
Seperti biasa Jack bangun lebih pagi dari Ara. Pria itu sedang berdiri di depan pintu kamar ibunya, mengetuknya beberapa kali.
Ny.Inez membuka pintu kamar itu dengan lesu, dia masih bersedih dengan kabar meninggalnya Tn.Ferdi. Bukan itu saja, dia juga menyesali apa yang telah terjadi dalam hidupnya yang akhirnya menghancurkan keluarganya.
Ny.Inez agak terkejut karena Jack yang ada di depan pintunya. Diapun menatap putranya itu.
“Jenazah suamimu akan datang sebentar lagi,” kata Jack.
Mendengarnya membuat Ny.Inez semakin terkejut.
“Sebentar lagi?” tanya Ny.Inez, wajahnya langsung saja memerah.
“Apa Bastian sudah tahu soal itu?” tanya Jack.
“Belum, aku belum bertemu dengannya, anak itu selalu pulang larut, mungkin dia masih tidur sekarang!” jawab Ny.Inez.
“Bersiap-siaplah, Pak Beni sedang mengurus acara pemakamannya,” kata Jack.
Ny.Inez menatap putranya itu. Meskipun suaminya sudah begitu jahat padanya, putranya masih mau mengurus pengiriman jenazah suaminya dari Luar Negeri.
Jack akan pergi, Ny.Inez memanggilnya.
“Jack!” panggil Ny.Inez.
Jack menoleh pada ibunya.
“Tolong maafkan dia,” kata Ny.Inez.
Jack tidak menjawab, dia pergi begitu saja. Ny.Inez tidak menyalahkan jika Jack tidak mau memaafkan suaminya. Karena suaminya sudah membuat hidupnya menderita.
Tidak berapa lama, ambulan yang membawa jenazahnya Tn.Ferdi tiba.
Suara bunyi ambulan itu sangat memekakka telinga. Ara yang masih terlelap merasa berisik, akhirnya dia bangun, dia merasa penasaran ada tamu. Diambilnya sweater lalu keluar dari kamarnya.
Di persimpangan menuju tangga berpapasan dengan Bastian yang juga baru bangun tidur, dan terus saja mengomel.
“Ada apa sih? Berisik amat!” gerutunya, lalu menoleh pada kakak iparnya tapi tidak menyapanya, dia terus turun mempercepat langkahnya. Ara mengikutinya dari belakang.
Bastian sangat terkejut saat melihat ada peti jenazah ditengah rumah yang sudah terbuka, dan Ibunya sedang duduk bersimpuh menangisi jenasah yang ada dipeti itu.
“Ada apa ini?” tanya Bastian, keheranan melihat ibunya lalu menoleh pada Jack.
“Siapa yang meninggal?” tanya Bastian.
Jack tidak menjawab. Bastian menoleh lagi pada ibunya, diapun berjalan mendekat, dan saat matanya terutuju pada isi peti itu diapun semakin terkejut.
“Ayah! Apa yang terjadi dengan Ayah? Kenapa Ayah bisa meninggal?” tanya Bastian dengan panic, lalu berjongkok disamping Ibunya.
“Bu, apa yang terjadi?” tanya Bastian, dia tidak menyangka kalau di dalam peti mati itu adalah jenazah ayahnya.
“Ayahmu meninggal,” jawab Ny.Inez.
“Kenapa? Kenapa bisa meninggal?” tanya Bastian.
“Ayahmu sakit di Paris,” jawab Ny.Inez berbohong.
“Sakit? Sakit apa? Selama ini Ayah baik-baik saja?” tanya Bastian dengan wajahnya yang memerah, terpukul dengan kematian Tn.Ferdi yang baru diketahuinya.
“Selama ini Ayahmu sakit jantung,” kata Ny.Inez.
“Jantung? Aku tidak pernah tahu kalau Ayah sakit jantung!” ujar Bastian.
“Iya, Ayahmu menyembunyikannya,” kata Ibunya, dia tidak mau kalau Bastian tahu tentang kejadian kematian ayahnya.
Bastian menunduk menahan rasa sedihnya kehilangan ayahnya.
Tiba-tiba Bastian melihat sesuatu yang mengering di kening Tn.Ferdi, berwarna hitam. Dia fikir itu kotoran, jadi tangannya terulur menghapus kotoran itu dan ternyata saat kain penutup kepala itu terbuka, dan dia terkejut saat mendapati luka tembak di kepalanya.
Tentu saja Ny.Inez terkejut Bastian melihat luka tembak di kepala itu.
“Apa ini? Kenapa Ayahku jadi begini?” teriaknya, histeris lalu menoleh pada Ibunya, sambil memegang tangan Ibunya.
“Bastian, tenanglah!” kata Ny.Inez.
“Ini, ini luka tembak, siapa yang melakukan ini pada Ayah, siapa?” tanyanya pada ibunya, tangannya menunjuk kea jenazah.
Ny.Inez balas memegang tangannya Bastian.
“Tenanglah Bastian, tenang, kita tidak tahu ayahmu punya musuh siapa,,” kata Ny.Inez.
__ADS_1
Bastian langsung berdiri diikuti Ny.Inez.
“Musuh? Tidak mungkin! Pasti orang professional yang melakukan ini!” kata Bastian.
“Aku..aku harus mengusut semua ini! Aku harus tahu pelakunya!” teriak Bastian.
“Tidak, sayang, tidak, biarkan Ayahmu tenang, jangan memperpanjang masalah,” kata Ny.Inez.
Bastian menatap Ibunya.
“Ibu tadi bilang Ayah sakit jantung. Ibu berbohong kan? Ibu sudah tahu kalau keadaan Ayah seperti ini? Ibu tahu kalau Ayah ditemak?” tanya Bastian.
Ny.Inez terkejut dengan pertanyaan Bastian, diapun menatp putranya.
“Ti..tidak Bastain, tidak seperti itu..ibu..” Ucapan Ny.Inez terhenti.
Bastian langsung memegang kedua bahu ibunya.
“Katakan padaku! Siapa yang melakukan ini semua? Siapa?” teriaknya, sambil terus mengguncang guncang bahu Ibunya.
“Tidak tahu, mungkin itu musuh Ayahmu!” jawab Ny.Inez.
“Tentu saja musuhnya, tapi siapa?” tanya Bastian.
“Mungkin Ayahmu dirampok atau apa, Ibu juga tidak tahu pasti! Hanya kepolisian di Paris yang menemukaan Ayahmu sudah meninggal,” jawab Ny.Inez. Tetap tidak mau memberitahukan kejadian yang sebenarnya.
Ara melihat ibu dan anak itu, lalu menole pada Jack. Dia merasa was-was kalau Bastian tahu siapa yang menembak ayahnya pasti akan marah pada Jack.
Tapi sesuatu yang diluar dugaan membuat Ara dan Ny. Inez terkejut.
“Aku yang menembaknya!” ucap Jack, membuat Bastian terkejut.
Tubuh Bastian menegang, dia tidak menyangka kalau ayahnya meninggal ditangan Jack. Diapun langsung membalikkan tubuhnya menatap Jack.
“Apa katamu? Kau membunuh Ayahku?” tanya Bastian, matanya langsung memerah menatap tajam Jack. Amarahnay semakin mendidih.
“Aku terpaksa menembaknya,” jawab Jck.
“Jack!” panggil Ara dan langsung mendekati Jack, memegang tangannya Jack, dia merasa sangat khawatir.
“Jack kenapa kau mengatakannya?” tanya Ara. Dia tidak masukka Bastian memasukkan Jack ke penjara.
Bastian merasakan darahnya mendidih seketika. Dia langsung melangkah mendekati Jack. Ny.Inez menahan tangannya, dia tidak mau kakak adik itu berkelahi.
“Bastian, Jack berbohong, dia tidak menembak Ayahmu! Tidak!” kata Ny Inez.
Bastian menepiskan tangan Ibunya dan menghampiri Jack.
“Kau?” Bastian menghentikan langahnya di depan Jack.
“Kau pembunuh!” teriak Bastian dan langsung melayangkan tinjunya memukul wajah Jack.
Bukk! Sebuah pukulan mengena di wajahnya Jack, tapi pria itu hanya diam saja tidak melawan.
Ara langsung menjerit, dan langsung berdiri di depan Bastian, menghalangi Jack.
“Jangan pukul Jack! Ayahmu yang telah menculiknya! Jack hanya melakukan pembelaan diri!” teriak Ara, menatap Bastian.
“Ayahmu yang akan membunuh Jack!” teriak Ara lagi.
“Sayang, minggirlah, ini urusanku!” kata Jack, memegang bahunya Ara.
“Aku tidak mau dia menyalahkanmu! Ayahmu sudah melakuka kejahatan!” teriak Ara pada Bastian.
Bastian melihat Ara lalu menoleh pada Jack. Hatinya sudah sangat tersulut emosi ingin memukuli Jack.
Tangannya dengan keras menyingkirkan Ara dari hadapannya, mendorong tubuh ibu hamil itu sekuatnya.
“Menyingkir kau!” teriaknya.
Ara yang tidak mengira Bastian akan sekasar itu padanya, sangat terkejut. Dorongan tangan itu sangat keras membuat tubuhnya terdorong keras ke samping dan terjatuh ke lantai dengan keras.
“Ara!” teriak Ny.Inez terkejut, langung berlari menghampiri.
Jack juga terkejut Ara di dorong sekeras itu sampai terjatuh ke lantai. Tapi saat dia akan bergerak menolong istrinya, Bastian langsung memukul wajahnya lagi.
“Kau! Kau pembunuh!” teriak Bastian.
“Hentikan!” teriak Ny. Inez, masih berjongkok didepan Ara yang masih terduduk dilanatai sambil memegang perutnya.
__ADS_1
Ny.Inez terkejut saat melihat darah keluar dari betisnya Ara.
“Jack! Istrimu berdarah!” teriak Ny.Inez dengan panik.
Ara hanya menatap mertuanya sambil meringis.
Mendengar teriakan Ny.Inez, Jack sangat kaget. Tapi Bastian kembali akan memukulnya, diapun yang sedari tadi diam menerima pukulannya Bastian, sekarang mengulurkan tangannya menangkap tangannya Bastian dan memelintirnya ke belakang dengan cepat, lalu kakinya menendang tubuhnya belekangnya Bastian sampai jatuh tersungkur.
Jack segera menghampiri Ara, yang menatapnya sambil meringis.
“Jack, perutku,” ucapnya.
Jack melihat darah itu terus turun kebetisnya Ara, membuatnya panik.
“Bawa Ara ke rumah sakit, biar Ibu bicara dengan Bastian!” kata Ny.Inez.
Jack langsung mengangkat tubuhnya Ara, lalu menoleh pada Bastian.
“Awas kalau terjadi apa-apa pada istri dan bayiku! Ku habisi kau!” teriak Jack pada Bastian.
Jack berjalan cepat keluar dari ruangan itu sambil berteriak-teriak.
“Pak Sobri! Pak Sobri! Siapkan supir! Antar aku ke Rumah Sakit!” teriak Jack pada Pak Sobri, kepala pelayan di rumah ini, karena Pak Beni sedang mengurus acara pemakaman untuk Tn.Ferdi.
Jack terus berlari menuju mobilnya yang terparkir di halaman.
Bastian merasakan tubuhnya yang sakit ditendang sekerasnya oleh Jack. Sekali tendangan saja membuat tulang-tulang punggungnya hampir patah.
“Biar mampus tuh bayi!” teriaknya dengan kesal.
“Bastian!” bentak Ny.Inez.
Bastian segera berdiri sambil menahan sakit lalu menatap ibunya.
“Kenapa Ibu tidak mengatakan kalau pria gila itu yang membunuh Ayah? Ibu tidak mau dia penjara?” tanya Bastian pada ibunya dengan kesal.
“Ayahmu yang menculik Jack dan akan membunuhnya! Jack hanya melakukan perlawanan, kalau tidakbegitu maka Jack yang akan tertembak!” kata Ny.Inez.
“Oh Jadi Ibu lebih senang Ayah mati begiut?” tanya Bastian, tersenyum sinis.
“Kau ini bicara apa? Sudahlah! Ini semua sudah terjadi! Kita urus pemakaman Ayahmu!” kata Ny.Inez.
“Aku tidak terima! Aku tidak terima pria gila itu membunuh Ayahku! Aku harus membalasnya!” teriak Bastian dengan marah.
“Bastian, Ayahmu yang sudah melakukan banyak kesalahan pada Jack!” kata Ny.Inez.
“Aah! Tapi aku tidak terima semua ini! Seharusnya dia di penjara kan? Kenapa dia bebas begitu? Apa karena dia Jendral?” teriak Bastian lagi penuh emosi.
“Bukan karena Jendral! Karena Jac tidak salah! Ayahmu menculiknya saat dia sedang tertugas saja itu sudah suatu kesalahan!” kata Ny.Inez.
“Apapun alasannya dia yang membunuh Ayahku!” gerutu Bastian, amarahnya tidak kunjung reda.
****
Sementara itu mobil melaju kencang di jalanan. Jack memeluk istrinya dipangkuannya. Dia merasa cemas dengan keadaan bayi dalam kanduangannya Ara. Semoga tidak terjadi apa-apa pada bayinya.
“Bertahan sayang ya,” ucapanya pada Ara sambil mencium keningnya.
“Perutku sakit sekali!” keluh Ara, dengan wajah yang mulai memucat.
“Perutmu sakit? Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit,” Jack semakin panic saja, terus mengusap-usap perut istrinya.
“Bisa lebih cepat lagi? Istriku kesakitan!” teriaknya pada Pak supir.
“Baik, Tuan!” jawab supirnya. Mobilpun melaju lebih cepat dijalanan menuju rumah sakit tedekat.
**********
Buat readers yang masih setia..terimakasih masih sabar membaca kelanjutan novel ini.
Aku sudah memasukkan naskah Berbagi Cinta : Terpaksa Dinikahi Mafia
Masih nunggu review, jadi belum di upload. Judul pasaran out the box. Aku tidak mau kehilangan tokoh pria tampan dan kaya.
Jadi setelah MTD tamat kalian lanjut baca Berbagi Cinta : Terpaksa Dinikahi Mafia ya.
Apakah seorang wanita penghibur kesayangannya Jeremy bisa menghancurkan pernikahan tanpa cintanya Evelyn dan Jeremy?
Kepoin terus ya.
__ADS_1
**************