
Ny. Inez menatap Ara dengan tajam.
“Lama-lama aku semakin muak melihatmu dirumah ini!” hardiknya, diapun bangun dari duduknya dan mengikuti suaminya.
“Ibu benar, wanita ini hanya parasit di rumah ini,” ucap Bastian, lalu dia juga bangun meninggalkan ruang makan itu.
Ara menundukkan wajahnya, menahan rasa sesak yang ada didalam dadanya. Matanya terasa panas dan airmata menggenang di pelupuk matanya. Dia sudah tidak tahu harus berbuat apalagi. Sebenarnya tinggal dirumah ini sangat membuatnya tersiksa tapi dia bertahan demi Jack.
Sebenarnya tinggal di Paris itu lebih baik tapi dia tidak tahu kenapa Jack ingin pulang padahal kondisi di rumah ini seperti ini. Dia memang sudah beranji untuk tidak ikut campur apapun urusan dirumah ini, tapi dia tidak bisa diam keluarga Jack memanfaatkan Jack seenaknya.
Tidak terasa, tetes-tetes airmata jatuh kepangkuannya.
Jack terdiam menyaksikan sikap keluarganya yang tidak juga berubah, masih berperilaku kasar pada istrinya. Padahal dia sudah memberikan kelonggaran dengan tidak menghakimi keluarganya karena walaubagaimanapun mereka adalah keluarganya, tapi melihat sikap keluarganya pada Ara yang masih menindasnya, membuatnya merasa kesal.
Raut wajah Jack berubah memerah karena marah yang tertahankan. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi untuk pura-pura masih depresi. Dia harus segera bertindak, tapi urusannya belum selesai.
Jack menoleh kearah Ara, dia terkejut saat melihat istrinya sedang menunduk menahan isak tangis dan airmata yang tumpah ke pangkuannya.
Jack langsung merubah posisi duduknya menghadap Ara.
“Sayang,” panggil Jack.
Ara menghapus airmatanya dengan telapak tangannya, lalu menoleh pada Jack.
“Mereka sangat membenciku, keluargamu sangat membenciku, aku hanya berusaha untuk melindungimu, aku tidak mau keluargamu memanfaatkanmu seenaknya, apa aku salah?” tanyanya, airmata itu mulai menetes dipipinya.
Melihatnya sungguh membuat hati Jack ikut merasa sedih dan bersalah. Dia tidak tega melihat airmata itu jatuh di pipi istrinya.
“Aku fikir dengan menikah dengnmu, aku akan memiliki keluarga baru tapi ternyata bukan keluarga yang aku dapatkan, tapi musuh. Aku tidak berharap kehadiranku akan jadi musuh di rumah suamiku,” lanjutnya.
“Aku tahu Arum sangat berarti dalam hidupmu, tapi aku tidak mau kau dirawat oleh Arum, aku tidak mau ada wanita lain yang merawatmu selain aku, aku tidak mau,” ucap Ara lagi, menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jack menatap istrinya dengan sedih, dia semakin merasa bersalah saja membawa istrinya dalam penderitaan.
Jack langsung mengulurkan tangannya, memegang pipinya Ara dan menghapus airmatanya, dia tidak mau melihat airmata di wajah istrinya. Dia mendekatkan wajahnya menatap Ara.
“Sayang,” ucapnya lagi, tangannya kembali mengusap tetes-tetes airmata itu dipipinya Ara.
“Jangan menangis,” ucapnya lagi.
__ADS_1
Mendengar ucapannya Jack malah membuat Ara semakin menangis dan airmata itu semakin tak terbendung. Ara tahu meskipun Jack belum sembuh benar tapi suaminya sangat menyayanginya, dia yakin itu.
Tangan Jack sibuk menghapus airmatanya Ara. Sungguh dia tidak pernah berniat menyakiti siapapun yang akan menjadi istrinya. Yang ternyata dia menikahnya dengan Ara. Kondisi depresinya tidak pernah diniatkan akan menyakiti orang lain apalagi itu istrinya sendiri.
“Jangan menangis,” lanjut Jack lagi, menempelkan keningnya ke keningnya Ara, kedua tangannya masih memegang pipinya Ara, menatap mata berair itu yang hanya beberapa senti di depannya.
“Jangan, jangan menangis,” ulangnya lagi, kembali menghapus airmata di pipinya Ara.
Jack perlahan mencium bibir Ara dengan lembut, dia mencoba menguatkan istrinya dengan menciumnya, tapi istrinya itu malah terisak lagi, Jackpun kembali sibuk menghapus airmatanya Ara, dia tidak mau ada airmata yang menetes satu tetespun.
Ara menangis lagi bukan karena masalah sikap keluarga Jack tadi, tapi karena dia merasa terharu dengan sikapnya Jack yang selalu berusaha melindunginya meskipun depresi, pria itu sibuk menghapus airmatanya.
Jack melirik pada Pak Beni karena bingung, dia tidak bisa menghentikan airmata yang tumpah dipipinya Ara. Pak Beni hanya diam menunduk sedih. Dia juga bisa mengerti tidak akan mudah menjadi istri Tuannya.
“Aku akan menemui Arum,” ucap Ara tiba-tiba, menatap matanya Jack.
“Aku ingin kau sembuh, tapi bukan berarti membiarkanmu dirawat wanita lain, meskipun itu Arum, aku tidak mau! Aku yakin Tn.Ferdi berencana buruk, aku yakin Tn.Ferdi sengaja menjauhkanmu dariku, aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” ucap Ara dengan tegas.
Jack tidak menjawab, dia juga ingin bertemu dengan Arum untuk memastikan itu Arum atau bukan, tapi bukan untuk dekat dengan Arum. Dia sudah menemukan belahan jiwanya yaitu istrinya, dia tidak butuh wanita lain selain istrinya.
“Nyonya, Tuan akan pergi ke Paris sekarang, saya harap Nyonya bisa menjaga diri baik-baik disini. Setelah urusan Tuan selesai, saya akan segera membawa Tuan pulang,” kata Pak Beni.
“Aku akan menunggumu pulang,” ucap Ara, dan mencoba tersenyum.
“Pulang,” ucap Jack.
“Ya, kau harus pulang, aku menunggumu,” kata Ara lagi.
Jack merasa senang melihat istrinya sudah mulai tersenyum, dia berjanji dalam hati akan segera pulang setelah urusannya selesai di Paris. Jack kembali mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya Ara dengan lembut.
Kali ini Ara mendadak mematung, tidak bergerak, tubuhnya menjadi kaku, dia baru tersadar kalau Jack mencium bibirnya beberapa kali, ah ternyata pria itu sudah menciumnya beberapa kali! Rasanya semakin berat saja membiarkan Jack pergi ke Paris tanpa dirinya.
*********
Kepergiannya Jack dan Pak Beni terasa begitu berat bagi Ara. Kemarin dia berpisah beberapa waktu saja saat dia dibawa pulang ayahnya rasanya begitu berat apalagi sekarang berhari-hari, meskipun Jack akan berobat tetap saja membuatnya merasa kehilangan.
Ara hanya bisa melambaikan tangannya saat mobil itu meninggalkan rumah mewahnya Jack.
Terdengar suara langkah kaki mendekati Ara yang melepas kepergiannya Jack.
__ADS_1
“Kau merasa sedih berpisah dengan Jack?” tanya suara pemilik langkah itu yang berdiri disamping Ara juga melihat kearah gerbang rumah.
“Tentu saja, ini pertama kalinya aku berpisah dengan Jack,”jawab Ara, tanpa menoleh karena dia sudah tahu kalau ibu mertuanya yang berdiri disampingnya.
“Semoga saja Jack cepat kembali,” ucap Ny. Inez.
“Tentu saja, dia akan kembali,” ujar Ara, sambil merubah posisi berdirinya jadi menghadap Ny. Inez.
“Kapan kita akan menemui Arum? Aku sudah bicara pada Jack kalau aku akan menemui Arum,” kata Ara.
“Kita berangkat sekarang!” jawab Ny. Inez.
Sebenarnya Ny. Inez tidak suka Ara ikut campur urusan keluarganya, tapi dia juga tidak mau disalahkan apalagi dilaporkan Ara pada yang berwajib jika terjadi sesuatu pada Jack.
“Aku bersiap-siap sebentar,” ucap Ara, lalu meninggalkan ibu mertuanya di teras.
Di dalam kamarnya, Ara pergi ke walk in closet untuk berganti pakaian. Saat melihat lemari tempat menyimpan arloji-arloji miliknya Jack, tiba-tiba dia teringat pada fotonya Arum yang disimpan didalam laci lemari itu.
Dengan perasaan yang tidak karuan, Ara membuka laci itu dan mengambil fotonya Arum bersama Jack waktu kecil.
Ara memandang foto itu dan menyentuh Arum kecil.
“Arum, jika kau memang benar teman kecilnya Jack yang tenggelam dilaut, aku yakin kehadiranmu sekarang bukan untuk mengambil Jack dariku,” ucap Ara, lalu menghela nafas panjang mencoba menenangkan dirinya.
Dia mengatakan itu berusaha menghibur diri sendiri dan menghilangkan berbagai prasangka buruk yang akan terjadi saat bertemu Arum.
Setelah merasa cukup bicara dengan Arum, Ara menyimpan foto itu kembali dilaci dan bergegas berganti pakaian, jangan sampai Ny. Inez menunggu lama dan meninggalkannya.
Benar saja, ibu mertuanya itu tampak memberengut karena dia terlalu lama berganti pakaian, apalagi Tn.Ferdi juga sudah berada diruang tamu dengan wajahnya yang masam.
“Kenapa kau lama sekali? Aku fikir kau kalah sebelum perang! Kau berubah fikiran untuk tidak bertemu Arum,” ujar Ny. Inez.
“Kenapa aku harus berubah fikiran? Tidak ada yang aku takutkan untuk bertemu Arum,” kata Ara, dengan tenang. Berusaha tenang, dalam kondisi seperti ini dia harus tenang.
Tn.Ferdi tidak bicara apa-apa, dia hanya melihat Ara dan terlihat kesal, lalu bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu keluar rumah itu.
Ny. Inez dan Ara mengikuti langkahnya keluar dari rumah itu, menuju rumahnya Ny. Imelda.
*******************
__ADS_1