
Beberapa hari kemudian..
Malam semakin larut, Jack merasakan telinganya mendengar sesuatu, membuat tidurnya tidak nyaman, sepertinya dia mendengar suara yang menangis, siapa yang menangis? Lama semakin lama suara tangis itu semakin nyaring, diapun terpaksa membuka matanya, meskipun sangat berat. Dilihatnya istrinya tidur meringkuk disampingnya.
Tangis itu semakin kencang saja, barulah Jack tersadar, yang menangis itu ternyata bayinya. Dia langsung bangun dan menghampiri ranjang bayi yang ada di dekatnya. Ternyata jagoannya menangis sudah dari tadi.
Jack menoleh pada istrinya yang terlelap. Diapun menghampiri istrinya duduk disampingnya.
“Sayang, bayinya menangis, sepertinya dia haus,” kata Jack.
Tapi Ara masih saja terlelap.
Jack menyentuh kaki istrinya membangunkannya lagi.
“Sayang, bayi kita menangis, dia haus,” katanya agak keras membangunkan Ara.
“Aku ngantuk Jack, kau beri susu saja, dia ingin menyusu itu,” jawab Ara, tanpa membuka matanya, malah menarik selimutnya.
“Iya aku tahu dia ingin menyusu. Makanya bangunlah, susui dia, kasihan dari tadi menangisnya,” kata Jack.
“Kau saja yang menyusuinya, aku mengantuk,” jawab Ara.
Jack terkejut mendengarnya. Dilihatnya dadanya lalu pada dada istrinya.Masa dia harus menyusui bayinya? Yang benar saja!
“Mana bisa aku menyusui? Kau aneh-aneh saja!” gerutunya.
“Ayo sayang, bangunlah, kasihan dia menangis terus,” kata Jack.
“Aku ngantuk Jack, apa kau tidak lihat, aku sangat lelah, aku ingin tidur banyak,” kata Ara.
“Tapi dia kasihan,” kata Jack.
“Ya sudah mana bayinya,” ujar Ara, sambil bangun lalu duduk ditempat tidur tapi matanya terpejam, tangannya terulur kemana saja. Tidak berapa lama istrinya itu kembali jatuh ketempat tidur kembali tidur.
Jackpun diam, dia bingung karena Ara sepertinya sangat mengantuk. Diapun menoleh kearah ranjang bayi itu, bayinya masih terus menangis, dia juga kasihan pada istrinya yang kelelahan.
Tiba-tiba matanya tertuju pada dinding dikamar itu. Istrinya memasang foto-foto saat hamilnya, dan sudah terpasang rapih di dinding itu. Foto pernikahannya dan foto- foto masa kehamilannya, sekarang ditambah foto Galand, bayi mereka.
Dia ingin marah pada istrinya karena mengabaikan bayinya yang menangis, tapi melihat foto-foto itu, bagaimana istrinya harus menjalani kehamilannya, belum saat melahirkan bayinya, dia merasa tidak tega memaksanya bangun.
Jack menoleh bayinya, lalu menghampiri ranjang bayi itu. Jack memang sengaja tidak membiarkan bayinya pisah kamar meskipun dia sudah menyiapkannya, selain supaya istrinya bisa memberikan ASI eksklusif, tapi dia ingin bayinya lebih dekat padanya, mungkin kalau sudah agak besar dia akan memindahnya ke kamar baru bayinya.
Jack menghampiri ranjang bayi lalu menggendong bayinya perlahan, meskipun sangat kaku, karena tidak ada yang membantunya menyimpan bayinya dikedua tangannya.
Jack mengangkat bayinya dengan kedua tangannya seperti sedang menggotong.
“Cup cup sayang, Ibumu tidur terus kelelahan, kau haus? Bukannya tadi kau sudah menyusu terus?” tanyanya.
Tapi bayi itu terus saja menangis. Jack membawa bayinya menghampiri tempat tidur, lalu dibaringkan diatas tempat tidur didepan istrinya.
“Sayang, bangunlah kasihan bayinya ingin menyusu,” kata Jack.
“Kau menggangguku Jack, aku baru saja tidur, kau susui saja dia,” ujar Ara lagi.
Jack menghela nafas panjang, tadi juga disuruh dia yang menyusuinya, dia juga kalau bisa sudah dari tadi di susui, istrinya itu bagaimana sih!
“Cup cup sayang, tunggu sebentar,” katanya, menepuk-nepuk kaki bayinya.
Jack menoleh pada Ara yang masih tertidur nyenyak tidak mau membuka matanya.
Jackpun naik ketempat tidur, tangannya mengulur melepaskan pakaian istrinya, bagian atas, sampai tidak ada yang menutupi dadanya lagi.
“Kau mau apa? Jangan menggangguku, aku mengantuk,” keluh Ara, karena merasakan dingin pada tubuhnya.
Tapi Jack tidak menjawab, dia terpaksa harus melakukannya. Melepaskan pakaian bagian atas istrinya, sampai dadanya terlihat.
__ADS_1
Jack menoleh pada bayinya lalu ditepuk-tepuknya lagi biar tidak menangis.
“Cup cup sabar sayang,” ucapnya, lalu menoleh lagi pada istrinya, melihat sebagin tubuhnya yang terbuka. Tapi kemudian dia bingung kalau mau menyusui ada aturannya tidak? Dia harus mencari di internet nanti.
“Nah kau mau minum susu yang bagian mana? Kanan atau kiri? Ayah tidak tahu kau biasanya menyusu yang mana?” ucapnya pada bayinya yang masih saja merengek. Tentu saja bayinya tidak akan menjawabnya. Akhirnya dia akan mencoba mencari yang bayinya suka saja.
Dengan susah payah, Jack memposisikan bayinya pada istrinya yang terlelap saja tidur. Akhirnya bayi itu bisa menyusu.
Dia hanya duduk melihat bayinya yang menyusu pada ibunya yang sedang tidur. Meskipun kesal karena istrinya tidur terus, tapi dia juga tidak boleh egois pasti istrinya kelelahan. Tangannya mengulur mengusap rambutnya Ara, terus mengusap punggungnya yang polos karena harus menyusui bayinya.
Dilihatnya lagi bayinya yang sedang menyusu itu. Lama-lama dia mengantuk juga tapi ditahannya karena bayinya belum selesai menyusu.
Cukup lama Jack menahan kantuknya menunggu bayinya menyusu yang begitu lama. Dia tidak mengerti kenapa bayi menyusu bisa berjam-jam? Dia sudah sangat mengantuk.
Saat melihat bayinya tidak menangis lagi dan tertidur, diapun membetulkan posisi bayinya sambil diselimuti, begitu juga dengan istrinya. Dia cukup menyelimuti istrinya saja, tidak memakaikan pakaiannya lagi supaya mudah kalau bayinya menangis. Akhirnya Jack berbaring disamping bayinya, sambil menepuk-nepuk bayinya supaya tidur nyenyak.
******
“Jack! Jack!” terdengar suara panggilan seorang wanita menyebut namanya.
“Jack! Jack!” suara itu kembali memanggil.
“Jack, sayang, bangun, sudah siang! Kau nanti terlambat bekerja,” suara itu terdengar lembut ditelinganya.
Kemudian dia merasakan ciuman dipipinya juga.
Perlahan Jack membuka matanya meski dia sangat mengantuk karena semalaman bayinya ingin menyusu terus, jadi dia harus menungguinya terus.
Dilihatnya istrinya duduk disampingnya, menatapnya sambil tersenyum.
Pemandangan yang sangat indah, membuka matanya melihat wanita yang dicintainya tersenyum menatapnya, Tentu saja kali ini dia sudah mandi dan terlihat sangat cantik.
“Kau kesiangan,” kata Ara.
Ara mentaap wajah suaminya itu, matanya masih memerah.
“Jam 9,” jawab Ara.
“Jam 9?” tanya Jack, masih mengantuk, tangannya mengusap rambut istrinya. Lalu mendekatkan kepala istrinya ke bibirnya untuk dicium keningnya.
“Iya, ini juga hari senin, kau ada apel kan?” kata Ara lagi, tentu saja Jack sangat terkejut.
“Aku kesiangan!” serunya.
“Iya kau kesiangan!” kata Ara, lalu menjauh dari tubuhnya Jack.
“Aku kesiangan!” seru Jack lagi lalu bergegas turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
“Airnya sudah aku siapkan!” teriak Ara.
“Iya, terimakasih, sayang!” jawab Jack.
Brugh! Pria itu menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Tidak berapa lama pintu itu terbuka lagi.
“Kenapa mandimu sangat cepat? Bukannya kau baru masuk tadi? Apa kau tidak madi? Hanya cuci muka saja?” tanya Ara kebingungan.
“Aku buru-buru, aku kesiangan! Mana bajuku?” jawab Jack.
“Sudah aku siapkan!” jawab Ara, lalu berjalan mendekati cermin.
Ara memakaikan pakaian dinasnya.
“Seharusnya kau bangunkan aku dari pagi,” kata Jack.
__ADS_1
“Kau sangat nyenyak, mana dengar aku memanggilmu?” jawab Ara, mengancingkan baju suaminya.
Jack menatap dirinya dicermin, melihat istrinya yang sedang mendandaninya.
Dulu dia harus melihat istrinya memakaikan pakaian dinasnya sambil menangis, tapi sekarang istrinya memakaikannya dengan senyum dan dia sangat cantik sekali pagi ini.
“Terimakasih,” kata Ara, setelah menyelesaikan memakaikan baju suaminya.
“Terimakasih buat apa?” tanya Jack.
“Kau semalaman menjaga bayi kita kan?” jawab Ara.
“Iya, dimana sekarang bayi itu? Dia menangis terus ingin menyusu, kau tidak mau bangun” kata Jack.
“Dia sedang bersama Bibi di teras, sambil berjemur,” jawab Ara.
“Aku minta maaf aku sangat mengantuk,” ucap Ara lagi.
Jack menatapnya lalu memeluknya dan mencium keningnya.
“Tidak apa-apa. Kau sangat lelah. Aku jadi tahu beratnya mengurus anak,” kata Jack.
Ara mengangkat wajahnya menatap suaminya.
“Berangkatlah, pulang cepat, aku dan bayimu menunggu di rumah,” ucap Ara.
Jack menunduk dan langsung mencium bibirnya Ara.
“Aku akan pulang cepat!” ucap Jack.
Ara langsung menggandeng tangan suaminya ke sofa untuk memakai sepatu.
“Apa kau mau sarapan dulu?” tanya Ara saat mereka menuruni tangga menuju keruang tengah.
“Tidak, aku sudah sangat terlambat,” jawab Jack, lalu bergegas keluar rumah. Ternyata ajudannya sudah siap disana dengan mobil dinasnya.
Dilihatnya bayinya sedang ada di stroller bersama bibi.
Jack sengaja menghampirinya, membuka topinya lalu berjongkok didepan stroller itu menatap bayinya.
“Sayang, Ayahmu berangkat kerja dulu. Baik-baik dirumah dengan Ibumu, jangan rewel,” ucapnya lalu mencium bayinya.
“I Love U,” ucapnya sambil menusap pipi bayinya.
Bagaimana bayinya itu tidak cepat gemuk, bayinya itu menyusu terus semalaman sampai dia tidak bisa tidur jadi kesiangan begini. Tapi tidak apa, dia senang melakukannya, karena dia ingin menjaga anak dan istrinya dengan baik.
Jack kembali berdiri lalu menoleh pada istrinya yang menghampirinya.
“Aku berangkat,” jawab Jack.
Ara mengangguk, sebuah ciuman mendarat lagi di kening dan bibirnya.
Dia melihat suaminya masuk ke mobil dinasnya bersama ajudannya, sambil melambaikan tangannya dan tersenyum. Bahagia rasanya menjalani pernikahan seperti ini, setiap hari banyak cinta dari suaminya, meskipun untuk mendapatkan kebahagiaan itu tidak mudah.
“Cepat pulang!” teriak Ara.
“Iya!” jawab Jack, melambaikan tangannya yang dibalas Ara.
Setelah mobil dinas militer itu menghilang dari pandangannya, Ara menoleh pada bayinya.
“Ayahmu pergi bekerja, nanti sore kau bisa bermain lagi dengan Ayahmu,” ucapnya, tersenyum pada bayinya.
“Aku akan mengajaknya ke taman,” kata Ara, yang diangguki Bibi, diapun segera mendorog Stroller bayinya menyusuri jalanan taman rumahnya menuju air mancur.
************
__ADS_1