
Di Rumah Sakit.
“Nyonya hanya butuh istirahat. Bisa lanjut istirahat di rumah tidak perlu dirawat,” kata Dokter setelah memeriksa Ny.Imelda yang sudah siuman dan berbaring di tempat tidur pasien.
“Saya buatkan resep , nanti resepnya saya berikan pada putramu,” kata Dokter.
Ny.Imelda menoleh pada Jack dan Ara yang berdiri tidak jauh dari mereka, Dokter itu mengira Jack adalah putranya.
Setelah memberikan resep pada Jack, Dokter dan asistennya keluar dari ruangan itu.
“Aku menebus obat dulu,” kata Jack pada Ara yang menjawabnya dengan anggukan.
Ara menoleh pada Ny.Imelda lalu menghampirinya dan duduk dipinggir tempat tidur pasien itu.
“Apa Nyonya lebih baik?” tanya Ara, menatap wanita itu.
“Aku sudah lebih baik,” jawab Ny.Imelda, sambil mencoba bangun.
Ara langsung bangun dan membantu Ny.Imelda untuk duduk. Dia juga meletakkan bantal dibelakang punggungnya Ny. Imelda.
Ny.Imelda menatap wajah Ara yang sedang menata bantal untuknya bersandar itu, memperhatikan setiap geraknya.
Terlintas lagi dalam bayangannya saat Ara menggoda Jack dengan makan es krim coklatnya.
“Kau suka es krim?” tanya Ny.Imelda.
“Iya,” jawab Ara, sambil tersenyum.
“Sudah, Nyonya bisa bersandar,” kata Ara kemudian, lalu membantu menyandarkan tubuhnya Ny.Imelda supaya duduk lebih nyaman.
“Apa itu lebih baik?” tanya Ara.
“Iya, terimakasih,” jawab Ny.Imelda.
Ara berdiri menatap wanita yang seumuran dengan Ibunya.
“Sebenarnya aku tidak tahu kalau aku suka es krim,” kata Ara, membuat Ny. Imelda menatapnya lagi.
“Waktu kecil kau tidak suka es krim? Semua anak-anak suka es kirm,” kata Ny. Imelda
“Aku jarang makan es krim, Ibuku melarangnya karena bisa membuat sakit gigi. Aku tahu kalau sebenarnya aku suka es krim karena Jack membawaku ke cafe itu untuk makan es krim. Dan ternyata es krimnya sangat enak, aku suka. Selama ini aku malah tidak tahu kalau dicafe itu es krimnya sangat enak, biasanya aku pesan menu lain bersama temanku,” kata Ara.
Ny. Imelda masih menatapnya, tiba-tiba Ny.Imelda terbatuk-batuk.
Ara cepet-cepat mengambilkan air minum diatas nakas lalu duduk disamping Ny. Imelda meminumkan air itu ke mulutnya.
“Minumlah,” kata Ara.
Ny. Imelda meminum air dari gelas itu, lalu kembali menatap Ara. Lama semakin lama menatapnya membuat Ny.Imelda merasakan sesuatu yang tidak tahu apa itu. Istri Jack itu terlihat sangat baik padahal dia sudah berperilaku buruk padanya. Bahkan dengan sengaja ingin merusak rumah tangganya.
“Nyonya, aku minta maaf soal apa yang Ibuku lakukan,” kata Ara, menatap Ny. Imelda lekat-lekat.
“Ibuku sangat menyayangiku,” lanjut Ara.
“Maaf,” kata Ara lagi.
“Setiap Ibu pasti menyayangi anaknya,” kata Ny.Imelda dengan mata yang kembali berkaca-kaca, membuat Ara keheranan. Sepertinya Ny. Imelda sangat bersedih.
“Apa Nyonya ingin aku menelpon Arum supaya datang kesini?” tanya Ara, salah faham dia mengira Ny.Imelda ingin bertemu Arum yang ada di rumahnya.
Ny.Imelda menggelengkan kepalanya.
“Tidak usah,” jawab Ny.Imeda.
__ADS_1
“Aku rindu putriku,” ucap Ny. Imelda mulai terisak, membuat Ara semakin tidak mengerti.
“Aku rindu putriku, kau mengingatkanku pada putriku!” kata Ny.Imelda malah menangis, membuat Ara bingung.
“Aku mengingatkanmu pada Arum?” tanya Ara.
Ny.Imelda mengangguk lalu menangis lagi.
“Jack juga suka mengatakan itu, aku mengingatkannya pada Arum. Apa-apa mirip Arum, begitulah. Tapi sekarang kan Arum sudah ditemukan, Nyonya tidak perlu bersedih lagi, semuanya sudah usai. Penderitaan Nyonya sudah berakhir,” kata Ara.
Ny.Imelda malah menggelengkan kepalanya lagi.
“Tidak, aku rindu putriku, aku rindu putriku,” kata Ny.Imelda
Ara sungguh bingung dengan perkataan Ny.Imelda itu. Kenapa merindukan putrinya yang sudah ada bersamanya? Tapi Ny. Imelda terlihat begitu sangat tertekan dan bukan tangis yang dibuat-buat.
“Ponsel Nyonya dimana? Biar aku telponkan Arum supaya Nyonya lebih tenang,” kata Ara
“Tidak, aku rindu putriku, dia bukan putriku,” ucap Ny.Imelda membuat Ara terkejut.
“Bukan? Maksud Nyonya apa?” tanya Ara, benar-benar terkejut.
“Dia bukan putriku,” ucap Ny.Imelda.
“Jadi Arum itu bukan putrimu?” tanya Ara memastikan, dengan hati yang berdebar-debar akhirnya pertanyaan itu terjawab sendiri tanpa perlu Jack mendekati Arum lagi hanya untuk melihat tahi lalat itu.
Ternyata kecurigaannya benar, Arum bukan putri Ny.Imelda tapi kenapa Ny.Imelda mengatakan tes DNA nya itu putrinya? Sungguh tidak mengerti.
“Aku rindu putriku, aku rindu putriku,” ulang Ny.Imelda yang malah terus menangis, menunduk sambil kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.
Melihatnya membuat Ara ikut sedih. Pantas saja Ny.Imelda masih membenci Jack karena Arum yang dirumahnya itu bukan putrinya, jadi putrinya memang tidak pernah ditemukan sampai sekarang.
Ara menatap Ny.Imelda yang terus menangis mengatakan rindu pada putrinya. Tapi dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya tangannya langsung memeluk Ny.Imelda yang terus meratapi putrinya.
Setelah cukup lama menangis, barulah Ny.Imelda melepaskan pelukannya, kembali menatap Ara. Dia tidak menyangka pelukan istrinya Jack itu bisa membuatnya merasa lebih tenang.
“Kau mencintai Jack?” tanya Ny.Imelda.
“Iya, aku mencintainya,” jawab Ara, wajahnya langsung memerah, dia sangat mencintai suaminya.
Ny.Imelda masih menatap wajah itu. Dia begitu membenci Jack, dia tidak mau melihat Jack bahagia dengan wanita ini. Tapi wanita ini sama sekali tidak terlihat dendam padanya.
“Nyonya,” panggil Ara, menatap Ny. Imelda dengan serius.
Ny.Imelda tidak menjawab.
“Atas nama Jack, aku minta maaf atas apa yang terjadi pada Arum. Jack juga sangat menyayangi Arum. Dia masih menyimpan foto-foto kecilnya Arum, dia sangat kehilangan Arum. Sampai-sampai dia selalu berfikir apa yang aku lakukan mirip Arum, tapi sayang aku bukan Arum, aku Arasi, putri Ibuku,” kata Ara.
Ny.Imelda terdiam beberapa saat mendengar perkataannya Ara. Jadi ada banyak hal yang mengingatkan Jack pada Arum? Jadi bukan saja karena dia suka es krim?
“Jack mengatakan itu?” tanya Ny.Imelda.
“Iya, dulu dia menikahiku karena katanya mataku mengingatkannya pada Arum, terus katanya lagi aku memiliki…” ucapan Ara terhenti saat pintu ruangan itu ada yang membukanya, membuatnya menoleh kearah pintu.
“Jack!” panggilnya, saat melihat Jack masuk dengan membawa kantong ditangannya.
“Aku sudah menebus obatnya,” kata Jack, sambil menghampiri Ara dan Ny.Imelda.
Ara langsung berdiri menatap Jack lalu pada Ny. Imelda.
“Ibuku sangat menyayangiku, maaf Ibuku membuat kegaduhan di rumah Nyonya,” kata Ara.
Ny.Imelda tidak bicara lagi, dia ingat dia baru saja pulang dari salon karena rambut yang dijambak Ibunya Ara itu. Tapi bukan itu yang dipermasalahkan, dia tertarik dengan perkataan Ara yang mengatakan menurut Jack banyak hal yang mengingatkannya pada Arum.
__ADS_1
Jack sangat menyayangi Arum, jika benar Jack mengatakan hal itu tandanya itu bukanlah main-main. Dipertemukan dengan Arum yang sekarang saja, Jack sudah terlihat tidak percaya padahal wajahnya Arum ada kemiripan dengan Arum kecilnya.
Ny.Imelda menatap Ara, dia jadi ingin tahu seberapa mirip istrinya Jack itu dengan putrinya.
Jack menoleh pada istrinya lalu pada Ny.Imelda, dia tidak mengerti apa yang tadi mereka bicarakan.
Tiba-tiba terdengar ponselnya Ara berbunyi. Ara segera menjauh dan menerima panggilan telponnya di pojok ruangan itu.
“Halo Bu!” sapa Ara.
“Kalian masih akan pulang kesini? Mau Ibu masakkan apa nanti sore?” tanya Ibunya.
“Aku belum tahu, Bu,” kata Ara, sambil menoleh pada Jack.
”Kalian ada dimana sekarang?” tanya Ibunya Ara.
“Ada di rumah sakit,” jawab Ara.
“Di rumah sakit? Siapa yang sakit?” tanya Ibunya Ara.
“Ny.Imelda sakit, tadi pingsan di café jadi aku dan Jack membawanya ke rumah sakit,” jawab Ara.
“Apa? Wanita itu sakit dan kalian membawanya kerumah sakit? Untuk apa? Dia itu orang jahat!” Ibunya Ara langsung merasa kesal saja.
“Bu jangan begitu,” kata Ara.
“Kalian tidak boleh menolongnya! Dia cuma pura-pura mencari-cari alasan untuk mengganggu kalian lagi! Jangan mau di perdaya!” teriak Ibunya Ara.
“Tidak Bu, Ny. Imelda memang benar-benar sakit,” kata Ara.
“Ternyata wanita itu sudah aku jambak rambutnya tapi tidak kapok- kapoknya! Harusnya aku patahkan lehernya kemarin!” Bu Amril terus saja marah-marah.
“Tidak begitu Bu, kasihan Ny.Imelda sendirian!” kata Ara.
“Suruh putrinya saja yang mengurusnya! Kau dan Jack cepat pulang!” teriak Ibunya Ara, tidak mau tahu.
“Iya Bu, aku dan Jack akan pulang!” ucap Ara, mengalah.
Tidak berapa lama telponpun ditutup.
Ara menoleh pada Jack.
“Ibu minta kita pulang,” kata Ara, lalu menoleh pada Ny.Imelda.
“Nyonya, mau aku telponkan Arum untuk menjemputmu?” tanya Ara.
“Biar aku yang menelponnya,” kata Ny. Imelda. Dia sadar dia sudah berbuat jahat pada pasangan ini, tidak pantas mendapat perhatian dari Jack dan Ara.
Ara mengambilkan tasnya Ny.Imelda lalu duduk didepan wanita itu, menyodorkan tasnya itu.
Ny.Imelda kembali menatap Ara, dia semakin tertarik ingin tahu apakah Ara memang mirip dengan Arum seperti yang Jack rasakan? Ditatapnya wajah cantik didepannya itu.
“Nyonya!” panggil Ara, karena Ny.Imelda bukannya menelpon malah menatapnya.
“Oh ya, aku akan menelpon Arum,” kata Ny.Imelda, langsung mengeluarkan ponselnya dari tasnya dan menelpon Arum.
“Ibu ada di rumah sakit,” ucapnya saat ada suara yang menerima panggilannya.
“Jangan banyak tanya, kau jemput saja sekarang,” ucap Ny.Imelda.
Saat Ny.Imelda menelpon, Ara masih duduk dipinggir tempat tidur pasien itu sambil menatapnya. Dia merasa kasihan atas penderitaannya Ny.Imelda. Ny. Imelda membenci Jack karena saking tertekannya kehilangan putrinya. Itu pasti sangat menyakitkan, wanita itu sangat merindukan putrinya sampai sekarang.
Tidak berapa lama Ny.Imelda menutup telponnya. Matanya kembali bersitatap dengan Ara yang masih menatapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
******