
Ara menatap bingung kepergian suaminya dan Pak Beni. Pria itu selalu bersikap yang aneh dan main rahasia-rahasiaan. Mungkin karena Jack terbiasa hidup sendiri di Paris, jadi dia tidak terbiasa berbagi dengan orang lain.
Ara kembali masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu. Suaminya tidak bilang pulang larut itu pulang jam berapa? Dia tidak akan bisa tidur kalau begini, keluhnya dalam hati.
Sementara itu Jack dan Pak Beni ke kantor polisi, meskipun larut karena Jack pejabat Militer di Paris, memudahkannya untuk mendapatan bantuan membebaskan ibunya secepatnya di rumah baru ibunya itu.
Tapi saat Jack kembali ke rumah itu bersama tim kepolisian. Rumah itu sudah sepi.
Beberapa polisi mengamankan security yang tadi membawa Jack keluar dan menginstrogasi mereka.
Jack masuk ke dalam rumah bersama beberapa orang polisi bersenajta, menyisir semua bagian rumah dengan hati-hati tanpa bersuara. Saat mereka menuju ruang kerja tempat kejadian tadi, ternyata kosong. Hati Jack merasa was was Tn.Ferdi pergi membawa ibunya pergi dan menyanderanya.
Tapi saat mereka mencoba membuka sebuah kamar yang ternyata tidak dikunci, Jack melihat ibunya yang sedang duduk menangis di pinggir tempat tidur.
Ny.Inez terkejut saat melihat Jack datang lagi kerumah ini dengan polisi yang bersenjata.
“Jack!” panggil Ny.Inez, menatap Jack lalu pada polisi-poilsi itu.
Salah satu polisi menodongkan senjatanya pada Ny.Inez.
“Jangan bergerak!” teriak polisi itu.
“Dia Ibuku,” kata Jack yang langsung menghampiri Ny.Inz, sedangkan polisi-polisi itu kembali menyisir isi kamar.
Ny.Inez menatap Jack, dia merasa senang Jack mengatakan kalau dia ibunya.
“Dimana dia?” tanya Jack.
“Ferdi sudah pergi,” jawab Ny.Inez.
“Pergi? Kemana?” tanya Jack.
“Aku tidak tahu, sepertinya memang sudah berencana untuk pergi, ada orang yang menjemputnya tadi,” kata Ny.Inez.
Jack berdiri menatap Ibunya, syukurlah Ibunya tidak dibawa pria itu. Dilihatnya leher Ibunya itu masih membekas goresan luka tadi dan belum diobati.
“Kau tidak bisa tinggal disini, kau ikut denganku,” kata Jack, meskipun dengan nada masih ketus.
Ny.Inez menatap pria itu yang tidak mau menatapnya.
“Ibu disini saja,” kata Ny.Inez.
“Kalau kau disini, pria itu bisa saja kembali dan membawamu! Apa kau masih mau bersama pria seperti itu?” ucap Jack dengan kesal, menatap ibunya.
“Bukan begitu, Ibu tidak mau merepotkanmu,” kata Ny.Inez.
“Sudahlah, ikut denganku sekarang!” ucap Jack dengan tegas, tidak mau kompromi lagi. Walaubagaimanapun dia tidak mau mengatakan kalau dia khawatir Tn.Ferdi akan mencelakai ibunya lagi.
Ny.Inez menatap Jack yang membalikkan badannya keluar dari kamar itu. Akhirnya diapun mengambil tasnya dan mengikuti Jack. Diruangan lain masih banyak polisi yang menyisir rumah itu.
Setelah berbicara dengan pimpinan dari operasi kepolisian itu Jack membawa ibunya pulang ke rumahnya.
Ara yang gelisah saja di kamarnya tidak bisa tidur, begitu mendengar suara mobil masuk ke rumahnya, segera keluar kamar, ingin menyambut Jack pulang. Pria itu membuatnya khawatir karena tadi pulang dengan baju yang basah keringat dan acak-acakan.
Ara keluar rumah dengan senyum mengembang di bibirnya. Suaranya hilang saat melihat yang keluar dari mobilnya Jack ternyata tidak hanya Pak Beni saja tapi juga dengan Ny. Inez.
“Nyonya!” panggil Ara, meski dengan bingung, lalu menoleh pada Jack.
“Dia akan tinggal disini,” kata Jack, lalu pergi meninggalkan mereka, masuk ke rumah tanpa bicara apa-apa lagi.
Ara berdiri dengan bingung. Menatap penampilan Ny.Inez yang kusut dan wajahnya yang sembab seperti sudah menangis lama. Dan Ara semakin terkejut melihat lehernya Ny.Inez yang berdarah.
“Nyonya! Kau terluka? Kenapa? Ada apa ini?” tanya Ara, tangannya langsung meraih tangan Ibu mertuanya dibawa masuk.
Ny.Inez tidak menjawab, dia langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
“Nyonya, sebentar aku carikan obat untuk lukamu,” kata Ara.
Dia akan pergi tapi ternyata ada dua pelayan perempuan datang menghampiri dengan membawa baskom air dan kotak obat.
Mereka langsung menghampiri Ny.Inez.
“Silahkan Nyonya, lukanya akan saya bersihkan,” kata pelayan rumah itu pada Ny. Inez, yang tanpa banyak bicara langsung duduk di kursi tamu.
Ara bengong saja melihatnya, mereka membawa kotak obat siapa yang suruh? Jack? Jadi Jack tahu telah terjadi sesuatu pada ibunya?
Ara menoleh kearah pintu, masuklah Pak Beni.
“Pak Beni, apa yang terjadi?” tanya Ara.
“Saya kurang tahu, Nyonya,” jawab Pak Beni, lalu pergi begitu saja.
Ara menatapnya bingung, ada apa ini? Diapun menoleh pada Ny.Inez lalu duduk di salah satu kursi memperhatikan dua pelayan rumah itu membersihkan lukanya Ny.Inez.
Ibu mertuanya tampak meringis saat luka itu dibersihkan, Ara juga ikut-ikutan meringis pasti telah terjadi sesuatu. Hanya saja kenapa Jack bersama Ibunya?
Ara tidak bicara apa-apa lagi, dia hanya menunggu pelayan-pelayan itu menyelesaikan mengobati lukanya Ny. Inez.
Dia menatap wajah Ibunya Jack itu yang terlihat sangat kusut, sepertinya dia sangat bersedih. Tapi Ara juga tidak bisa langsung memberondong dengan pertanyaan, mungkin Ny.Inez juga belum tenang.
Setelah pelayan-pelayan itu pergi, barulah Ara bicara.
“Nyonya, sebaiknya Nyonya istirahat saja, sudah larut,” kata Ara, menatap Ny.Inez.
Ny.Inez menatap Ara.
“Kamar Nyonya masih seperti semula, tiap hari dibersihkan,” kata Ara lagi.
Ny.Inez mengangguk. Dia melihat sekeliling rumah itu, memang tidak ada yang berubah. Dia tidak menyangka kalau akan menginjakkan kakinya lagi di rumah ini bahkan bisa masuk.
“Mari Nyonya, aku antar ke kamar Nyonya,” ajak Ara, sambil mengulurkan tangannya. Sebenarnya dia ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi sepertinya sekarang tidak tepat waktunya.
Diapun menatap wajah menantunya itu. Menantunya itu sama sekali tidak dendam padanya, menantunya itu sangat mencintai putranya.
Ara mengajak Ny.Inez ke kamarnya, tanpa banyak pertanyaan. Dia hanya menutupkan pintu kamar itu saja. Setelah itu dia bergegas ke kamarnya. Dilihatnya ternyata suaminya baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.
“Jack, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Ara, menghampiri Jack dan mengambil handuk itu, mengeringkan rambut suaminya yang langsung menundukkan kepalanya, biar tangan istrinya sampai menyentuh seluruh rambutnya.
“Ibumu terluka, kasihan dia, siapa yang melukainya?” tanya Ara, terus menggosokkan handuk ke rambut suaminya.
“Hanya sebuah kecelakaan kecil saja, tidak apa-apa,” jawab Jack, sambil mengangkat kepalanya lagi.
Ara menatapnya dengan tidak percaya.
“Tapi Ibumu terlihat shock dan sudah menangis, pasti bukan kecelakaan kecil,” kata Ara.
“Tidak, tidak seperti itu,” jawab Jack.
“Apa Ibumu bertengkar dengan Tn.Ferdi?” tebak Ara.
“Ya seperti itulah,” jawab Jack, mengambang.
Ara tidak bertanya lagi, dia masuk ke kamar mandi menyimpan handuk itu. Mungkin Jack terlalu lelah jadi tidak mau banyak bicara.
Ara kembali keluar dari kamar mandi. Pria itu sedang duduk berselonjor diatas tempat tidur, membawa ponselnya, mengetikkan pesan. Ara sagera naik ke tempat tidur lalu duduk disamping Jack, memeluk lengan kiri pria itu dan menyandarkan kepalanya ke bahunya Jack. Matanya sempat melihat isi pesan yang Jack tulis, soal pekerjaannya, dia tidak berminat membacanya.
Jack menoleh padanya dan mencium kepalanya Ara yang bersandar di bahunya, lalu mengetik lagi.
Tiba-tiba ponselnya Jack berbunyi. Ara melirik ponsel itu, sekilas melihat nama bahasa Perancis disana tapi ada sebagian yang dia mengerti ada tulisan GIGN.
Deg! Hati Ara langsung gelisah saja melihat itu, apakah itu dari kantornya Jack?
__ADS_1
“Aku menerima telpon dulu,” kata Jack, sambil turun dari tempat tidurnya.
Ara hanya menatapnya saat suaminya itu pergi keluar kamar menerima telponnya.
Sikap Jack ini sangat membuatnya bingung, padahal Jack bicara bahasa Perancis saja dia tidak akan mengerti, kenapa harus pergi keluar kamar? Arapun cemberut. Dia berbaring sambil memeluk gulingnya, menempelkan pipinya ke guling itu. Fikirannya keman-mana, penasaran dengan apa yang Jack lakukan. Mungkin memang dia tidak ingin membicarakan masalah pekerjaan.
Pak Beni tidak mau cerita apa yang terjadi, Ny.Inez juga tidak bisa ditanya. Huh! Ara memeluk guling itu lebih erat, berusaha nyaman sambil memikirkan banyak hal yang tidak bisa dia tebak.
Tidak berapa lama terdengar suara pintu dibuka. Ara tidak menoleh hanya mencoba memejamkan matanya saja sambil memeluk gulingnya.
Dia terkejut saat merasakan ada tubuh yang menindihnya, memeluk dan mencium pipinya.
“Aku cemburu kau memeluk guling itu,” ucap suara pria yang sangat Ara kenal, suaminya berbisik ke telinganya.
“Karena kau selalu main rahasia-rahasiaan denganku, lebih baik memeluk guling saja,” ucap Ara.
Jack tersenyum, menatap wajah yang menempel diguling itu, dia mencium pipinya lagi.
“Sepertinya kau sengaja ingin membuatku cemburu,” kata Jack.
“Jangan menggangguku, kau tidur saja,” ujar Ara, merasakan tubuh suaminya yang berat.
“Kau mengusirku?” tanya Jack.
“Iya,” jawab Ara, tetap memejamkan matanya.
“Tapi aku ingin mengganggumu,” ucap Jack.
“Aku tidak mau diganggu,” kata Ara.
“Apa benar begitu?” tanya Jack.
Ara tidak menjawab, tapi kemudian dia berteriak saat pria itu langsung membalikkan tubuhnya dan mencium seluruh wajahnya.
“Jack! Jangan menggangguku!” teriaknya.
“Tapi aku ingin mengganggumu,” ujar Jack, tidak berhenti menciumi istrinya.
Arapun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya supaya Jack tidak menciumnya lagi. Tapi kemudian dia berteriak lagi saat merasakan geli di lehernya ternyata suaminya pindah mencium leher dan dadanya.
“Kau benar-benar menggangguku!” teriak Ara lagi, yang protesnya sama sekali tidak didengar oleh Jack yang terus menciumi tubuhnya, memeluknya erat, membuatnya tidak bisa menghindar.
Tiba-tiba wajah pria itu sudah ada di depannya lagi, menatapnya.
“Kau suka menggangku!” keluh Ara, menatap wajah pria itu.
Jack tersenyum lalu mencium bibirnya Ara dengan lembut.
“Karena aku mencintaimu jadi aku ingin menggangumu,” ucap Jack.
“Masa seperti itu,” keluh Ara lagi, masih mentatap wajah tampan itu yang baru saja mandi, pria itu terlihat sangat segar.
Jemari tangan Ara menyusup ke rambutnya Jack yang belum kering benar itu. Jack menempelkan hidungnya ke wajah Ara, menatap mata cantik itu. Ada bahagia dihatinya mengetahui kalau Ara adalah Arum, setidaknya dia tahu teman kecilnya ternyata baik-baik saja, teman kecilnya ternyata ada bersamanya jadi dia bisa selalu menjaganya seperti dulu, dia sangat bahagia. Meskipun dia belum tahu kapan bisa memberitahu Ara soal ini.
“Kau kenapa?” tanya Ara, melihat Jack hanya diam menatapnya.
“Tidak apa-apa, hanya ada yang aku inginkan,” jawab Jack.
“Ingin apa?” tanya Ara.
“Ingin mengganggumu lagi,” jawab Jack.
“Hah?” Ara terkejut.
Dia akan bicara lagi tapi mulutnya sudah tertutup oleh ciumannya Jack. Akhirnya Ara hanya bisa pasrah pria itu mengganggunya lagi.
__ADS_1
***********