
Sebelum Jack maupun Pak Beni tahu kalau Dia mengintip percakapan mereka, Ara segera kembali lagi ke kamarnya. Sungguh dia merasa gelisah, setiap kali nama Arum disebut, setiap kali juga hatinya merasa resah, dia merasa posisinya dihati Jack akan tersingkir.
Apalagi Jack sudah sembuh sekarang, Ara tidak tahu apakah Jacak mencintainya atau tidak. Meskipun pria itu menunjukkan perhatiannya, tetap saja sikap diam Jack yang tidak berterus terang padanya membuatnya selalu merasa sangsi dan khawatir hati Jack bukan untuknya lagi.
Dengan langkah tertatih-tatih karena sakit di kakinya, Arapun pergi ke kamar mandi, berendam dengan air hangat sambil mengacungkan kakinya keluar bathub karena perih terkena air. Dia mencoba untuk menenagkan hati dan fikirannya. Mekipun sekarang dia tidak tahu tujuan pernikahannya lagi, tapi setidaknya, dia harus bisa menikmati
hari-harinya dengan lebih tenang.
Setelah bicara dengan Pak Beni, Jack menuruni tangga pergi ke luar rumah, dia teringat ada dokumen yang tertinggal dimobilnya.
“Mau saya bantu, Jendral?” tanya seorang prajurit yang berjaga di depan rumah itu, saat melihat Jack mengeluarkan beberapa berkas dari dalam mobilnya yang masih terparkir di depan rumah.
“Tidak usah,” jawab Jack, menoleh pada prajurit itu, yang malah diam menatapnya.
“Kenapa?” tanya Jack, sambil menutup pintu mobil.
“Selamat ulang tahun Jendral! Semoga Panjang umur!” kata Prajurit itu lagi, masih dalam bahasa Perancis.
“Ulang tahun?” Jack mengerutkan keningnya.
“Iya, semoga Jendral selalu bahagia dan cepat diberi momongan!” kata Prajurit itu dengan gayanya yang tegas, entah mengucapkan selamat atau memberikan laporan.
Jack semakin tidak mengerti, jangankan mendapatkan momongan, menyentuh istrinyapun tidak.
“Ulang tahun? Darimana kau tahu aku ulang tahun?” tanya Jack.
“Nyonya, Jendral!” jawab Prajurit itu.
“Nyonya? Kau bicara dengan Nyonya?” tanya Jack.
“Benar, eh tidak Jendral!” Tiba-tiba saja prajurit itu teringat kalau Ara melarangnya mengatakan apa-apa pada Jack kalau dia keluar rumah untuk frank di hari ulangtahunnya Jack..
“Tidak Jendral, saya hanya menebak saja!” kata Prajurit itu dengan wajahnya yang lasngsung memucat, kalau sampai istri Jendralnya tahu dia membocorkannya habislah dia.
Jack menatap prajurit itu.
“Kau jujur saja, apa kau bicara dengan istriku?” tanya Jack.
Prajurit itu tampak bingung.
“Nyonya akan menghukum saya kalau saya bicara Jendral!” kata Prajurit itu.
“Ternyata kau lebih takut istriku daripada padaku,” keluh Jack.
“Maaf Jedral! Tidak berani, Jendral!” jawan Prajurit itu.
“Katakan saja, aku tidak akan bicara pada istriku kalau kau bicara,” kata Jack.
“Siap, Jendral Tidak bisa, Jendral!” jawab Prajurit itu, ragu-ragu.
“Apa istriku lebih galak dariku?” Jack menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa bingung kenapa Prajuritnya lebih takut pada istrinya?
“Siap Jendral, Tidak! Iya, Tidak!” kata Prajurit itu tambah kebingungan.
Jack menepuk bahu Prajurit itu.
__ADS_1
“Katakan padaku, atau aku turunkan pangkatmu,” ucap Jack.
“Siap Jendral! Jangan Jendral!” kata Prajurit itu, semakin panic.
“Kalau begitu bicara saja, aku tidak akan bilang pada istriku kalau kau mengatakannya,” ucap Jack.
“Nyonya mengatakan Jendral ulang tahun, Nyonya sedang membuat frank untuk ulang tahun Jendral!” Prajurit itu akhirnya bicara.
Tentu saja Jack terkejut mendengarnya, Frank? Ara membuat frank ulang tahun untukuny? Sungguh Aneh. Istrinya sama sekali tidak memberikan frank apa-paa yang ditemukannya hanya kakinya Ara yang lecet-lecet.
“Apa dia pergi keluar?” tanya Jack.
“Benar Jendral!” jawab Prajurit itu.
“Dengan siapa?” tanya Jack.
“Dengan Nancy dan rombongan pembawa makanan dari kedianan Jendal Favier,” jawab Prajurit itu.
Jack tentu saja semakin terkejut, Jadi Ara pergi bersama orang-orang yang mengirim makanan ke rumah?
“Kau yakin istriku ikut rombongan itu?” tanya Jack.
“Benar Jendral,” jawab Prajurit itu.
“Kau yakin istriku pergi ke rumah pamanku?” tanya Jack lagi.
“Saya tidak tahu itu Jendral, saya hanya tahu Nyonya ingin membuat frank untuk merayakan ulang tahun Jendral,” kata Prajurit itu.
Jackpun diam, apa Ara benar-benar ikut rombongan pelayan dari rumah pamannya? Apa Ara ada di acara pesta tadi? Apakah Ara melihatnya disana? Apakah ini jawaban instingnya kalau ada yang sedang memperhatikannya? Apakah istrinya tahu kalau dia sudah sembuh dan mengetahui identitasnya?
“Ada lagi yang lain?” tanya Jack.
“Tida ada Jendral!” jawan Prajurit itu.
Baru mengertilah sekarang Jack, kenapa Ara bisa keluar dari rumah ini, rupanya pura-pura akan mengadakan frank buat ulang tahun, untuk mengelabui prajuritnya. Jadi ada kemungkinan memang Ara sudah tahu kalau dia sudah sembuh.
“Bulan depan kau naik pangkat!” ucap Jack, sambil menepuk lagi bahu prajuritnya itu.
“Siap Jendral!” jawab Prajurit itu dengan hati yang berbunga-bunga, kalau tiap hari dia melaporkan istri Jendralnya pasti tiap bulan dia akan naik pangkat.
“Jendra!” panggil Prajurit itu lagi.
“Apa lagi?” tanya Jack, pada prajuritnya.
“Selamat ulang tahun, Jendral!” ucap Prajurit itu.
“Ya ya,terimakasih,” jawab Jack lalu memutar balikkan badannya lagi., segera masuk ke rumah dengan menenteng berkas ditangannya.
Saat masuk ke kamarnya, dilihatnya istrinya itu sudah berdandan cantik dan terlihat segar. Ara duduk disofa sambil menselonjorkan satu kakinya keatas meja. Istrinya itu sedang mengganti plester dikakinya yang terkena air. Terlihat sesekali meringis dan meniup-niup kaknya. Padahal Jack tadinya akan memandikannya tapi ternyata sudah mandi sendiri.
Jack menghampirinya dan duduk disamping Ara. Tangannya langsung saja mengambil plester ditangannya Ara, membuat wanita itu terkejut dan menoleh kearahnya.
Tanpa bicara, Jack memasangkan plester itu di beberapa luka dikakinya Ara.
“Apa kita akan pulang lagi Jack?” tanya Ara, menatap pria itu yang sedang menunduk sibuk menutupi luka-lukanya.
__ADS_1
Jackpun mengangat wajahnya menatap Ara. Mata merekapun bertemu. Yang ada dalam benak Ara saat menatap mata itu adalah apakah kau masih mencintaiku Jack? Itu yang ingin dia tau dari pria ini.
Beda lagi dengan Jack, dia menatap Ara menebak, apakah Ara sudah tahu dia sebenarnya sudah sembuh, tidak depresi lagi?
“Maaf sepertinya kau harus dimandikan Perawat laki-laki, kakiku perih kalau terkena air,” kata Ara.
Padahal bukan itu alasannya, dia hanya merasa canggung saja memandikan Jack yang sudah terbukti sembuh, rasanya aneh untuk menyentuh-nyentuh lagi tubuhnya Jack dengan ditatap pria yang benar-benar sadar menatapnya.
Jack semakin yakin dengan sikapnya Ara, selain karena kakinya sakit pasti istrinya sudah tahu tentang identitas dan kesembuhannya. Tapi dia tidak bicara apa-apa.
Jack menyelesaikan pekerjaannya menutup lukanya Ara, kini dia menatap wajah istrinya itu. Dia masih merasa heran dengan lecet di kakinya Ara itu. Kata Pak Beni dia ingin beristirahat tapi ternyata Ara bisa keluar rumah dengan membohongi prajuritnya. Jadi apa yang menyebabkan kakinya Ara lecet-lecet?
“Pulang,” ucap Jack.
“Kita akan pulang lagi?” tanya Ara, menatap matanya Jack, dia tahu Jack sudah sembuh itu artinya Jack tahu dan mengerti apa yang di katakannya.
“Pulang,” lanjut Jack.
“Baiklah, terserah kau saja, kita pulang,” ucap Ara.
Sebenarnya Ara merasa lelah, baru juga sampai di Paris harus balik lagi, badannya terasa mau remuk saja, perjalanan berjam-jam sangat melelahkan. Tapi mau bagaimana lagi? Ara menarik kakinya dan meniup-niupnya lagi, kenapa kakinya terasa begitu perih?
Jack terdiam menatapnya, menatap istri tercintanya itu. Dia merasa bersalah sudah membohonginya, tapi dia juga tidak berniat buruk dengan tidak jujur padanya. Hanya saja kalau dia jujur, istrinya tidak akan memandikannya lagi. Dia menyukai setiap sentuhan istrinya, perhatian Ara padanya membuatnya merasa dia tidak sendiri lagi di dunia ini.
Merasa ada yang masih menatapnya, Arapun menoleh pada Jack.
“Kenapa? Sebaiknya kau mandi, sudah gelap,” ucap Ara.
Jack tidak menjawab.
“Baiklah aku akan menelpon Pak Beni, supaya meminta perawat laki-laki untuk memandikanmu,” kata Ara.
Ara menurunkan kakinya, akan mengambil ponselnya yang tadi tergelak dimeja dekat tempat tidur. Tapi belum juga dia bangun, Ara terkejut saat merasakan tubuhnya ditarik ke pelukannya Jack dan sebelum dia sadar apa yang terjadi, bibir pria tampan itu sudah mencium habis bibirnya.
Seluruh tubuhnya Ara menjadi kaku saking terkejutnya, merasakan bibirnya berada diantara bibirnya Jack. Spontan tangannya meremas lengan kemejanya Jack.
Sungguh diluar dugaan apa yang Jack lakukan, pria itu menciumnya begitu dalam. Ara merasa mati kutu, jantungnya berdebar kencang, dia benar-benar gugup. Pria itu menciumnya seperti itu membuatnya susah bernafas.
Tangan Ara menarik-narik kemejanya Jack, merasakan dia tidak bisa bernapas karena ciuman Jack yang lama, barulah Jack melepaskan ciumannya.
Ara benar- benar merasa tegang dan kaku, menatap pria itu yang juga menatapnya.
“Aku mencintaimu,” ucap Jack dengan tulus.
Lagi-lagi Ara dibuat terkejut dengan perkataanya Jack.
“Aku..ah Jack, kau kan dari dulu juga suka mengatakannya..heh..” ucap Ara sambil terkekeh, mencoba menutupi rasa gugupnya, karena Jack menciumnya disaat sudah sembuh. Sungguh Ara merasa malu, wajahnya memerah dadu.
Dengan terburu-buru, Ara langsung bangun berjalan menuju meja di dekat tempat tidur itu dengan tertatih tatih menahan sakit dikakinya. Dia mencoba menghindar dari rasa malu dan gugupnya.
Tangannya agak gemetaran saat meraih ponselnya, dia masih terkaget-kaget dicium oleh Jack yang sudah sembuh, artinya Jack menciumnya penuh kesadaran.
“Pak Beni, minta tolong perawat laki-laki untuk memandikan Jack, kakiku sedang sakit tidak bisa terkena air,” kata Ara, sambil mengusap keningnya yang tiba-tiba berkeringat, dia juga sangat gerah sepertinya harus mandi lagi.
***********
__ADS_1