferdi, menatap istrinya.
__ADS_1
“Jack menanyakan apakah kita berselingkuh saat ayahnya masih hidup,” jawab Ny.Inez.
Tn.Ferdi tersenyum sinis.
“Jadi karena itu dia marah?” ujar Tn.Ferdi, lalu tertawa kemudian meringis lagi.
“Favier menemukan foto-foto ku ada padamu, aku tidak mengerti maksudnya Jack apa,” kata Ny. Inez.
“Mana aku tahu, mungkin Favier pernah melihat cameraku. Sudah, itu tidak penting sekarang!” sahut Tn.Ferdi.
“Kau beristirahatlah, supaya cepat sembuh,” ujar Ny.Inez,.
Tn.Ferdi tidak bicara lagi, dia merasakan kepalanya sudah mulai pusing dan berkunang-kunang karena banyak darah yang keluar juga tubuhnya terasa lemas.
“Aku akan segera berkemas,” kata Ny.Inez.
“Berkemas, berkemas untuk apa?” tanya Tn. Ferdi, keheranan.
“Jack sudah mengusir kita, menyuruh kita segera meninggalkan rumah itu!” jawab Ny. Inez.
“Apa? Dia mengusir kita? Aku tidak mau kita keluar dari rumah itu!” teriak Tn.Ferdi.
“Tapi itu kan rumahnya Jack. Dia juga menarik surat kuasa kekayaannya yang ada padaku, termasuk fasilitas yang biasa kita gunakan. Kita hidup dengan penghasilan kita sendiri,” ujar Ny.Inez.
“Anak gila itu benar-benar melakukan itu?” tanya Tn.Ferdi, menatap tajam istrinya.
“Iya,” jawab Ny.Inez, mengangguk.
“Kita tidak boleh keluar dari rumah itu!” kata Tn.Ferdi.
“Tapi Jack sudah mengusir kita!” ujar Ny. Inez.
“Kita harus mengulur waktu,” kata Tn.Ferdi.
“Maksudmu apa? Jack sudah begitu marah, jangan mengganggunya lagi,” ujar Ny.Inez, tidak setuju.
“Aku tidak bisa membiarkan hidupnya tenang,” kata Tn.Ferdi.
“Kau ini bicara apa? Jangan mengganggu Jack!” ujar Ny.Inez, menatap suaminya.
“Apa kau tidak melihat aku? Dia membuatku seperti ini! Mungkin aku akan cacat permanen, aku tidak bisa berjalan normal! Aku tidak bisa menerima begitu saja,” keluh Tn.Ferdi, menahan marah.
“Tolong maafkan Jack, dia hanya marah dan sakit hati,” ucap Ny.Inez.
“Aku tidak peduli, aku tidak terima diperlakukan seperti ini!” teriak Tn. Ferdi dengan kesal.
“Tapi semua itu memang miliknya Jack. Aku tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Ny. Inez.
“Tidak, tidak, tidak,” Tn. Ferdi menggeleng-gelengan kepalanya.
“Kalau dia fikir ini sudah berakhir, dia salah! Ini adalah awal kehancurannya!” kata Tn. Ferdi, dengan sorot mata merah karena dendam.
“Aku sudah memintamu berkali-kali, jangan sakiti Jack!” ujar Ny.Inez.
“Terpaksa! Karena dia sudah mengusikku!” jawab Tn.Ferdi, bersikeras tidak mau mendengar perkataannya Ny.Inez.
“Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau menyakiti Jack!” seru Ny. Inez, dengan nada tinggi, menatap suaminya dengan tajam.
“Ya ya ya! Terserah kau saja!” gerutu Tn. Ferdi, membuat Ny.Inez diam.
Dalam hati Tn.Ferdi sama sekali tidak peduli dengan permintaan istrinya itu. Berbagai ide busuk bermunculan di benaknya. Dia harus membalas perlakukan Jack padanya.
__ADS_1
********