Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-72 Kecurigaan Ara


__ADS_3

Ara mengambil obat yang ada di sofa itu, membolak balikkan obat itu dengan heran, itu adalah obatnya Jack. Kenapa obatnya Jack ada di sofa? Diapun menoleh kearah Jack yang ternyata sudah tidur.


Banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Apakah Jack menjatuhkan salah satu obatnya? Itu artinya tidak semua obat diminum oleh Jack, tapi kenapa malam ini Jack bersikap sangat normal? Dia juga menyatakan cinta padanya! Seharusnya Jack akan tidak focus tapi ini malah sebaliknya, sungguh aneh!


Ara kembali menoleh pada Jack yang sedang tidur. Meskipun bingung, akhirnya Ara menyimpan obat itu dilaci, mencoba membuang pertanyaan-pertanyaan yang membingungkannya.


Keesokan harinya…


Ketika Ara membukakan matanya, yang perama dilihatnya adalah buket bunga diatas meja, bunga itu tercium sangat harum. Dia terbangun sendirian karena ternyata Jack sudah tidak ada di tempat tidur. Ara sudah menebak pasti bunga itu dari Jack. Pria itu ternyata sangat romantis.


Ara langsung bangun dengan senyum yang mengembang dibibirnya, lalu mengambil buket bunga itu dan ternyata sesuai dugaannya, ada kartu ucapan dari Jack.


‘Untuk istriku dari suamimu’


Ara mengerucutkan bibirnya.


“Kenapa kau tidak menulis ‘aku mencintaimu’? Itu kan lebih romantis,” keluhnya, karena setiap kartu yang Jack tulis selalu pendek tanpa ada kata-kata itu.


Meskipun begitu Ara kembali tersenyum dan tetap mencium bunga itu. Tapi kemana suaminya? Dia bangun selalu lebih siang dari Jack.


Terdengar suara ketukan dipintu. Ara menyimpan bunga itu lagi dimeja dan bergegas membuka pintu kamarnya. Disana sudah berdiri seorang pelayan rumah wanita.


“Saya akan mengambil baju kotor, Nyonya,” ucapnya.


“Ambil saja di kamar mandi,” kata Ara.


Pelayan rumah itu langsung pergi ke kamar mandi dan tidak berapa lama keluar lagi dengan keranjang baju kotor, termasuk pakaian yang semalam digunakan Jack dan Ara ke pertunangannya Bastian dan Kinan.


“Kau melihat Tuan Delmar?” tanya Ara.


“Tadi ada di ruang gym, Nyonya,” jawab pelayan itu.


Ara mengerutkan keningnya, diruang gym?


“Baiklah, terimakasih,” ucap Ara sambil tersenyum, pelayan itu hanya mengangguk dan segera keluar dari kamar itu.


Ara terdiam sebentar, Jack sedang ada diruang gym, tumben sekali. Arapun mengambil sweaternya dan dipakainya, lalu keluar kamar mencari Jack.


******


Di ruang gym…


Jack sedang sibuk dengan salah satu alat ngegymnya.


“Tuan, ada telpon!” seru Pak Beni, mengulurkan tangannya pada Jack.


Jack segera menghentikan gerakannya dan menerima ponsel itu lalu menjawab telponnya.


“Ya Paman!” ucap Jack.


“Kau harus ke Paris, kita menemukan sesuatu yang mengarah pada siapa orang yang menyabotase kapal anak buahmu!” jawab pamannya.


“Benarkah? Paman sudah tahu siapa orang itu?” tanya Jack.


“Kita masih butuh bukti, sebaiknya kau secepatnya ke Paris, semoga apa yang Paman fikirkan itu salah,” jawab Pamannya.


“Baiklah, aku akan segera ke Paris, tapi aku harus secepatnya kesini lagi,” ucap Jack.

__ADS_1


Tidak berapa lama telponpun ditutup.


 “Aku akan ke Paris,” jawab Jack, pada Pak Beni sambil memberikan ponselnya.


Pak Beni menerima ponsel itu dan memberikan handuk pada Jack.


“Bagaimana dengan Nyonya?” tanya Pak Beni.


“Aku tdak bisa mengajaknya, aku ada pekerjaan penting,” jawab Jack, melap tubuhnya dengan handuk itu.


“Bagaimana alasannya pada Nyonya?” tanya Pak Beni.


“Katakan saja aku harus kontrol,”jawab Jack, sambil berjalan ke sebuah meja kursi yang tidak jauh dari tempat itu lalu menyimpan handuknya, kemudian meneguk air minum dalam botol.


“Baiklah,” kata Pak Beni, sambil mengikuti langkahnya Jack.


Ara mencari-cari ruangan untuk ngegym, seorang pelayan mengantarnya ke tempat itu.


Saat masuk ke ruangan itu, Ara terbengong saja melihat ruangan luas itu yang penuh dengan berbagai macam alat untuk gym, pantas saja Jack tubuhnya sangat bagus, batinnya.


“Ini sih harusnya disewakan saja,” gumam Ara, memasuki ruangan itu dan benar saja dia melihat suaminya itu memakai salah satu alat game dengan bertelanjang dada dan keringat membasahi tubuhnya. Pak Beni juga ada bersamanya.


Ara memperhatikan dari kejauhan, melihat kondisi Jack seperti ini, apalagi kembali memperlihatkan tubuhnya yang atletis, mengangkat-angkat tubuhnya dengan mudah sekali seakan tubuh itu sangat ringan, membuat semua orang pasti tidak akan percaya kalau pria itu depresi, pria itu benar-benar menjaga kebugaran tubuhnya.


“Jack!” panggil Ara, berjalan menghampiri, membuat Jack menghentikan gerakannya dan membalikkan badannya menoleh kearahnya.


Ara terkesiap melihat keringat yang mengucur di perut kotaknya Jack, pria itu terlihat sangat gagah dan sexy. Rasanya tidak percaya kalau semalam dia berada dalam pelukan tubuh sexy pria itu. Tiba-tiba wajahnya langsung saja memerah mengingat kejadian itu.


“Aku mencari-carimu ternyata kau disini? Semalam aku…” Ara akan mengatakan kalau dia menemukan obat di sofa, tapi difikir lagi, sebaiknya dia tidak usah mengatakannya, dia ingin tahu apakah Jack akan lebih baik dengan obatnya yang tidak lengkap?


Kalau dia bilang pada Pak Beni pasti Pak Beni akan khawatir, dia juga sebenarnya khawatir tapi dengan kejadian semalam yang ternyata Jack tidak minum obat dengan lengkap tapi Jack malah lebih baik, sebaiknya dia tidak usah mengatakan ini pada Pak Beni.


“Nyonya, Tuan akan berangkat ke Paris sekarang,” kata Pak Beni, membuat Ara terkejut.


“Apa? Ke Paris sekarang? Kenapa? Kita baru beberapa hari disini!” tanya Ara menatap Pak Beni.


“Tuan ada janji dengan Dokter Atlantes. Hanya beberapa hari saja, lalu pulang lagi,” jawab Pak Beni.


“Baiklah aku akan bersiap-siap,” ucap Ara.


“Maaf Nyonya, Tuan pergi dengan saya saja,” kata Pak Beni.


“Kenapa?” tanya Ara keheranan dan menatap Pak Beni lalu pada Jack kemudian pada Pak Beni lagi.


“Karena hanya sebentar, nanti Nyonya lelah diperjalanan,” jawab Pak Beni.


Ara befikir sebentar, sebenarnya dia bingung Jack bolak balik tapi memang benar dia merasa lelah baru juga dia tiba beberapa hari harus pergi lagi ke Paris.


“Baiklah, karena ini penting untuk kesehatannya Jack, jadi aku setuju. Tolong jaga Jack dengan baik, Pak Beni. Aku merasa khawatir dia jauh dariku,” ucap Ara, sambil menoleh pada Jack.


Mendengarnya membuat hati Jack bahagia, ternyata istrinya sangat mengkhawatirkannya.


“Tentu saja aku juga tidak mau jauh darimu,” batin Jack, tapi dia juga harus mengerjakan pekerjaannya di Paris tanpa harus sibuk dengan menyembunyikan identitasnya pada Ara.


Ara menatap Jack sebentar.


“Jack, terimakasih bunganya,” ucap Ara sambil tersenyum.

__ADS_1


Jack bisa melihat dari matanya Ara, kalau istrinya itu sangat bahagia.


“Kau suka?” tanya Jack.


“Iya, aku suka,” jawab Ara, mengangguk.


“Aku akan menyiapkan pakaianmu,” lanjut Ara, terdiam sejenak, Jack bersikap begitu tenang padahal ada obat yang tidak dia minum dari malam, tapi Ara tidak bertanya apa-apa lagi.


Ara lalu membalikkan badannya meninggalkan ruangan itu, sedangkan Jack hanya memperhatikan kepergian istrinya itu.


“Kapan Tuan akan jujur padanya soal kesembuhan Tuan?” tanya Pak Beni


“Segera, kalau urusanku sudah selesai,” jawab Jack.


“Baiklah Tuan, saya akan menyiapkan keberangkatan Tuan,” kata Pak Beni, lalu meninggalkan ruangan itu sedangkan Jack kembali nge gym.


Ara terduduk dipinggir tempat tidur memikirkan sesuatu, lalu dia berjalan menuju laci lemari dan membukanya, diambilnya obat yang di temukan semalam itu.


Ara mengambil botol-botol obatnya Jack yang utuh, dicarinya obat yang sama dengan yang dia temukan di sofa lalu dikeluarkan dan disamakan dengan obat yang di sofa itu. Benar, itu adalah obat yang sama! Jadi benar Jack tidak meminum salah satu obat itu.


Arapun mengambil ponselnya menelpon Dokter Mia.


“Dokter, ada yang mau aku tanyakan,” ujar Ara.


“Silahkan Nyonya,” jawab Dokter Mia.


“Kalau seandainya ada salah satu obatnya Jack yang tidak dia minum, apa dia akan baik-baik saja?” tanya Ara.


“Apa ada obat yang habis? Obat itu satu paket Nyonya, jadi khasiatnya juga satu paket, harus diminum bersamaan,” jawab Dokter Mia.


“Ada obat yang jatuh jadi jumlahnya kurang,”kata Ara.


“Obat yang mana Nyonya? Nanti saya kirimkan orang untuk mengantar obatnya,” kata Dokter Mia.


“Yang warna putih elips,” kata Ara.


“Itu obat utama Nyonya, sejenis obat penenang,” ujar Dokter Mia.


“Kalau misalkan Jack tidak minum obat itu, apa yang akan terjadi?” tanya Ara.


 “Tuan akan merasa gelisah dan tidak focus Nyonya, dan terus berkeringat dingin, itu obat utama,” jawab Dokter Mia.


“Apa Jack akan kembali depresi?” tanya Ara.


“Tidak begitu, hanya sedikit tidak focus saja dan gelisah, tubuhnya akan terasa tidak nyaman, jadi semua obat harus diminum lengkap Nyonya,” jawab Dokter Mia.


Mendengar jawaban Dokter Mia membuat Ara semakin bingung. Kalau benar obat itu tidak diminum oleh Jack, tapi kenapa malam itu Jack bersikap baik-baik saja? Tadi kata Dokter Mia, kalau tidak minum obat itu Jack tidak akan tenang dan gelisah? Sedangkan semalam pria itu berdansa dengan begitu tenang. Ada apa ini?


Apa yang sebenarnya yang terjadi? Apakah itu tandanya Jack sudah mulai pulih? Apakah Jack menyadari kalau ada obat yang tidak diminumnya?


**********


Readers, terimakasih banyak buat yang sudah follow ig ku.


Aku terharu kalian mau follow ig penulis ecek ecek seperti aku.


terimakasih ya.

__ADS_1


 Terimakasih juga buat semua yang selalu support like, gift, vote juga tipsnya.


 *************


__ADS_2