
Pagi ini di ruang makan terasa sedikit berbeda, tidak terlalu sepi karena ada Ny.Inez di rumah ini. Meskipun Jack tetap menjaga jarak dengan ibunya, dan tidak banyak bicara. Ara berusaha untuk membuat Ny.Inez nyaman.
“Aku duluan,” kata Jack mengakhiri makannya, langsung beranjak lalu mencium pipi istrinya. Meskipun semalamanan sudah mencumbunya, dia tidak pernah bosan menciumnya.
Ara hanya tersenyum pada suaminya lalu melanjutkan menyelesaikan makannnya.
“Apa Nyonya sekarang merasa lebih baik?” tanya Ara, menatap ibu mertuanya.
“Iya,” jawab Ny.Inez.
“Kalau boleh aku tahu kenapa Jack ada bersama Nyonya?” tanya Ara.
Ny.Inez menatap Ara. Sepertinya Jack tidak bicara apa-apa soal kejadian tadi malam.
“Kebetulan Jack datang ke rumah, ada sedikit pertengkaran,” jawab Ny.Inez, tidak menjelaskan yang sebenarnya, karena sepertinya Jack juga tidak memberitahu Ara kalau dia itu Arum.
Ara mengangguk, tidak melanjutkan lagi pertanyaannya. Dikejauhan terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
“Sepagi ini ada tamu,” ucap Ara, mengakhiri makannya.
“Nyonya, aku mau lihat dulu tamu siapa yang datang,” kata Ara, sambil bangun dari duduknya.
Ny.Inez hanya mengangguk.
Arapun segera pergi ke ruang tamu. Dilihatnya Pak Sobri membukakan pintu utama rumah itu.
“Ada tamu siapa Pak?” tanya Ara.
“Kata security tamu dari Paris,” jawab Pak Sobri.
Ara langsung merasa jantungan saja setiap nama itu disebut.
Pak Sobri keluar pintu, Ara mengikutinya. Dari mobil itu turun dua orang berseragam, tidak dua orang, ada dua orang lagi, lebih banyak dari sebelumnya. Ara menatap mereka dengan perasaan gelisah.
Mereka berempat memberi hormat padanya, tapi Ara hanya menatapnya saja, menatap mereka satu persatu. Kenapa melihat mereka datang serasa akan mengambil suaminya darinya?
“Pagi Nyonya! Kami dari Paris, ingin bertemu Jendral Jack Delmar!” kata salah satu dari mereka dalam bahasa Inggris.
Ara mengangguk lalu menoleh pada Pak Sobri. Kepala urusan rumah tangga dirumah Jack itu segera pergi masuk ke dalam rumah.
“Silahkan masuk!” kata Ara pada mereka.
Dua prajutit itu pun masuk, tapi mereka tidak duduk, hanya berdiri saja. Sedangkan dua orang lagi berdiri saja di teras.
Ara juga hanya berdiri saja di ruang tamu, menoleh kearah Pak Sobri yang sudah menghilang dibalik tembok.
Tidak berapa lama, Pak Sobri datang bersama Jack juga Pak Beni.
Dua prajurit itu memberi hormat pada Jack, yang juga membalas hormatnya, lalu mereka berbicara dengan bahasa Perancis.
Ara hanya menatap suaminya itu lalu pada prajurit itu, dia tidak mau pergi dari situ. Hanya berdiri saja. Meskipun dia tidak mengerti bahasa Perancis tapi dia ingin mendengar saja dan meraba-raba kira-kira apa yang mereka bicarakan.
Jack menoleh pada Pak Beni, yang segera keluar rumah. Sedangkann Jack langsung masuk diikuti oleh dua prajurit itu. Pria itu tampak serius tidak sedikitpun menoleh pada istrinya yang tidak mau pergi dari ruangan itu.
Lagi-lagi Ara hanya memperhatikan mereka pergi. Hatinya semakin gelisah saja, apa mereka datang untuk menjemput Jack?
Ny.Inez muncul ke ruangan itu.
“Ada tamu?” tanya Ny.Inez, tapi melihat ruangan itu hanya ada Ara dan Pak Sobri yang menutup pintu.
“Tamunya sedang bersama Jack,” jawab Ara.
__ADS_1
“Kau kenapa? Memangnya tamunya siapa?” tanya Ny.Inez yang melihat Ara terlihat tegang.
“Tamunya dari Paris, prajurit GIGN, tempat Jack bekerja,” jawab Ara, kenapa hatinya merasa lesu saja.
Ny.Inez tersenyum pada Ara, lalu menghampirinya, memegang bahunya Ara.
“Kau tidak perlu khawatir, Jack kan memang kerjanya di Paris, kau kan bisa minta ikut bersamanya ke Paris,” kata Ny.Inez.
“Tapi kata Jack, tidak sekarang membawaku ke Paris, dia hanya ada pekerjaan saja,” ucap Ara.
“Tidak masalah, mungkin memang ada urusan penting, nanti juga dia pulang, dia juga masih banyak pekerjaan disini,” kata Ny.Inez, menghibur Ara.
“Tapi kenapa hatiku merasa gelisah ya?” gumam Ara.
Ny.Inez tersenyum lagi.
“Itu wajar, karena ini pertama kalinya Jack pergi tanpamu kan?” tanyanya.
“Iya,” jawab Ara, mengangguk.
Sedang mereka berdua bicara, terdengar suara langkah masuk ke ruang tamu itu, ternyata Jack.
“Sayang, aku mau bicara,” kata Jack.
Ara menatap suaminya itu lalu menghampirinya. Jack mengulurkan tangannya memeluk pinggangnya Ara mengajak ke kamar mereka. Ny.Inez hanya menatap kepergian mereka saja.
“Apa mereka kesini menjemputmu?” tanya Ara, saat mereka sudah berada dalam kamar.
“Iya,” jawab Jack, sambil mengajak Ara duduk dipinggir tempat tidur, diapun duduk disampingnya.
“Sayang, aku harus ikut mereka sekarang, ada tugas negara,” kata Jack.
“Berapa lama?” tanya Ara.
“Sebenarnya aku juga tidak tahu,” jawab Jack.
“Kenapa tidak tahu?” tanya Ara.
“Tugasnya agak berat,” jawab Jack.
Ara tidak mau melepaskan tatapannya pada suaminya. Seakan dia sedang menghafalkan garis wajah suaminya, seakan dia merasa takut lupa wajah suaminya.
Terdengar suara ketukan dipintu beberapa kali. Jack bangun dan membuka pintu itu. Ternyata Pak Beni.
Ara hanya melihat dari kejauhan kalau Pak Beni memberikan sesuatu yang di tutup plastic bening. Apa itu pakaian?
Jack kembali menutup pintunya, dia kembali menghampiri Ara.
Pria itu berdiri di depan Ara dengan memegang pakaian yang menggunakan hanger dan penutup pastriknya, diperlihatkan pada Ara.
“Ini pakaian dinasku. Aku sudah minta ajudanku untuk membawanya jika mereka menjemputku,” kata Jack.
Ara tertegun melihat pakaian dinas yang ada ditangannya Jack itu.
“Kau kan ingin memakaikan pakaian dinasku,” kata Jack lagi, menatap Ara.
Ara melihat pakaian itu lalu pada Jack.
“Iya, tapi…” Ara terdiam, kembali melihat pakaian itu, kenapa hatinya merasa gelisah dan jantungnya berdebar kencang saat melihat pakaian itu?
“Kau bisa memakaikannya sekarang,” kata Jack, sambil tersenyum.
__ADS_1
Ara sama sekali tidak senang dengan senyuman itu, senyum itu seperti sedang menghiburnya.
“Iya, kenapa dipakai disini?” tanya Ara.
“Supaya kau bisa memakaikannya,” jawab Jack, masih berdiri didepan istrinya.
Ara diam lagi, bukan itu masalahnya tapi dia merasa hatinya sangat gelisah, perasaannya tidak enak saat melihat pakaian itu. Memakainkannya serasa jauh dari bayangannya.
Dia membayangkan akan memakaikannya dengan bahagia dan bangga pada suaminya, tapi sekarang, yang dirasanya hatinya malah sangat gelisah.
“Kau akan memakai baju ini sekarang?” tanya Ara.
Jack mengangguk, lalu memberikan pakaian itu pada Ara yang langsung menerimanya dengan tangan yang germetar dan hati yang terasa semakin cemas.
Pakaian itu terasa begitu berat karena banyak atribut terpasang disana. Ara menyimpannya dipangkuannya.
Terdengar lagi suara ketukan di pintu, Jack membuka pintu itu lagi. Ara melihat Pak Beni lagi yang datang membawa dua buah kotak, Jack menerimanya lalu menutup pintu itu.
Jack kembali menghampiri Ara yang menatap kotak itu. Jack menyimpan kotak itu diatas tempat tidur, lalu membukanya, ternyata isinya yang satu topi yang satu sepasang sepatu. Sepatu yang pernah Ara lihat saat Jack menelponnya di Paris.
Ara melihat barang-barang itu lalu menatap Jack.
“Kenapa?” tanya Jack sambil tersenyum, melihat sikap istrinya yang seperti itu.
“Apa ada yang kau sembunyikan?” tanya Ara, langsung menebak saja.
“Kau ini kenapa? Aku meminta ajudanku membawakan barang-barang ini supaya kau bisa memakainkannya padaku,” kata Jack.
Ara masih menatapnya.
“Cuma itu?” tanya Ara.
“Iya,” jawab Jack.
“Aku tidak mengerti kenapa kau selalu main rahasia-rahasiaan denganku?” tanya Ara.
“Kau ini kenapa? Aku hanya membawa pakaianku saja, apa kau tidak ingin melihatku memakainya?” tanya Jack.
“Aku istrimu, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu,” ucap Ara, matanya langsung saja memerah.
Jack menghampirinya dan meraih tangannya.
“Iya kau istriku, makanya aku meminta ajudan membawa pakaian itu untuk kau pakaikan padaku. Aku akan senang kalau kau memakaikannya,” ulang Jack.
Ara menunduk dan tetes airmata itu jatuh ke atas bungkusan plastik yang membungkus pakaiannya Jack.
“Apa kau akan pergi lama?” tanya Ara, menarik tangannya dari pegangannya Jack.
Jackpun diam menatapnya. Dia juga bingung menjelaskannya.
Ara menatap Jack lagi dengan mata yang sudah berair.
“Kau akan bertugas kemana?” tanya Ara.
“Ke Paris,” jawab Jack.
“Kau berbohong, kalau ke Paris kau akan mengajakku. Kau sendiri yang bilang kalau kau ke Paris, kau akan mengajakku, sekarang kau tidak mengajakku, berarti kau tidak pergi ke Paris,” ucap Ara.
Jackpun terdiam dan hanya menatap istrinya yang sekarang mengangkat wajahnya menatapnya. Mata cantik itu sudah penuh dengan butiran bening air mata.
***********
__ADS_1