Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-125 Es krim


__ADS_3

Hujan diluar masih deras, petir juga masih menyambar. Jack bersandar disandaran tempat tidur, mengganjal punggungnya dengan beberapa tumpukan bantal yang tidak terlalu tinggi juga merendahkan tubuhnya.


Ara berbaring menelungkup diatas tubuhnya Jack dengan tertutup selimut sampai bahunya yang polos.


Jack mengusap kepalanya Ara perlahan, mengusap telinganya dan menyibakkan rambutnya Ara ke belakang lehernya. Tangannya menyusuri bagian belakang leher Ara, dia melihat lagi tahi lalat itu di sana. Kemudian kembali mengusap punggung istrinya.


“Sayang, apa kau tidur?” tanya Jack.


“Tidak, diluar hujan sangat lebat, sangat berisik,” jawab Ara, tangannya memeluk tubuhnya Jack, merasakan hangatnya tubuh itu. Pipinya menempel didadanya Jack yang telanjang. Rasanya seperti mimpi tubuh pria itu sudah menjadi miliknya sekarang.


“Ada yang ingin aku katakan,” kata Jack.


“Apa?” tanya Ara.


“Sebenarnya aku tidak mau membicarakannya, aku tidak mau kau marah lagi,” jawab Jack, membuat Ara menggerakkan tubuhnya, mengangkat wajahnya menatap Jack. Jack merasakan kulit tubuh istrinya yang lembut menempel ditubuhnya.


“Ada apa?” tanya Ara, raut wajahnya langsung saja berubah.


Jack membetulkan posisi tubuhnya supaya wajah Ara lebih dekat padanya, lalu dia  menundukkan kepalanya mencium keningnya Ara. Tangannya kembali mengusap rambutnya lalu ke bahu dan dada istrinya yang terangkat.


“Katakan ada apa?” tanya Ara semakin keheranan.


“Aku ingin menjelaskan soal kesalahfahaman kita,” jawab Jack, menatap Ara yang masih mengangkat sebagian tubuhnya sambil menatapnya.


“Aku ingin menjelaskannya supaya kau tidak salah faham,” ulang Jack.


“Katakanlah,” jawab Ara.


“Jadi aku bukan mencium Arum, tapi aku ingin memastikan Arum itu benar-benar Arum kecilku atau bukan. Aku ingin melihat tahi lalat yang ada dibelakang rambutnya, seperti yang kau miliki,” kata Jack.


Mendengarnya membuat Ara terdiam, jadi Jack masih penasaran dengan hal itu?


“Itu adalah satu-satunya cara untuk memastikan kalau dia Arum atau bukan. Aku tidak bisa menanyakannya langsung pada Ny.Imelda karena bisa jadi Ny.Imelda membuat seolah-olah Arum memilki tahi lalat itu,” kata Jack.


Ara tidak menjawab, masih menatap wajah suaminya yang terlihat serius.


“Jadi aku membiarkan Arum memelukku, karena aku harus melihat tahi lalat itu. Bukan aku membelai rambutnya tapi memang tahi lalat itu ada ditengkuk, jadi aku harus mengangkat rambutnya, jadi bukan untuk menciumnya. Aku tidak menciumnya,” kata Jack.


Ara masih terdiam mendengarnya.


Jack kembali mendekatkan wajahnya dan mencium Ara.


“Aku sangat mencintaimu, aku tidak tertarik untuk berselingkuh dengan wanita manapun,” ucap Jack.


“Kau sudah melihat tahi lalat itu?” tanya Ara.


“Aku belum sempat melihatnya, kau keburu datang,” jawab Jack.


Ara tidak menjawab lagi, dia kembali menurunkan tubuhnya, menempelkan pipinya didadanya Jack.


“Aku minta maaf aku harus mengatakan itu. Aku juga tidak mau ada gangguan dalam rumah tangga kita, aku ingin pernikahan kita bahagia,” kata Jack.


Ara kembali mengangkat tubuhnya menatap Jack. Setiap kali istrinya bergerak, raut wajah Jack langsung berubah. Pergerakan istrinya diatas tubuhnya memberikan sensasi  yang lain, apalagi melihat dada telanjang didepannya itu, membuatnya ingin menyentuhnya.


“Jadi kau akan mencobanya lagi?” tanya Ara.


“Tidak ada cara lain, Ny.Imelda tidak akan jujur soal itu, “ jawab Jack.


Ara kembali menempelkan wajahnya ke dadanya Jack, menghilangkan dadanya dari pandangannya Jack.

__ADS_1


“Ibuku sudah menemui Ny.Imelda, katanya alamatnya tahu darimu,” kata Ara, membuat Jack terkejut.


“Buat apa?” tanya Jack.


“Ibu memperingatkan Ny.Imelda supaya Arum tidak mengganggumu,” jawab Ara.


Jackpun diam, tidak menyangka Ibu mertuanya akan melakukan itu.


“Tapi Ibuku merasa kalau Arum itu bukan teman kecilmu, Ny.Imdelda berbohong, itu kata feeling Ibuku,” kata Ara.


“Bagaimana Ibumu bisa bilang begitu?” tanya Jack.


“Karena perkataan Ny.Imelda seakan menunjukkan kalau dia masih kehilangan putrinya. Dia melakukan ini semua karena dendam dan ingin menyakiti kita, dia tidak suka kau sembuh dan bahagia,” jawab Ara, sambil kembali mengangkat sebagian tubuhnya menatap Jack, membuat Jack kembali melihat dada itu dan wajahnya langsung memerah.


“Kau kenapa? Apa kau sakit?” tanya Ara, melihat raut wajah Jack yang berubah.


“Tidak,” Jawab Jack.


“Bagaimana kalau besok kita makan es krim?” ajak Ara.


“Hujan-hujan begini?” tanya Jack, dia hanya ingin berduaan seperti ini saja.


“Tidak apa-apa, kita juga bisa memesan yang lain,” jawab Ara.


Jack tidak menjawab, bukan lagi wajahnya Ara yang dia tatap tapi bagian yang lainnya yang terus menggodanya.


“Kau kenapa?” tanya Ara.


“Kau membangunkan Jendral kecilku,” jawab  Jack membuat Ara terkejut, dan dia akan menjauhkan tubuhnya tapi tangan Jack menahan kedua lengannya.


“Jangan menghindar,” kata Jack.


Tapi sepertinya keluhannya tidak di dengar pria itu yang malah membalikkan tubuhnya membuatnya tidak bisa kabur.


“Sudah berkali-kali aku bilang aku latihan push up itu ratusan kali,” kata Jack.


“Jangan samakan dengan latihan militermu!” keluh Ara. Meskipun tidak bisa menolak saat suaminya mulai menciumnya.


****


Keesokan harinya.


Ny.Imelda menatap cermin, menyisir rambutnya dengan kesal, gara-gara jambakan itu rambutnya jadi rontok, dia akan ke salon sekarang.


Terdengar ketukan di pintu kamarnya.


“Masuk!” kata Ny.Imelda.


Pintu kamarnya terbuka, masuklah Arum.


“Ibu mau pergi?” tanya Arum.


“Iya, Ibu harus ke salon, merapihkan rambutku yang rontok ini! Wanita itu benar benar gila membuat rontok rambutku!” jawab Ny.Imelda.


Arum duduk dipinggir tempat tidur menatap Ibunya.


“Bagaimana dengan actingku, apakah meyakinkan?” tanya Arum.


“Ya, Jack hampir terperdaya. Tapi baguslah, mereka akhirnya bertengkar” jawab Ny.Imelda.

__ADS_1


“Apa Jack akan datang lagi?” tanya Arum.


“Tidak tahu, dia dijaga mertuanya yang super galak itu,” jawab Ny.Imelda.


“Jadi semua ini sia-sia?” tanya Arum dengan wajah yang sendu, dia sudah senang saat Jack membiarkannya memeluknya, dan akan menciumnya tapi sayang itu belum terjadi karena istrinya keburu datang. Pria itu semakin menawan hatinya saja.


Ny.Imelda melihat reaksi Arum dicermin, kalau saja gadis itu putri kandungnya mungkin dia akan ikut sedih tapi tujuannya bukan mau menyatukan gadis ini dengan Jack, dia hanya tidak mau hidup Jack bahagia.


Ny. Imelda bangun dari duduknya.


“Ibu pergi dulu,” kata Ny. Imelda.


“Mau ku temani?” tanya Arum.


“Tidak usah,” jawab Ny.Imelda lalu keluar dari kamar itu tanpa bicara apa-apa lagi dengan Arum.


Gadis itu hanya menatap kepergian Ny.Imelda yang dikira Ibu kandungnya itu.


Ny. Imelda pergi ke salon langganannya, dia terpaksa memotong rambutnya supaya tertata rapih lagi. Gara-gara jambakan itu membuat bentuk rambutnya jadi tidak jelas.


“Selesai Nyonya! Bagaimana?” tanya petugas salon.


“Iya, bagus,” jawab Ny.Imelda, tersenyum senang melihat dicermin tata rambutnya kembali rapih.


Setelah selesai diapun keluar dari salon itu. Dilihatnya cafe es krim itu sudah buka. Letak salonnya memang dekat cafe  itu, biasanya saat dia nyalon, Arum kecil dan suaminya menunggu di cafe itu sambil makan es krim. Melihat café itu membuatnya teringat pada Arum, hatinya merasa sedih lagi setiap mengingatnya.


Akhirnya Ny.Imelda memutuskan untuk mampir ke cafe itu.


Ny.Imelda memasuki cafe itu dengan hati yang sedih. Memang kejadian itu sudah lama, tapi dia juga tidak memiliki anak lagi selain Arum, apalagi kalau suaminya harus keluar negeri berhari-hari seperti ini, membuat hidupnya semakin sepi, dan hanya diisi dengan kesibukannya mengelola bisnisnya di dalam negeri.


Setelah mendapatkan tempat duduk, Ny.Imelda memesan menu makanan selain es krim, dia tidak ingin makan eskrim apalagi cuaca mendung begini.


Sambil menunggu pesanannya datang, dia mendengar suara tawa seseorang di salah satu kursi pengunjung.  Mau tidak mau dia menoleh kearah yang tertawa itu dan wajahnya langsung berubah saat melihat siapa yang ada disana.


Jack dan Ara duduk disana sedang makan es krimnya. Dilihatnya Ara tertawa-tawa, sambil mengambil es krim di mangkuknya Jack lalu dimasukkan ke mulutnya, pria itu menatapnya sambil memberengut. Kemudian begitu lagi, tidak peduli pemilik es krim cemberut.


 “Ternyata Ini enak juga,” kata Ara.


“Kenapa kau tidak memesan yang coklat saja? Kau malah menghabiskan es krimku,” keluh Jack, menatap istrinya.


“Aku suka es krim strawberry,” jawab Ara.


“Tapi kau makan es krim coklatku terus,” keluh Jack lagi, menatap eskrimnya yang tinggal setengah mangkuk.


Ny.Imelda tertegun melihatnya. Pemandangan itu mengingatkannya pada lebih dari dua puluh tahun yang lalu.


“Bu, aku duduknya dengan Jack saja,” kata Arum kecil.


“Ya, kalian duduklah disana, “ ujar Ny.Imelda, menunjuk set kursi disebelahnya.


Jack kecil dan Arum kecil segera pindah duduknya ke kursi yang ditunjuk Ny,Imelda itu.


Ny.Imelda dan suaminya juga Ny.Inez dan Tn.Constantine berempat duduk dimeja terpisah sambil membicarakan bisnis.


*******


Readers aku nulis lebih awal, soalnya mau ke kebun dulu, sedang nanam pohon durian. Semoga tanamannya subur dan menghasilkan ya, buat bekal sekolah anak-anak nanti.


Yang sudah ngasih tips kemarin terimakasih banyak. Jangan lupa like dan giftnya ya.

__ADS_1


*****


__ADS_2