Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-119 Menemui Arum


__ADS_3

Setelah makan siang, Ara masuk ke dalam kamarnya, dia melihat bunga pemberian dari Jack, diapun mengambilnya dan membaca tulisan di kartu itu. Dia penasaran kira-kira apa arti puisi dalam bahasa yang tidak dia mengerti itu. Jack memberinya PR tentang puisi itu. Kesannya seperti tidak rela membuatkan puisi untuknya, fikir Ara langsung mengerucutkan bibirnya.


Ara bersandar di sandaran tempat tidur, membuka ponselnya mencari arti dari puisi itu. Tapi anehnya setelah dia translate tidak ada jawaban artinya sama sekali, membuatnya bingung. Diapun sibuk mencari terjemahan puisi itu.


Sebenarnya dia ingin minta temannya yang bisa bahasa Perancis itu tapi dia merasa tidak enak, lebih baik mencari sendiri, kalau sebelumnya kan karena bukan tulisan tapi suara jadi dia butuh yang bisa mendengar pengucapan bahasa Perancis. Diapun kembali sibuk mencari translate puisinya.


****


Di kantornya Jack.


Sekitar jam 2 siang, meeting dikantornya Jack sudah selesai. Jack menoleh pada Pak Beni.


“Kita pergi ke rumahnya Ny.Imelda,” kata Jack.


“Tuan yakin akan kesana?” tanya Pak Beni.


“Iya, aku ingin membuktikan apakah dia benar-benar Arum atau bukan. Tapi hatiku mengatakan itu bukan Arum tapi kenapa Ny.Imelda tetap mengatakan itu putrinya?” jawab Jack.


“Baiklah kita berangkat sekarang,Tuan!” kata Pak Beni.


Tidak berapa lama mobil Jack sudah meluncur di jalan raya menuju rumahnya Ny. Imelda.


Sesampainya mereka di rumahnya Ny. Imelda, wanita itu terlihat sangat senang menyambut kedatangannya Jack karena ternyata  Jack menepati janjinya.


Ny.Imelda semakin yakin kalau Jack masih menyayangi putrinya, meskipun Arum yang ada dirumahnya itu bukan putri kandungnya, setidaknya memberi jalan membuat hidup Jack tidak bahagia, puas rasanya kalau sampai Jack perhatian pada Arum padahal gadis itu bukan putrinya.


“Jack! Aku senang kau datang!” seru Ny.Imelda, menyambut ramah didepan pintu yang terbuka.


Jack tidak menjawab, dia mengedarkan pandangannya melihat ke dalam rumah.


“Arum ada di kamarnya, ayo aku antar,” kata Ny.Imelda.


Jack mengangguk, melangkah mengikuti kakinya Ny. Imelda memasuki rumah, begitu juga Pak Beni, tapi Ny.Imelda menghentikan langkahnya dan menghadap Pak Beni.


“Sebaiknya kau tunggu diruang tamu, Dokter tadi menyarankan supaya Arum tidak banyak menerima tamu,” kata Ny.Imelda.


Pak Beni menoleh pada Jack, dia merasa khawatir akan terjadi sesuatu.


“Pak Beni tunggu saja di ruang tamu,” kata Jack.


Pek Benipun mengangguk dan kembali ke ruang tamu, duduk dikursi yang ada disana.


Ny.Imelda mengajak Jack masuk ke sebuah kamar yang dipastikan itu kamarnya Arum.


“Masuklah!” kata Ny.Imelda, membuka pintu kamar itu.


Jack tidak langsung masuk, dia masih berdiri dipintu, dilihatnya gadis itu sedang berbaring diatas tempat tidur meringkuk membelakanginya dengan tubuh yang ditutup selimut.


“Sayang, Jack datang untuk menjengukmu!” kata Ny.Imelda, sambil duduk di pinggir tempat


tidur.


Tidak ada pergerakan dari Arum.


Ny. Imelda menoleh pada Jack yang hanya berdiri dipintu kamar itu.


“Jack, kemarilah,” kata Ny.Imelda pada Jack.

__ADS_1


Jack berjalan perlahan mendekati tempat tidur.


“Sayang, Jack datang menjengukmu, beberapa hari ini kau mengigau terus memanggil Jack,” kata Ny.Imelda.


Arum tampak bergerak tapi belum membalikkan badannya. Ny.Imelda menoleh pada Jack.


“Arum jadi penyendiri sekarang, hampir tiap malam dia mengigau dan bermimpi buruk, kau bicaralah dengannya!” kata Ny.Imelda sambil bangun dari duduknya.


Jack masih berdiri menatap Arum. Hatinya tidak tahu ini Arum atau bukan, dia harus memastikannya. Tentu saja dia juga akan senang kalau Arum masih hidup, tapi gadis ini yang memilki raut muka mirip Arum sama sekali tidak membuat hatinya merasa dekat.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jack, masih berdiri.


Ny.Imelda yang melihat Jack mulai bicara, segera keluar dari kamar  itu lalu mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang.


Ara yang sedang sibuk dengan translate puisi itu melihat ponselnya berbunyi, tidak ada namanya disana, dengan ragu dia mengangkatnya.


“Halo!” sapa Ara.


“Halo!” terdengar suara wanita yang menjawab.


“Kau siapa?” tanya Ara.


“Imelda,” jawab Ny.Imelda. Sontak saja Ara menjadi tegang.


“Mau apa kau menelponku? Darimana kau tahu nomorku?” tanya Ara, keheranan.


“Tidak perlu tau darimana, aku cuma ingin memberitahumu,” jawab Ny.Imelda.


“Memberitahu apa?” tanya Ara.


“Jack sudah pergi ke rumahmu?” tanya Ara.


“Kau datang saja kemari, kau lihat langsung,” jawab Ny.Imelda


“Aku tidak mau!” tolak Ara.


“Kenapa?” tanya Ny.Imelda dengan raut wajah yang berubah, dia tidak mau rencanannya gagal untuk membuat Jack dan Ara tidak harmonis.


“Tentu saja aku tahu kau akan menjebakku, kau akan menyuruh putrimu untuk merayu suamiku kan?” tebak Ara.


Ny. Imelda tertawa.


“Kalau kau tahu akan seperti itu, kenapa kau tidak kemari? Kau tidak ingin mencegahnya?” tanya Ny.Imelda.


“Dengar Nyonya! Aku tidak akan terpancing dengan hasutanmu! Aku percaya pada suamiku, tidak akan mudah tergoda oleh wanita lain meskipun wanita itu adalah Arum! Aku yakin Jack sebentar lagi pulang!” kata Ara.


“Kau begitu yakin? Kau lupa dalam hati Jack mengakui kesalahannya pada Arum, dia tidak akan tega membuat Arum kecewa,” kata Ny.Imelda mengompori Ara.


“Pokoknya aku tidak akan kesana!” ujar Ara.


“Terserah kau saja, aku hanya memberitahumu,” ujar Ny. Imelda lalu menutup telponnya.


Ara terdiam melihat ponselnya mati. Jack ada dirumahnya Arum, apa dia harus pergi kesana? Ah tidak, dia yakin Jack  setia padanya, dia yakin Jack menyayanginya, tadi saja dia menelpon bilang rindu padanya, tidak mungkin tiba-tiba perhatiannya beralih pada Arum, batin Ara.


Arapun mencoba untuk tidak terpancing hasutannya Ny.Imelda untuk menyusul Jack, dia harus percaya pada suaminya. Tapi di dalam hatinya tetap merasa gelisah, dia sangat gelisah, apakah sebaiknya dia menyusul Jack untuk mencegah jangan sampai Arum merayu Jack? Bisa saja Ny.Imelda sengaja membuat kebohongan untuk memberikan jalan pada Arum supaya merayu Jack. Dan kalau dia tidak menyusulnya, Arum akan leluasa merayu Jack.


Beberapa detik kemudian, Ara memutuskan untuk pergi kerumahnya Ny. Imelda. Meskipun sebenarnya dia merasaa tubuhnya tidak fit, dia masih mengantuk dan lemas setelah begadang semalaman bersama Jack. Seharusnya dia istirahat tapi dengan menunggu seperti ini dan hanya menebak-nebak apa yang terjadi antara Arum dan Jack. Tapi bukankah ini yang diinginan Ny.Imelda, supaya dia melihat susatu yang tida enak dilihat? Membuat dia dan Jack bertengkar? Akhirnya Ara tetap memutuskan untuk pergi ke rumah Ny.Imelda.

__ADS_1


Ny. Imelda kembali lagi ke kamar itu. Dilihatnya Jack masih berdiri menatap Arum. Ny. Imelda tampak kesal melihatnya, kenapa Jack terlihat begitu menjaga jarak dari Arum? Apa Jack benar-benar tidak percaya kalau gadis itu Arum? Sampai Arum jatuh ke kolampun tidak mau menolong karena kata Jack, Arum bisa berenang.


Mana tahu dia soal itu? Yang pasti putrinya tidak bisa berenang. Meskipun benar gadis itu bukan putrinya, dia akan tetap merahasiakannya, dia akan membiarkan Jack salah memberikan perhatiannya, tujuannya hanya membuat Jack tidak bahagia dengan hidupnya.


Mungkin hanya dia saja yang bodoh mau dibohongi oleh Tn.Ferdi dan begitu saja menerima Arum dengan hasil tes DNA yang tidak dia cek ulang. Mungkin semua itu karena dia merasa sangat merindukan Arum kecil jadi tidak berfikir kalau Tn.Ferdi akan membohonginya begini.


“Sayang! Kenapa kau diam saja?” tanya Ny.Imelda mendekati tempat tidurnya Arum.


“Jack datang menjengukmu!” kata Ny.Imelda.


“Jack! Jack!” terdengar Arum mulai bicara.


Jack hanya diam saja memperhatikan, dia menimbang-nimbang, menggunakan instingnya apakah Arum benar-benar sakit atau berbohong? Dia bukanlah pria yang gampang diperdaya, apalagi oleh rayuan wanita, kecuali dengan istrinya, tanpa istrinya merayupun dia akan mengejar istrinya itu. Dia datang kesini untuk memastikan apakah gadis itu benar-benar Arum atau bukan.


Ny.Imelda kembali duduk dipinggir tempat tidur, tangannya menyentuh tubuhnya Arum.


“Sayang, bangunlah, lihatlah kemari, Jack datang menjengukmu!” kata Ny.Imelda.


“Jack,” gumam Arum.


Ny.Imelda menoleh pada Jack.


“Aku datang menjengukmu,” kata Jack.


“Jack! Jack! Jack! Tolong Aku!” Tiba-tiba Arum berteriak histeris, membalikkan badannya lalu bangun, dengan tatapannya yang kosong.


“Jack! Mana Jack?” tanya Arum, wajahnya terlihat sangat pucat. Ny. Imelda segera memegang tangannya.


“Tenanglah Arum, tenang!” kata Ny. Imelda.


Jack hanya diam saja menatap gadis itu. Lagi-lagi dia menilai apakah gadis itu sedang berakting?


“Jack! Jack! Tolong aku! Aku takut!” teriak Arum, menatap Ny.Imelda.


“Jack disana!” Ny.Imelda menunjuk pada Jack. Arumpun menoleh kearah Jack.


Jack melihat wajah pucat itu, dengan rambut berantakan, matanya juga terlihat kosong dan tidak focus.


“Jack! Jack!” Arum masih memanggil nama Jack tapi pria itu sama sekali tidak menghampirinya, membuat Ny.Imelda semakin kesal dengan sikap Jack ini. Susah sekali membuat pria itu menurut.


Didalam mobilnya, Ara menepuk bahu supirnya.


“Pak supir tolong percepat jalannya, aku takut ada apa-apa dengan Tuan,” kata Ara.


“Baik Nyonya,” jawab supir menambah lagi kecepatan laju mobilnya.


Untung saja jalanan siang ini tidak macet, karena sudah melewati masa jam istirahat dan belum waktunya pulang bekerja.


Ara sangat gelisah, dia tahu ini kemauannya Ny.Imelda dia datang kerumah itu, tapi dia malah menjadi ingin tahu apa yang sedang terjadi dirumah itu. Dia harus mencegah jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


**********


Readers yang membaca Mystery Merried with Rich Man, maaf ya novelnya aku hapus lagi, kemarin hanya membuat pengumuman saja.


Yang masih penasaran silahkan lanjutkan disebelah, di Fc . Aku mulai dayli hari ini. Maaf atas ketidaknyamanannya.


****

__ADS_1


__ADS_2